Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Ulang Tahun Moza

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseorang meletakkannya di depan gerbang utama panti, saat semua orang sedang tertidur lelap. Nama Moza diberikan oleh Ibu Kezia, sang pemilik panti. Moza hanya boleh diadopsi ketika usianya sudah menginjak dua belas tahun, padahal anak lainnya boleh diadopsi pada usia berapapun. Bu Kezia tak ingin secepat itu melepaskan Moza dari asuhannya. Tahun ini adalah tahun ke dua belas Moza di panti ini. Dua belas adalah usia dimana ia diizinkan untuk memilih tinggal di panti lebih lama atau pergi dari panti itu jika ada yang berniat untuk mengangkatnya sebagai anak. Sebenarnya, Moza sudah menganggap Bu Kezia sebagai ibu kandungnya. Tapi kadang Moza tak dapat membendung keinginannya untuk memiliki keluarga sungguhan di luar sana. Apa yang akan dilakukan Moza selanjutnya?
“Selamat ulang tahun, Moza.”
Ucapan selamat berdatangan kepada seorang gadis cantik jelita bernama Moza. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kedua belas. Gadis bermata bulat itu tersenyum menerima ucapan dan hadiah dari teman-temannya.
“Terimakasih, Bunda,” bisik Moza pada Bu Kezia, si ibu panti.
Ya, Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseorang meletakkannya di depan gerbang utama panti, saat semua orang sedang tertidur lelap. Nama Moza diberikan oleh Ibu Kezia, sang pemilik panti. Nama yang sangat menggemaskan, bukan? Bu Kezia membesarkannya seperti anak sendiri sampai ia tumbuh menjadi seorang gadis cilik yang selalu rendah hati.
Moza memiliki mata indah dengan manik hitam pekat, rambut panjang bergelombang dan selalu terurai, dan juga kulit putih bersih yang bercahaya. Semua orang selalu memuji kecantikannya. Tidak hanya itu, sahabat-sahabat Moza pun menyanyanginya karena sifat Moza yang baik hati dan suka menolong. Gadis itu selalu memberikan bantuan kepada teman-temannya yang sedang berada dalam kesulitan.
Banyak orang datang ke panti untuk mengadopsi Moza sebagai anaknya, tapi Bu Kezia tidak mengizinkannya. Moza hanya boleh diadopsi ketika usianya sudah menginjak dua belas tahun, padahal anak lainnya boleh diadopsi pada usia berapapun. Hanya saja Bu Kezia tak ingin secepat itu melepaskan Moza dari asuhannya.
“Tahun ini adalah tahun kedua belasmu di panti ini, Nak,” ujar Bu Kezia lembut seraya mengusap kepala anak asuh kesayangannya itu.
Moza menatap Bu Kezia dalam-dalam. Ia tahu apa maksud ucapan Bu Kezia barusan. Dua belas adalah usia dimana ia diizinkan untuk memilih tinggal di panti lebih lama atau pergi dari panti itu jika ada yang berniat untuk mengangkatnya sebagai anak. Sebenarnya, Moza sudah menganggap Bu Kezia sebagai ibu kandungnya. Tapi kadang Moza tak dapat membendung keinginannya untuk memiliki keluarga sungguhan di luar sana.
Selama ini ia selalu bersabar dan diam-diam mengidamkan hidup di sebuah rumah dengan ayah dan ibu sungguhan, juga adik atau kakak seperti keluarga normal lainnya. Namun setiap kali ia menatap mata teduh Bu Kezia, keinginannya tersebut selalu padam begitu saja. Ia begitu menyanyangi Bu Kezia seperti orang tua kandungnya sendiri.
“Bunda,” lirih Moza.
“Iya, Nak?”
“Nggak jadi deh,” ujar Moza, nyengir.
Ia selalu seperti itu ketika ingin menyampaikan sesuatu yang ada dalam hatinya. Ia takut ucapannya akan menyakiti hati orang lain, sehingga ia tidak jadi mengutarakannya.
“Kamu tu selalu deh begitu. Ayo, makan kuenya,” ujar Bu Kezia seraya mencolekkan krim kue ke pipi Moza yang selalu bersemu merah muda.
“Iiih, Bunda, iseng banget,” rajuknya. Tangan mungil Moza sibuk mengusap krim yang belepotan di pipinya.
“Selamat ulang tahun, Moza,” seru anak-anak lainnya memberi selamat.
“Terimakasih, teman-teman,” sahut Moza semringah.
“Happy bestday, Mozarella!” seru Meisya, sahabat Moza.
Meisya memeluk Moza kesayangannya dengan erat sampai Moza agak susah bernapas.
“Terimakasih, Meisyarella,” sahut Moza tersengal, “jangan erat-erat gini, sesak tau,” protes Moza.
