Melepasmu Dalam Senja

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Rizka Agnia Ibrahim

Saqueena

Roman dan Raina sangat menyukai senja… senja bagi keduanya adalah kamus yang menyuguhkan banyak kata bermakna, saat mereka larut dalam pengembaraan merangkai kata. Dalam senja, mereka sering berlama-lama berbincang di teras rumah, meski sekadar menenangkan Raina yang sesekali merasa mual.
“Roman, mengapa kau menyukai senja?” Raina bertanya sambil menyuguhkan secangkir teh hangat.
“Dalam senja, aku banyak mengintip segala hal tentangmu…” Roman tersenyum menggoda Raina.
“Mulai deh, gombal tingkat dewa.”
“Bagaimana kondisimu hari ini?”
“Alhamdulillah, seiring bertambah usia kandungan, kondisi tubuh mulai kompromi. Meskipun terkadang datang mual.”
Hari-hari tetap terhiasi dengan indah, sampai tiba hadirnya sang bayi mungil dan cantik--bayi perempuan yang mewarisi kecantikan ibunya.
*****
Rangkaian hari demi hari dilewati oleh keluarga kecil tersebut dengan bahagia. Memiliki buah hati menghadirkan keindahan yang tak terperi. Mereka semakin yakin tentang cinta yang begitu menenteramkan.
Semua sudah berlalu lima belas tahun, Saqueena--si gadis kebanggaan Raina dan Roman--tumbuh dengan sangat membanggakan. Tampil berhijab seperti ibunya dari sejak kecil, berprestasi, dan mewarisi jiwa penulis dari kedua orang tuanya. Semuanya masih sangat indah dan tetap terasa kebahagiaan itu. Keluarga kecil yang mulai mendulang sukses. Buku Roman berulang kali dilabeli dengan penjualan terbaik.
Di suatu pagi yang sejuk, bunga-bunga di taman depan rumah terlihat begitu segar. Daun-daun hijau, menitip bulir embun pada mentari yang mulai menghangat, hingga titik air itu menguap. Aroma pagi menyiratkan banyak romantisme dari Sang Ilahi. Seperti embun yang lenyap, pergi, dan kemudian esok datang kembali. Selalu ada ujian untuk pertemuan daun dan embun.
Dalam kehidupan ini pun bagai gelombang di pantai, seperti halnya daun… perlu sejenak terpisah dari embun yang tak hanya miliknya. Takkan selamanya tenang itu ada, untuk menjadi matang bukan sekadar kedamaian yang menghiasi dalam merajut kebersamaan. Perlu sesekali badai yang mendewasakan.
Berawal dari sebuah pesan singkat dari Bu Emi-- ibunya Roman--ketenangan mulai beriak. Ada prahara yang mengguncang kehidupan Raina.
“Roman, nikahilah gadis itu. Ibu tidak tega melihatnya. Nikahilah, Keina. Kesuksesanmu sudah terlihat, mungkin bukan hal yang sulit untukmu berbagi. Berpoligamilah. Ibu yakin, Raina akan mengizinkanmu,” Itu pesan singkat yang terbaca oleh Raina.
Darah Raina terasa berdesir, tekanan emosi dalam dirinya seakan menyeruak tak bisa ditahan. Tangannya mengepal, wajahnya memerah. Dia banting berkali-kali telepon seluler milik Roman. Kemudian Raina menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Berharap penat beranjak. Inginnya dia berlari menghambur dan mencaci maki Roman. Namun, dia tahan karena Saqueena masih begitu menikmati kelekatan dengan ayahnya.
*****
Roman menatap anak gadisnya yang sudah beranjak besar. Dia tersenyum dam mengelus kepala Saqueena.
“Queen, apa cita-citamu?” Roman menatap bening mata anaknya.
“Jadi penulis terkenal seperti Papa,” binar matanya menyejukkan pandangan.
“Mengapa suka menulis?”
“Melihat Papa dan Mama, tapi lama-lama Queen menemukan kebahagiaan dalam menulis.”
