Kosong
Raina sepertinya butuh kesegaran, sehingga Roman mengantarnya untuk menginap beberapa hari di rumah Pak Tomi dan Bu Lila. Menatap taman yang selalu menjadi kebanggaan di masa kecilnya. Mencabuti rumput dan ilalang yang berani tumbuh dengan nakal, menggoda tangan Raina yang terampil, agar bisa mengubah taman secerah saat dia masih menjadi penghuni rumah tersebut.
Selalu bertemu dengan senja hari. Mereka semua sesama penyuka senja. Mengabadikan setiap momen dalam ratusan senja.
“Roman, boleh aku bertanya?” Raina menatap lembut suaminya.
“Iya, Sayang …” Roman sedikit cemas.
“Apakah kamu bisa mencintai wanita lain, selainku?”
“Bisa…” jawab Roman pasti.
Raina tak memberikan reaksi.
“Hei, bukankah Saqueena juga wanita? Kedua ibu kita kan wanita juga, Rai…” Roman menggoda.
Raina bergeming, tak ada seulas senyum tanda tergoda, “Jawab aku, Roman…” Raina berbisik pelan.
Roman menggeleng. Seketika tatapan matanya lesu. Dia pandangi wanitanya, terlihat cantik meskipun tak lagi muda, usia tiga puluh lima tahun telah menghiasi. Kerudung maroon dan gamis abu-abu membalutinya.
“Mengapa Raina memakai baju itu? Baju yang kusuka saat pertama kali jatuh cinta. Baju yang tak pernah memudar warnanya. Sehebat itukah Raina merawat warna ynag kusuka darinya? Sepertinya dia sangat takut kehilanganku. Dia ingin membuatku tetap jatuh cinta, meskipun kini dia merasa ada kekosongan yang melanda,” Roman menatap lekat ke arah Raina.
“Roman, apakah dalam pandanganmu Ibu tak menyukaiku sebagai menantu?” Raina memandang cemas.
“Bukan begitu, Raina. Ibu terlalu baik menilaimu sehingga mengabaikan sisi nalurimu. Ibu percaya denganmu yang selalu bisa berbagi,” Roman menjelaskan.
“Semudah itukah untuk berbagi suami?”
“Tidak. Maafkan kesalahan Ibuku,” Roman tertunduk.
Raina menoleh ke arah Roman, “Aku harus berubah dan mengikuti keinginan Ibu.”
Roman bergeming menahan kaget, “Beginikah wanita, bisa berubah begitu cepat?”
Roman menarik pundak Raina dengan penuh kasih sayang. Posisi Raina sebelumnya--bersimpuh di hadapan Roman yang duduk di kursi taman. Kini tubuh mereka sejajar dalam berdiri. Roman memeluk erat. Mengusap kepala Raina berulang kali.
“Sayang, sudah ratusan kali kuucapkan. Aku tak pernah ingin menyakitimu. Aku tak ingin menduakanmu. Siapa pun yang menyuruhku.”
Roman melepaskan pelukan dan mengangkat wajah Raina yang terlihat sendu. Hidungnya memerah, mata sembap, dan isak yang kerap.
“Roman, biarkan aku yang mengantarmu melamar wanita itu,” Raina menatap tulus ke arah Roman.
“Apa yang terjadi dengan hatimu, Rai?” Roman kaget.
Raina menggelengkan kepala dan bersiap membawa kunci mobil. Dia memakai kaos kaki berwarna cokelat, menggamit tangan Roman.
Roman menolak.
“Ayolah, Roman. Wanita itu harus kita tolong. Tadi Ibu mengirim pesan dan menelepon. Ibu memang sangat baik menilaiku. Aku sempurna untuk Ibu sebagai menantu. Keina lebih muda dariku tujuh tahun. Dia cantik, berhijab sepertiku. Kamu takkan menyesal, Roman…” riak cemburu masih tersisa.
Raina tak lagi menunggu protes Roman. Dia berjalan menuju garasi rumah orang tuanya tersebut.
“Dia tunarungu, Raina…” Roman menghela napas berat.
Seketika langkah Raina terhenti. Kemudian mematung. Pendar kaget tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
“Apakah kamu sanggup menerima dan membesarkan anak yang bukan darah dagingku? Keina diperkosa, Raina! Bagaimana jika darah bajingan itu terus mengalirkan tabiat buruk kepada anaknya? Ingat, Raina… wanita itu tunarungu!” Roman membentak istri yang selama ini dikasihinya.
Raina tetap mematung. Ada bimbang yang singgah di wajahnya.
