Dunia Yang Hanya Milik Kita Berdua
Kata orang, masa-masa awal pacaran itu kayak dunia Cuma punya kalian berdua.
Dan gue rasa… itu nggak bohong.
Gue sama Kara lagi di fase itu.
Setiap hari rasanya kayak buka episode baru dari serial favorit.
Ada tawa, ada drama, dan kadang ada momen yang bikin lo nahan napas karena belum tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
---
MOMEN-MOMEN RECEH YANG BERHARGA
Ada satu kebiasaan Kara yang sampai sekarang bikin gue senyum sendiri kalau inget.
Setiap pagi di kantor, dia selalu bawain gue kopi instan favorit gue, yang rasanya… biasa aja sebenernya.
Tapi kalau itu dari Kara, rasanya kayak minuman termahal di dunia.
Kara: “Nih, Yan. Minum dulu, biar nggak cranky.”
Gue: “Lo pikir gue bayi ya, cranky segala.”
Kara: “Bayi mana ada yang seganteng lo.”
Dan setiap kali dia ngomong gitu, gue Cuma bisa ngumpet di balik gelas kopi, pura-pura nggak malu.
Padahal, dalam hati gue teriak, “Aaaaaa, gila nih cewek bikin gue nggak bisa fokus kerja!”
Kadang hal-hal receh kayak gini yang justru bikin hubungan terasa hangat.
Nggak butuh candle light dinner mahal atau liburan ke Bali, cukup momen sederhana yang bikin lo ngerasa: gue cukup, gue bahagia.
MALAM-MALAM LEMBUR YANG JADI SPESIAL
Kantor gue emang sering bikin acara “lembur dadakan”.
Buat kebanyakan orang, itu neraka.
Buat gue?
Itu surga—asal Kara ikut lembur juga.
Satu malam, kita berdua doang yang masih di kantor.
Orang-orang lain udah pada pulang, tinggal gue, Kara, dan suara AC yang kayak lagi curhat patah hati.
Kara: “Yan, lo nggak capek?”
Gue: “Capek sih. Tapi kalau bareng lo, rasanya kayak lagi lemburin hati.”
Kara: “Apaan sih, gombalnya makin lama makin ngaco.” (sambil ketawa sampai batuk-batuk)
Di momen itu, gue nyadar satu hal:
Kara bukan Cuma cewek yang gue sayang. Dia juga sahabat gue, partner gue, orang yang bikin semua kekacauan kantor jadi terasa ringan.
Gue ngelirik Kara yang lagi serius di depan laptop, rambutnya berantakan, mata setengah ngantuk.
Dan gue Cuma bisa mikir, “Gue nggak mau ini berubah. Gue pengen momen ini selamanya.”
Kara yang Berubah Pelan-Pelan
Pelan-pelan, gue liat Kara berubah.
Bukan karena gue maksa, tapi karena dia sendiri yang pengen.
Dulu, setiap weekend dia pasti keluar sama temen-temennya.
Sekarang, dia lebih sering bilang,
“Yan, weekend kita movie marathon aja di kosan lo, yuk.”
Gue Cuma bisa pura-pura santai, padahal dalam hati gue kayak abis menang giveaway iPhone.
Apalagi waktu dia bilang dia nolak ajakan temennya buat ke club malam.
Kara: “Yan, lo tau nggak? Dulu gue nggak pernah mikirin orang lain sebelum ambil keputusan. Sekarang, gue mikir, lo bakal kecewa nggak ya kalau gue pergi?”
Gue: “Ra… selama lo bahagia, gue nggak bakal kecewa.”
Kara: (senyum tipis) “Gue bahagianya ya sama lo.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya…
Kayak seluruh dunia tiba-tiba jadi slow motion, lengkap sama background music romantis yang Cuma gue yang bisa denger.
Gue juga sadar… cinta ternyata bukan cuma soal rasa nyaman atau punya seseorang.
Tapi tentang dua orang yang sama-sama berusaha jadi versi terbaik dari diri mereka.
---
SATU HARI YANG NGGAK AKAN GUE LUPA
Ada satu momen yang sampe sekarang masih gue simpen di kepala.
Hari itu ulang tahun gue.
Gue nggak berekspektasi apa-apa, paling Cuma ucapan standar dan traktiran kecil.
Tapi Kara muncul di depan kosan gue jam tujuh pagi, bawa kue tart dan… seekor kucing.
