Belinda
“Pak Barend? Kenapa Anda kesini?”
Bu Bella terkejut dengan kehadiran Mr. Barend di ruangan keluarga. Bu Bella terbiasa memanggil lelaki tua itu dengan sebutan ‘Pak.’
Lelaki tua itu terlihat begitu sedih melihat isi ruangan yang kosong. Pandangan matanya kosong. Dengan tertatih Mr. Barend berjalan perlahan sambil tangannya di tempelkan ke tembok. Dia seperti merasakan sesuatu.
“Saya rindu keluarga ini. Kakekmu, ibumu dan kakakmu. Saya rindu mereka …,” isak lelaki Belanda itu. Disenderkan tubuhnya ke tembok sambil pandangannya menatap kearah Bu Bella yang mematung melihat perilaku Mr. Barend.
“Kakak? Apakah saya punya kakak?” tanya Bu Bella kaget.
Selama ini tidak ada yang meberitahukan dirinya memiliki seorang kakak. Bu Bella tinggal berdua saja dengan Mr. Barend sejak dia kecil. Hanya keluarga jauh dari Mr. Everhart yang selalu datang mengunjunginya. Beberapa dokter dari keluarga yang dulu bekerja di rumah sakit.
Bu Bella bertekad menjadi seorang dokter, karena itu yang diinginkan kakek, yang diucapkannya melalui Mr. Barend. Kakek ingin semua cucunya menjadi dokter.
Lambat laun mereka semua pergi. Banyak pasien yang enggan datang ke rumah sakit itu. Sampai akhirnya hanya pihak keluarga saja yang datang dan beberapa orang tua memutuskan tinggal menetap karena keluarganya pulang ke Belanda.
Bu Bella pun merawat mereka dengan rasa sayangnya. Karena hanya mereka saja keluarga yang dimilikinya sekarang. Dan rumah sakit pun berubah seperti layaknya panti jompo. Para orang tua Belanda itu tidak suka menonton televisi, mereka lebih suka membaca. Untuk itulah tidak ada televisi di ruang pasien bahkan komputer di perpustakaan.
Bu Bella tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, bahkan dia tidak pernah mengenal ibunya, juga kakek yang selalu dibangga-banggakan oleh Mr. Barend. Dan kini dirinya baru tahu kalau dia memiliki seorang kakak.
“Belinda … kakakmu bernama Belinda, sama dengan namamu.”
Mr. Barend kembali terisak. Entah apa yang dirasakannya sampai dia begitu tertekan.
“Ceritakan pada saya Pak Barend. Selama ini Bapak tidak pernah bicara apapun kecuali kakek seorang yang baik dan hebat. Kakek yang menjadikan rumahnya ini menjadi rumah sakit untuk membantu orang-orang. Ceritakan semua yang belum Bapak ceritakan, saya mohon …,” pinta Bu Bella dengan isak tangis. Tubuhnya bersimpuh di bawah kaki Mr. Barend yang masih berdiri dengan tubuh menempel pada dinding.
“Bawa saya ke kamar,” ucap Mr. Barend sambil melangkahkan kakinya perlahan. Bu Bella berdiri memeluk tubuh lelaki tua yang lemah itu dan menuntunnya menuju kamar.Usia lelaki itu hampir 100 tahun. Dia adalah pasien paling tua di rumah sakit. Namun, dirinya masih terlihat sehat, walau seringkali dia meracau dengan bahasa yang tidak jelas. Dia juga masih suka memandang gambar pada buku-buku walau mungkin tidak membacanya.
“Belinda … nama yang indah, yang berarti bijaksana, abadi dan cantik. Tapi, saya lebih suka memanggilmu dengan panggilan Bella sejak kamu kecil. Dan akhirnya semua ikut memanggilmu Bella.”
Mr. Barend mengenggam tangan Bu Bella. Dia duduk dengan bantal sebagai penyanggah punggungnya yang rapuh. Dia begitu nyaman dengan kaki diluruskan di ranjang. Mata lelaki itu terpejam.
“Ceritakan tentang kakakku Belinda. Apa dia masih hidup?” Bu Bella menggenggam erat tangan Mr. Barend. Dia memohon kepada lelaki tua dihadapannya itu.
