Perpustakaan Berdarah

Reads
802
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Jean Rosa

Persekongkolan

Tanpa terasa sudah dua minggu Sita bekerja sebagai librarian. Pekerjaannya sendiri cukup asyik, namun dalam seminggu terakhir Sita merasakan kejadian-kejadian aneh terhadap perpustakaan dan rumah sakit itu. Seperti buku-buku yang sudah dirapikan Tiara tiba-tiba jatuh berserakan di lantai. Sita melihat Arga dan Tiara tidak memerdulikan kejadian itu. Bahkan dengan sikap juteknya, Tiara berteriak memerintah Sita untuk membereskan buku-buku itu seperti tidak ada kejadian apapun. Aneh!
“Pagi, Sita.” Arga menyapanya dengan lembut. Penampilannya berbeda dari biasanya, dia terlihat sangat tampan.
“Pagi, Mas. Wah! Beda sekali hari ini, Mas. Ada apa?” tanya Sita memandangi Arga dari ujung rambut sampai ujung tali sepatu ketsnya. Membuat Arga salah tingkah.
“Apanya yang beda? Biasa saja, kok.” Arga tersenyum dan berjalan menuju ruang kerja diikuti Sita dari belakang. Dan sepasang mata tidak suka memerhatikan mereka dari arah depan ruang kerja mereka.
“Ada waktu malam ini? Kebetulan jadwal piket hari ini kan, Tiara. Kita bisa pulang pukul 5 sore. Saya ingin ajak kamu pergi.” Arga mencari bola mata Sita. Dan ketika bola mata mereka bertemu, mereka hanya tersenyum.
“Maaf, Mas. Sepertinya tidak bisa. Saya ….” Sita menunduk menghentikan ucapannya.
“Sudah ada yang jemput?” tanya Arga perlahan dengan tatapan penuh harap.
Sita mengangguk perlahan, tanpa berani menatap. Jujur, tidak ada rasa seperti yang dia rasakan kepada Deni. Namun, ada perasaan aneh yang mengalir di dalam darahnya. Rasa sayang yang dirasa sama seperti dia menyayangi Kak Arga. Sita menganggap, Mas Arga sama dengan Kak Arga, walau dengan wujud yang berbeda.
Sepasang mata yang sejak tadi memerhatikan mereka pun tersenyum sinis.
***
Deni datang menjemput. Dan tanpa sengaja dia pun bertemu dengan Arga yang sedang berjalan bersama Sita. Sekilas pandangan kedua lelaki itu menunjukkan rasa cemburu. Sita mengenalkan Deni dengan Arga. Keduanya hanya berjabat tangan sekilas tanpa kata-kata. Arga berjalan cepat meninggalkan Sita dan Deni yang masih berada di depan pintu rumah sakit.
“Den, sebentar … kita di sini dulu, ya,” pinta Sita ketika melihat Tiara yang baru saja masuk bersama dengan Dokter Hardian, sebelum Deni menyalakan mesin mobilnya.
“Mau apa?”
“Kamu tunggu di sini. Nyalakan saja mobilnya. Saya mau masuk sebentar.” Sita segera membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Deni yang belum sempat mengucapkan kata-kata lagi.
Sita berjalan menuju ruangan yang berada di sisi kanan pintu. Langkahnya seperti diarahkan oleh sesuatu yang begitu kuat untuk berjalan menuju ruang dokter. Terdengat samar percakapan antara Tiara dan Dokter Hardian.
“Bagaimana? Kamu sudah bisa mengambil hati Arga, Sayang?”
Sayang … Dokter Hardian memanggil Tiara dengan sebutan sayang? Sita berbisik.
“Belum. Tapi sepertinya saya bisa merebut hati Arga dari anak baru itu, Pa.”
‘Heeeeh … Pa! Sita menutup mulut dengan kedua tangannya. Hatinya begitu kaget mendengar Tiara memanggil Dokter Hardian dengan sebutan ‘Pa.’
Dia pun perlahan berjalan mundur menjauhi ruangan dokter itu. Namun, tiba-tiba bayangan gadis kecil melintas masuk ke salah satu kamar pasien dan membuat Sita kaget. Tanpa sengaja dia menjerit pelan, dia pun berlari menuju mobil dan meminta Deni segera meninggalkan rumah sakit.
Sita berteriak sejadinya di dalam mobil, membuat Deni panik. Lelaki itu berusaha menenangkan hati gadis yang dicintainya. Akhirnya, Deni memarkirkan mobilnya di depan sebuah café. Sita menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.
