Dante Fair Tale

Reads
510
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Ana Rofianti

3. Si Peri Transformasi

Mata Dante terasa sangat berat ketika ia berusaha membukanya. Kepalanya serasa habis terbentur batu yang keras. Ketika ia telah benar-benar bisa membuka mata, yang terlihat olehnya ialah langit yang tertutup rapat daun pepohonan berukuran super besar. Dante memaksa dirinya untuk bangun meski rasanya otot-otot di badannya menjerit protes. Ia melihat ke sekelilingnya dan segera takjub ketika menyadari bahwa ia sedang berada di hutan hijau yang lembap dengan pepohonan yang kelihatannya sangat... sangat besar.
“Apa yang sedang kulakukan di sini?” gumam Dante dan iapun tersentak kaget. Suaranya tak sama lagi seperti sebelumnya. Ia terdengar seperti suara ayahnya. Dan kelebatan-kelebatan peristiwa pun muncul dalam ingatannya. Bola keperakan, Zha, dan ledakan cahaya merah.
“Aku adalah peri?” gumamnya tak yakin. Ia berputar di tempatnya. Kemudian pandangannya tertuju pada kolam kecil di depan dinding besar berwarna cokelat yang kasar. Ia segera berlari menuju kolam itu dan melongokkan kepalanya di atas kolam. Wajah tirus dengan telinga mencuat runcing di samping kanan-kiri kepalanya membuat Dante terpana. Ia menundukkan kepalanya dan mendapati ia tak lagi mengenakan kaos bergambar Thomas favoritnya. Bajunya berwarna hijau gelap dengan tekstur menyerupai daun. Dingin. Jemarinya meraba dan menyentakkan bagian lengannya. Elastis, tak serapuh lembaran daun yang akan robek dengan mudah. Ia mengangkat kakinya takjub. Alas kakinya seperti berasal dari kulit batang pohon dengan permukaan yang terasa lebih halus dan lilitan panjang saling mengait ke arah betis. Iapun juga baru menyadari bahwa kolam di depannya adalah genangan dari tetesan air yang berasal dari daun di atasnya dan dinding besar cokelat di seberangnya adalah akar pohon yang menjulur tak beraturan.
Ia menjadi sekecil ibu jari! Dan ia berada di dunia peri! Ya, pasti ia berada di dunia peri! “Yeah! Yeah!” Dante bersorak kegirangan, “Akhirnya aku bisa bebas!” kemudian entah kenapa, tiba-tiba punggungnya terasa sangat sakit, hingga ia jatuh tertelungkup. Tak sanggup melakukan apapun untuk dapat meredakan sakitnya. Sesuatu tumbuh dengan cepat, keluar dari punggung Dante, merobek bajunya. Sakitnya tak tertahankan. Namun ternyata itu tidak berlangsung terlalu lama. Napas Dante tersengal-sengal. Ia berusaha meraba punggungnya, dan terkejut seketika. Sepasang sayap telah menempel di punggungnya, bagian dari tubuhnya. Ia meraba bulu-bulu halus di permukaan sayapnya dan ia dapat merasakannya.
“Wow, transformasi peri… kamu pasti peri penyelundup,” sebuah suara menggema dari atas Dante. Ia mendongak dan mendapati satu peri yang gagah dan tampan bersandar di cabang pohon terdekat, peri yang berambut cokelat gelap dan berahang keras itu tajam menatapnya. Satu lagi peri bergaun hijau yang anggun dengan rambut hitam tergerai indah mengintip takut-takut di belakang Si Peri Tampan. Bola matanya yang berwarna biru terang terlihat kontras dengan rambutnya yang hitam legam, menatap Dante cemas. Meski takut dan panik, Dante kagum dengan kemampuan matanya. Daya lihatnya sangat jauh namun tetap detail. Jarak Dante yang berada di atas tanah di sebelah akar pohon dengan cabang pohon terdekat cukup jauh untuk ukuran tubuhnya sekarang. Tapi ia tetap dapat melihat dengan jelas raut wajah marah peri yang bertengger jauh di atasnya.