“Dia … seorang gadis yang sangat berani diusianya yang masih sangat kecil. Dia …,” isak tangis Mr. Barend sangat memilukan. Bahu lelaki itu berguncang. Dia menarik tangan Bu Bella dan berusaha memeluk tubuhnya
Bu Bella pun menyambut tangan lelaki tua itu. Dia memeluk Mr. Barend yang sudah dianggapnya sebagai kakeknya sendiri. Bu Bella menghapus air mata lelaki tua itu dengan lembut. Tergambar jelas keresahan hatinya dari keriput di wajahnya.
“Kakakmu sudah tidak ada Bella. Dia telah meninggal demi menyelamatkan ibumu. Tubuhnya berdarah … perpustakaan berdarah … Tidak!”
Tiba-tiba lelaki tua itu berteriak histeris. Dia seperti membayangkan sesuatu yang mengerikan. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil terus berteriak … “Belinda … Merry …” Bu Bella memeluknya erat sampai akhirnya lelaki tua itu tertidur.
Kakinya melangkah gontai menuju ruang kerjanya Bu Bella hanya bisa duduk di ruang pribadinya. Dia masih penasaran dengan kisah yang menimpa kakaknya Belinda. Dan Merry? Itu nama Mama? Pak Barend tidak pernah bercerita banyak tentang ibunya. Dia selalu bercerita tentang kakeknya, Mr. Everhart.
***
“Bella … Bella …” Suara Dokter Hardian membangunkan Bu Bella yang tertidur di ruang kerjanya.
“Kamu tidur di sini semalam?” tanya Dokter Hardian dengan tatapan lembut.
“Iya … aku di sini semalaman.”
“Apa kamu tahu dimana Tiara? Dia tidak ada di kamarnya.”
Pertanyaan Dokter Hardian sontak membuat wajah Bu Bella merah. Raut wajah serta perilakunya menunjukkan sikap tidak suka. Dia berdiri meraih tas yang ada di atas meja dan berlalu meninggalkan Dokter Hardian tanpa mengucap sepatah katapun. Hanya bola matanya yang melotot mendandakan kemarahannya.
“Bella … saya sedang bicara padamu. Mau kemana kamu?”
Bu Bella sama sekali tidak menggubrisnya. Dia tidak peduli dengan ocehan lelaki yang terus bertanya dan mengejarnya. Bu Bella mempercepat langkahnya sampai ke mobil dan segera menjalankan mobil sebelum Dokter Hardian berhasil mencegahnya pergi.
“Pagi, Dok,” sapa Arga yang baru saja memarkirkan sepeda motornya tidak jauh dari tempat Dokter Hardian berdiri di parkiran.
“Eh, kamu! Apa kamu tahu dimana Tiara?” hardik Dokter Hardian sambil bertanya.
“Saya baru saja datang, Dok. Saya tidak tahu apa-apa.”
“Ada apa, Dok?”
Sita yang baru saja turun dari mobil Deni melihat Dokter Hardian bersama Arga. Hatinya cemas, dia berlari tanpa mengucapkan apapun kepada Deni yang masih memarkirkan mobilnya. Lagi-lagi rasa cemburu meradang, tapi Deni hanya diam melihat kekasihnya berlari menghampiri Arga.
Arga duduk mematug di kursi kerjanya. Pikirannya melayang membayangkan sosok Papa yang telah memberinya sebuah tanggung jawab besar yang bisa merenggut jiwanya. Dia juga teringat akan Mama yang begitu disayanginya. Arga terlihat begitu sedih, air matanya mulai turun sampai membasahi buku catatan yang ada di hadapannya.
“Mas Arga sakit?”
Suara lembut Sita membuyarkan lamunan Arga. Lelaki itu mengusap air mata yang membasahi pipinya, dan mencoba tersenyum kepada gadis yang telah berhasil merebut hatinya. Namun, dia juga galau dengan perasaannya kepada Sita. Apalagi dia tahu Sita telah memiliki kekasih. Dan kelihatan mereka saling menyintai.
“Oh, nggak. Saya hanya merasa lelah dengan semua yang terjadi di sini. Banyak kejadian aneh yang kerap membuat kita merasa teramat takut.”
“Mas Arga ingin berhenti?”
Hatinya gelisah dengan pertanyaan yang diajukan Sita. Dia tidak mungkin berhenti. Dia telah berjanji kepada Papa untuk menjaga seorang wanita yang selama ini dicintai papanyadan wanita itu terancam dibunuh oleh seseorang. Dan dia juga tidak bisa meninggalkan gadis yang dicintainya itu bekerja sendiri di perpustakaan dengan segala peristiwa yang terjadi selama ini.
