Rumah Sakit Dr.everhart
“PRANK!”
Bingkai foto yang dipegang Sita terhempas dari tangannya, ketika Papa menepis tangannya dengan keras. Suara menggelegar keluar dari kerongkongan lelaki berbadan kekar dengan rambut putih yang mulai terlihat disebagian rambutnya, tatapannya penuh amarah.
“Kamu sudah mengecewakan Papa, Sita. Kamu sama saja dengan kakakmu, tidak mau menuruti keinginan Papa menjadi seorang dokter. Mau jadi apa kamu?”
Sita tertunduk, dipandanginya serpihan kaca yang berserakan. Fotonya bersama kakak tercinta tergeletak di lantai. Air mata keluar deras dari pelupuk matanya. Pandangannya terus tertuju pada foto yang berada tepat di bawah tubuhnya berdiri. Ingin rasanya dia berteriak memanggil kakak yang selalu melindunginya dan mengerti semua yang diinginkannya. Namun, Sita hanya bisa diam mendengar amarah Papa yang kian dirasa menusuk hatinya. Apakah aku tidak boleh punya cita-cita? Batin Sita bersuara.
“Sudah, Pa. Biarkan anakmu. Sita, pergi ke kamarmu dan renungkan semua yang dikatakan Papamu,” ucap Mama lembut dengan menggenggam tangannya.
“Tunggu! Kalau kamu ingin kuliah selalin kedokteran, kamu harus membiayai kuliahmu sendiri. Kamu harus cari kerja, atau …. Papa akan menikahkanmu dengan anaknya Pak Sofyan, teman Papa kuliah dulu. Dia kuliah kedokteran dan sebentar lagi akan lulus.”
Ketika Sita memasuki kamar, benda yang pertama kali disentuhnya adalah laptop kesayangan. Melalui laptop inilah dia mencari pekerjaan. Pertama-tama dia membuka akun facebook terlebih dahulu. Kebetulan di facebook dia banyak berteman dengan akun penerbit. Siapa tahu salah satu penerbit itu ada yang sedang membuka lowongan pekerjaan menjadi desain cover atau illustrator.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di beranda facebook-nya ada satu status yang menarik perhatian Sita. Status itu dari penerbit mayor yang mencari desainer cover dengan gaji dua juta perbulan. Tanpa banyak bicara Sita langsung mengirimkan surat lamaran, CV, dan contoh cover ke email penerbit sesuai dengan apa yang tertulis di status.
***
Sita membuka laci meja riasnya. Diambilnya foto bersama dengan kakak tercinta yang kini tidak lagi terbingkai indah. Dia menuju ke ruang keluarga untuk mengambil album foto. Di atas ranjang tidurnya, Sita memasukkan selembar foto yang tak lagi berbingkai itu ke dalam album foto yang dibawanya.
Sita mengernyitkan dahinya memandang album foto yang terpampang di pangkuannya. Pikirannya menerawang dikala dia kecil disaat usianya 10 tahun. Sita teringat ketika papanya memberikannya sebuah novel berkisah tentang seorang gadis kecil meninggal di sebuah perpustakaan. Dan dalam album foto, Sita melihat dirinya sedang membaca novel itu. Dia ingat Arga, kakak lelakinya yang dengan sengaja mengabadikannya dengan kamera pocket miliknya hadiah ulang tahun yang ke 17.
Seketika bulu kuduknya bangun, membuat sekujur tubuhnya terasa dingin. Sita pun beranjak dari ranjang besinya untuk mengembalikan album foto ke lemari buku di ruang keluarga. Matanya menari-nari mencari sesuatu. Dia mencari sebuah surat yang pernah ditulis Arga sebelum dirinya meninggal karena kecelakaan. Motor yang dikendarai Arga masuk ke dalam kolong sebuah truk dan membuat kepalanya tergilas ban truk yang besar dan akhirnya Arga menghembuskan napasnya di jalanan. Sita sangat kehilangan kakak yang sangat menyayanginya. Dan kini dia menjadi anak satu-satunya dari kedua orang tuanya.
