Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Reads
987
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Rindu yang tumbuh jadi monster
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Penulis Tsaridwan

Perpisahan Yang Nggak Pernah Gue Pengenin

Besoknya, Kara nggak masuk kerja.

Gue awalnya mikir dia cuma lagi sakit. Wajar lah, semalem dia lembur juga.

Tapi jam sebelas siang, gue dapet chat dari dia yang cuma bilang:



Kara: “Yan, gue lagi di rumah. Nanti gue kabarin.”




Udah. Itu doang.

Biasanya Kara tuh cerewet banget. Minimal, dia bakal kirim stiker lucu atau selfie konyol.

Tapi kali ini… nggak ada.



Perasaan gue mulai nggak enak.





---




KARA DATANG DENGAN BERITA YANG NGGAK GUE SIAP DENGAR


Sore harinya, Kara akhirnya nongol di kantor.

Dari jauh, gue udah bisa liat kalau ada yang beda.

Dia keliatan kayak habis mikir banyak hal, mata agak sembab, senyumnya pun dipaksain.



Pas kita ketemu di pantry, gue langsung nanya,

“Ra, lo kenapa? Dari pagi gue udah panik lo nggak ngabarin.”



Dia diam sebentar, lalu narik napas dalam-dalam.



Kara: “Yan, gue… harus pindah.”
Gue: “Pindah? Maksud lo pindah kerja?”
Kara: (tarik napas panjang) “Semuanya… gue harus balik ke Tangerang, tinggal sama keluarga, dan kerja di kantor yang sama kayak bokap. Dia… dia takut gue terlalu bebas di sini.”

Jujur, otak gue butuh beberapa detik buat mencerna kata-kata itu.

Tangerang. Jaraknya jauh banget dari sini.

Yang biasanya gue bisa ketemu Kara tiap hari, tiba-tiba harus jarang banget ketemu?



“Kenapa, Ra? Kok tiba-tiba?” gue akhirnya berhasil ngomong.


Kara duduk di kursi, mainin gelang di pergelangan tangannya, tanda dia lagi gelisah banget.



Kara: “Ayah gue… dia pengen gue balik. Katanya, dia takut kalau gue kebablasan di sini, jauh dari pengawasan keluarga.”
Gue: (pelan) “Tapi… Ra, lo udah berubah. Lo nggak kayak dulu lagi.”
Kara: “Gue tau, Yan… lo mungkin ngerti, Gue udah berubah, tapi ayah gue nggak percaya. Dia takut gue salah langkah di sini.


Hati gue rasanya kayak diremas.

Karena gue tau, dari awal Kara emang punya masa lalu yang… ya, bisa dibilang agak liar.

Dulu sebelum pacaran sama gue, weekend Kara selalu penuh sama hal-hal yang bikin gue geleng-geleng kepala: nongkrong sampai pagi, clubbing, bahkan hal-hal yang gue nggak pengen pikirin.



Tapi sejak sama gue, dia berubah.

Dia berhenti minum, berhenti keluar sama teman-temannya yang nggak jelas, bahkan mulai berfikir kedepan.



Dan sekarang, justru ketika dia lagi di titik terbaiknya, semua itu dianggap nggak cukup.



---


PERTEMUAN YANG RASANYA KAYAK MIMPI BURUK


Beberapa hari kemudian, gue diajak Kara buat ketemu ayahnya di rumah mereka.



Ini pertama kalinya gue ketemu beliau, jadi wajar kalau gue deg-degan.

Tapi bukan cuma itu, gue juga takut… takut pertemuan ini bakal jadi penentu nasib gue dan Kara.



Ruang tamu rumah Kara terasa kaku.

Ayah Kara duduk dengan wajah serius, sedangkan gue berusaha kelihatan sopan meski tangan dingin kayak es batu.


Ayah Kara: “Adrian, saya tau kamu dekat sama Kara.”
Gue: “Iya, Om. Kara orang yang penting buat saya.”
Ayah Kara: (menghela napas) “Saya percaya kamu punya niat baik. Tapi saya nggak percaya sama lingkungan di sini. Saya nggak mau Kara kebablasan.”

Gue pengen bilang, “Om, Kara nggak kebablasan. Dia udah berubah, dan gue yang pastiin itu.”