“Apa kamu bermaksud ingin berhenti bekerja di perpustakaan ini?” tanya balik Arga dengan pandagan penuh pengharapan. Dia berharap Sita mampu bertahan sampai misinya berhasil.
“Saya memang takut dengan semua kejadian yang kita alami di sini. Saya juga merasa lelah … tapi, saya merasa ada sebuah kekuatan yang membuat saya bertahan di sini. Sepertinya saya bisa memecahkan misteri yang ada di perpustakaan ini, Mas. Saya sendiri tidak mengerti, kenapa saya merasa yakin seperti itu.”
“Hmm … baiklah. Apa pun yang kamu rasakan, saya mohon … tetaplah di sini.”
“Kenapa, Mas?” tanya Sita dengan tatapan bingung. Bola mata Sita terus menatap mata lelaki yang berada di hadapannya itu, membuat Arga salah tingkah.
“Eh … karena saya juga yakin kamu dapat memecahkan misteri yang terjadi di sini. Dan … saya tidak ingin berpisah denganmu.” Kalimat terakhir yang diucapkan Arga begitu pelan keluar dari bibirnya. Membuat Sita kembali bertanya.
“Apa, Mas … kamu tidak ingin apa?”
“Oh, tidak, tidak apa-apa.” Arga menghela napas panjang. “Semoga hari ini tidak ada kejadian aneh lagi, ya.” Senyumnya menghiasi wajah lelaki itu, membuatnya semakin tampan.
“Tadi Dokter Hardian bertanya tentang keberadaan Tiara. Memangnya Tiara tidak ada di kamar perawatan?” tanya Sita sambil memikirkan sesuatu.
“Iya, iya … tadi Dokter Hardian bertanya itu. Saya tidak tahu, karena belum ke kamar pasien pagi ini.”
Akhirnya Sita mengajukan diri pergi ke kamar pasien untuk membawakan buku-buku bacaan. Hatinya berpikir, akankan rumah sakit ini terus berdiri jika para keluarga Belanda itu meninggal atau pergi? Sayang sekali jika bangungan ini dibiarkan tanpa berpenghuni, pasti akan semakin angker melebihi sekarang. Ah! Kenapa aku harus memikirkan itu?Membuatku merinding. Gumam Sita sambil langkahnya menuju lorong kamar pasien.
“Aku harus segera melakukan sesuatu. Semuanya kacau!”
Suara Dokter Hardian terdengar dari luar ruang dokter yang tidak tertutup rapat. Sita mengurungkan niatnya berjalan ke kamar pasien. Dia membalikkan badannya dan berjinjit menghampiri ruang dokter. Gadis itu mencoba mengintip.
Tiba-tiba tangannya gemetar dan membuat kardus yang berisi buku-buku jatuh ke lantai dan mengejutkan Dokter Hardian.
“Siapa itu!” hardiknya dari dalam ruangan.
Sita melangkahkan kakinya menjauhi ruang dokter, tangannya tadi bergetar karena melihat Tiara berjalan melewati dirinya. Dia hanya menoleh sekilas ke arah Sita dengan pandangan kosong namun begitu menakutkan. Tiara berjalan perlahan menuju ruang bawah tanah. Seketika hati Sita cemas dengan Arga yang sendirian di ruang bawah tanah itu.
“Hey, kamu! Kamu yang tadi berdiri di sini, Sita!” Teriak Dokter Hardian memanggil Sita yang sudah berjalan menjauh. Dirinya sangat marah karena Sita sama sekali tidak menggubrisnya, malah terus berjalan dengan langkah yang dipercepat.
“Mas Arga! Mas Arga! Di mana kamu, Mas?” teriak Sita memanggil Arga begitu dirinya sampai di ruang bawah tanah.
“Ada apa, kamu membuat saya panik.”
Sita menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya mencari Tiara yang tadi dikejarnya namun begitu cepat menghilang.
“Saya melihat Tiara berjalan menuju kemari.”
“Tidak mungkin, saya sendirian saja di sini. Tiara tidak ke sini.” Arga mencoba menenangkan Sita, walau hatinya pun terasa begitu gusar dengan kata-kata yang dilontarkan Sita.
“BUM!”
Tiba-tiba suara pintu perpustakaan yang selama ini dibiarkan terbuka, ditutup oleh seseorang dengan kasar. Pintu besi itu mengeluarkan suara diiringi gema seisi ruangan.