“Poligami bukanlah permainan, Rai. Terlebih dirimu itu selalu berubah pikiran dengan cepat. Bukan perkara ringan sehari dua hari. Ada fase cemburumu yang akan meledak. Bukan hanya aku yang akan engkau lukai, tapi hatimu juga hatinya. Engkau bisa bicara bahkan memaki, bisa menghancurkan apa pun sekuasa dayamu. Tapi dia, suara mungkin tak ada, jika pun ada takkan bisa dimengerti. Pendengarannya pun hampa, jika ada suara yang terdengar, itu pun pastinya harus dibantu alat dengar. Hanya hatinya yang akan merekam jelas tumpukan luka demi luka. Bagaimana jika doanya yang menikam kita?” Roman tak lagi bisa membendung isi perasaannya.
“Aku tak bisa lagi menahan pilu menatap wanitaku. Dia takkan bisa, jika dalam waktu dekat berbagi tempat dengan wanita yang mungkin saja nanti bisa aku cintai lebih besar,” Roman berbisik mengelus sakit di bagian hatinya.
*****
Mengapa kehidupan ini tidak selalu menyuguhkan ketenangan dalam waktu yang panjang? Kini, mereka tengah menghadapi kekosongan demi kekosongan yang tak bisa ditebak. Inikah cara Tuhan untuk menguatkan setiap batin manusia?
“Papa, nikahilah Mbak Keina…” Saqueena menatap ayahnya dengan memelas.
“Queen, mengapa kamu ikut-ikutan Ibumu dan Eyang? Tidakkah kamu menghargai hati Papa?”
“Papa malu karena Mbak Keina tunarungu? Papa malu karena Mbak Keina diperkosa?” Saqueena menangis.
“Queen, dengarkan Papa. Semua tak semudah itu. Pikirkan perasaan Mama dan orang tuanya,” Roman
merasakan tekanan yang besar.
“Aku sudah mengizinkanmu, Roman…” senyum Raina berbinar. Disusul kehadiran kedua orang tuanya.
Roman tertunduk.
“Pergilah untuk melamar wanita itu, Roman. Ayah mengizinkamu.”
“Ibu juga sama, kita lewati semua bersama. Ini kesempatan untuk kalian meraih pahala.”
Roman terkadang bingung dengan keluasan hati kedua mertuanya. Selalu begitu ringan dalam menyikapi
setiap permasalahan. Tidak pernah memperlihatkan begitu subjektif terhadap anaknya.
“Roman, mungkin ini yang tergaris untuk kita. Dulu, aku memilihmu karena Allah. Aku percaya atas setiap
misi spesifik yang harus kita emban. Dulu, aku memilihmu untuk melengkapi semua kekuranganku. Aku
yakin kamu pun menguatkan kelemahanku. Nikahilah Keina,” Raina memeluk tulus.
Saqueena pun memeluk Roman, laki-laki yang sudah menyuguhkan cinta pertama untuknya. Mencipta
sebuah penerimaan dari keras kehidupan yang disuguhkan. Saqueena melihat bahwa kebijaksanaan seorang
laki-laki bukanlah dari begitu lurus telunjuknya saat menuntut hak. Tetapi erat pelukan yang penuh kasih,
saat mengiringi kewajiban dalam bingkai perbedaan pemikiran. Saqueena menemukan keistimewaan itu
dari jiwa Roman yang tumbuh tanpa seorang ayah.
*****
Kekosongan yang ada kini berubah makna. Kemarin
lahir dari kekacauan, kini hadir dari ketenangan. Semuanya sama-sama kosong. Roman tak bisa menebak
kondisi Keina yang sudah belasan tahun tak ditemui, sejak Keina dirawat orang tua asuh. Mereka awalnya
meminta untuk mengadopsi Keina dari yayasan yatim piatu yang dikelola ibunya.
“Mengapa Keina kembali ke kota ini? Bukankah dulu orang tua asuhnya membawa Keina ke luar kota? Di mana
terjadi pemerkosaan itu? Mengapa dia bisa tinggal di tempat guru menulis Saqueena?” Roman harus memecahkan
semua yang berkecamuk di pikirannya. Rasa kosong kembali menyergap. Dia pasrahkan pada tiap bait-bait
doa yang ada.
*****
“Queen, Papa belum bisa jika harus menyakiti Mam
a,” Roman menghampiri anak gadisnya.