Gue: “Eh? Ini kucing siapa?”
Kara: “Sekarang kucing lo.”
Gue: “Ra, gue aja kadang lupa makan. Ini kucing bisa jadi gembel nanti.”
Kara: (ketawa) “Makanya gue kasih lo hadiah biar lo belajar tanggung jawab. Kayak lo tanggung jawab sama gue.”
Gue Cuma bisa bengong.
Bukan karena hadiahnya, tapi karena effort dia.
Gue peluk Kara sambil ngomong pelan,
“Lo tau nggak, Ra? Gue nggak pernah secinta ini sama orang sebelumnya.”
Dan untuk pertama kalinya, Kara nggak jawab apa-apa.
Dia Cuma peluk gue balik, erat banget.
Kayak dia juga lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
KONFLIK KECIL YANG BIKIN DEG-DEGAN
Namanya juga hubungan, nggak mungkin mulus terus. Selalu ada cekcok kecil yang kadang bikin deg-degan.
Dan malam itu, kita sempat berantem gara-gara hal yang sebenernya sepele banget.
Kara lagi nongkrong sama temen-temennya. Gue udah coba hubungin, tapi chat nggak dibales dan telepon juga nggak diangkat.
Lama-lama gue jadi kebayang yang nggak-nggak.
Gue: “Ra, lo kemana aja? Gue chat dari tadi nggak dibales.”
Kara: “Yan, gue Cuma nongkrong bentar. Lagian lo kan tau, temen-temen gue bawelnya kayak apa.”
Gue: “Gue Cuma khawatir aja.”
Kara: (nada naik sedikit) “Ya jangan lebay juga kali!”
Setelah itu, kita sama-sama diem. Chat nggak ada yang balas, telepon nggak ada yang angkat.
Akhirnya kita tidur dengan pikiran masing-masing yang lagi kacau.
Besok paginya, gue lagi siap-siap berangkat kerja, masih dengan mood berantakan dari semalam.
Tiba-tiba, ada yang ngetuk pintu kos gue.
Pas gue buka, ternyata Kara berdiri di depan pintu sambil bawa dua gelas kopi favorit gue.
Matanya sembab, jelas dia juga nggak tidur nyenyak semalam.
Kara: “Maaf ya, Yan… gue nggak suka kita berantem.”
Dia naruh kopinya di meja kecil kos gue, lalu langsung narik gue ke pelukannya.
Gue: (luluh seketika) “Gue juga, Ra. Kita janji nggak diem-dieman lagi, ya.”
Kara cuma ngangguk sambil nyender sebentar di bahu sebelum kami berangkat ke kantor.
Dan anehnya, dari konflik kecil itu, hubungan kita jadi makin kuat. Kayak dua orang yang sadar, kalau mereka sama-sama nggak mau kehilangan satu sama lain.
ADA YANG BERUBAH DI TATAPAN KARA
Di bulan ketiga pacaran, gue mulai ngerasain sesuatu yang aneh.
Kara masih sama seperti biasanya:
Masih bawain kopi setiap pagi, masih cerita receh yang nggak penting, masih suka ngetawain gombalan gue yang gagal.
Tapi… tatapannya kadang beda.
Ada sesuatu di mata Kara yang nggak gue ngerti.
Kayak dia lagi mikir sesuatu yang berat, tapi nggak mau cerita.
Pernah suatu kali gue nanya,
“Ra, lo kenapa sih? Akhir-akhir ini lo sering diem.”
Dia Cuma senyum dan jawab,
“Enggak, kok. Gue Cuma capek kerja.”
Gue pengen percaya, tapi entah kenapa, perasaan gue bilang… ada yang lebih dari itu.
HARI YANG TERASA ANEH
Hari itu, kita pulang bareng seperti biasa.
Di jalan, Kara mendadak peluk gue dari belakang, lebih erat dari biasanya.
Kara: “Yan, lo tau nggak? Gue bersyukur banget ketemu lo.”
Gue: (kaget) “Iya, gue juga bersyukur ketemu lo, Ra. Tapi kenapa tiba-tiba ngomong gitu?”
Kara: (pelan) “Nggak, Cuma pengen ngomong aja.”
Gue Cuma ketawa kecil dan ngerasa aneh, tapi gue nggak nanya lebih jauh.
Besoknya, Kara nggak masuk kerja.