“Mau lari kemana kalian! Kali ini kalian tidak akan bisa lari kemana-mana. Saya sudah mengunci pintu itu.”
Suara Dr. Hardian menggelegar, berteriak kepada Sita dan Arga yang berada di perpustakaan. Pandangannya begitu tajam dan bengis mengarah ke arah Arga.
Arga dan Sita berpegangan tangan. Keduanya menatap Dr. Hardian, dan Tiara yang tiba-tiba muncul dengan sorot mata tajam ke arah Sita.
“Saya tidak tahu, kenapa kalian ingin sekali membunuhku? Apa salah saya kepada kalian berdua!” seru Arga dengan pandangan menantang. Sita menggenggam erat tangan Arga. Dia menekan tombol panggilan di ponsel yang sudah dia siapkan sebelumya ketika dirinya berjalan menuju perpustakaan. Sambungan ponselnya ditujukan kepada Deni. Karena hanya Deni yang bisa membantunya saat ini. Lelaki itu selalu ada untuknya.
Sambungan telepon itu gagal. Tiba-tiba saja Tiara berlari dan melompat menghantam tubuh Sita dengan tubuhnya sehingga kedua perempuan itu bertindih di lantai. Genggaman tangan Sita pun terlepas, ponsel pun terlempar.
Arga panik, dia ingin menyelamatkan Sita. Tapi, sebuah belati secara tiba-tiba menghunus perut Arga. Darah berceceran. Sita menjerit memanggil Arga yang terkulai lemah, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Tiara memukul kepala Sita dengan sebuah buku tebal sampai akhirnya Sita pingsan.
Dokter itu menjambak rambut serta meraih tangan kanan Arga yang tertelungkup di lantai. Dengan sadisnya, dokter itu menarik tubuh Arga dan membawanya ke ruangan kecil di kolong anak tangga.
“Jangan! Jangan Papa …,” histeris Tiara kepada Dr. Hardian. Gadis itu seperti baru terbangun dari tidur panjangnya. Dia tidak lagi terlihat pucat. Dia telah sadar.Tiara begitu menyintai lelaki yang sudah terkulai lemah itu.
“Ada apa?” bentak Dr. Hardian seraya menghentikan tangannya yang diangkat untuk kemudian ingin menikam kembali perut pemuda yang sudah tergeletak lemah berlumuran darah itu.
“Aku mencintainya, Papa.” Tiara terisak, membuat Dr. Hardian gusar melihat anak perempuannya tiba-tiba memohon padanya.
“Apa salah saya, Pak?” Suara Arga bergetar ditengah perjuangannya melawan maut.
“Kamu akan mewariskan semua kekayaan Dr. Belinda. Saya tidak akan membiarkan itu. Saya harus membunuhmu!”
Lelaki itu mengangkat tangannya yang memegang belati dan mengayunkannya menuju perut pemuda yang tergeletak di depannya. Tiba-tiba bau anyir tercium dan membuat mual. Sosok gadis kecil muncul begitu saja dari kegelapan dan telah berada di samping Dr. Hardian.
Wajah dokter itu pucat, terlebih ketika dia merasa ada kekuatan yang membuat tangannya yang memegang belati itu akan menusuk perutnya sendiri. Tiara berteriak memanggil Papanya. Dia berlari mendekati ayahnya dan ingin mengambil belati yang ada di tangan dokter itu. Gadis kecil misterius itu terlihat marah. Dia menghempaskan tubuh Tiara keluar dari ruangan kecil hanya dengan gerakan tangannya. Tubuh Tiara menghantam lemari buku yang berada agak jauh, Tiara menjerit. Rasa sakit dan takut di deranya.
Suara menyeringai, melengking, dengan tatapan mata merah tertuju pada Dokter Hardian, membuat bulu kuduk dokter itu merinding. Dokter Hardian berusaha menjauhi gadis misterius itu sambil tangannya berusaha menahan belati yang semakin mendekati perutnya. Lelaki itu berteriak.
Sita bangun dari pingsannya. Dengan terhuyung dia berlari menuju tubuh Tiara yang lemas. Sekilas pandangan Sita tertuju pada Arga yang terkulai lemah bersimbah darah di dalam ruangan kecil. Sebuah ruangan yang dipakai untuk mengunci seorang gadis kecil yang bersimbah darah karena tertembak demi menyelamatkan ibunya. Itu yang dia baca dalam novel Belinda.