“Sita, ini ada surat untukmu,” ucap Mama sambil menyodorkan sepucuk surat dengan amplop putih ke arahnya.
“Terima kasih, Ma. Boleh tolong buatkan Sita susu hangat? Sita tunggu di teras ya Ma,” rajuknya manja. Dia sangat menyukai susu buatan mamanya. Menurutnya rasanya berbeda jika dia sendiri yang membuatnya.
Mama berlalu meninggalkan anak gadisnya yang kini sudah berusia 20 tahun sambil tersenyum. Sita beranjak dari kamar menuju ke teras sambil membuka perlahan surat yang diterimanya dengan penuh tanda tanya, karena hanya tertera sebuah alamat tanpa nama pengirim.
“Hmmm … kenapa tidak ada nama pengirimnya, ya?” tanya Sita heran.
Dia pun membaca isi surat itu dan sontak jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan senang sekaligus dia merasa tubuhnya mendadak dingin dengan bulu tangan yang berdiri seakan melambai ke arahnya. Sita sama sekali tidak mengerti, kenapa dia merasa begitu merinding dengan surat yang masih berada di tangannya itu. Isinya hanya sebuah panggilan kerja ….
“Ada apa, Sayang? Kok mukamu pucat begitu …,” tegur Mama yang sudah berada di depannya sambil membawa segelas susu hangat kesukaannya.
“Eh … nggak apa – apa, Ma. Cuma bingung aja dengan surat ini.”
Sita memberikan surat itu kepada Mama yang juga menyodorkan gelas berisi susu hangat kepadanya. Seketika Mama tersebnyum dan mencubit pipi anak gadisnya dengan lembut.
“Ini, kan panggilan kerja. Kok kamu malah bingung. Harusnya kan, kamu senang. Dengan begitu Papamu tidak jadi menjodohkan kamu dengan anak temannya itu.” Mama dengan pandangan lembut memandang Sita yang tengah asik menyeruput susu hangat.
“Sita bingung, Ma. Karena Sita tidak pernah melamar pekerjaan di perpustakaan. Kok, tiba-tiba ada surat panggilan. Hari gini, masih ada aja panggilan melalui surat, padahal Sita selalu mengirim lamaran pake email. Jadul amat, sih ….”
“Sudah … gitu aja kok dimasalahin, sih. Yang penting kamu dapat panggilan kerja. Ingat, kamu sudah membuat Papamu kecewa karena tidak kuliah kedokteran. Disuruh jadi dokter malah pengen jadi illustrator. Ada-ada aja, sih kamu ini.” Mama pun berlalu dengan menaruh surat di atas meja
Sita menggerutu, memang kenapa sih kalau jadi illustrator. Gue kan suka gambar …
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV) jurusan Animasi. Sita memang sudah suka menggambar sejak SD dan ketika SMA sudah ada beberapa penerbit yang memakai jasanya menjadi seorang illustrator buku. Dia berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang animator terkenal dari Indonesia yang bisa terlibat dalam pengerjaan film luar negeri. Begitu impiannya.
Susu hangat sudah habis diteguknya. Sita menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja. Sekilas pandangan matanya tertuju pada surat panggilan kerja yang berada tepat di sebelah gelas kosong. Dan pandangan Sita mendadak menjadi kosong. Apa aku harus ambil kesempatan ini atau tolak? Batin Sita penuh kegalauan.
***
“Sit … ada yang cari, tuh!” Tegur Bonita, sahabatnya.
“Haduh, gue udah tahu siapa yang cari. Bilang aja kalau elu nggak ketemu sama gue, ok.” Sita pergi meninggalkan Bonita yang terpaku melihat kepergiannya.
Sepanjang hari di kampus tidak membuat pikiran Sita tenang. Dia masih teringat terus perihal surat panggilan kerja yang diterimanya kemarin sore. Ada rasa penasaran dalam hatinya untuk mengetahui lokasi perpustakaan yang tertera di surat. Dia merasa tidak asing dengan alamat perpustakaan itu. Sepertinya alamat itu punya hubungan yang sangat dekat dengan dirinya dan juga keluarganya.