“Mengapa tidak memilih cita-cita lain?” Roman menggoda.
“Ahhh Papa, Queen sukanya menulis,” wajah gadis itu cemberut.
Mereka tertawa lepas. Namun, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara benda yang terjatuh cukup keras.
“Pa, ada apa di kamar?” Saqueena terlihat kaget.
Roman bergegas mencari sumber suara. Dia masuk kamar perlahan. Ada Raina tengah tersedu.
“Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?” Roman langsung memeluk istrinya.
Raina memukul-mukul dada Roman, “Aku benci kamu, Roman!”
“Ada apa?” Roman berupaya menghindari pukulan.
Raina melemah dan tersungkur di atas kasur. Tangisnya semakin menjadi-jadi.
“Istighfar, Sayang. Kasihan Saqueena, nanti dia bisa trauma melihat kondisimu seperti ini…” Roman mengusap lembut kepala Raina.
Raina belum bisa menguasai emosinya, giginya gemeletukan, rahangnya terlihat mengeras, tatapan mata beringas, dan tangan mengepal. Seakan siap meninju Roman yang tengah mencoba menguasai keadaan. Roman sama sekali tidak mengerti.
Tiba-tiba Saqueena datang, “Mama kenapa, Pa?” Saqueena terlihat panik.
Sekian tahun hidup dalam istana tersebut, Saqueena tak pernah mendengar kegaduhan. Dia selalu menemukan sinar cinta, bersama kedua orang yang berharga sepanjang hidupnya. Saqueena berdiri mematung, tak lama kemudian menghampiri Raina. Mengusap-usap punggung wanita yang selalu dibanggakannya.
Raina menatap sekilas wajah putrinya, ada banyak rasa yang tergambar. Ingin berhenti dan menutupi, tapi sudah terlanjur terjadi. Ingin melepaskan rasa yang menyesak, dia sadar… Saqueena belum tentu mengerti dengan semua yang terjadi.
“Ke mana aku harus melabuhkan rasa, di saat kondisi tak berpihak? Hati siapa yang bisa menerima rasa sedihku? Laki-laki itu, bukan lagi tempat terbaik untukku. Aku benci dia. Sangat membencinya. Seluruh rasa cinta seakan lenyap. Ahhh mata gadisku sudah berkristal, aku telah menyakitinya. Merampas arti bahagia yang dia genggam selama ini,” gemuruh hati Raina terisi percakapan batin, yang penuh dengan kecemasan dan kebingungan.
“Aku ingin pulang, Roman?” Raina masih terisak.
“Berceritalah, Sayang. Apa yang terjadi denganmu?” Roman terlihat gusar.
Raina mengedarkan pandangannya. Hingga terhenti di satu objek. Telepon seluler yang sudah berantakan di atas kasur. Roman seakan mengerti. Dia memasang semua komponen besar telepon selulernya. Roman menyalakannya kemudian membuka setiap pesan yang masuk dan memeriksa pesan yang sudah dibaca oleh Raina.
Roman merasa degup jantungnya terhenti, saat matanya terantuk pada sebuah pesan dari ibunya.
“Inikah yang membuatmu begini, Sayang?” Roman menatap sedih.
Raina menganggukkan kepala lemah.
“Maafkan Ibu ya, Rai.”
Saqueena tiba-tiba punya keberanian merebut telepon seluler ayahnya. Tak bisa dihindari, semua pesan sudah masuk ke otak dan kemudian menjadi bahan pemikirannya. Netranya yang sudah berkristal tak lagi bisa terbendung. Tumpahlah air matanya. Tak lagi bisa dihindarkan--terlihat lebih pilu dibanding tangis ibunya.
Roman semakin dibuat kebingungan. Dia harus meredakan semua kesedihan hati kedua orang yang sangat dicintainya.
Raina kaget, sesedih itukah tangisan Saqueena untuknya? Dia merasa menjadi orang yang paling bersalah.
“Queen, maafkan Mama…” Raina merangkul anaknya.
“Maafkan, Papa…” Roman pun tak bisa menahan kesedihan. Matanya berkaca-kaca.