Meisya melepaskan pelukannya sambil tertawa. “Maaf, hehe,” katanya.
“Ayo, traktir aku makan ice cream,” todong Meisya.
“I scream? Oke, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” jerit Moza.
“Ssssssst...,” Meisya buru-buru membekap mulut Moza dengan telapak tangannya agar Moza berhenti menjerit. “Bukan I screaaaaam, tapi ice cream,” sungut Meisya.
Gantian Moza yang terkekeh melihat sahabatnya cemberut seperti itu.
“Sudah, sudah. Biar Bunda yang traktir ice cream hari ini,” ujar Kezia menengahi.
“Beneran, Bun? Asikkk...,” sorak Moza, Meisya, dan anak-anak lainnya.
***
Setiap pagi masing-masing anak penghuni panti memiliki tugas rutin. Ada yang bertugas menyapu lantai, mengepel, membersihkan debu-debu, menyiram tanaman, membereskan kamar-kamar, ada juga yang bertugas di dapur seperti membantu menyiapkan sarapan dan lainnya. Moza dan Meisya bertugas membersihkan kamar-kamar sebelum berangkat ke sekolah.
Ada banyak sekali kamar di panti ini. Beberapa kamar ditempati oleh anak-anak remaja seperti Moza dan Meisya, juga kakak-kakak asuh mereka yang berusia lima belas sampai delapan belas tahun, ada juga kamar yang khusus diisi oleh bayi dan balita, sisanya dihuni oleh anak-anak kecil. Semuanya terdiri dari laki-laki dan perempuan, tapi anak laki-laki tinggal di rumah yang terpisah dengan anak-anak perempuan.
Panti ini juga hanya menampung bayi sampai remaja berusia delapan belas. Umumnya, setelah tamat sekolah, mereka diizinkan keluar dari panti untuk bekerja atau kuliah. Ada juga beberapa dari mereka yang memilih tetap tinggal di panti dan menjadi pendamping pengurus panti.
“Za,” ujar Meisya di sela-sela kesibukannya melipat selimut.
“Hmm?”
“Enak kali ya kalau punya ibu?” renung Meisya.
Moza menoleh sejenak pada sahabatnya tersebut, menarik napas dalam, lalu menyahut, “Kita kan udah punya ibu, Sya.”
“Maksudku ibu sungguhan,” kata Meisya penuh semangat.
“Ibu sungguhan?” tanya Moza dengan mata berbinar.
Meisya mengangguk cepat, sementara Moza menjadi lesu.
“Kenapa?” tanya Meisya.
“Tapi siapa yang mau mengadopsi kita?” Moza balik bertanya.
“Pasti akan ada keluarga yang mau mengadopsi kita,” ucap Meisya penuh harap.
“Kuharap begitu. Eh, sudah jam setengah tujuh tuh. Kita terlambat ke sekolah,” pekik Moza histeris. Keduanyapun segera melompat ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Semua anak asuh panti mendapatkan fasilitas pendidikan di sekolah yang sama, dari mulai TK sampai SMA. Mereka bersepeda bersama-sama menuju sekolah. Anak-anak TK dibonceng oleh kakak-kakak asuh mereka yang berusia SD, SMP, atau SMA. Sungguh pemandangan yang membahagiakan ketika melihat anak-anak itu bersepeda bersama untuk masa depan.
Moza selalu pergi dan pulang bersama Meisya. Mereka bergantian mengayuh sepeda menuju sekolah yang jaraknya mencapai dua kilometer dari panti. Kalau Moza lelah, Meisya yang mengayuh, begitu sebaliknya.
Meisya dan Moza duduk di kelas enam SD. Hari ini mereka terlambat tiba di sekolah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Padahal bel berbunyi tepat pukul delapan. Telambat lima menit merupakan masalah besar bagi Moza dan Meisya.
“Dari mana kalian?” interogasi Pak Darman, guru piket hari ini.
“Dari rumah lah, Pak,” sahut Meisya santai.
Moza menginjak kaki Meisya sehingga gadis kecil itu mengaduh.
“Maaf, Pak. Kami terlambat lima menit,” ujar Moza buru-buru. “Kami boleh masuk ya, Pak?” lanjutnya memelas.
“Terlambat lima menit, berarti mengambil sampah di lapangan sebanyak lima puluh buah,” hukum Pak Darman.
Meisya sudah ingin protes saat Moza cepat-cepat menarik tangannya agar segera melaksanakan hukuman tersebut.
“Nggak adil. Masa telat lima menit aja lima puluh sampah?” omel Meisya.
“Udah, kerjain aja biar cepet. Pahala lagi, pagi-pagi ngumpulin sampah begini,” kekeh Moza.
Meisya pun terpaksa mengikuti sahabatnya dengan wajah cemberut.
***

Other Stories
Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Download Titik & Koma