“Kamu dari mana aja, sih. Akhir-akhir ini susah banget ditemuin. Kenapa, sih?” Sita kaget karena tiba-tiba saja sosok bertubuh tegap dengan lesung pipi yang selalu membuat jantungnya berirama tidak jelas, telah ada di depannya.
“Deni … bikin kaget aja kamu. Kok tiba-tiba muncul, sih. Kaya hantu, tau …,” celoteh Sita dengan menahan debaran jantungnya yang mulai berirama samba.
“Makanya kalau jalan jangan bengong, dong. Ada apa sih, kok akhir-akhir ini sepertinya kamu menghindar.” Deni menatap tajam. Tubuh mereka begitu dekat, sampai Sita dapat mengendus harum aroma tubuh Deni yang selalu membuat dirinya melayang. Wah, jangan-jangan Deni bisa mendengar debaran jantungku, nih. Gumam Sita salah tingkah.
Dalam hati, Sita memang sangat suka dengan Deni. Laki-laki ini mampu mencuri hatinya. Sita termasuk perempuan yang sulit tertarik dengan lawan jenisnya. Dia selalu terbayang dengan Kak Arga setiap ada lelaki yang tertarik padanya. Dia teringat kakaknya yang begitu menyayanginya, membuat Sita menghindari setiap lelaki yang mencoba menaruh hati padanya.
Dan Deni, laki-laki ini begitu mirip dengan Kak Arga. Tubuhnya, pandangan matanya, bahkan rambut sampai garis hidungnya terasa sama. Hanya lesung pipi yang membedakan mereka. Berada di dekat Deni membuat Sita tidak karuan. Di satu sisi ada rasa bahagia menyusup ke sanubarinya, namun di sisi lain ada kesedian yang terasa sampai relung kalbunya. Dia begitu merindukan kakaknya tercinta.
“Ada apa? kata Bonita, kamu mencariku sejak pagi tadi, ya?” Sita berusaha mengatur napasnya yang tersengal, dia tidak ingin Deni mendengar suara napasnya yang terengah-engah seperti habis marathon.
“Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu. Boleh saya ajak kamu pergi hari ini?”
“Pergi? Kemana?” tanya Sita dengan tubuh yang mendadak menggigil.
“Mungkin minum kopi di café. Kamu mau?” Tatapan Deni begitu menyentuh hati dan tanpa sadar Sita mengangguk.
Vanilla Late menjadi pilihan Sita. Aroma vanilla membuat perasaan Sita tenang. Sementara Deni memesan Black Coffee, dengan aroma yang khas. Mereka pun berbincang dengan pandangan Deni yang tak lepas dari wajah cantik Sita. Membuat Sita lebih banyak menunduk.
Walau agak tomboy, Sita memang sulit untuk memendam perasaan terhadap lelaki yang selama ini menjadi mimpi indahnya.
“Sudah lama saya ingin berkata ini ke kamu, tapi selalu saja terhalang oleh keraguan saya akan sikap kamu selama ini,” ungkap Deni dengan lembut sambil memainkan jari-jari tangannya di pinggiran cangkir.
“Memang kamu mau ngomong apa?” Sita memberanikan diri bertanya walau dengan tertunduk menatap warna kopi di dalam cangkir.
“Saya … suka kamu, Sit. Mungkin sejak kita sama-sama baru masuk ke kampus ini. Ada sesuatu yang membuat saya begitu tertarik sama kamu.”
Sita tak dapat menyembunyikan perasaannya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih yang dirasakannya. Namun, dia tidak mau berkata apapun pada Deni.
***
2 hari berlalu, Sita tidak datang ke kampus dan membuat Deni khawatir.
“Selamat sore, Om … Tante. Maaf, Sitanya ada?” sapa Deni di teras rumah Sita ketika akhirnya memutuskan untuk menemui Sita di rumahnya.
“Oh, dengan siapa ya?” tanya Bu Leni, mama Sita sambil tersenyum.