“Ti… tidak, aku bukan penyelundup. Dan si… siapa kamu?” tanya Dante tergagap dalam keterkejutannya yang entah untuk ke berapa kalinya. Ia terbungkuk-bungkuk berusaha berdiri dan seimbang di atas kakinya. Rasa sakit yang menjalar dari punggungnya sudah tak terlalu terasa lagi, meninggalkan rasa kebas pada sendi sayapnya.
“Aku Fen, kepala pengawas di hutan ini, kamu tak boleh berada di sini tanpa seizinku. Apalagi kamu adalah peri hasil transformasi. Pasti kamu peri jahat atau makhluk lain dari luar dunia peri. Apa tujuanmu kemari?!” gelegar Fen, Si Peri Tampan.
Dante bingung dengan tuduhan seperti itu karena ia sendiri pun tak tahu bagaimana menjelaskan caranya muncul di hutan ini. Melihat gelagat tak ramah dari lawan bicaranya, ia sepertinya tak bisa begitu saja jujur tentang asal usulnya dan siapa yang telah mengubahnya menjadi peri jadi-jadian seperti ini. Apalagi Zha juga terlihat keberatan soal Dante yang tahu tentang kebebasannya dari bola perak yang telah mengurungnya itu. Sepertinya Dante harus benar-benar menutup mulut soal ini.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan peri transformasi, tapi aku tidak bermaksud jahat di sini. Dan sejujurnya aku tidak begitu tahu tujuanku berada di sini,” ujar Dante, dengan gumaman lemah yang tak meyakinkan di ujung kalimatnya. Dan memang saat ini Dante agak bingung, sebenarnya ia hanya ingin berada di dunia peri, bebas tak terkekang, namun tentunya ia tak bisa mengatakan ia berada di sini karena Zha.
“Dari mana asalmu?” tanya Fen kemudian, nada penuh selidik tetap terdengar dari suaranya, membuat Dante agak sedikit jengkel meski ia tidak tahu benar siapa peri di hadapannya ini. Ternyata peri-peri yang nyata tak sama dengan gambaran yang diceritakan di buku-buku dongengnya. Seharusnya mereka ramah, selalu tersenyum dan mengabulkan segala permintaan, bukan? Zha, peri galak dan seram yang pertama ia temui, dan sekarang Fen, meski tampan dan tak berbaju lusuh seperti Zha, Fen juga galak dan menjengkelkan dengan pertanyaannya yang menuduh dan menyelidik. Dante tak habis pikir dengan para peri ini, apa tidak ada sama sekali peri baik hati?
“Aku…” Dante pun kali ini sulit untuk menjawabnya karena pasti berujung pada pengakuannya tentang Zha, dan hal itu harus dihindarinya. Belum sempat Dante mengucapkan kata lain, sebuah anak panah melesat melewatinya, tepat di atas bahu Dante. Bulu-bulu di sayapnya serentak berdiri. Dante kaget bukan main, ia segera merunduk dan berteriak sekencang-kencangnya, “Tolong aku… kumohon tolong aku!”
Sebuah tangan menarik lengannya, Dante mendongak. Ternyata Si Peri Anggun yang berusaha menariknya. “Ayo, kita pergi dari sini! Kita berlindung di Agra!” teriaknya panik. Dante mengangguk dan segera berlari mengikuti Si Peri Anggun yang melayang cepat.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Fen dari tempat perlindungannya di belakang akar pohon sambil memegang anak panah beserta busurnya. Ia sudah melesat turun dan bersiap menyerang dari posisinya. Dua anak panah kembali meluncur, yang meleset beberapa inci saja dari kepalanya.
Dante bingung dengan pertanyaan Fen. Tentu saja menyelamatkan diri! pikirnya.
“Terbang! Dasar bodoh!” bentak Fen lagi.
Oh ya, dia lupa sekarang telah memiliki sayap. Tapi bagaimana caranya terbang? Dante bingung menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha melihat sayapnya, tapi tentu saja sia-sia.
“Ayo!” Si Peri Anggun menarik lengan Dante ke atas, “Kepakkan sayapmu. Perlahan-lahan. Rasakan ia sebagai bagian dari tubuhmu,” bimbingnya lembut, meski pandangan matanya awas ke depan memperhatikan arah serangan.