“Apa kamu tetap ingin bekerja di perpustakaan itu?” tanya Deni khawatir. Dia mengganggam jemari Sita erat. Dia berharap Sita mau keluar dari pekerjaaanya. Tapi, Sita semakin ingin bekerja dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya seperti terpanggil. Deni pun pasrah dengan keputusan kekasihnya.
***
“Siang, Mas. Malam ini giliran saya yang jaga, ya?” tanya Sita keesokkan harinya.
“Iya. Tapi saya akan menemani kamu. Saya tidak akan membiarkan kamu sendiri.” Arga acuh, tapi rasa pedulinya masih dapat dirasakan oleh Sita.
Malam ini Sita memberanikan diri untuk menemui Mr. Barend di ruangannya. Dia melihat sosok gadis kecil itu masuk ke ruangan Mr. Barend kemarin. Dengan hati-hati dia membangunkan Mr. Barend yang terlelap. Sebenarnya tidak tega juga membangunkan lelaki tua itu yang sedang tertidur pulas. Dan ketika mata Mr. Barend terbuka, lelaki tua itu hanya dapat mengacungkan telunjuknya ke arah pintu dengan mulut menganga tanpa ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Matanya membulat dengan wajah pucat. Suaranya tersendat di kerongkongannya.
Sita membalikkan tubuhnya, terlihat sosok perempuan Belanda dengan gaun putih menjulur menyapu lantai. Rambutnya yang berwarna pirang terurai panjang, pandangannya pun tajam menatap ke arah Sita dan Mr. Barend. Perlahan, sosok perempuan Belanda itu berjalan ke arahnya.
Sita menghindar dengan ketakutan yang merasuk di seluruh tubuhnya. Dia benar-benar terperangkap di ruangan Mr. Barend. Keringatnya mengucur deras, tubuhnya gemetar. Sama seperti Mr. Barend, dia tidak dapat mengeluarkan suaranya walau sudah berusaha teriak. Dalam sekejap semua gelap.
***
“Ada apa? Kenapa saya di sini?” suara Sita lemah.
“Kamu pingsan di ruang Mr. Barend,” ucap Arga.
“Mr. Barend? Saya ingin menemuinya. Saya ingin menemui Mr. Barend!” Sita berontak berusaha bangun dari tidurnya. Dengan sigap Deni dan Arga menahannya. Ada pandangan cemburu di kedua mata lelaki itu.
“Tenang, Sita. Kamu masih lemah. Mungkin kamu kecapean hari ini. Mr. Barend sedang istirahat, dia tidak bisa diganggu. Kamu juga harus istirahat,” kata Ibu Bella sambil membelai rambutnya.
Aliran sejuk menjalar keseluruh tubuh ketika tangan Ibu Bella membelai rambutnya. Sita pun menurut. Ibu Bella meminta Deni membawa Sita pulang. Dia juga meminta Arga agar membiarkan Sita tidak masuk esok harinya.
Ketika mobil perlahan berjalan keluar dari gerbang rumah sakit. Sita melihat sepasang mata memerhatikannya dari sebuah jendela di lantai atas. Keringatnya kembali mengucur ketika melihat wajah dari pemilik mata itu dengan bibir yang seraya tertawa menyeringai. Begitu menakutkan. Sita pun bergidik dia memalingkan wajahnya memandang Deni.
Sita merasa ada yang mengikutinya sampai kamarnya. Udara dingin terasa menyebar di dalam kamar. Tiba-tiba sebuah novel tentang seorang gadis terbunuh di perpustakaan, sudah ada di atas ranjangnya. Dengan tangan gemetar Sita meraih novel itu. Dia baru sadar akan judul pada novel itu, ‘Belinda’. Tubuhnya gemetar, Sita melempar novel itu ke lantai. dia pun berlari menuju kamar papa dan mamanya.
“Loh, kamu kenapa? Ada sesuatu yang menakutkan di kamarmu?” tanya Mama seolah mengerti apa yang dialami Sita. Naluri seorang ibu memang selalu peka.
“Tidak apa-apa, Ma. Sita cuma kangen saja tidur dengan kalian berdua.” Sita berbohong. Dia sengaja tidak ingin menceritakan kejadian yang dialaminya. Dia tidak ingin Mama dan Papa menyuruhnya berhenti dari pekerjaan. Dia masih ingin bekerja di perpustakaan itu. Pagi ini Sita berniat bekerja walau Bu Bella sudah memberi izin padanya untuk tidak masuk.
***
Entah ada kekuatan dari mana, Sita merasa hari ini dia harus masuk bekerja. Dia pun ingin kembali menemui Mr. Barend di kamarnya. Dia penasaran dengan sosok perempuan Belanda yang ditemuinya kemarin di kamar Mr. Barend.
