4. Jawa, Pulau 1000 Pesona
Menyeberang Pelabuhan Bhakauni adalah hal yang siapapun menyukainya, kecuali aku yang sejak tadi kaki ini bergetar. Bagaimana tidak jika ini adalah kali pertama aku menunggangi kapal feri, jikapun pernah itu saat aku di dalam kandungan dan bayi umur 4 bulan. Itupun sejarah dari kakek.
Namun keindahan laut yang memisahkan Sumatera dan Jawa ini begitu menyilaukan matan yang tak sipit namun begitu bundar seperti orang yang tiap hari melotot. Begitu yang sering kawan-kawanku bilang.
“Woi Karima, biasa sajalah kalau nengok awak. Macam orang marah bae,” kata anak asli kampungku, yang menggunakan bahasa kental daerahnya.
Namun aku adalah gadis pendiam, tak mudah menyesuaikan diri dengan tempat baru. Jika pun aku harus pindah haluan menuju Jawa adalah pilihan yang sulit dan menantang. Di usia yang baru menuju 14 tahun, bukanlah hal mudah melepaskan diri di pulau orang. Meski masih sama Indonesia.
Namun bapak selalu bicara, janganlah susah jika berjauhan dengan orang yang kau cintai, jika tujuanmu mulia menuntut ilmu. Percayalah kau masih berada di bawah langit yang sama dan berada di atas bumi yang sama. Kita masih bisa bertemu dalam balutan-balutan doa malam nan panjang.
Darinya jangan merasa sendirian di atas muka bumi ini, karena setiap orang yang kau temui adalah sama-sama ciptaan Tuhan. Itu artinya kalian bisa berbagi cinta dan bantuan tanpa melihat mereka dari mana asalnya. Lebih-lebih kalian mempunyai kesamaan negara, bukankah akan membuat kita merasakan kebersamaan.
Hari kian menepi, sedang sedari tadi aku belum berhenti memuntahkan semua yang ada dalam perut. Meski sebenarnya sudah tak ada apapun dalam lambung ini yang bisa kumuntahkan. Aku adalah penderita mabuk tingkat nasional. Bagaimana tidak, hanya mendengar akan naik mobil atau sejenis dengan mobil aku akan muntah-muntah terlebih dahulu, jauh sebelum kaki menaiki mobil.
Jika sudah sampai di mobil, siaplah aku bernapas menggunakan mulut, tidak menggunakan hidung karena aku benar-benar tidak tahan dengan bau mobil. Maka selama 2 hari perjalanan ini aku sudah menghabiskan berkantong-kantong plastik, hanya untuk menyalurkan hobi mengenaskan, mabuk.
Kalian bisa tebak, hanya dengan naik bis dan mabuk, aku bisa kehilangan berat badan hingga 2 kilo. Padahal untuk menaikkan berat badan satu kilo saja aku harus melakukan usaha yang luar biasa. Aku selalu percaya bahwa mabuk adalah penyakit turunan dari mamak.
“Bapak, saya lebih seneng jika bis ini macet di jalan,” aku bicara pada bapak sambil berbisik ketika bis berhenti di rumah makan.
“Huss, ngomong kok nggak dijaga. Gimana nanti kalau ada yang denger, bisa diturunin tengah jalan kamu!” Bapak mengacak kerudung bagian depan milikku, lalu tawa tampak riang di sana. Aku memang aneh, meski aku mabuk akut di mobil, jika turun bis aku sudah bisa lari kencang.
Langit biru ini sudah berbeda dengan langit yang kupandang sebelumnya. Bis sudah berhenti di Terminal Wates. Untuk mengusir mual dan pusing, aku diajak membeli bakso oleh bapak.
“Ayo di makan baksonya, biar segeran dikit.”
“Iya Pak, seger nih,” ujarku sambil mengunyah bundaran bakso tersebut.
“Karima, mendaftar sekolah itu seperti kamu membeli bakso ini. Jika kamu tidak menghabiskannya, kamu yang rugi. Habis atau tidak habis, kamu harus tetap membayarnya. Sama juga dengan sekolah, jika kamu tidak bisa betah di sini, kita yang akan rugi. Rugi waktu, rugi biaya dan rugi kesempatan. Darinya, betah-betahlah di sini, ya nak,” bapak memberikan nasihat yang lebih panjang daripada biasanya. Di sudut mata besarku menitik tetesan bening. Aku sadar bahwa setelah ini, aku harus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
***
Ya, jalan di sini lebih lebar daripada jalan tanah di kampung, pun banyak lampu merah di sana-sini. Selama di kampung aku tak pernah menemukan yang namanya lampu merah. Bukankah itu sangat tragis? Untuk pertama kalinya aku bisa melihat pesawat dalam jarak yang lebih dekat dibanding di kampung.
Jika dikampung aku hanya bisa melihat pesawat kecil nyaris tak tampak karena tertutup awan, sambil berteriak minta uang bersama teman-teman. Ah aku memang tak pernah mengerti bahwa tak ada satupun penghuni pesawat yang bakal mendengar ocehanku ini. Sedang di tanah keraton ini aku bisa melihat pesawat dengan jelas, dan suara yang lebih keras.
Tower, untuk pertama kalinya aku bisa melihat tower berterali besi di dekat pesantren yang bakal aku tinggali. Untuk pertama kalinya juga aku bertemu dengan orang-orang baru, dari berbagai daerah negeri ini.
“Hai, anak baru ya? Siapa namanya Mbak” salah satu santri berkerudung merah menyambutku dengan gembira. Belum sempat menjawab sudah berhamburan santri yang mendekati. Secara bergantian mereka bersalaman dan menyebutkan namanya. Itu pun percuma, karena aku tidak mungkin mengingatnya.
Namun, ada rasa bahagia dalam hati ini, bahwa kehadiranku di tempat ini diterima dengan sangat baik. Lalu aku pun bergegas mandi, bergegas tidur karena esok aku sudah harus mendaftar sekolah yang berada di luar pesantren. Sedangkan bapak tidur di ruang tamu pesantren.
Ayah, genggamlah tanganku sampai akhir
Mencari keindahan dunia yang pernah kau kata
Meski jangan sekali-kali kau lupa
Bahwa dunia ini fana
Ayah, bagaimana aku bisa melupakan segala cintamu
Jika cintamu telah menyatu dalam darahku
Maka biarkan aku menjadikanmu
Tumpuan kekuatan tanpa batas waktu
Other Stories
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...