Dan itu awal dari sesuatu yang nggak pernah gue siapin hati gue untuk hadapi.
Dan gue rasa… itu nggak bohong.
Gue sama Kara lagi di fase itu.
Setiap hari rasanya kayak buka episode baru dari serial favorit.
Ada tawa, ada drama, dan kadang ada momen yang bikin lo nahan napas karena belum tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
---
MOMEN-MOMEN RECEH YANG BERHARGA
Ada satu kebiasaan Kara yang sampai sekarang bikin gue senyum sendiri kalau inget.
Setiap pagi di kantor, dia selalu bawain gue kopi instan favorit gue, yang rasanya… biasa aja sebenernya.
Tapi kalau itu dari Kara, rasanya kayak minuman termahal di dunia.
Kara: “Nih, Yan. Minum dulu, biar nggak cranky.”
Gue: “Lo pikir gue bayi ya, cranky segala.”
Kara: “Bayi mana ada yang seganteng lo.”
Dan setiap kali dia ngomong gitu, gue Cuma bisa ngumpet di balik gelas kopi, pura-pura nggak malu.
Padahal, dalam hati gue teriak, “Aaaaaa, gila nih cewek bikin gue nggak bisa fokus kerja!”
Kadang hal-hal receh kayak gini yang justru bikin hubungan terasa hangat.
Nggak butuh candle light dinner mahal atau liburan ke Bali, cukup momen sederhana yang bikin lo ngerasa: gue cukup, gue bahagia.
MALAM-MALAM LEMBUR YANG JADI SPESIAL
Kantor gue emang sering bikin acara “lembur dadakan”.
Buat kebanyakan orang, itu neraka.
Buat gue?
Itu surga—asal Kara ikut lembur juga.
Satu malam, kita berdua doang yang masih di kantor.
Orang-orang lain udah pada pulang, tinggal gue, Kara, dan suara AC yang kayak lagi curhat patah hati.
Kara: “Yan, lo nggak capek?”
Gue: “Capek sih. Tapi kalau bareng lo, rasanya kayak lagi lemburin hati.”
Kara: “Apaan sih, gombalnya makin lama makin ngaco.” (sambil ketawa sampai batuk-batuk)
Di momen itu, gue nyadar satu hal:
Kara bukan Cuma cewek yang gue sayang. Dia juga sahabat gue, partner gue, orang yang bikin semua kekacauan kantor jadi terasa ringan.
Gue ngelirik Kara yang lagi serius di depan laptop, rambutnya berantakan, mata setengah ngantuk.
Dan gue Cuma bisa mikir, “Gue nggak mau ini berubah. Gue pengen momen ini selamanya.”
Kara yang Berubah Pelan-Pelan
Pelan-pelan, gue liat Kara berubah.
Bukan karena gue maksa, tapi karena dia sendiri yang pengen.
Dulu, setiap weekend dia pasti keluar sama temen-temennya.
Sekarang, dia lebih sering bilang,
“Yan, weekend kita movie marathon aja di kosan lo, yuk.”
Gue Cuma bisa pura-pura santai, padahal dalam hati gue kayak abis menang giveaway iPhone.
Apalagi waktu dia bilang dia nolak ajakan temennya buat ke club malam.
Kara: “Yan, lo tau nggak? Dulu gue nggak pernah mikirin orang lain sebelum ambil keputusan. Sekarang, gue mikir, lo bakal kecewa nggak ya kalau gue pergi?”
Gue: “Ra… selama lo bahagia, gue nggak bakal kecewa.”
Kara: (senyum tipis) “Gue bahagianya ya sama lo.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya…
Kayak seluruh dunia tiba-tiba jadi slow motion, lengkap sama background music romantis yang Cuma gue yang bisa denger.
Gue juga sadar… cinta ternyata bukan cuma soal rasa nyaman atau punya seseorang.
Tapi tentang dua orang yang sama-sama berusaha jadi versi terbaik dari diri mereka.
---
SATU HARI YANG NGGAK AKAN GUE LUPA
Ada satu momen yang sampe sekarang masih gue simpen di kepala.
Hari itu ulang tahun gue.
Gue nggak berekspektasi apa-apa, paling Cuma ucapan standar dan traktiran kecil.
Tapi Kara muncul di depan kosan gue jam tujuh pagi, bawa kue tart dan… seekor kucing.
Gue: “Eh? Ini kucing siapa?”