“Saya Deni, Tante. Teman kampus Sita.” Dengan tersenyum santun Deni menjawab pertanyaan mama Sita dan membalas senyumnya. Tidak dengan Pak Reza, papa Sita yang menunjukkan sikap tidak suka. Namun Deni tetap tersenyum.
Bu Leni mengajak Deni untuk masuk ke ruang tamu. Dan menyuruhnya menunggu.
“Hai, Den … tumben. Ada apa?” tegur Sita yang berjalan menuju ke arah Deni. Sita berusaha menyebunyikan perasaannya dan tidak ingin membahas pernyataan cinta Deni.
“Hai … kamu baik-baik aja, kan? Saya khawatir sama kamu. Karena sejak saya ….” Belum sempat Deni melanjutkan ucapannya Sita langsung memotongnya.
“Besok bisa antar saya ke suatu tempat?”
“Ke mana? Pulang kampus?” ujar Deni sedikit mengecilkan suaranya karena mengikuti perilaku Sita yang membuatnya bingung.
“Kita tidak usah ke kampus pagi. Antarkan saya dulu, baru setelahnya kita ke kampus. Bagaimana … bisa?” Sita menggeser duduknya dekat dengan Deni. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Mereka pun tersenyum dengan rona merah di wajah masing-masing.
Sesuai dengan kesepakatan, mereka bertemu di sebuah mini market tidak jauh dari kampus. Deni yang mengendarai mobil, langsung menjemput Sita yang sedari tadi menunggu. Mereka pun langsung menuju ke sebuah lokasi di bilangan Jakarta Pusat.
Deni memarkirkan avanza hitamnya di depan sebuah rumah sakit. Terpampang papan nama di depan sebuah gerbang …Rumah Sakit Dokter Everhart. Sita tertegun dengan apa yang ada di depan matanya. Ada sesuatu yang dirasakannya, seperti ada suatu dorongan yang begitu kuat yang mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah sakit itu.
“Hey … kamu mau apa?” sergah Deni memegang tangan Sita yang ingin keluar dari mobilnya.
“Saya harus masuk, Den. Ada panggilan kerja di tempat ini.” Sita berusaha meyakinkan dirinya tidak apa-apa.
“Kamu yakin? Di rumah sakit?” ujar Deni gelisah.
“Bukan, tapi di perpustakaan.”
“Hey … tunggu. Saya ikut denganmu.” Deni berusaha mengejar Sita yang sudah terlebh dulu keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah sakit itu.
“Sit … sebentar, liat saya. Kamu yakin mau bekerja di tempat seperti ini? Bangunannya memang sudah diperbaharui tapi lihat, rumah sakit ini terasa begitu sepi dan seperti ada aura yang berbeda. Seperti tidak ada pasien yang datang, apalagi perpustakaannya. Untuk apa? Lebih baik kita pulang.” Deni memegang kedua pipi Sita, seraya berusaha menyadarkan perempuan cantik yang dicintainya.
Sita menurut ketika Deni menarik tangannya menuju mobil. Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Namun pandangan Sita tak beranjak walau mobil sudah semakin menjauh.
***
“KAK ARGA!”
Sita menjerit, membuat Bu Leni dan Pak Reza kaget dan menghampiri Sita di kamarnya. Sita menangis dipelukan mamanya. Dari bibirnya menyebut nama seorang lelaki yang sangat dirindukannya, Kak Arga.
Ingatan Sita kembali, ketika dia melihat tubuh kakaknya tertutup kain dan hanya kakinya saja yang tersembul keluar. Entah kenapa, dia merasa Arga masih hidup. Sita melihat jari Arga bergerak ketika petugas rumah sakit membawanya ke sebuah ruangan tertutup. Sejak saat itu Sita selalu merasa takut ke rumah sakit. Dia selalu dihantui bayangan Arga tiap kali masuk ke rumah sakit.
Dan malam ini, Sita seakan-akan melihat bayangan kakaknya berada di setiap sudut kamarnya. Tak kuasa Sita mengontrol rasa takutnya, dia hanya bisa menyebut nama kakak kesayangannya berulang kali membuat Bu Leni dan Pak Reza panik. Sampai akhirnya Sita tertidur karena kelelahan di pelukan mamanya.