Dante mencoba merasakan sayap di punggungnya dan menggerakkannya. Rasanya seperti tangan, tapi berkali lipat lebih kuat dan besar. Ia mencoba mengepakkan sayapnya sekali. Dante tersenyum merasakan sensasinya. Ia mencoba merentangkannya lebih lebar dan menggerakkannya lagi, kali ini lebih cepat. Kemudian ia merasa ringan, seringan kapas yang bisa melayang tertiup angin. Dante menundukkan kepalanya dan takjub melihat ia tengah melayang! Kakinya tak lagi menginjak tanah. Ia tak pernah merasa seringan dan sebebas ini sebelumnya.
“Hei! Ayo cepat!” Si Peri Anggun memperingatkan Dante yang sedang terpana untuk bergegas menjauh. Raut wajahnya sudah semakin cemas melihat Fen mulai kewalahan membalas serangan, sementara bala bantuan dari Agra belum juga terlihat. Mereka harus segera mundur sebelum penyerang itu menyergap lebih dulu.
“Oh… ya, baiklah, tentu…” gagap Dante. Setengah tidak percaya, ia mencoba mempercepat laju terbangnya, dan ternyata ia berhasil melakukannya! Dante merasa senang sekali dengan kemampuan barunya ini.
Si Peri Anggun terbang naik turun melewati cabang pohon di depannya dengan begitu gesit. Sejenak mulut Dante ternganga melihatnya, ia berusaha mengikuti, namun tak urung ia beberapa kali menabrak cabang, bahkan batang pohon yang berukuran besar.
Tak lama kemudian, mereka telah keluar dari areal hutan dan tiba di padang bunga yang sungguh indah, berbagai macam jenis bunga sepertinya berebut tempat untuk tumbuh di sana. Ia bahkan tak bisa lagi menghitung berapa banyak warna yang muncul dari hamparan luas padang bunga itu, sungguh memesonakan mata. Langit biru yang sejuk juga tak kalah memesona menaungi padang bunga. Matahari terlihat cerah sekali, tapi ia tak merasakan panas terik yang seharusnya. Sebuah aliran sungai yang cukup lebar membelah padang bunga itu, beberapa peri terlihat riang terbang ke sana-kemari di atasnya. Dante menahan napas menyaksikan pemandangan di depannya. Hawanya sejuk dan menenangkan memandang hamparan bunga berlatar langit biru itu. Inilah dunia peri seperti dalam dongeng.
“Kita turun!” perintah suara di sampingnya, Si Peri Anggun menukik cepat menuju rumpun bunga tulip yang super besar untuk ukuran Dante sekarang. Dante terlalu kagum dengan suasana di sekitarnya hingga nyaris tak mendengar perintah Si Peri Anggun untuk turun mengikutinya. Ia masih terpana dengan lukisan alam di hadapannya. Kemudian sebuah tangan menariknya terbang menukik menuju rumpun bunga tulip yang sama.
Mereka mendarat di depan sebuah bangunan yang terbuat dari mahkota bunga dan daun. “Wow…!” Dante tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Atap gedung itu terbuat dari mahkota bunga berwarna kuning keemasan super besar yang menutup ke bawah, kelopaknya masih tersambung dengan batang yang menjulur dari tanah di sampingnya. Dindingnya terbuat dari banyak sulur tanaman yang saling mengait satu sama lain, seperti sulaman tikar jerami dengan banyak daun yang bertumpuk-tumpuk dan bunga kecil yang tumbuh di sana sini. Pintu bangunannya terbuat dari dua daun yang berjajar. Tak seperti daun pada umumnya, tulang daunnya meliuk dan mengait membentuk pola tertentu yang rumit. Empat peri terlihat berjaga di depannya. Tampang mereka cukup seram, dua di antaranya berambut merah menyala, menantang siapa saja yang melihatnya. Dua lainnya memiliki rambut cokelat gelap dan abu muda, sayap mereka terlihat sangat besar, mungkin mereka bisa terbang dua kali lebih cepat dari peri lain, untuk mengejar siapa pun yang berani mengganggu mereka. Keempat peri itu siaga dengan tongkat sihir di tangan, menatap curiga pada Dante. Ia menghela napas, sejauh ini cuma Si Peri Anggun di sebelahnya yang tidak terlihat galak seperti peri lainnya.
