Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Reads
987
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Rindu yang tumbuh jadi monster
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Penulis Tsaridwan

Saat Semua Mulai Berubah

Gue selalu percaya kalau cinta itu kayak tanaman.

Lo rawat, lo siram, lo kasih pupuk, dia bakal tumbuh subur.

Tapi, gue nggak pernah nyangka, ternyata tanaman juga bisa mati… bahkan ketika lo udah ngerawatnya mati-matian.



Itulah yang gue rasain sama Kara akhir-akhir ini.





---




TELEPON YANG NGGAK LAGI SAMA


Dulu, setiap kali gue telpon Kara, dia bakal jawab dengan suara semangat, kadang ketawa dulu sebelum ngomong,

“Yan! Lo ngapain?”



Sekarang?

Nada itu pelan. Datar. Kadang malah terdengar kayak dia lagi ngomong sambil mikirin hal lain.



Gue: “Ra, lo lagi sibuk banget ya?”

Kara: “Hmm… iya, kerjaan lagi banyak banget nih.”

Gue: “Lo capek, ya?”

Kara: “Iya, capek. Maaf ya kalo gue jarang bales.”







Gue selalu bilang, “Nggak apa-apa, Ra. Gue ngerti kok.”



Padahal, dalam hati gue sama sekali nggak ngerti.

Yang gue ngerti cuma: dulu dia selalu punya waktu buat gue, sekarang nggak lagi.





---




HARI YANG GUE TAKUTKAN DATANG

Suatu malam, gue coba telpon Kara.

Nada sambungnya lama banget.

Akhirnya, setelah hampir satu menit, dia angkat.



Kara: “Yan, gue lagi sama temen-temen kantor. Bisa nanti aja?”

Gue: “Oh… iya, gapapa.”





Gue langsung nutup telpon, dan rasanya kayak ada yang meledak di dada gue.



Gue duduk di pojokan kamar, lampu dimatiin, cuma layar HP yang nyala.

Di Instagram, gue liat story Kara lagi ketawa-ketawa sama temen-temennya.

Ada cowok yang duduk di sebelahnya.



Gue nggak tau siapa dia.

Dan itu bikin gue… takut. Banget.





---




OBROLAN YANG BIKIN GUE HANCUR


Beberapa hari kemudian, gue memberanikan diri buat ngomong jujur sama Kara.

Gue nggak mau hubungan ini hancur cuma karena kita nggak pernah bener-bener ngomongin perasaan masing-masing.



Gue: “Ra, gue kangen sama lo. Gue ngerasa kita udah nggak kayak dulu lagi.”

Kara: (diam lama) “Yan… lo tau kan gue lagi berusaha juga di sini.”

Gue: “Gue tau, Ra. Tapi gue juga berusaha. Gue cuma pengen lo ngomong ke gue kalo ada apa-apa.”

Kara: “Lo pikir gue nggak pengen? Gue juga pengen. Tapi tiap kali gue cerita, kita malah ribut.”

Gue: “Gue ribut karena gue sayang sama lo, Ra!”

Kara: “Yan, kadang cinta doang nggak cukup.”





Kalimat terakhir itu…

rasanya kayak seseorang yang tiba-tiba narik karpet di bawah kaki gue.

Gue langsung jatuh, keras, dan nggak ada yang nangkep.





---




SATU PERTEMUAN YANG BERBEDA


Beberapa minggu setelah obrolan itu, gue nekat lagi buat ketemu Kara.

Gue pikir, mungkin kalau kita ketemu langsung, semuanya bakal terasa lebih baik.



Begitu gue liat dia, gue ngerasa campur aduk.

Dia masih Kara yang sama, tapi ada sesuatu yang beda di matanya.

Kayak jarak di antara kita bukan cuma soal kilometer, tapi juga soal hati.



Hari itu kita masih jalan bareng.

Kita makan di tempat favorit kita, nonton film, ketawa…

Tapi di balik ketawa itu, gue bisa ngerasain jarak yang nggak keliatan.



Pas gue nganterin dia pulang, gue coba genggam tangannya.

Dia genggam balik, tapi genggaman itu nggak seerat dulu.



Gue: “Ra, kita bakal baik-baik aja, kan?”

Kara: (menatap gue, senyumnya tipis) “Gue harap gitu, Yan.”





Jawaban itu bikin dada gue sesak.

Karena dulu, dia nggak pernah ngomong “gue harap”.

Dulu, dia selalu yakin.





---




RASA BERSALAH YANG DIAM-DIAM TUMBUH


Gue mulai mikirin banyak hal yang dulu nggak pernah gue pikirin.

Apa gue terlalu nuntut?

Apa gue terlalu posesif?

Apa Kara capek sama gue?