***
Sita terbangun dengan mata bengkak. Dia memutuskan untuk tidak kuliah, dia pun menghubungi Deni. Sita merasa nyaman setiap berada di samping lelaki yang telah menyatakan perasaannya itu. Sita mengakui, kalau dirinya juga mencintai Deni.
Dia mengirimkan pesan WA bahwa dirinya masih ingin mengunjungi rumah sakit itu. Walau rasa takut selalu menyelimuti tiap kali berada di rumah sakit, namun keinginannya untuk kembali ke Rumah Sakit Dokter Everhart semakin kuat. Apalagi sudah hampir 5 bulan dirinya belum mendapat pekerjaan sejak papanya memutuskan tidak lagi membiayai kuliahnya.Beruntung selama ini Mama masih membantunya diam-diam dan orderan membuat illustrasi masih dia terima walau tidak mencukupi.
Sita terbayang dirinya harus menikah dengan lelaki pilihan Papa, sementara hatinya sudah terpaut dengan lelaki pujaan hatinya. Deni. Dia pun harus segera mengambil keputusan, karena hanya 2 minggu batas waktu penerimaan sebagai petugas perpustakaan sejak diterima surat panggilan kerja itu. Sita pun berpikir keras untuk mengambil keputusan dengan segala rasa penasaran terhadap Rumah Sakit Dokter Everhart yang dikunjunginya bersama Deni.
Hari ini adalah hari terakhir batas penerimaan sebagai seorang librarian. Entah bagaimana ceritanya, Sita sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah sakit. Seperti ada kekuatan magis yang masuk ke dalam tubuhnya sampai ke tempat itu. Sita menyusuri pandangan matanya ke gedung rumah sakit yang berada tepat di depannya. Dia pun mendekati pintu kayu berukuran besar dengan ukiran indah namun seakan memiliki kekuatan gaib. Dia mendorong pintu itu dengan memegang 2 handle besar yang menempel pada masing-masing pintu.
“Kreeek…”
Bunyi pintu menggema ke seisi ruanganmembuat jantung Sita berdebar kencang.Hawa dingin menyambut tubuh Sita yang masih berada di tengah pintu yang terbuka. Tiba-tiba ….
“Silakan masuk, Mbak,” ucap seorang lelaki dengan pandangan datar menyambut kedatangannya.
“Oh, iya, Mas.” Sita tertegun melihat lelaki itu. Seakan-akan lelaki itu tahu maksud kedatangannya.
“Kamu Sita, kan? Ikut dengan saya, kita langsung ke perpustakaan.”
Sita memandang lelaki itu. Usia lelaki itu mungkin sekitar 27 tahun, tidak jauh beda dengan usia Kak Arga kalau dia masih hidup. Pandangan matanya menyapu tiap ruangan yang dilewatinya. Bulu kuduknya berdiri ditengah kesunyian yang dirasakan.Beberapa pilar besar berdiri kokoh di sudut ruangan dan memberi kekuatan magis yang menyebar ke seluruh ruangan rumah sakit.
Tidak ada kata yang bisa diucap, Sita hanya mengikuti langkah lelaki itu yang menggiringnya menuju ruang bawah tanah. Sebenarnya suasana rumah sakit ini cukup terang dengan penerangan yang lumayan banyak di setiap sudut. Tapi, kesunyian yang membuat jantung Sita berdebar kencang, terutama ketika akhirnya dia sampai pada tangga terakhir di ruang bawah tanah.
Ruangannya begitu besar, dengan penataan yang sangat rapi. Sebuah lemari buku besar dan tinggi hampir menyentuh langit-langit, menempel pada salah satu sisi tembok. Sisi kanan dan kiri lemari buku besar itu hanya lemari buku biasa berukuran sedang.
Pada tengah ruangan, berbaris sofa panjang yang terlihat empuk. Sisi kiri setelah tangga, terlihat ruangan yang diperuntukan untuknya sebagai seorang petugas perpustakaan. Tidak ada komputer? Sita mengernyitkan dahinya.
