Awal Yang Absurd Tapi Manis
Ada satu hal yang gue pelajari tentang jatuh cinta:
kadang kita nggak jatuh cinta sama orangnya duluan, tapi sama kelakuan absurdnya.
Gue pertama kali sadar suka sama Kara gara-gara… dia ngupil.
Iya, sesimpel itu.
Lagi jam makan siang di pantry kantor, dia duduk di seberang meja sambil cerita random tentang drama Korea yang gue nggak ngerti sama sekali, terus tiba-tiba dia ngupil.
Nggak pake malu, nggak pake pura-pura.
Gue bengong.
Di situ, entah kenapa, gue malah mikir,
“Wah, gila nih cewek. Jujur banget. Lucu lagi.”
Dan sejak hari itu, gue resmi masuk ke fase “ngeliatin dia dari jauh kayak satpam minimarket.”
Bedanya, yang gue jaga cuma satu orang: Kara.
---
KANTOR YANG LEBIH MIRIP REALITY SHOW
Gue dan Kara kerja di perusahaan marketing di Jakarta.
Sebenernya sih kantornya lumayan oke, cuma ya… lingkungannya kadang absurd.
Ada satu orang di tim kami yang kalau meeting selalu bawa bekal nasi uduk, padahal meetingnya jam 10 pagi.
Bos gue juga punya kebiasaan aneh: setiap marah, dia ngomong sambil senyum, jadi lo nggak yakin itu lagi dimarahin atau lagi dilamar.
Nah, di tengah kekacauan itu, Kara adalah satu-satunya hal yang bikin gue betah.
Kara itu tipe cewek yang gampang disukai orang.
Cantik, supel, dan punya tawa yang bisa bikin orang di radius lima meter ikut ketawa juga.
Kalau Kara ketawa, rasanya kayak lo lagi nonton film komedi tanpa bayar.
Tapi, di balik senyumnya yang cerah, gue bisa liat Kara punya sisi rapuh.
Kayak ada sesuatu yang dia simpen rapet-rapet, yang nggak semua orang tahu.
---
AWAL DEKAT: DARI CHAT BASI KE CHAT BIKIN DEG-DEGAN
Awalnya, kita cuma ngobrol seadanya di kantor.
“Udah makan, Ra?”
“Belum. Lo?”
Chat kita tuh standar banget, bahkan kalah seru dibanding grup alumni SMP gue yang isinya cuma foto kucing sama meme receh.
Sampai suatu malam, jam 11 lewat, Kara tiba-tiba ngechat gue.
Kara:
"Yan, lo pernah ngerasa sendirian nggak, padahal lagi rame-rame?"
Gue baca itu sambil tiduran, dan jujur aja, jantung gue langsung berdegup kayak drum band.
Gue:
"Pernah. Lagi rame, tapi lo ngerasa kayak alien sendirian di planet Mars."
Kara:
"Iya, itu banget. Gue lagi ngerasain itu sekarang."
Sejak percakapan itu, obrolan kita jadi beda.
Dari yang awalnya cuma basa-basi kantor, jadi lebih dalam.
Gue mulai ngerti kalau Kara bukan cuma cewek yang ceria dan rame, tapi juga manusia biasa yang kadang capek dan butuh tempat cerita.
Dan entah gimana, tempat cerita itu… ternyata gue.
---
MOMEN YANG BIKIN BAPER LEVEL MAKSIMUM
Hari Sabtu, kantor kami ngadain outing ke Puncak.
Gue dan Kara kebetulan duduk sebelahan di bus.
Perjalanan dua jam itu jadi momen pertama kali kita ngobrol panjang tanpa gangguan.
Gue masih inget banget, waktu itu hujan deras, kaca bus berembun, dan Kara cerita tentang masa kecilnya di Tangerang.
Dia cerita kalau bokapnya lumayan protektif, soalnya dulu dia tipe anak yang… ya, suka jalan-jalan sama temen tanpa ngabarin.
Gue cuma ketawa, tapi di dalam hati gue mulai ngerti kenapa dia punya sisi liar sekaligus rapuh.
Di tengah cerita, bus sempet oleng gara-gara jalan licin.
Refleks, Kara langsung pegang tangan gue.
Itu cuma tiga detik.
TIGA detik.
Tapi di kepala gue, rasanya kayak slow motion adegan film romantis.
Gue cuma diem, tapi jantung gue kayak mau pensiun dini.
---
PROSES DIA BERUBAH
Pelan-pelan, gue mulai sadar kalau Kara berubah.
Dulu, setiap pulang kerja dia suka main sama temennya, kadang nggak ngabarin.
Sekarang, dia selalu bilang, “Yan, gue pulang ya. Sampai rumah gue kabarin.”
Ada satu malam yang bikin gue makin yakin dia serius sama gue.