Kadang gue ngerasa bersalah.

Karena selama ini, Kara udah berusaha berubah buat gue.

Dia ninggalin kebiasaan lama, dia nurut sama gue, dia bahkan rela nggak ngelakuin hal-hal yang dulu dia suka cuma demi gue.



Dan sekarang… gue takut, jangan-jangan dia jadi ngerasa kehilangan dirinya sendiri.





---




MOMEN SUNYI DI MALAM HARI


Malam itu, gue nggak bisa tidur.

Gue duduk di balkon kos, ngeliatin lampu-lampu kota yang berkelip.



Jakarta keliatan indah dari jauh, tapi dingin banget dari dekat.



Gue buka chat sama Kara.

Pesan terakhir dari dia cuma, “Selamat tidur, Yan.”



Biasanya, kata itu bikin gue senyum.

Tapi kali ini, kata itu terasa kayak perpisahan kecil yang nggak gue ngerti artinya.



Gue coba nulis sesuatu, lalu hapus. Nulis lagi, hapus lagi.



Sampai akhirnya gue cuma ngetik:

"Gue sayang banget sama lo, Ra."



Tapi gue nggak kirim.

Gue cuma liatin layar itu sampai mata gue perih.





---




HARI ITU, GUE TAHU SESUATU BERUBAH


Beberapa hari setelahnya, Kara nggak ngabarin gue sama sekali.

Bukan cuma beberapa jam, tapi seharian penuh.



Gue coba telpon, nggak diangkat.

Gue chat, cuma centang satu.



Rasa panik gue naik.

Gue coba positive thinking, mungkin dia sibuk, mungkin HP-nya rusak.



Tapi di dalam hati, gue tau: sesuatu udah berubah.





---



PERTEMUAN YANG JADI AKHIR


Minggu berikutnya, akhirnya Kara ngajak ketemu.

Gue langsung semangat, mikir mungkin dia pengen ngobrol dan memperbaiki semuanya.



Tapi pas gue liat dia…

senyumnya nggak sama kayak dulu.

Ada jarak di sana, ada dingin yang nggak bisa gue tembus.



Kita duduk berdua di bangku taman, di bawah pohon yang dulu jadi tempat kita bercanda.



> Kita duduk berdua di bangku taman, di bawah pohon yang dulu jadi tempat kita bercanda.



Kara: “Yan…”

Gue: “Iya, Ra?”

Kara: (pelan) “Gue… capek.”



Hati gue langsung jatuh ke dasar.



Gue: “Capek sama apa?”

Kara: “Capek sama semuanya. Sama jarak, sama keadaan, sama rasa bersalah yang gue bawa tiap hari.”



Gue langsung genggam tangannya erat, kayak mau bilang, 'Jangan pergi. Kita bisa lewatin ini.'

Tapi Kara menarik tangannya pelan, matanya basah tapi penuh keteguhan.



Kara: “Yan, gue nggak mau hubungan kita jadi racun buat lo… atau buat gue.”



Gue: “Ra, jangan ngomong gitu. Kita cuma lagi diuji. Kita bisa—”



Kara menggeleng sambil menahan tangis.



Kara: “Gue sayang banget sama lo. Tapi kadang… rasa sayang aja nggak cukup buat bikin kita tetap bertahan.”



Dia menarik napas dalam, lalu menatap gue dengan senyum yang paling menyakitkan yang pernah gue lihat.



Kara: “Mulai malam ini, Yan… gue pengen lo belajar hidup tanpa gue.”



Kalimat itu seperti palu godam yang meremukkan hati gue.



Gue: (terisak) “Ra, lo beneran mau ninggalin gue?”

Kara: “Bukan cuma mau… gue harus, Yan. Karena kalau gue tetap di sini, kita berdua nggak akan pernah benar-benar bahagia.”



Dia berdiri, melangkah mundur sambil menahan tangis, lalu berbisik:

“Makasih, Yan… buat semuanya.”



Dan malam itu, di bawah pohon yang pernah jadi saksi tawa kita, gue sadar:

cerita kita benar-benar sudah selesai.





---



Hari itu, Kara pergi tanpa janji kapan bakal balik.

Kalimat terakhirnya masih terus bergema di kepala gue:

“Mulai malam ini, Yan… jangan tunggu gue lagi.”



Gue berdiri sendirian di taman itu, ngerasain angin malam yang nusuk sampai tulang.



Langit di atas sana terlihat sama seperti biasanya, tapi buat gue… dunia nggak lagi sama.



Dan untuk pertama kalinya gue sadar:

Cinta nggak selalu soal siapa yang paling keras berjuang.

Kadang, cinta juga soal siapa yang akhirnya rela melepaskan.






Other Stories
Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Melupakan

Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Download Titik & Koma