“Mama tulus mengizinkan Papa menikah lagi. Mama curhat, nggak bisa lagi mengandung anak Papa. Sejak
Mama terdeteksi memiliki kelainan kehamilan dan terinfeksi virus toksoplasma beberapa tahun lalu. Queen
tahu Mama takut sekali kehilangan Papa. Tapi kata Mama, Papa itu milik Allah. Kita harus punya misi
menolong. Mbak Keina sebatang kara, yang dia miliki hanya Eyang Emi…” Saqueena tersenyum getir.
“Apakah jalan satu-satunya menolong itu harus menikahi?” Roman menyelidik isi pikiran anaknya.
“Mungkin itu yang terbaik, Pa.”
Roman termenung.
“Bukankah dulu Mbak Keina sahabat Papa?”
“Teman bermain, kami beda tujuh tahun. Dia anak yatim paling kecil, sehingga satu yayasan menyayanginya,
terlebih pendengarannya terganggu. Apakah dia masih mampu berbicara meskipun berat?”
“Bisa, Pa. Mbak Keina pun termasuk penyandang disabilitas yang cerdas dalam berbahasa, sehingga dia
diangkat jadi asisten guru menulis, padahal awalnya hanya asisten rumah. Namun, tulisannya membuat
Mbak Eliza jatuh cinta. Memang kemampuan fisiknya terbatas, tapi dia rajin membaca, sehingga
kosakatanya banyak jika menulis atau berbahasa isyarat. Terlihat dari setiap tulisan yang dia ciptakan, rasa
yang dia hadirkan selalu begitu natural dan tulus. Sehingga saat dia berbagi ilmu, bisa menarik bagi Queen
dan teman-teman.”
Roman kembali masuk dalam rasa kosong. Tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi, jika dia
memiliki jodoh kedua dalam hidupnya.
*****
Siang itu, Roman segera kembali dari kantor. Setiba
nya di depan rumah. Pagar terkunci dan bergembok.
“Ke mana Raina?” gumamnya.
Dia segera menelepon Raina.
“Rai, di mana?”
“Aku tadi sudah WA lho. Tapi centang satu. Aku dan Queen ada di rumah Ibu.”
“Ok, aku segera ke sana.”
Tanpa berpikir panjang, Roman segera memutar balik mobil menuju rumah ibunya.
*****
Sungguh, siang yang sejuk. Matahari tidak menyeng
at. Semilir angin bertiup menyibak wajah Roman yang bergegas membuka pintu rumah ibunya. Wanita
setengah baya itu sudah menyambutnya dengan penuh cinta.
“Roman, anakku… Ibu rindu padamu,” Bu Emi memeluk erat anaknya.
“Ada apa nih, Bu? Ibu sehat kan? Raina dan Queen mana?” Roman membalas pelukan ibunya.
Bu Emi menggenggam tangan Roman dan membawanya ke ruang tengah. Ada Raina yang tersenyum begitu
hangat, Saqueena yang berbinar dan satu wanita lain, tengah tertunduk.
Roman berdiri keheranan. Setelah mengawasi begitu jelas, wanita asing di hadapannya adalah Keina. Roman
terkesiap dan tersinggung atas ulah ibu, istri, dan anaknya. Dia bergegas berbalik arah, tak mengeluarkan
sepatah kata pun. Jiwanya terasa sesak.
Roman terus berjalan ke luar rumah, Raina mengejar dari belakang.
“Roman…”
“Apa yang kau lakukan? Kau sudah benar-benar tak mencintaiku lagi?” Roman berhenti tanpa menoleh ke
arah Raina.
“Roman, aku ikhlas…” suara Raina bergetar.
“Simpan keikhlasanmu. Bukan ini yang aku inginkan, masalah akan bertubi-tubi datang di depan. Mungkin
benar, aku memang pengecut, tidak mau mengambil risiko dari pilihan kalian. Semata-mata karena aku
menyayangi kalian. Nanti ada masanya hantaman masalah itu akan datang. Apa yang bisa kau janjikan, agar aku yakin kau tetap ada di sampingku?” Roman tak beranjak dari tempatnya.
Raina meringis, ada bagian hatinya yang terasa sakit, melihat Roman tak bisa sejalan dengan keinginannya,
“Aku akan tetap di sampingmu.”
“Raina, hati dan langkah itu bisa cepat berubah,” suara Roman mengeras.
“Apakah ada jaminan juga jika kita tetap berdua, takkan terpisah?”
“Tidak juga, tapi tidak harus saling menyakiti seperti ini, Rai…” nada suara Roman melunak.