Tapi kata-kata itu cuma nyangkut di tenggorokan gue.



Akhirnya gue cuma bilang pelan, “Om, saya janji bakal jaga Kara.”



Ayah Kara ngeliat gue lama banget sebelum akhirnya jawab, “Saya ngerti. Tapi ini bukan cuma soal kamu, Adrian. Ini soal masa depan Kara.”


Dan dari situ, gue tau… kata-kata gue nggak akan cukup buat ngubah keputusan dia.



---



MENCOBA BERPURA-PURA BIASA AJA

Sejak hari itu, gue dan Kara mencoba bersikap normal.

Tapi setiap ketawa, setiap pelukan, semuanya terasa… sementara.



Kadang kita ngobrol tentang hal-hal receh seperti biasanya, tapi di dalam hati gue, ada jam pasir yang terus berjalan mundur.



Suatu malam, kita nongkrong di taman dekat kantor, duduk di bangku favorit kita.

Kara tiba-tiba ngomong pelan, hampir kayak bisikan.



Kara: “Yan, gue takut.”
Gue: “Takut kenapa, Ra?”
Kara: “Takut setelah gue pindah, semuanya berubah.”
Gue: (megang tangannya) “Ra, gue bakal pastiin kita tetap sama. Gue nggak akan biarin jarak ngubah kita.”

Dia senyum, tapi sorot matanya kosong.

Dan itu yang bikin gue patah hati.



---


HARI-HARI TERAKHIR


Hari-hari menjelang kepindahan Kara terasa aneh.

Gue dan Kara tiba-tiba punya bucket list mendadak: hal-hal yang pengen kita lakuin sebelum dia pergi.


Ada yang simpel banget, kayak:

Foto bareng di photobox.

Makan martabak di warung favorit.

Nonton film jelek tapi ketawa sepanjang waktu.

Jalan kaki pulang kantor sambil hujan-hujanan.

Hal-hal kecil yang mungkin buat orang lain nggak berarti, tapi buat gue dan Kara, itu jadi kenangan emas.


Gue inget banget malam terakhir kita ketemu sebelum dia pindah.

Kita duduk di teras kosan gue, cuma diam berdua.

Nggak ada yang ngomong apa-apa, cuma suara jangkrik dan detak jantung gue yang berantakan.


Akhirnya, Kara ngomong pelan, “Yan, makasih ya. Buat semuanya.”


Gue nggak tahan lagi. Gue peluk dia erat-erat sambil bisik, “Ra, jangan bilang makasih. Kita belum selesai.”


Dia cuma nangis di pelukan gue.

Dan malam itu, gue ngerasa dunia gue ikut runtuh.


---


HARI PERPISAHAN


Hari Kara beneran pindah, gue ikut bantuin dia angkat barang ke mobil.

Setiap kardus yang gue bawa, rasanya kayak bawa potongan hati gue sendiri.

Pas akhirnya semua barang masuk ke mobil, Kara berdiri di depan gue dengan mata merah.

Dia megang tangan gue erat banget, kayak nggak mau lepas.


Kara: “Yan, gue janji bakal sering-sering kabarin lo.”
Gue: “Ra, janji aja nggak cukup. Gue mau lo tetep jadi Kara yang gue kenal.”
Kara: (nangis) “Gue bakal coba.”

Mobil itu akhirnya jalan pelan-pelan, meninggalkan gue yang berdiri sendirian di pinggir jalan.


Dan di momen itu, gue ngerasa kayak separuh diri gue ikut pergi.


---


KEHIDUPAN SETELAHNYA

Hari-hari setelah Kara pindah terasa… hampa.

Gue masih kerja, masih ketawa sama temen-temen kantor, tapi semua terasa kosong tanpa Kara di sebelah gue.

Notifikasi chat gue sepi.

Biasanya, setiap beberapa menit ada chat random dari Kara yang isinya foto meme receh atau selfie dia lagi ngupil.

Sekarang? Hanya ada satu dua pesan formal, kayak:

“Yan, gue udah sampe rumah.”

“Yan, gue tidur duluan ya.”


Dan itu bikin gue ngerasa Kara makin jauh.

Bukan cuma secara fisik, tapi juga secara hati.





Other Stories
Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Download Titik & Koma