*****
Cukup lama Saqueena menangis, memeluk bantal kesayangan yang bergambarkan dia dengan seorang wanita cantik.
“Ini foto Mbak Keina…” gadis itu memberikan bantal hati berwarna merah jambu.
Roman terlihat gelagapan dan bingung. Mengapa Saqueena mengenal Keina? Bahkan begitu dekat sepertinya? Kebingungan Raina lebih besar, dia merasa aneh dengan perilaku anaknya.
“Jangan-jangan antara Roman, Bu Emi dan Saqueena memang sekongkol ingin mengusirku? Mengapa aku tidak tahu jika anakku dekat dengan calon ibu tirinya? Apakah aku telah dibuangnya? Apakah karena kesibukanku di kantor redaksi membuat Quenn-ku berpaling dan mencari ibu baru?” cemas itu sudah tak lagi bisa disembunyikan.
Roman merasa isi kepalanya begitu menyesakkan, penat yang luar biasa menyerang. Baginya ini adalah teka-teki yang tak mudah ditebak.
“Ada apa ini? Mengapa Queen terlihat dekat dengan Keina? Ya Allah, apa yang akan terjadi dengan keluargaku?” laki-laki itu mulai merasa goyah.
“Queen, jelaskan pada Mama. Mengapa tadi kau menangis? Menangisi wanita itu?! Kapan kau berfoto dengan wanita tersebut? Kau bersekongkol dengan Papamu?” Raina sudah tak mampu mengontrol emosinya.
Raina tak menunggu jawaban, dia hancurkan semua pigura yang terpajang, dihempaskannya semua vas bunga yang tertata rapi. Emosi gila telah menguasai batinnya. Tak ada lagi air mata di pipinya. Wanita yang dikenal hebat itu, kini hancur di hadapan keluarganya sendiri. Caci maki keluar begitu lancar dari mulutnya, selama lima belas tahun tak pernah dia hadirkan dalam kemarahan sebesar apa pun. Tak lagi peduli dengan reaksi tetangga yang mungkin saja ada yang mendengar.
Saqueena terhenyak di pojokan ruangan--tangisnya semakin menjadi. Roman berusaha memeluknya. Konflik sudah tak lagi bisa dihindari.
“Raina, kuasai dirimu! Semua belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan!” suara Roman sedikit keras. Memanggil ‘kamu’ kepada Raina adalah hal yang paling dihindari oleh Roman selama berumah tangga.
“Diam kamu!” Raina tak kalah sengit.
“Kamu yang harus diam dan patuh pada suami!” tekanan suara Roman makin tinggi.
“Semua gara-gara kamu. Anakku dirampas wanita itu!”
“Tidak, Mama. Tunggu penjelasan Queen,” gadis itu memeluk tubuh ibunya.
Raina masih membabi buta. Semua buku dilemparkan, semua barang yang terjangkau dihempaskannya dengan sekuat tenaga.
“Mama, istighfar. Queen mau jelaskan tentang Mbak Keina.”
Raina menatap wajah anaknya dengan tajam.
“Kita rapikan dulu semuanya. Mama ambil air wudu agar tenang.”
Saqueena memunguti pecahan kaca. Raina dipapah Roman untuk membasuh wajahnya. Gadis itu tersedu, mengemas doa di antara pilu yang dia rasa.
*****
Gadis cantik yang berusia hampir lima belas tahun itu, menatap puing-puing pecahan kaca. Pandangannya sayu, sorot bola matanya tak menyisakan binar bahagia.
Saqueena memajang lamunan di antara suara-suara kepiluan yang mengaduk perasaan. Semua telah mengacak-acak bangunan kebahagiaan. Pedih yang terekam, kontras dengan wajahnya yang belum kering dari air mata.