“Ah, itu menandakan kamu memang benar-benar orang baru di sini. Selamat datang di Agra, kita sudah aman di sini, lebih banyak pengawas dan penjaga. Perkenalkan, aku Nue. Apa kamu sudah punya nama?” tanya Nue tak yakin.
Dante mengalihkan pandangannya dari pemandangan menakjubkan di depannya, sedikit mengernyit, bingung dengan pertanyaan Nue. “Tentu saja aku sudah punya nama, sejak lahir aku punya nama,” jawab Dante tak habis pikir kenapa Nue beranggapan kalau orang tuanya akan menunda-nunda memberinya nama sampai ia sebesar itu.
Mata Nue terbelalak mendengar jawaban Dante. “Apa maksudmu?! Tunggu, kamu bukan… kamu bukan peri!” bisik Nue kaget. Keempat peri di belakangnya semakin curiga melihat gelagat Nue yang tiba-tiba terkejut menatap Dante. Untung saja jarak mereka cukup jauh untuk mendengar percakapan mereka.
“Ohh…!” Dante pun terkesiap, apakah peri tidak langsung diberi nama saat ia dilahirkan? Ia tidak tahu. Bagaimanapun juga ia telah kelepasan bicara dan ia tak ingin berbohong untuk peri baik di depannya ini, ia percaya pada Nue meskipun baru mengenalnya, entah kenapa.
“Ehm, sebenarnya memang bukan. Tapi sekarang aku adalah peri. Kamu lihat?” bisik Dante kemudian ia memutar tubuhnya dan memperlihatkan sayapnya yang berkepak-kepak kaku.
Nue terlihat sangat syok. Meskipun Dante tidak menunjukkan tabiat buruk, namun kenyataan bahwa transformasi yang ia lihat tadi memang dikarenakan Dante bukan peri. Membuatnya agak ragu untuk terus membawa Dante ke dalam Agra yang nyaman dan aman.
“Yah, tapi, tapi…” Nue bingung menentukan sikapnya pada peri jadi-jadian di depannya itu. Dante terbang mendekati Nue dan menggenggam tangannya, “Kumohon, jangan beri tahu peri yang galak itu ya, dan mungkin lebih baik jangan beri tahu siapapun Nue, kumohon, hanya kamu yang tahu. Tadi saja ia sudah mau menangkapku, apalagi kalau dia tahu asalku dulu bukan peri, pasti dia akan membunuhku! Belum lagi peri-peri itu juga sepertinya curiga padaku,” pinta Dante ketakutan.
Nue terkejut dengan sikap Dante, “Err… peri galak itu Fen, kakakku.”
Dante meringis mendengarnya. Sebenarnya dengan menggenggam tangannya seperti itu saja, Fen sudah akan membunuh Dante. Tapi ia tak tega melihat Dante dikejar-kejar kakaknya dan mungkin riwayatnya akan tamat, jadi Nue mengangguk menyanggupi permintaan Dante. Dan sebagai peri penjaga Agra, Fen pasti bisa merasakan Dante tak punya niat buruk dalam hatinya. Itulah kenapa ia membiarkan Nue menarik Dante untuk menyelamatkan diri. Dante senang melihat Nue memercayainya. Tapi keempat peri penjaga sudah tak sabar melihat Nue bercakap-cakap dengan peri asing yang baru pertama mereka lihat. Mereka mendekati Nue dan Dante.
Tapi sebelum mereka mengucapkan apapun, Nue sudah mengangkat tangannya. “Dia temanku dari Rumpun Bunga Ajisai. Dia hanya mengunjungiku sebentar, kalian tidak perlu khawatir. Fen juga sudah bertemu dengannya tadi,” terangnya lugas dan lancar. Peri berambut abu mengangkat bahu dan mengangguk, “Masuklah.”
Nue pun terbang masuk yang segera diikuti Dante, sebelum para peri penjaga itu berubah pikiran dan mulai menginterogasinya.