Waktu itu dia nolak ajakan temennya buat pergi ke club malam.
Gue nggak maksa, cuma bilang, “Kalau capek jangan maksain, Ra.”
Dia cuma senyum dan jawab,
“Gue lebih pengen ngobrol sama lo aja, Yan.”
Sederhana, tapi itu kayak punchline yang bikin gue jatuh cinta lebih dalam.
---
RESMI JADI “KITA”
Gue resmi nembak Kara di tempat yang absurd: parkiran kantor.
Waktu itu udah malam, cuma ada lampu neon yang kedap-kedip kayak lagi error.
Kara lagi buka helm, dan gue yang udah deg-degan setengah mati langsung nyeletuk tanpa filter.
“Ra, lo mau nggak jadi orang yang gue chat tiap hari sampai kuota gue abis?”
Kara langsung ngakak sampe matanya berkaca-kaca.
Kara: “Yan, itu kalimat gombal paling norak yang pernah gue denger.”
Gue: “Jadi… lo mau nggak?”
Dia diem sebentar, terus senyum.
Kara: “Mau.”
Dan malam itu, di bawah lampu neon yang hampir putus, gue resmi punya Kara.
Nggak ada musik romantis, nggak ada kembang api.
Cuma gue, dia, dan suara motor lewat yang bikin momen itu terasa… nyata.
---
HIDUP YANG JADI LEBIH SERU
Setelah resmi pacaran, hidup gue berubah jadi lebih berwarna.
Setiap pagi di kantor, Kara bawain gue kopi instan favorit.
Kalau gue lembur, dia nongkrong di meja gue sambil cerita gosip kantor.
Kita sering pulang bareng, kadang sengaja muter-muter dulu cuma buat ngobrol.
Ada juga momen kocak: suatu hari kita ketahuan makan siang berdua sama bos.
Bos cuma senyum dan bilang,
“Hati-hati ya, jangan sampai kerjaan kalian kalah sama perasaan.”
Gue sama Kara cuma bisa ketawa malu-malu.
---
Di titik ini, gue nggak pernah mikir kalau hidup gue bisa seindah ini.
Ada Kara yang bikin hari-hari gue lebih ceria, ada tawa, ada rasa aman, dan yang paling penting…
Ada perasaan kalau gue akhirnya nemuin rumah yang selama ini gue cari.
Gue nggak tau, saat itu, kalau sebentar lagi rumah itu bakal terasa jauh banget.
kadang kita nggak jatuh cinta sama orangnya duluan, tapi sama kelakuan absurdnya.
Gue pertama kali sadar suka sama Kara gara-gara… dia ngupil.
Iya, sesimpel itu.
Lagi jam makan siang di pantry kantor, dia duduk di seberang meja sambil cerita random tentang drama Korea yang gue nggak ngerti sama sekali, terus tiba-tiba dia ngupil.
Nggak pake malu, nggak pake pura-pura.
Gue bengong.
Di situ, entah kenapa, gue malah mikir,
“Wah, gila nih cewek. Jujur banget. Lucu lagi.”
Dan sejak hari itu, gue resmi masuk ke fase “ngeliatin dia dari jauh kayak satpam minimarket.”
Bedanya, yang gue jaga cuma satu orang: Kara.
---
KANTOR YANG LEBIH MIRIP REALITY SHOW
Gue dan Kara kerja di perusahaan marketing di Jakarta.
Sebenernya sih kantornya lumayan oke, cuma ya… lingkungannya kadang absurd.
Ada satu orang di tim kami yang kalau meeting selalu bawa bekal nasi uduk, padahal meetingnya jam 10 pagi.
Bos gue juga punya kebiasaan aneh: setiap marah, dia ngomong sambil senyum, jadi lo nggak yakin itu lagi dimarahin atau lagi dilamar.
Nah, di tengah kekacauan itu, Kara adalah satu-satunya hal yang bikin gue betah.
Kara itu tipe cewek yang gampang disukai orang.
Cantik, supel, dan punya tawa yang bisa bikin orang di radius lima meter ikut ketawa juga.
Kalau Kara ketawa, rasanya kayak lo lagi nonton film komedi tanpa bayar.
Tapi, di balik senyumnya yang cerah, gue bisa liat Kara punya sisi rapuh.
Kayak ada sesuatu yang dia simpen rapet-rapet, yang nggak semua orang tahu.
---
AWAL DEKAT: DARI CHAT BASI KE CHAT BIKIN DEG-DEGAN
Awalnya, kita cuma ngobrol seadanya di kantor.
“Udah makan, Ra?”
“Belum. Lo?”
Chat kita tuh standar banget, bahkan kalah seru dibanding grup alumni SMP gue yang isinya cuma foto kucing sama meme receh.