Dia menemukan sebuah gambar hitam putih yang tertimpa pecahan kaca dan kayu pigura. Tergambar senyum manis dari wajah laki-laki tampan, di sampingnya ada wanita cantik yang tengah memeluk bayi mungil. Gambaran keluarga bahagia. Saqueena tersenyum membayangkan masa kecilnya yang indah. Kemudian dia membebaskan isaknya mengencang. Tangannya menggapai dan mengusap foto tersebut. Dia rapikan kembali dan mencari pigura yang masih utuh.
*****
Saat Roman dan Raina kembali, ruangan sudah tertata rapi seperti semula. Cukup lama Roman menemani Raina melakukan perenungan di atas sajadah.
Saqueena menyodorkan segelas air minum untuk Raina, “Mama, minumlah.”
Raina menerima dengan pandangan menyesal.
Mereka duduk bertiga di sofa khusus untuk berdiskusi. Hening sesaat, sebelum Saqueena memulai pembicaraan.
“Mama, Queen kenal Mbak Keina di tempat guru menulis. Dia bekerja beberapa bulan sebagai asisten rumah. Karena dia cerdas, sesekali dipercaya mengajarkan teknik menulis tapi khusus untuk Queen saja, ada juga sih teman lain yang suka ikut belajar. Meskipun dia nggak sekolah tinggi. Menurut Mas Danang dan Mbak Eliza, bakat Mbak Keina natural.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Mengapa Mama tidak kenal?”
“Mama sibuk.”
Hening kembali, deru napas memburu. Ada aroma penyesalan yang bergumul di antara hati mereka.
“Mengapa tadi Queen menangis?” Roman bertanya.
“Mbak Keina diperkosa, itu yang membuat Mbak Eliza dan Mas Danang merasa iba. Queen pun merasa sangat empati. Meskipun baru beberapa bulan kenal, kami menjadi dekat …” Saqueena tertunduk dalam pilu.
“Masa sih, orang dewasa tidak bisa melakukan perlawanan. Kalau Mama lebih baik mati,” Raina bernada ketus.
Roman terlihat kaget, “Diperkosa?”
“Iya, Pa. Mbak Keina tahu tempat yayasan yang dikelola Eyang Emi, dulu dia pernah tinggal di yayasan tersebut, makanya tadi Queen membaca pesan Eyang, pikiran ini langsung tertuju sama Mbak Keina,” Saqueena semakin terlihat bersedih.
“Tuh kan kalian sudah mengenal wanita itu!” Raina mulai emosi.
“Aku tidak tahu semua ini, Rai. Aku pun kaget saat Ibu mengirim pesan seperti itu,” Roman menegaskan.
“Apa yang Mama rasakan jika itu adalah Queen? Dia yatim piatu, kemudian diperkosa, dan dicampakkan di jalanan. Beruntung Mbak Keina memiliki sahabat baik, yaitu Mbak Eliza…” Saqueena memandang Raina seakan tengah menelisik bisikan terdalam dari batin Raina.
Raina serasa disambar petir. Sesaat merasakan derita wanita yang ditawarkan ibu mertuanya untuk Roman. Kemarahannya seketika rontok tak berbekas. Malu yang mencengkeram jiwanya tak bisa dihindarkan.
“Aku adalah wanita paling kejam pada keluargaku dan wanita itu. Aku menyesal, mengapa aku bisa sebegitu gila. Aku tahu poligami mubah, mengapa aku marah tak terkendali? Betul kata Roman, semua tak seperti yang kupikirkan…” hati Raina terbungkus penyesalan.
*****
Tak terasa senja pun pergi. Suara azan membuyarkan setiap lamunan. Mereka khusyu melantunkan doa masing-masing dalam setiap sujud untuk dua waktu solat--maghrib dan isya. Hingga mereka masuk ke dalam peraduan, setelah makan malam yang masih berisi kebekuan.
“Raina…” Roman mendekapnya dengan penuh kasih.
“Roman, hukumlah aku…” Raina pasrah.
Roman menggelengkan kepala. Meskipun dia tak habis pikir mengapa Raina sekeras itu? Roman telah mencoba belajar memahami kemarahan Raina, hanya karena wanita yang ditawarkan Bu Emi untuk dinikahi--padahal Roman pun baru tahu dan tidak mengiyakan keinginan ibunya.