***
“Agra adalah tempat berkumpulnya para peri jika ada suatu masalah yang harus dibicarakan bersama. Biasanya tentang masalah keamanan, itulah mengapa Agra merupakan gedung huni yang terletak paling dekat dengan perbatasan. Akhir-akhir ini Agra tidak pernah sepi. Kami sedang terlibat perang dengan para pengikut Si Peri Durhaka,” Nue menjelaskan sambil berlalu tentang bangunan yang mereka masuki. Dante tak bisa berhenti memutar kepalanya agar semua detail indah Agra tak luput dari pandangannya. Mereka menuju ke suatu lorong dengan banyak pintu di kanan dan kirinya. Lorong itu bernuansa menenangkan, bunga matahari sebagai hiasan terjulur di sepanjang lantainya. Dindingnya entah terbuat dari apa, teksturnya terlihat kasar namun lembut jika disentuh, warnanya yang putih keemasan memberikan nuansa elegan dan tenang.
“Nah, kita sampai… Ouch!”
“Maaf… maaf!” Nue berhenti mendadak di depan sebuah pintu berukiran huruf-huruf yang tidak Dante kenali. Karena sibuk mengamati seluruh gedung, Dante menabrak Nue hingga hampir terjungkal.
“Sekarang kita ke mana?” tanya Dante polos. Nue tersenyum geli melihat ekspresi tamunya yang satu ini.
“Sekarang kita akan ke kamar Anda, Tuan,” Nue membukakan pintu di sampingnya dan membungkukkan badan, mempersilakan Dante untuk masuk, layaknya pelayan hotel mewah.
Dante melayang masuk dan sekali lagi kagum dengan apa yang sedang dilihatnya. Ruangan itu sebenarnya sama sekali tidak mirip dengan kamar tidur. Lebih seperti taman bunga dalam ruangan dan tentu saja beratap. Sekuntum bunga matahari yang lebar bertengger santai di samping dua buah bunga tulip dengan sehelai mahkotanya yang menjuntai. Nampaknya berperan sebagai meja dengan dua kursinya. Sehelai daun segar yang sangat lebar melayang-layang di ujung ruangan, pasti itu adalah tempat tidur, tebak Dante yakin. Untuk yang lainnya, Dante masih bingung menentukan fungsinya layaknya di dunia manusia.
“Sebenarnya di sini sangat banyak kamar yang lebih baik, tapi saat ini Agra sedang ramai, seperti yang aku katakan sebelumnya. Jadi hanya kamar ini yang tersisa,” perkataan Nue memecah keterpesonaan Dante terhadap kamar barunya.
“Oh… tentu tak apa. Kurasa ini adalah kamar yang terbaik. Aku senang di sini. Um… bisa kamu jelaskan apa fungsi dari bunga ini?” Dante menunjuk sebuah bunga tulip ungu besar dengan posisi terbalik yang menggantung di sampingnya, yang sepertinya sanggup menyembunyikan tiga peri di dalamnya.
Nue tertawa sejenak, “Oh kamu ini lucu sekali… itu adalah tempat kamu menyimpan perlengkapan dan pakaianmu.”
“Ah lemari pakaian maksudmu. Tapi, hei... aku tidak membawa baju satu pun, apa di sini ada mal?”
“Apa itu mal?” kening Nue berkerut-kerut tanda tak mengerti.
“Di sini tidak ada mal ya... mal adalah tempat kita membeli segala keperluan kita,” ujar Dante bersemangat. Ia selalu senang diajak pergi ke mal bersama Ami, di sana ia melihat berbagai macam barang dan orang-orang yang berlalu lalang. Dante bisa menemukan apapun di mal.
“Ah… di sini kita tidak membeli apapun, Tuan. Segala yang kita perlukan ada di sekitar kita, tinggal mengambil dan mengolahnya saja, dan kadang dengan sedikit harapan dan ayunan tongkat,” jelas Nue sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Dan kurasa kamu perlu membuka tempat perlengkapanmu, supaya kamu tahu bahwa sebenarnya kamu punya banyak baju,” jelas Nue, yang membuat Dante hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia baru di dunia peri dan begitu banyak yang tidak diketahuinya, mendengar penjelasan Nue sungguh meningkatkan minatnya untuk tahu lebih dalam tentang peri dan dunianya.