“Izinkan aku belajar menjadi wanita yang dirindukan surga, bahkan menjadi bidadari surgamu,” tangan Raina
meraih tubuh Roman.
“Terlalu klise semuanya, Rai…” Roman menyangkal.
“Mengapa kau seperti ini, Roman? Poligami itu Syariat Islam, kau bukan penganut paham feminis kan? Tak
pantas rasanya berkata seperti itu. Aku yang lebih pantas berkata begitu, tapi tidak aku lakukan. Semua
berkesan meremehkan aturan Allah.”
“Astaghfirullah, maafkan aku. Tapi Rai… berikan aku kesempatan untuk berpikir.”
“Aku tahu yang engkau takutkan adalah jatuh cinta. Aku tahu bisa saja dia lebih kau cintai. Aku merasakan
yang ada di hatimu, Roman.”
Raina meraih tangan Roman. Seakan tak ingin berlama-lama menunda kesempatan. Tiba kembali di ruang tengah. Keina menatap laki-laki yang pernah dianggapnya sebagai kakak di masa kecil.
“Hai, Keina…” Roman mengingat beberapa bahasa isyarat. Dia memperagakan kembali setelah sekian tahun tak menggunakannya. Terasa kaku.
Keina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Keina menatap wajah Saqueena, seakan meminta untuk menjelaskan semua bahasa isyaratnya kepada Roman. Mata bulatnya yang cantik mengedarkan pandang, menatap wajah Bu Emi, Raina, dan terakhir seraut wajah Roman yang terlihat tegang.
Saquenna menggerakkan tangannya, memberi beberapa bahasa isyarat.
“Mbak, boleh ungkapkan semua yang Mbak rasa…” Saqueena tersenyum.
Keina mulai menggerakkan tangannya, diikuti penjelasan dari Saqueena.
“Aku mohon maaf telah membuat masalah yang begitu banyak. Aku tahu siapa yang memperkosaku. Aku tahu… kini ada janin dalam rahimku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima semua dengan lapang dada,” Keina sesaat berhenti. Saqueena menyeka air mata yang sudah sejak tadi bergulir.
“Lanjutkan, Mbak…” Saqueena menatap wanita itu.
“Ingin rasanya aku pergi, membawa seluruh luka hati. Namun, aku sadar ini bukan kali pertama, aku harus bekerja keras meretas kekuatan diri. Aku urung untuk menganiaya diri. Aku sadari, semua sebagai takdir hidupku. Aku tak sanggup jika harus mendampingi Kak Roman dan Kak Raina, hidupku teramat kotor. Maafkan, bukan aku menolak segala kebaikan. Berumah tangga itu perlu cinta. Aku tahu cinta Kak Roman utuh untuk Kak Raina. Maafkan aku, Bu Emi. Aku tak sanggup memporakporandakan kebahagiaan yang sudah ada,” Keina menghela napas, Saqueena pun melepaskan sedunya.
Raina pun tersedu di sudut ruangan, tak beda dengan Bu Emi. Roman masih berdiri mematung. Rasa iba menyesakkan dada. Menghela napas sesaat agar terasa melonggar rongga yang padat dengan beban.
Semua masih terasa misteri untuk Roman. Semua teramat menyakitkan untuk Raina, ingin menolong tapi kebisuan Roman menguras kesabarannya.
“Roman tolong berikan sebuah keputusan…” Bu Emi bersuara.
Lama Roman bergeming. Hening.
“Aku tak ingin melukaimu, Rai…” Roman resah.
“Takkan ada luka, Raina telah berucap pada Ibu tentang indahnya keikhlasan…” Bu Emi mengusap pundak
Roman.
“Baiklah, aku mencoba menjalani semua, Bu. Asalkan Raina tak beranjak dari hidupku.”
Raina terlihat berbinar dan tak sadar memeluk Roman dengan penuh cinta.
*****
Wajah Keina yang cantik, tertunduk dalam bimbang. Dia meremas jari yang sudah terlihat gemetar. Benarkah dia bisa melewati jalan rumit ini? Baginya lebih baik membesarkan janin itu sendirian. Namun, permintaan wanita setengah baya itu--Bu Emi--selalu berhasil membuatnya tak bisa menolak.
Takdir tak bisa dipungkiri, hari pernikahan itu tetap terjadi. Sederhana dan Islami. Raina yang paling sibuk
mempercantik wajah calon adik madunya. Entah apa yang tengah berkecamuk di hati Raina? Mungkinkah
dia diam-diam terluka, atau memang telah lapang dada seutuhnya?
*****
Other Stories
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...