Untungnya jadwal piket Sita hari ini hanya pukul 5 sore sampai pukul 7 malam saja. Arga dengan senang hati menemaninya. Lelaki itu sudah tidak canggung lagi menunjukkan rasa sayangnya kepada Sita, walau dia tahu Sita sudah ada yang memiliki. Hal itu membuat Tiara semakin membenci Sita.
Baru satu jam Sita berada di perpustakaan, dia sudah mengalami hal aneh untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba saja novel berjudul ‘Belinda’ yang ada di kamarnya, sudah berada di atas meja kerja Sita, dengan halaman terbuka pada sebuah judul di salah satu babnya … ‘Darah di Perpustakaan.’
Sita menarik napas dalam, berusaha menahan jeritannya. Tubuhnya menggigil, tangannya pun gemetar, perlahan diambilnya novel itu. Siuuur, tiba-tiba angin berhembus dibelakang tengkuk Sita membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan menahan rasa takut yang luar biasa, Sita pun mulai membaca sambil sesekali pandangan matanya menatap ke seluruh pojok ruang perpustakaan. Dirinya berharap Arga cepat kembali dari kamar pasien.
Ceklek … suara pintu lemari seperti terbuka. Sekelebat bayangan hitam melintas di depan lemari buku dan tiba-tiba saja lemari buku itu terbuka sendiri. Sita bergidik melihatnya, apalagi ketika bacaannya tertuju pada terbunuhnya seorang perempuan di dalam perpustakaan dan mayatnya … ah, kenapa tulisannya hilang?
Kreeeek … suara kamar mandi atas berbunyi namun seperti tidak ada siapapun yang masuk ataupun keluar. Rasa dingin kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika pandangan matanya tertuju pada cairan berwarna merah yang mengucur dari atas lemari buku, cairan merah itu seperti darah.
“Haaah … Mas Argaaa!” teriak Sita sambil berlari meninggalkan ruangan dan meninggalkan novel di atas meja. Dia berlari menaiki tangga, langkah kaki Sita terasa berat seperti ada yang menahannya. Sita berusaha menghentak-hentakkan kakinya sambil berteriak memanggil Arga. Dia semakin ada yang menarik kakinya di sela-sela anak tangga, menahannya untuk tidak berlari. Bibirnya kelu ketika melihat pergelangan tangan telah melingkar di pergelangan kakinya dengan jari-jari tangan mencengkram. Sita panik dan tiba-tiba saja dua buah tangan menarik baju di bahunya. Arga …
“Lari, Mas. Kita harus keluar dari perpustakaan ini!” teriak Sita. Dengan panik, Arga mengikuti perintah Sita.
Tangan yang memegang kakinya mendadak hilang. Kedua librarian itu berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga sampai tangga teratas. Sosok perempuan Belanda yang pernah dilihatnya kembali mucul dihadapan mereka.
Arga terbelalak melihat sosok perempuan berambut pirang itu. Selama ini dia tidak pernah melihat sosok apapun selama dia bekerja di rumah sakit ini, hanya kejadian-kejadian ganjil seperti buku yang berpindah. Buku yang tiba-tiba terbuka sendiri halamannya. Atau udara dingin yang sangat menggigit kulitnya. Tapi malam ini, Arga benar-benar terkejut dengan sosok perempuan Belanda yang menatap tajam ke arah mereka berdua.
“Niet doen, Merry!” teriak Mr. Barend yang sudah berada di belakang perempuan Belanda itu. Seketika saja, perempuan Belanda itu melayang menembus dinding dan menghilang disambut dengan suara tawanya yang melengking.
“Mr. Barend!” seru Sita dan Arga hampir berbarengan. Dengan sigap Arga merangkul tubuh tua Mr. Barend yang hampir terkulai ke lantai. Dia pun membopong tubuh lemah itu menuju ke ruangannya dengan Sita mengikuti dari belakang. Dibaringkannya tubuh Mr. Barend di ranjangnya. Tiba-tiba muncul Ibu Bella dari balik pintu.
“Ibu belum pulang?” tanya Arga.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak memanggil Mr. Barend?” seru Bu Bella di depan pintu.
Bu Bella menghampiri Mr. Barend. Namun, sebelum Bu Bella sampai menuju ranjang lelaki tua itu. Tangan Mr. Barend meraih tangan Arga dan menggenggamnya erat, seperti memberikan tanda untuk tidak menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada Bu Bella.
“Oh, tadi kami melihat Mr. Barend keluar ruangan dan hampir terjatuh, Bu,” ucap Arga sambil memberi sinyal ke Sita untuk tutup mulut. Sita melihat mata Arga mendelik dan memahaminya.