“Maaf, Mas … pasien-pasien dirawat di mana, ya?” tanya Sita dengan dada berdebar dan suara yang terdengar terbata-bata.
“Ada di lantai atas. Sisi kiri setelah pintu masuk. Tidak banyak pasien di sana,” ucap lelaki itu datar.
“Ruangan dokter dan perawat, di sebelah mana, ya?
“Ruangan untuk perawat satu lorong dengan kamar pasien. Tapi, ruang dokter ada di sebelah kanan pintu masuk. Tidak ada yang boleh datang ke ruang dokter tanpa izin.”
“Eh iya, kita belum kenalan, Mas. Nama saya Sita … dengan Mas siapa, ya?
“Panggil saja saya Arga.”
Bola mata Sita membulat, tubuhnya seketika kaku, hawa dingin semakin kuat terasa menjalar ke seluruh tubuh. Detak jantungnya berdetak lebih cepat sampai napasnya terdengar keluar dari kerongkongannya. Perlahan kaki Sita mundur menjauhi lelaki bernama Arga itu, dia membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Arga yang diam mematung menatap dirinya dengan pandangan bingung.
Sita berlari menaiki anak tangga, tubuhnya semakin meggigil ketika melewai pilar-pilar sendirian, sampai akhinya dia berhasil membuka pintu kayu yang terasa begitu berat. Dan langkahnya terhenti ketika ponsel yang sejak tadi berada di saku celananya berbunyi. Ada nomor tidak dikenal.
“Ha, hallo … si siapa ini?” Suara Sita terbata-bata menjawab panggilan telepon itu.
“Saya Arga. Kenapa kamu lari? Saya belum menjelaskan semua kepada kamu. Bisa kamu kembali ke sini?”
Sita menjauhkan ponsel dari telinganya dan menekan tombol bergambar telpon berwarna merah. Dia kemudian memasukan ponsel ke tas ransel berwarna hitam yang sejak tadi bertengger di punggungnya. Sita membalikkan tubuhnya dan menatap bangunan rumah sakit. Perlahan kakinya mundur menjauhi rumah sakit, namun tiba-tiba …
“DIIIIIIN!”
Bunyi klakson mobil mengagetkannya, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Seorang perempuan cantik membuka kaca jendela dan menyapanya lembut.
“Hati-hati, Mbak,” ucapnya dengan mobil berjalan perlahan melewati dirinya dan masuk ke pekarangan rumah sakit.
Sita penasaran dengan wanita itu. Tanpa dia sadari, kakinya melangkah menuju pintu. Dibuka kembali pintu rumah sakit itu, dia pun melangkahkan kaki menuju perpustakaan yang berada di bawah tanah. Matanya mencari sosok Arga.
“Hai … ke mana, kamu tadi!” Tegur Arga yang sudah berada di belakangnya.
“Ma … maaf, Mas. Tadi saya ….”
Belum sempat Sita melanjutkan ucapannya, tiba-tiba seorang wanita menyapanya dari sisi kiri tubuhnya.
“Hai, kamu yang tadi hampir tertabrak itu, kan. Yang jalannya mundur,” sapa wanita cantik dengan senyum memikat.
“Oh, iya, Bu. Maaf.”
“Ibu kenal dengan Sita?” tanya Arga dengan pandangan heran.
“Tidak, saya baru saja bertemu dia di depan,” ucap wanita itu lembut.
“O begitu. Sita, kenalkan ini Ibu Belinda. Kami biasa memanggilnya Ibu Bella. Beliau adalah cucu pemilik rumah sakit ini sekaligus salah satu dokter di sini.”Arga memberi penjelasan dan kali ini Sita melihat senyum Arga walau terpaksa.
“Maafkan saya, Bu. Saya dengan Sita. Saya menerima surat panggilan kerja untuk menjadi petugas perpustakaan di sini.”
Terlihat mata Bu Bella berbinar, seperti ada rasa senang mendengar dirinya akan menjadi seorang librarian di perpustakaan yang berada di dalam rumah sakitnya.
Other Stories
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Dentistry Melody
Stella ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...