Kara: “Sekarang kucing lo.”
Gue: “Ra, gue aja kadang lupa makan. Ini kucing bisa jadi gembel nanti.”
Kara: (ketawa) “Makanya gue kasih lo hadiah biar lo belajar tanggung jawab. Kayak lo tanggung jawab sama gue.”
Gue Cuma bisa bengong.
Bukan karena hadiahnya, tapi karena effort dia.
Gue peluk Kara sambil ngomong pelan,
“Lo tau nggak, Ra? Gue nggak pernah secinta ini sama orang sebelumnya.”
Dan untuk pertama kalinya, Kara nggak jawab apa-apa.
Dia Cuma peluk gue balik, erat banget.
Kayak dia juga lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
KONFLIK KECIL YANG BIKIN DEG-DEGAN
Namanya juga hubungan, nggak mungkin mulus terus. Selalu ada cekcok kecil yang kadang bikin deg-degan.
Dan malam itu, kita sempat berantem gara-gara hal yang sebenernya sepele banget.
Kara lagi nongkrong sama temen-temennya. Gue udah coba hubungin, tapi chat nggak dibales dan telepon juga nggak diangkat.
Lama-lama gue jadi kebayang yang nggak-nggak.
Gue: “Ra, lo kemana aja? Gue chat dari tadi nggak dibales.”
Kara: “Yan, gue Cuma nongkrong bentar. Lagian lo kan tau, temen-temen gue bawelnya kayak apa.”
Gue: “Gue Cuma khawatir aja.”
Kara: (nada naik sedikit) “Ya jangan lebay juga kali!”
Setelah itu, kita sama-sama diem. Chat nggak ada yang balas, telepon nggak ada yang angkat.
Akhirnya kita tidur dengan pikiran masing-masing yang lagi kacau.
Besok paginya, gue lagi siap-siap berangkat kerja, masih dengan mood berantakan dari semalam.
Tiba-tiba, ada yang ngetuk pintu kos gue.
Pas gue buka, ternyata Kara berdiri di depan pintu sambil bawa dua gelas kopi favorit gue.
Matanya sembab, jelas dia juga nggak tidur nyenyak semalam.
Kara: “Maaf ya, Yan… gue nggak suka kita berantem.”
Dia naruh kopinya di meja kecil kos gue, lalu langsung narik gue ke pelukannya.
Gue: (luluh seketika) “Gue juga, Ra. Kita janji nggak diem-dieman lagi, ya.”
Kara cuma ngangguk sambil nyender sebentar di bahu sebelum kami berangkat ke kantor.
Dan anehnya, dari konflik kecil itu, hubungan kita jadi makin kuat. Kayak dua orang yang sadar, kalau mereka sama-sama nggak mau kehilangan satu sama lain.
ADA YANG BERUBAH DI TATAPAN KARA
Di bulan ketiga pacaran, gue mulai ngerasain sesuatu yang aneh.
Kara masih sama seperti biasanya:
Masih bawain kopi setiap pagi, masih cerita receh yang nggak penting, masih suka ngetawain gombalan gue yang gagal.
Tapi… tatapannya kadang beda.
Ada sesuatu di mata Kara yang nggak gue ngerti.
Kayak dia lagi mikir sesuatu yang berat, tapi nggak mau cerita.
Pernah suatu kali gue nanya,
“Ra, lo kenapa sih? Akhir-akhir ini lo sering diem.”
Dia Cuma senyum dan jawab,
“Enggak, kok. Gue Cuma capek kerja.”
Gue pengen percaya, tapi entah kenapa, perasaan gue bilang… ada yang lebih dari itu.
HARI YANG TERASA ANEH
Hari itu, kita pulang bareng seperti biasa.
Di jalan, Kara mendadak peluk gue dari belakang, lebih erat dari biasanya.
Kara: “Yan, lo tau nggak? Gue bersyukur banget ketemu lo.”
Gue: (kaget) “Iya, gue juga bersyukur ketemu lo, Ra. Tapi kenapa tiba-tiba ngomong gitu?”
Kara: (pelan) “Nggak, Cuma pengen ngomong aja.”
Gue Cuma ketawa kecil dan ngerasa aneh, tapi gue nggak nanya lebih jauh.
Besoknya, Kara nggak masuk kerja.
Dan itu awal dari sesuatu yang nggak pernah gue siapin hati gue untuk hadapi.
Other Stories
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...