Dengan kikuk Dante membuka satu helai mahkota bunga tulip terbaliknya dan ternganga melihat tumpukan dan banyak gantungan baju-baju yang terlihat agak ajaib bentuknya bagi Dante.
“Yeah, mengagumkan!” Dante tak hentinya berdecak kagum.
“Apa kamu lelah, Tuan? Kamu ingin aku meninggalkanmu sendirian di kamarmu untuk beristirahat?” tawar Nue.
“Tidak. Sama sekali tidak. Hei, dan jangan panggil aku ‘Tuan’. Namaku Dante,” kata Dante ramah sambil mengulurkan tangan.
“Ya, dan aku Nue, aku sudah menyebutkannya tadi,” Nue mengaitkan lengan kanannya ke lengan kanan Dante sehingga mereka berdampingan, namun menghadap ke arah yang berlawanan. Nue terbang setengah putaran, membalikkan badannya, mengaitkan lengan kirinya ke lengan kiri Dante dan kembali terbang setengah putaran lagi.
“Oh, apa yang kamu lakukan?” tanya Dante merasa agak pusing.
“Ini cara para peri pria dan wanita berkenalan,” kata Nue heran.
“Ya ampun, bagaimana jika aku bertemu peri wanita lainnya dan berkenalan dengan mereka satu per satu? Pasti aku akan pingsan,” ujar Dante menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nue tertawa mendengar kekhawatiran Dante, “Oh, kamu akan jarang menemukannya di Agra. Ini tempat berkumpulnya para peri penjaga yang tentunya semua adalah pria,” kemudian ia terlihat berpikir sejenak dan bertanya takut-takut pada Dante, “Um… sebenarnya kamu ini apa?”
“Oh… eh… aku tidak bisa memberitahumu. Maaf,” gumam Dante.
“Hmm… aku berpikir mungkin saja kamu lebah atau ulat sutra yang meminta berubah menjadi peri. Itu banyak terjadi di sini. Yah, meski perubahan mereka tidak akan berlangsung lama. Tapi tampaknya bukan. Kamu benar-benar berasal dari luar Ladang Peri, iya, kan? Baiklah. Tapi bagaimana kamu bisa sampai menjadi peri?” tanya Nue terheran-heran.
Dante menelan ludah mendengar spekulasi Nue. Ia juga baru tahu ada lebah dan ulat sutra yang berkeliaran sebagai sosok peri. Dante bergidik. “Sebenarnya itu adalah rahasiaku. Aku tidak boleh mengatakannya pada siapapun. Aku harap kamu mengerti. Maaf,” Dante bersyukur peri di sini tidak memiliki kemampuan membaca apa yang sedang dipikirkannya seperti Zha. Jika mereka bisa, habislah sudah riwayat Dante di sini.
Nue menatap Dante tertegun, tak berkedip sama sekali. Membayangkan makhluk apa sebenarnya yang ada di balik wajah ramah dan polos Dante.
“Hei, jangan menatapku seperti itu,” kata Dante salah tingkah.
“Oh, maaf,” Nue segera tertunduk. Pipinya bersemu merah lagi, malu terhadap apa yang dilakukannya terhadap peri yang baru ia kenal. Selama ini ia tak pernah berbicara dengan peri lain kecuali didampingi oleh kakaknya, Fen.
“Yah, maaf juga aku tidak bisa memberitahumu tentang asal usulku. Tapi yang jelas aku tidak bermaksud jahat di sini. Aku harap kamu percaya padaku,” pinta Dante lirih. Nue tahu Dante tidak memiliki niat jahat, ia pun bisa merasakannya, “Kamu percaya padaku?” merasa tidak dihiraukan, Dante mengulangi permintaannya.
“Tentu,” Nue mengangguk menenangkan.
“Fuh.. terima kasih. Dan kuharap kakakmu juga demikian. Kulihat ia sangat sulit percaya pada yang lain, aku bisa susah nanti,” ujar Dante lega sekaligus cemas memikirkan reaksi si Peri Tampan yang tampak selalu curiga, Fen.
“Sangat sulit. Lebih sulit dari yang kamu bayangkan,” gumam Nue tertunduk.
***

Other Stories
Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Gm.

menakutkan. ...

The Ridle

Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...

Download Titik & Koma