Sita menatap wajah Arga. Dia berharap lelaki itu masih hidup, karena tangannya masih bergerak memegangi perutnya yang berdarah. Dan tiba-tiba sosok gadis misterius itu mengangkat tangannya sambil bersenandung. “Lhaaa … lhaaa … lhaaa …” Senandungnya membuat bulu Sita dan Tiara merinding. Mata mereka hanya membelalak melihat kejadian yang ada dihadapan mereka. Terdengar suara jeritan …
“Tidak! Tidak! Agggh …” Dr. Hardian jatuh ke lantai bersimbah darah. Belati yang sedari tadi digenggamnya kini tertanam dalam di perutnya. Tubuhnya seketika kaku tidak bergerak dengan kepala menghadap wajah Tiara. Matanya terbuka dengan buliran air mata mengalir.
“Papa … Tidak!”
Tiara hanya mampu berteriak dan menangis melihat kondisi ayahnya. Gadis kecil misterius itu berjalan menghampirinya dan kembali menghepas tubuhnya terpental menjauhi Sita.
Sosok bayangan hitam melesat di hadapan Sita. Sontak saja dia kaget dengan sosok perempuan Belanda yang sudah berada di sampingnya. Prempuan Belanda itu seakan ingin memerlihatkan sesuatu padanya.
Tiba-tiba saja, rembesan air berwarna merah mengalir dari lemari buku, mengalir ke arahnya. Kejadian itu sama halnya seperti yang dialaminya bersama dengan para mahasiswa yang pernah datang ke perpustakaan. Perpustakaan berdarah.
Gadis kecil misterius itu terus berjalan perlahan menghampiri Tiara yang terkulai lemah di lantai.
“Jangan! Biarkan dia …,” seru Sita memohon Gadis kecil itu menoleh ke arah Sita. Pandangannya sayu …
Terdengar pintu dibuka dengan mudahnya. Padahal sebelumnya Dokter Hardian telah menguncinya. Bu Bella dan Mr. Barend menuruni anak tangga. Belum sampai kaki mereka turun sampai perpustakaan. Bu Bella berteriak histeris melihat pemandangan dihadapannya.
“Merry, ini Belinda, anakmu.” Mr. Barend berkata pada perempuan Belanda itu seraya menunjuk kepada Bu Bella.“Pergilah kalian dengan tenang, bawa Belinda kecil pergi.”
“Apakah itu kakak Belinda?” tanya Bu Bella menatap dengan pandangan ngeri ke arah gadis kecil berlumuran darah yang menatap dirinya.
Gadis kecil itu menyeringai dengan sorot mata sayu kepada Bu Bella. Dokter cantik itu merasa sedih sekaligus merasa takut. Namun, dia akhirnya dapat melihat kakaknya walau dengan kondisi yang sama sekali tidak pernah diharapkannya.
Merry tersenyum memandang Bu Bella. Perempuan Belanda itu meraih tangan gadis kecil Belinda, tangannya menunjuk ke arah lemari buku sebelum akhirnya kedua sosok misterius itu melayang dan menghilang dengan suara lengkingan memekakan telinga. Bau anyir sekejap hilang.
Bu Bella berlari menghampiri tubuh Dokter Hardian yang sudah tak bernyawa dengan belati menancap di perutnya. Dia menangis sejadinya, sambil memeluk tubuh lelaki yang mulai dicintainya itu.
Sekuat tenaga Tiara bangkit dan berjalan tertatih menghapiri mayat Dokter Hardian.
“Papa … bangun Pa … Maafkan Yara, Pa …,” isak Tiara. Dia berusaha memeluk tubuh ayahnya yang sedang dipeluk Bu Bella. Dokter cantik itu melepaskan pelukannya dan membiarkan Tiara. Seketika rasa cemburunya hilang. Mereka menangisi lelaki jahat yang sebenarnya ingin membunuh Bu Bella demi harta.
Sementara Tiara dan Bu Bella menangisi Dokter Hardian. Sita tengah berada di samping Arga. Lelaki itu masih hidup dan mencoba tersenyum padanya sambil memegangi perutnya. Sita beranjak dan berlari menaiki anak tangga. Dia menekan tombol bantuan yang berada di lantai atas untuk meminta bantuan kepada petugas rumah sakit.
Other Stories
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...