“Mr. Barend tidak apa-apa. Mungkin dia rindu dengan rumah ini dan ingin jalan-jalan. Kalian boleh pulang, biar Mr. Barend saya yang urus.”
“Baik, Ma’am. Kami pamit pulang.” Tanpa sengaja Sita mengandeng tangan Arga dan mengajaknya keluar.
Deni yang melihat tangan Sita menggandeng tangan Arga. Sita baru menyadari apa yang dia lakukan. Segera dia melepaskan tangannya. Deni meraih tangan kekasihnya dan menariknya lembut menuju mobil. Pandangan Arga masih tertuju pada tubuh Sita yang berjalan semakin jauh darinya.
Sepanjang perjalanan di mobil, Sita hanya diam. Tangannya gemetar, dia berusaha mengatur napasnya. Matanya selalu dibayangi dengan sosok perempuan Belanda itu. Dikernyitkan keningnya, dia berpikir sesuatu. Sepertinya perempuan itu tidak bermaksud melukainya juga Arga. Seperti ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan.
Wajahnya memang pucat, tapi sebenarnya perempuan itu sangat cantik.Terlihat bayangan wajah Bu Bella di matanya. Wajah keduanya hampir mirip, mungkinkah ….
“Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan lelaki itu?” pertanyaan Deni membuyarkan lamunan Sita.
“Kamu cemburu?” tanya Sita dengan ekor mata kanannya berusaha melihat ekpresi Deni.
“Menurut kamu?”
“Maafkan saya, Den. Saya tidak ada hubungan apapun dengan Mas Arga. Tadi tanpa sengaja saya menggandeng tangannya karena saya hampir terjatuh.” Sita berbohong.
Dia tidak ingin menceritakan apa yang baru dialaminya bersama Arga. Dia tidak ingin lelaki pujaannya merasa khawatir. Jauh dilubuk hatinya, Sita senang dengan kecemburuan Deni. Itu menandakan, Deni begitu mencintainya. Sita pun memandang Deni dan memberikan senyuman.
Sita masih penasaran dengan Tiara dan Dokter Hardian. Apakah benar mereka itu anak dan ayah? Apakah Mas Arga tahu? Aku harus mencari tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Ucap Sita sebelum akhirnya matanya dapat terpejam di ranjang kamarnya.
***
Sita bangun dengan tubuh yang segar serta penuh semangat. Hatinya berbunga dengan sikap cemburu Deni semalam, itu membuatnya melupakan kejadian menyeramkan yang telah dialaminya.
Disapukan pipinya dengan blush on. Dia pun mengoleskan bibir tipisnya dengan lip balm berwarna pink. Dengan senyum ceria, Sita menyapa Mama dan Papa yang sudah terlebih dulu sarapan di ruang makan. Kali ini Papa bersikap sedikit lunak padanya.
“Cantik sekali anak Papa pagi ini,” puji Pak Reza kepada anak perempuannya.
“Makasih, Pa. Sita senang akhirnya kita bisa sarapan bareng.”
Mama meletakkan piring roti berisi selai kacang dan susu hangat di meja di hadapan Sita yang baru saja duduk. Dengan penuh kasih sayang, Mama membelai kepala Sita dan mencium keningnya.
“Mama senang hari ini kondisimu sangat baik. Beberapa hari ini kamu benar-benar membuat Mama dan Papa khawatir. Kamu tidak pernah mau bercerita apapun pada kami. Mungkin pagi ini ada yang ingin kamu ceritakan, Sayang?”
Sita tersenyum pada kedua orang tua yang sangat dicintainya. Walau Papa begitu keras padanya, namun sebenarnya Papa sangat menyayanginya. Papa hanya ingin anak yang tinggal satu-satunya itu bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dan bahagia menjalani kehidupannya.
Buktinya, Papa tidak lagi mengungkit tentang kuliah kedokterannya yang kandas. Papa juga sama sekali tidak pernah bicara perihal perjodohannya dengan anak sahabatnya itu. Sita sangat menyayangi kedua orang tuanya dan tidak ingin membuat mereka kecewa.
“Cantik sekali kamu hari ini,” puji Deni sambil membelai pipi Sita lembut. Sita tersipu.
Sebenarnya hari ini Sita tidak bekerja. Dia sengaja mengajukan izin langsung kepada Bu Bella semalam melalui WA. Sita berencana ingin memata-matai Tiara. Dia ingin Tiara menganggap dirinya libur hari ini.
Setelah selesai dengan urusannya di kampus, Sita bergegas menuju rumah sakit pukul 2 siang. Sesampainya di rumah sakit, dia tidak langsung menuju ke perpustakaan melainkan menuju kamar Mr. Barend. Ada yang ingin dia tanyakan kepada lelaki tua berkewarganegaraan Belanda itu tentang kata-katanya yang menyuruhnya untuk hati-hati.
Dipandanginya wajah Mr. Barend yang tertidur lelap. Sepertinya dia baru saja tertidur.Handle pintu bergerak, ada seseorang yang ingin masuk. Dengan lincah Sita berlari kecil dan bersembunyi di balik tirai. Tangannya memegang terali besi, dia berusaha mengangkat tubuhnya sampai kakinya terangkat dan tertutup tirai tebal berwarna oranye.
“Saya tidak akan membiarkan kamu bicara apapun kepada Sita, Mr. Barend.”
Suara Tiara terdengar oleh Sita dari balik tirai. Langkah kaki Tiara semakin mendekati pintu, dia menajamkan telinganya dan mendengar langkah kaki itu pergi. Sita segera keluar dari balik tirai, dilihat telapak tangannya memerah karena menahan beban tubuhnya. Dia berjalan menuju ranjang Mr. Barend dan mendapati lelaki tua itu masih terlelap. Dengan langkah perlahan, Sita berjalan menuju pintu dan membukanya. Dia berjalan menuju ruang dokter.
“Sita tidak masuk hari ini. Dia izin karena tugas di kampus, Pa.” Tiara bicara dengan seorang lelaki yang dia sebut dengan sebutan Papa.
“Bagus. Apa kamu sudah menaruh obat tidur di gelas lelaki tua itu?”
Sita mendengar percakapan mereka dengan jelas. Telinganya dengan jelas mengetahui siapa lelaki yang sedang bicara dengan Tiara. Dia benar-benar Dokter Hardian, ayah Tiara.
“Sudah, Pa. Malam ini Yara akan berusaha mendekati Arga dan membawanya menghadap Papa.”
“Bagus. Biar Papa yang urus setelahnya. Kita harus melenyapkannya dengan cara yang halus tanpa diketahui siapapun.”
Suara tawa keduanya seperti ditahan. Dengkul Sita gemetar mendengar percakapan antara Tiara dan Dokter Hardian. Mereka berencana ingin membunuh Arga. Tapi kenapa? Terdengar langkah kaki menuju lorong kamar pasien.
Gadis itu berjinjit menuju lorong kamar pasien. Dia kembali menuju ruang Mr. Barend, dia berharap lelaki tua itu sudah terbangun dari tidurnya. Ketika Sita berhasil masuk, dia terkejut karena Arga sudah berada di depan pintu dan memergokinya.
Sita menutup mulut Arga dengan telapak tangannya sebelum lelaki itu mengeluarkan kata-kata. Dia berbisik untuk tidak berisik. Arga mengerti. Sejenak pandangan mereka bertemu, Arga tertegun dengan penampilan Sita yang begitu memesona. Pipi Sita bertambah merah dari warna blush on yang dia pakai. Sita mengajak Arga berbincang di sudut kamar agar tidak mengganggu Mr. Barend yang tertidur pulas.
“Apa!” seru Arga setelah mendengar cerita Sita.
“Itu yang saya dengar tadi. Saya sudah curiga dengan tingkah Tiara yang dengan mudahnya masuk ke ruang dokter. Sedangkan kamu pernah bilang, tidak boleh sembarangan masuk ke ruangan itu tanpa izin dari Dokter Bella dan Dokter Hardian.”
“Tapi, untuk apa mereka merencanakan itu kepada saya?” ucap Arga penuh tanda tanya.
“Saya tidak tahu. Kita harus mencari tahu. Sepertinya Mr. Barend tahu sesuatu yang terjadi di rumah sakit ini. Saya ingin bertanya padanya, tapi … dia terus tertidur sejak tadi.”
“Tadi kamu bilang, Tiara menaruh obat tidur di gelas Mr. Barend. Benar?” Arga berjalan menuju meja di samping ranjang. Dan mendapati gelas Mr. Barend telah kosong.
“Terlambat. Mr. Barend sudah meminumnya, ya,” gerutu Sita. Mungkin Tiara tahu kalau Mr. Barend mengetahui niat jahatnya dan membuatnya tertidur. Pikir Sita.
Langkah kaki terdengar melewati ruangan. Sita dan Arga menutup mulut mereka rapat. Sita menahan napasnya. Dia sangat mengkhawatirkan Arga.
Seketika hawa dingin membalur tubuh keduanya. Nampak bayangan hitam melewati mereka menembus ke pintu.

Other Stories
Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Download Titik & Koma