“Aku tak berniat menduakanmu,” Roman memeluk erat Raina.
“Aku berdosa pada Saqueena, tak seharusnya ini terjadi.”
“Sudahlah, Rai. Adakalanya keadaan akan mengajarkan kekuatan untuk anak kita. Nanti dia akan hidup sendiri, jauh dari kita. Mungkin konflik yang ada bisa mendewasakannya. Selama ini hidupnya penuh kenyamanan.”
“Traumakah dia seperti katamu tadi?”
“Kita ada untuknya, selalu menemaninya. Yakin, dia akan baik-baik saja. Tadi aku hanya ingin meredakan amarahmu saja.”
Keduanya tenggelam dalam dingin malam. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kisah besok hari. Setelah kenyataan keras yang terjadi di hari tersebut, Raina hanya merenda niat untuk melakukan penebusan.
*****
Saqueena menatap foto Keina yang malang itu dalam remang. Silih berganti, menatap foto ibunya yang selalu terlihat cantik. Dia mulai menangis kembali, mewajarkan naluri yang dirasakan ibunya, meski tak setuju dengan bias-bias yang diungkapkan Raina.
“Apa yang dirasakan Mbak Keina saat ini? Dia harus menanggung aib, namun dia tak mau membuang janin itu? Apa yang bisa aku lakukan?” ada tangis tersedu menemani bisik hatinya.
Dia memberanikan diri untuk mengirim pesan.
“Mbak sayang.”
Satu menit kemudian, “Queen, menangis itu jangan dilakukan ya. Jika kangen Mbak, doa saja. Baik Mbak di sini.”
Raina cukup paham dengan bolak-balik tulisannya Keina, pasti ada beban yang berkecamuk.
“Mbak Keina adalah penulis tunarungu yang tidak kesulitan dalam berbahasa tulisan. Namun, jika hatinya kacau… tulisannya pun akan aneh. Mbak Keina pasti menanggung semua dengan berat,” Saqueena merenung. Dibiarkannya bunyi pesan masuk.
“Queen, luka ini Mbak bawa berlari. Anak ini harus besar pelukan untuk Mbak.”
Air mata Saqueena tak bisa dibendung. Saat mengingat ketegaran wanita itu. Dia bisa memaknai pesan yang baru masuk. Keina akan membesarkan janin itu, merawatnya sampai besar.
“Mbak, Queen peluk Mbak dengan hangat doa ya. Queen akan mendukung apa pun yang akan Mbak putuskan. Jangan menangis tanpa Queen ya.”
Berderet emoticon senyum dan pelukan. Hingga pesan berikutnya yang ditunggu Saqueena pun tak kunjung datang. Dia menelepon nomor Keina, pun tidak aktif. Mulai ada cemas menguasai relung hati gadis tersebut.
Tiba-tiba pesan masuk kembali, setelah tiga jam berlalu…
“Queen, dalam sepertiga malam ini Mbak terbangun. Sempat naluri ini menggoda, mengapa semua terasa tak adil untuk Mbak? Tapi Mbak sadar, hidup ini harus tetap dilanjutkan. Mbak tak ingin mati dalam kesia-siaan. Tulisan Mbak sebelum ini terasa kacau ya. Maafkan Mbak yang rapuh. Queen… hidup Mbak memang keras, pernah tinggal di yayasan yatim piatu membuat Mbak harus merenda ketegaran. Pemerkosa itu telah ditangkap polisi. Sakit hati yang tidak kepalang memang… namun Mbak mencoba berdamai dengan semuanya.”
Dinginnya dini hari menusuk tulang, Saqueena mencoba merayu kantuk, setelah doa-doa terpanjat. Namun, kantuk tak juga datang. Semakin diundang, semakin hilang. Bahkan kepiluan semakin menyerang. Sunyi, hanya berisi deru napas yang semakin memanas karena dinginnya malam itu menyuguhkan kebekuan yang mengaduk rasa.
*****

Other Stories
Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma