Perpustakaan Berdarah

Reads
803
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
perpustakaan berdarah
Perpustakaan Berdarah
Penulis Jean Rosa

Sebuah Misteri

Seminggu berlalu.
Rumah Sakit Dr. Everhart akhirnya ditutup. Semua pasien yang terdiri dari keluarga besar Bu Bella dipindahkan ke rumah panti jompo. Ada beberapa akhirnya pulang bersama keluarganya. Khususnya Mr. Barend, lelaki tua itu tinggal bersama Bu Bella dengan 2 orang perawat untuk menjaganya.
Tiara pun dijebloskan ke penjara. Namun, sebelumnya dia menceritakan semua yang sudah direncanakan oleh ayahnya kepada Bu Bella. Ayahnya sengaja mendekati Bu Bella hanya ingin menguasai rumah sakit Dr. Everhart. Dokter Hardian ternyata adalah cucu dari anak tiri Dr. Everhart, Mr. Dedrick. Dendam yang tidak terselesaikan karena harta, membuat Bu Bella bingung.
Sore hari dikediaman Bu Bella dan di kamar Mr. Barend. Lelaki tua itu akhirnya menceritakan semua misteri yang selama ini disimpannya. Dia menceritakannya kepada Bu Bella dan Sita. Sengaja Sita datang di kediaman Bu Bella untuk melihat kondisi Mr. Barend dan menemui dokter cantik yang selalu dikaguminya itu.
***
Dr. Everhart pernah menikah lagi dengan perempuan Indonesia yang telah memiliki seorang anak, perempuan itu adalah istri sahabat Belandanya yang sakit dan akhirnya meninggal. Sahabatnya itu meminta Dr. Everhart untuk menikahi istrinya jika dia meninggal dan telah memiliki seorang anak. Anak tiri Dr. Everhart bernama Dedrick.
Ketika dewasa dan Dr. Everhart telah meninggal, Dedrick menginginkan rumah peninggalan Dr. Everhart yang dijadikan rumah sakit. Namun Dr. Everhart memberikan rumahnya itu kepada Merry, anak perempuannya dari istri pertama sebelum dirinya wafat.
Dedrick mengatur rencana untuk membunuh Merry. Bertahun-tahun lamanya dia mengatur rencana. Merry selalu dkelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya. Sampai akhirnya ketika baru sebulan Merry melahirkan anak keduanya. Dedrick berhasil membunuhnya di perpustakaan. Ketika itu Merry sedang menemani Belinda, anak pertamanya membaca buku di perpustakaan. Suasana sepi kala itu, karena keluarga sedang pergi, bahkan suami Merry pun sedang bekerja. Dedrick muncul tiba-tiba ketika Merry sedang mengambil sebuah novel di dalam lemari buku
.
“Aku yang lebih pantas mendapatkan rumah ini. Bukan kamu!” teriak Dedrick sambil mengacungkan sebuah pistol yang berada di tangan kanannya, siap melemparkan peluru ke tubuh Merry.
Merry kaget dengan kehadiran Dedrick yang tiba-tiba itu. Dia pun berusaha lari menghindar. Entah bagaimana, tiba-tiba Belinda telah berdiri di hadapan Merry dan menjadiakn tubuhnya sebagai tameng untuk peluru yang akan menembus tubuh ibunya. Merry berteriak, dia berusaha memeluk anaknya. Namun, gadis kecil yang kala itu masih berusia 10 tahun, mendorong tubuh Merry. Dia membalikkan tubuhnya sambil merintih dan menerima letupan peluru kedua yang menembus perutnya. Dirinya roboh.
Lelaki jahat yang tak lain adalah pamannya itu membiarkan tubuh Belinda tersungkur di lantai. Dedrick meraih tangan Merry yang berteriak histeris melihat tubuh putrinya tersungkur berlumuran darah. Dicekiknya perempuan itu sampai lemas. Dan akhirnya, Dedrick menggantung tubuh Merry di sebuah lampu besar di dalam perpustakaan.
Tak lama dari kejadian itu. Seorang lelaki datang … dia menurunkan tubuh Merry perlahan. Dia menangisi tubuh perempuan yang sudah tidak bernyawa itu. Lehernya yang putih mulus kini rusak karena belitan tambang yang menggantung tubuhnya. Lelaki itu terus menangis dan mengugkapkan perasaan bersalahnya.
Sementara tubuh Merry tergelatak di lantai, lelaki itu menyelimuti tubuh Merry dengan kain putih. Kini dirinya berusaha mencari sosok Belinda. Dia yakin gadis kecil itu ada di perpustakaan ketika ibunya dibunuh. Namun, lelaki itu tidak berhasil menemukan Belinda. Dia pun menyerah. Dia bermaksud mengubur Merry malam itu juga.
Sungguh kejadian yang sama sekali tidak diduganya, ketika dia sedang menggali tanah di belakang rumah. Tiba- tiba rentetan suara peluru terdengar di dalam rumah. Lelaki itu panik, dia berlari menghampiri suara tembakan. Ternyata Dedrick sedang menembaki semua keluarga yang sedang berkumpul di perpustakaan. Lelaki itu berteriak histeris. Dia berusaha mengambil pistol yang berada di genggaman Dedrick. Lelaki itu terhempas ke lantai setelah Dedrick berhasil memukulnya.
“Jangan bertindak macam-macam, atau kamu juga akan saya bunuh. Bantu saya menyimpan mayat-mayat ini!”
Dengan perasaan geram, lelaki itu hanya diam dan mengikuti perintah Dedrick. Dia memerintahkan lelaki itu untuk menyeret mayat-mayat dan kemudian dipindahkan ke belakang lemari. Tiba-tiba Dedrick membawa tubuh Merry yang disembunyikan lelaki itu di kamarnya. Lelaki itu memohon, tapi Dedrick tidak menggubrisnya, dia bahkan mengancam. Lelaki itu menanyakan keberadaan Belinda kecil, tapi Dedrick tidak pernah memberitahukannya.
Keesokan harinya, Dedrick menutupi mayat-mayat yang tergelatak di depan tembok dan dibelakang lemari buku itu dengan semen, dan dibantu seorang lelaki. Begitu pun dengan mayat Merry. Lelaki itu menangis. Dedrick membeli sebuah lemari buku besar. Dia meminta kepada orang-orang yang membawa lemari itu untuk meletakkannya dengan menempelkannya pada tembok.
Wajah Bu Bella dan Sita pucat mendengar cerita Mr. Barend dengan suara gemetar. Lelaki tuaitu bercerita sambil menangis menyesali sesuatu. Bu Bella terisak sambil melihat foto usang yang diberikan Mr. Barend untuknya. Dan itu adalah foto keluarganya bersama kakaknya Belinda.
“Siapa lelaki yang bersama dengan Dedrick itu, Mr. Barend?” tanya Sita tiba-tiba. Dirinya masih penasaran dengan cerita Mr. Barend yang menurutnya belum selesai.
Bu Bella memandang lelaki tua yang sangat disayanginya itu. Dia juga merasa ada yang masih disembunyikan oleh Pak Barend.
“Ik … lelaki itu saya. Dan saya juga yang memberimu nama seperti nama kakakmu, Belinda.” Mr. Barend terisak setelah mengakui dirinya adalah lelaki yang bersama Dedrick. Dia meraih tangan Bu Bella. “Sorry, maafkan saya Bella.”
“Bagaimana bisa Pak Barend membantu Dedrick?” tanya Bu Bella disela isak tangisnya. Sita berusaha menenangkan Bu Bella.
“Kamu masih berusia satu bulan kala itu. Dedrick tidak akan membunuhmu. Asal …”
“Pak Barend membantunya. Begitu?” ucap Bu Bella sebelum sempat Mr. Barend menyelesaikan kalimatnya.
“Dia berencana akan menjodohkan kamu dengan anak lelakinya. Dia menginginkan kamu hidup.” Kembali Mr. Barend terisak, kali ini isak tangisnya begitu menyayat hati dengan diselingi permintaan maaf. Dia mencium punggung tangan Bu Bella dengan penuh rasa sayang. Bu Bella mencium kening Pak Barend, dia mencoba memaapkan lelaki tua yang lemah itu. Walau dirinya sangat terluka. Mereka meninggalkan Mr. Barend di kamarnya.
Bu Bella mengajak Sita untuk berbincang di ruang tamu, sambil meneguk teh hangat Sita pun berkata kepada dokter cantik yang masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Terlihat buliran air mata masih berlinang membasahi pipinya.
“Tapi Ma’am Bella tidak menikah dengan Dokter Hardian, melainkan menikah dengan Dokter Rado, mungkin Dokter Hardian dendam karena impian ayahnya tidak dapat dipenuhinya.”
“Mungkin begitu. Saya masih bingung dengan Arga. Untuk apa Hardian dan Tiara berencana membunuhnya? Saya baru tahu kalau Tiara itu adalah anak Hardian. Pintar sekali dia membohongi saya selama ini,” isak Bu Bella sambil tangannya memegang dada. Dia begitu merasakan sakit di hatinya.
“Saya anak dari Dokter Rado. Selamat malam Bu Bella, Sita. Maaf, saya tidak mengabarkan kalian terlebih dahulu untuk datang ke sini,” ujar Arga yang telah berada di tengah ruang tamu.
“Arga! Kamu anak Rado? Saya … tidak mengerti…,” seru Bu Bella seraya berdiri dan menatap Arga.
Sita memandang lelaki tampan itu. Wajahnya seketika tertunduk ketika bola mata lelaki itu memandangnya.
“Bu Bella memang belum mengenal saya. karena saya tinggal bersama dengan Mama di Australia. Mama mengajak saya tinggal bersamanya dan meninggalkan Papa yang ketika itu menjalin hubungan dengan Anda.”
“Tidak! Itu tidak benar. Saya tidak pernah merebut Papamu. Perempuan itu yang telah merebut Hardian dari saya!” teriak Bu Bella sambil telunjuk tangannya di arahkan ke arah Arga yang masih berdiri di tengah ruang tamu.
“Ya! Akhirnya saya tahu yang sebenarnya. Selama ini Papa tidak pernah menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mama yang menceritakan tentang perselingkuhan Papa dengan anda, Bu Bella.”
“Silvi itu sahabat saya. Mamamu itu sudah seperti keluarga bagi saya. Tapi, dia merebut Rado ketika saya sedang mengandung, sampai akhirnya anak dalam kandungan saya meninggal, Rado benar-benar pergi bersama dengan Mamamu itu. Semua lelaki sama, tidak Papamu, tidak juga Hardian. Mereka semua, pengkhianat!”
Bu Bella berteriak histeris. Dia melampiaskan amarah yang selama ini dipendamnya karena pengkhianatan yang dilakukan suaminya. Dihempaskan tubuhnya ke sofa, dia terduduk dengan matanya menerawang seperti mengingat kejadian memilukan yang pernah dialaminya.
“Ini surat dari Mama. Dia ingin meminta maaf kepada Bu Bella. Surat ini baru sampai kemarin di rumah saya.”
Arga menghampiri Bu Bella perlahan. Sita menerima surat yang disodorkan Arga kepada Bu Bella yang enggan menerimanya. Sita meminta Bu Bella untuk membaca surat itu.
Sita memersilakan Arga duduk bersebrangan dengan tempat duduknya bersama Bu Bella. Tiba-tiba saja, Bu Bella menghampiri Arga dan memeluk pemuda itu dengan erat, membuat Arga bingung.
“Kamu Arga … anakku. Kamu anakku.”
Arga mengambil surat dari tangan Bu Bella, dia membacanya dengan susah payah karena Bu Bella begitu erat memeluknya. Akhirnya kedua ibu dan anak itu menangis. Mereka saling berpelukan.
Dengan penasaran Sita meminta surat itu dari Arga dan dia membacanya. Gadis itu tersenyum. Pandangan mata Sita dan Arga saling bertemu.
Bella … maafkan saya. Arga adalah anakmu. Dia menjadi korban atas rasa cinta buta saya terhadap suamimu Rado. Maaf, saya mengambilnya juga suamimu. Tapi, akhirnya saya sadar. Rado tidak pernah mencintai saya. Saya biarkan dia kembali padamu. Dan kini, kuberikan pula anakmu. Silvi.
***
2 Hari kemuadian …
Misteri demi misteri mulai terkuak. Bu Bella mendatangi rumah sakit kakeknya. Sita dan Arga pun datang karena ajakan Bu Bella.
Besok pihak kepolisian akan membongkar tembok yang diceritakan oleh Pak Barend. Kita harus datang.Sebuah pesan WA dikirim Bu Bella kepada Sita dan Arga.
Suasana di depan rumah sakit ramai. Banyak orang yang menonton kejadian pembongkaran itu. Entah dari mana orang-orang itu datang, sepertinya orang Jakarta memang selalu haus akan hiburan. Semuanya dirasa menarik untuk mereka.
Polisi menghalau orang-orang yang ingin masuk ke rumah sakit. Bu Bella, Sita dan Arga tengah berada di rumah sakit. Mereka diminta menunggu. Suasana rumah sakit begitu riuh. Suara dentuman tembok yang berusaha untuk hancurkan terdengar begitu berisik.
“Ada beberapa tengkorak di dalam tembok. Sepertinya memang sengaja dikubur di situ.”
Terdengar seseorang berkata kepada rekannya, membuat Bu Bella, Sita dan Arga sekilas berpandangan dan berlari menuju perpustakaan bawah tanah. Mata mereka membelalak melihat tengkorak-tengkorak yang terkubur di dalam tembok. Lemari buku besar yang selama ini menutupinya berhasil digeser.
“Kolong tangga … tolong periksa kolong tangga, Pak!” seru Sita kepada salah seorang petugas dengan rasa penasaran.
Mereka bergegas menuju ruangan kecil di bawah tangga. 2 orang petugas menyisir ruangan itu, dan benar saja, ada tengkorak di sana. Bau ruangan itu terasa anyir, membuat petugas-petugas itu mual.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Bu Bella kepada Sita.
“Akan saya ceritakan nanti, Ma’am.”
Bu Bella sangat terpukul dengan semua kejadian yang terjadi di rumah sakit kakeknya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan rumah sakit itu sekarang. Dia meminta kepada petugas kepolisian agar buku-buku yang ada di perpustakaan untuk diamankan, karena hanya itu saja peninggalan kakek yang dimilikinya saat ini.
Sebenarnya Bu Bella tidak terlalu membutuhkan pegawai perpustakaan. Namun, karena banyak sekali buku-buku peninggalan dari kakek, akhirnya dia membuka lowongan untuk mencari petugas perpustakaan agar buku-buku itu tetap terawat dengan baik.
Sampai akhirnya Hardian menyodorkan seorang perempuan, yang dikenalkannya sebagai anak temannya untuk bekerja di perpustakaan, Bu Bella langsung menerimanya. Begitu pun ketika Arga melamar bekerja di perpustakaan, tanpa banyak bertanya, Bu Bella juga menerimanya.
Tapi ada sesuatu yang aneh, dia tidak merasa membuka lowongan lagi setelah itu. Hanya sebuah surat yang ditemukannya di atas meja kerjanya. ‘Akan ada seorang librarian yang membantumu. Bernama Sita.’
Tiba-tiba selembar kertas melayang dan jatuh di hadapan kaki Sita. Gadis itu meraihnya. Matanya membelalak membaca kertas itu, dia pun segera menyimpan kertas itu ke dalam kantong celananya, dan bergegas keluar perpustakaan bersama dengan Bu Bella dan Arga.
Akhirnya mereka bertiga sampai di rumah Bu Bella. Sengaja Bu Bella mengundang kembali Sita ke rumahnya dan Arga yang belum mau tinggal bersamanya. Masih banyak yang ingin ditanyakan oleh kedua mantan librarianitu.
“Arga, kenapa tiba-tiba saja kamu melamar menjadi petugas perpustakaan di rumah sakit saya?” tanya Bu Bella setelah menuyruh Arga dan Sita duduk di teras rumah yang terlihat begitu asri dengan tanaman hijau menghiasi pekarangan.
“Papa yang menyuruh saya. Dia berkata bahwa anda butuh pertolongan saya.”
Diteguknya teh yang disuguhkan Bu Bella untuk dirinya dan Sita. Arga masih belum sepenuhnya menerima Bu Bella sebagai ibu kandung yang sebenarnya. Silvi adalah ibu kandungnya. Untuk itulah, Arga masih enggan memanggil Bu Bella dengan sebutan Mama.
“Pertolongan? Pertolongan apa?” tanya Bu Bella lembut memandang wajah anaknya yang selama ini dikiranya telah meninggal.
“Papa hanya berkata, bahwa anda terancam dibunuh oleh orang yang akan menikahi anda, Bu Bella. Lelaki yang ingin menikahi anda itu hanya menginginkan harta anda saja.” Arga membalas tatapan wanita yang berada di hadapannya itu. Hatinya luluh dengan pandangan Bu Bella, dia merasakan ada rasa sayang kepada dokter itu.
“Apakah lelaki yang dimaksud Papamu adalah Dokter Hardian?” tanya Sita dengan pandangan serius menatap Arga.
“Awalnya saya enggan memenuhi permintaan Papa. Tapi Mama memaksa tanpa memberi saya alasan. Mama yang selama ini selalu berkata kalau Anda merebut Papa darinya, tiba-tiba berubah memerhatikan Anda, Bu Bella.”
“Papamu tiba-tiba datang setelah sekian lama menghilang. Ketika itu, saya tengah dekat dengan Hardian. Karena hanya lelaki itu yang selama ini memerhatikan saya setelah Papamu pergi. Saya akhirnya memutuskan untuk menerima Papamu kembali, tapi … kecelakaan merenggut nyawa Rado.”
Buliran air mata membasahi pipi Bu Bella yang masih terlihat halus diusianya yang tidak lagi muda. Pancaran kecantikan wanita itu masih terlihat di tengah permasalahan hidup yang dialaminya selama ini.
“Sepertinya Papa bukan meninggal karena kecelakaan, Bu Bella. Tapi ada seseoang yang dengan sengaja membuat rem mobilnya blong. Sebelum Papa meninggal, beliau sempat menghubungi saya lewat ponselnya. Dia meminta saya untuk segera datang ke rumah sakit dan melamar menjadi seorang librarian.”
Tangisan Bu Bella membuat Arga menghampirinya. Perlahan, diraihnya tangan wanita itu. Diusapnya punggung tangan Bu Bella lembut. Arga pun berkata …
“Mama … maafkan saya. Maafkan Mama Silvi juga Papa, yang sudah membuatmu bersedih dan menderita. Saya janji, akan menjagamu, sekarang dan selamanya.”
Sita tertegun dengan apa yang dilihatnya. Air matanya tak terasa jatuh membasahi kerah bajunya. Dia tersenyum memandangi kemesraan antara ibu dan anak itu. Hatinya begitu haru dari semua kejadian aneh dan menyeramkan yang selama ini dialaminya. Dirinya pun bertanya, lantas apa hubungan dirinya dengan semua peristiwa yang terjadi selama ini?
Sita hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin memang sudah rencana Tuhan meminta dirinya untuk memecahkan misteri yang selama ini tidak pernah diketahui oleh Bu Bella.
“Lantas, bagaimana kamu bisa tahu soal kolong tangga itu, Sita?” tanya Bu Bella ditengah isak tangisnya.
“Saya pernah membaca sebuah novel yang diberikan Papa kepada saya. Ceritanya menyeramkan, Ma’am. Dan ada beberapa bagian yang sepertinya sama seperti yang saya alami di perpustakaan. Saya tidak tahu apa hubungan novel itu dengan misteri yang ada di perpustakaan. Tapi, novel itu selalu ada di perpustakaan dan selalu menghampiri saya, seakan-akan ingin saya membacanya.”
“Novel? Apakah novel yang pernah kamu ceritakan itu?” Arga melepaskan pelukannya dari tubuh Bu Bella.
“Mana novel itu? Saya ingin membacanya,” pinta Bu Bella dengan telapak tangan terbuka seraya meminta.
“Novel itu mendadak rahib. Novel itu tidak ada di rumah saya, dan tidak saya temukan di perpustakaan. Tapi, selembar kertas dari novel itu tiba-tiba melayang dan jatuh ketika kita berada di perpustakaan saat tengkorak yang berada di kolong tangga itu berhasil ditemukan.” Sita memberikan lembaran itu kepada Bu Bella.
Mata perempuan itu terbuka dengan tubuh kaku menggantung tak bergerak. Pembunuh itu membiarkan tubuhnya menggantung pada lampu besar di perpustakaan. Pembunuh itu menggendong gadis kecil yang sudah tidak berdaya. Gadis kecil itumasih hidup ketika melihat ibunyadigantung di atas lampu dengan leher terjerat tambang. Pandangannya sayu, air matanya mengalir. Sang pembunuh membawa gadis kecil itu ke kolong anak tangga yang selama ini hanya dipakai menaruh buku-buku usang dan sudah rusak. Dia pun menguncinya tanpa pernah membukanya.
“Kakak … sungguh tragis nasibmu.” Bu Bella menangis, Arga kembali memeluk tubuh Mamanya dengan penuh sayang. “Terima kasih, Sita. Kamu adalah penyelamat keluarga kami. Saya sangat senang ketika kamu datang melamar untuk bekerja di perpustakaan.”
“Tapi saya sama sekali tidak pernah mengirim surat lamaran untuk menjadi petugas perpustakaan, Ma’am.”
Mereka bertiga hanya saling berpandangan.
“Ini tulisan apa?” Arga menyodorkan lembaran novel itu ke arah Sita dan menunjuk tulisan yang ada dibagian belakang yang tidak dibaca Sita sebelumnya.
“Hah! Ini tulisan Kak Arga.”
Jauhi perpustakaan, Sita!
***
3 Tahun berlalu .Sita tak pernah lagi bertemu dengan Bu Bella maupun Arga. Akhirnya Arga menerima alasan Sita yang menolak dirinya, karena sudah memiliki kekasih. Sita terbebas dari ancaman Papa yang ingin menjodohkan dirinya dengan anak teman papanya. Reza pun menyetujui hubungan anaknya dengan Deni. Arga pernah mengirimkan pesan WA yang mengabarkan Mr. Barend telah meninggal sebulan setelah pertemuan mereka yang terakhir.
Sita bahagia, karena beberapa bulan lagi dia akan menikah. Deni telah melamarnya meminta Sita menjadi istrinya. Tiba-tiba pagi ini pesan WA dari Arga masuk ke ponselnya. Lelaki itu meminta Sita untuk datang menemuinya.
Arga meminta Sita datang ke rumah sakit Dr. Everhart yang sudah direnovasi. Rumah sakit yang dahulu angker kini menjadi sebuah perpustakaan khusus buku-buku kedokteran atau yang berhubungan dengan kesehatan.
Arga menyambut Sita dengan wajah bahagia. Dia mengajak Sita berkeliling melihat suasana gedung yang sudah direnovasi menjadi perpustakaan yang cukup modern. Perpustakaan itu sudah memiliki komputer, serta bangku-bangku yang berjejer rapi untuk pengunjung yang ingin membaca. Suasana yang nyaman akan membuat para pengunjung bisa berlama-lama membaca di perpustakaan itu.
“Kami akan segera meresmikan perpustakaan ini,” ucap Arga dengan pandangan tak lepas memandang gadis yang masih dicintainya itu.
“Mana Ma’am Bella? Saya kangen padanya.” Sita sambil memalingkan wajahnya. Dadanya bergemuruh karena pandangan Arga tak pernah lepas memandangnya.
“Kamu mau menemuinya?”
Arga mengajak Sita ke sebuah ruangan kosong. Ruangan itu sungguh berbeda, hati Sita tidak karuan. Mendadak tubuhnya merinding ketika melihat sosok perempuan tengah duduk dengan tubuh membelakangi dirinya.
“Itu Mama. Dia juga kangen padamu.”
Perlahan Sita melangkahkan kakinya menghampiri perempuan yang duduk itu. Dia memanggil Bu Bella, namun perempuan itu bergeming. Diputarnya kursi yang diduduki perempuan itu. Ternyata …
“Tidak! Tidak!”
Arga meraih tangan gadis yang dicintainya itu. Dengan tatapan penuh kebengisan dia menarik gadis itu dan mendorongnya hingga terduduk di sebuah kursi yang sepertinya sudah dia siapkan.
“Kalau kamu tidak bisa kumiliki, maka tidak ada lelaki manapun yang bisa memilikimu!”
Tawanya menggelegar. Wajah lelaki itu didekatkan ke wajah Sita yang ketakutan. Dia tidak menyangka Arga telah membunuh Bu Bella. Ibu kandungnya sendiri.
“Dia bukan ibu kandungku. Dia adalah lelaki penggoda Papaku. Surat dari Mama yang kamu baca, itu hanya rekayasa. Mama meminta saya untuk mendekati Bu Bella dan membunuhnya.”
“Kenapa? Kenapa seperti itu?” teriak Sita sambil menangis. Dia meronta, berusaha melepaskan ikatan tali yang membelit tubuhnya. Tubuhnya bergidik melihat kondisi Bu Bella dengan perut tertancap pisau dan mata melotot.
“Karena Papa lebih memilih kembali bersama perempuan pengkhianat itu. Dia meninggalkan Mama yang begitu mencintainya. Mama meminta saya untuk merekayasa kecelakaan mobil. Saya menabraknya keras sampai akhirnya dia meninggal.”
Kembali tawa Arga menggema seisi ruangan yang masih sepi itu. Sita menangis dan mejerit sejadinya. Dia memohon kepada Arga untuk melepaskannya. Namun, pemuda itu bergeming. Dia sama sekali tidak memerdulikan jeritan Sita.
Dan tanpa disangka-sangka seorang lelaki memukul kepala Arga yang membelakangi pintu itu dari belakang dengan sebongkah kayu. Lelaki itu adalah Deni. Dia berusaha menyelamatkan calon istrinya yang terikat di bangku. Namun, belum sampai ikatan Sita terlepas. Arga bangkit dan menyerang Deni. Sita menjerit, dia berusaha membuka ikatan yang mulai mengendur sampai akhirnya tubuhnya terlepas.
“Pergi Sita. Pergi dari sini, tinggalkan tempat ini!” teriak Deni yang tengah bergumul dengan Arga di lantai.
“Tidak, saya tidak akan meninggalkan kamu.”
“Pergi Sita!” Teriakan Deni begitu panjang, namun dirinya tidak bergerak ketika Arga berhasil memukul kepalanya dengan bongkahan kayu yang dibawa Deni untuk memukul kepala Arga tadi.
Arga menarik tangan Sita yang berusaha lari. Tiba-tiba sosok wanita yang dikenalnya tengah berdiri di belakang tubuh Arga. Perempuan itu pun mencekik Arga. Cengkraman tangan Arga pun terlepas. Sita berusaha membangunkan Deni dan mengajaknya keluar dari perpustakaan.
Sita melihat perempun itu yang mencekik Arga, tak lain adalah Bu Bella. Dia mencekik leher Arga sampai lelaki itu terjatuh dan kehabisan napas. Bu Bella mengambil pisau yang menancap di tubuhnya dan menancapkan pisau itu ke perut Arga berulang kali. Pemandangan itu membuat Sita dan Deni merinding. Mereka berlari meninggalkan perpustakaan. Sita memandang wajah Bu Bella. Perempuan itu pun memandang ke arahnya dengan pandangan sayu. Dia meneteskan air matanya dan tersenyum.
Sejak kejadian itu, perpustakaan ditutup sebelum sempat dibuka. Tiap malam terlihat sosok perempuan bersama dengan seorang gadis kecil berjalan menyusuri perpustakaan yang sepi dan angker.
Mereka berdua adalah … “BELINDA.”
-Einde-

Other Stories

...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Download Titik & Koma