Sampai suatu malam, jam 11 lewat, Kara tiba-tiba ngechat gue.
Kara:
"Yan, lo pernah ngerasa sendirian nggak, padahal lagi rame-rame?"
Gue baca itu sambil tiduran, dan jujur aja, jantung gue langsung berdegup kayak drum band.
Gue:
"Pernah. Lagi rame, tapi lo ngerasa kayak alien sendirian di planet Mars."
Kara:
"Iya, itu banget. Gue lagi ngerasain itu sekarang."
Sejak percakapan itu, obrolan kita jadi beda.
Dari yang awalnya cuma basa-basi kantor, jadi lebih dalam.
Gue mulai ngerti kalau Kara bukan cuma cewek yang ceria dan rame, tapi juga manusia biasa yang kadang capek dan butuh tempat cerita.
Dan entah gimana, tempat cerita itu… ternyata gue.
---
MOMEN YANG BIKIN BAPER LEVEL MAKSIMUM
Hari Sabtu, kantor kami ngadain outing ke Puncak.
Gue dan Kara kebetulan duduk sebelahan di bus.
Perjalanan dua jam itu jadi momen pertama kali kita ngobrol panjang tanpa gangguan.
Gue masih inget banget, waktu itu hujan deras, kaca bus berembun, dan Kara cerita tentang masa kecilnya di Tangerang.
Dia cerita kalau bokapnya lumayan protektif, soalnya dulu dia tipe anak yang… ya, suka jalan-jalan sama temen tanpa ngabarin.
Gue cuma ketawa, tapi di dalam hati gue mulai ngerti kenapa dia punya sisi liar sekaligus rapuh.
Di tengah cerita, bus sempet oleng gara-gara jalan licin.
Refleks, Kara langsung pegang tangan gue.
Itu cuma tiga detik.
TIGA detik.
Tapi di kepala gue, rasanya kayak slow motion adegan film romantis.
Gue cuma diem, tapi jantung gue kayak mau pensiun dini.
---
PROSES DIA BERUBAH
Pelan-pelan, gue mulai sadar kalau Kara berubah.
Dulu, setiap pulang kerja dia suka main sama temennya, kadang nggak ngabarin.
Sekarang, dia selalu bilang, “Yan, gue pulang ya. Sampai rumah gue kabarin.”
Ada satu malam yang bikin gue makin yakin dia serius sama gue.
Waktu itu dia nolak ajakan temennya buat pergi ke club malam.
Gue nggak maksa, cuma bilang, “Kalau capek jangan maksain, Ra.”
Dia cuma senyum dan jawab,
“Gue lebih pengen ngobrol sama lo aja, Yan.”
Sederhana, tapi itu kayak punchline yang bikin gue jatuh cinta lebih dalam.
---
RESMI JADI “KITA”
Gue resmi nembak Kara di tempat yang absurd: parkiran kantor.
Waktu itu udah malam, cuma ada lampu neon yang kedap-kedip kayak lagi error.
Kara lagi buka helm, dan gue yang udah deg-degan setengah mati langsung nyeletuk tanpa filter.
“Ra, lo mau nggak jadi orang yang gue chat tiap hari sampai kuota gue abis?”
Kara langsung ngakak sampe matanya berkaca-kaca.
Kara: “Yan, itu kalimat gombal paling norak yang pernah gue denger.”
Gue: “Jadi… lo mau nggak?”
Dia diem sebentar, terus senyum.
Kara: “Mau.”
Dan malam itu, di bawah lampu neon yang hampir putus, gue resmi punya Kara.
Nggak ada musik romantis, nggak ada kembang api.
Cuma gue, dia, dan suara motor lewat yang bikin momen itu terasa… nyata.
---
HIDUP YANG JADI LEBIH SERU
Setelah resmi pacaran, hidup gue berubah jadi lebih berwarna.
Setiap pagi di kantor, Kara bawain gue kopi instan favorit.
Kalau gue lembur, dia nongkrong di meja gue sambil cerita gosip kantor.
Kita sering pulang bareng, kadang sengaja muter-muter dulu cuma buat ngobrol.
Ada juga momen kocak: suatu hari kita ketahuan makan siang berdua sama bos.
Bos cuma senyum dan bilang,
“Hati-hati ya, jangan sampai kerjaan kalian kalah sama perasaan.”
Gue sama Kara cuma bisa ketawa malu-malu.
---
Di titik ini, gue nggak pernah mikir kalau hidup gue bisa seindah ini.
Ada Kara yang bikin hari-hari gue lebih ceria, ada tawa, ada rasa aman, dan yang paling penting…
Ada perasaan kalau gue akhirnya nemuin rumah yang selama ini gue cari.
Gue nggak tau, saat itu, kalau sebentar lagi rumah itu bakal terasa jauh banget.
Other Stories
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...