Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Bukan Sepatu Cinderella

Satu minggu setelah kedatangan Bu Theresia waktu itu, Bu Kezia mengumumkan kembali bahwa Bu Theresia akan mengadakan sebuah pesta di rumahnya. Di sana nanti, Bu Theresia akan memilih seorang anak perempuan untuk diadopsi.
Moza dan Meisya sangat bersemangat mendengar berita tersebut. Moza sangat antusias untuk menghadiri pesta. Ini adalah pertama kalinya ia akan pergi ke sebuah pesta. Moza sangat menyukai kisah Cinderella yang pergi ke pesta menggunakan gaun biru yang indah, sepatu kaca, juga menaiki kereta kencana untuk menemui pangeran tampan. Sayangnya Moza tidak memiliki sepatu kaca. Ia hanya punya sebuah sepasang sepatu sekolah biasa. Itupun sudah usang dimakan usia.
“Moza, ada yang ingin bertemu denganmu, Nak,” ujar Bu Kezia pada Moza yang sedang sibuk menggambar di kamar.
“Siapa, Bun?” tanya moza penasaran.
“Bu Theresia,” ucap Bu Kezia seraya tersenyum.
Moza pun bergegas menemui Bu Theresia yang telah menunggunya di ruang tamu.
“Hai, Moza,” sapa bu Theresia hangat.
“Oh, Hai, Bu,” jawa Moza ragu-ragu.
Bu Theresia menarik Moza ke pangkuannya. “Ibu kok kangen sama Moza, ya?” ucapnya, membuat Moza tersipu malu.
“Ibu apa kabar?” tanya Moza di bawah tatapan hangat wanita muda itu.
“Ibu baik-baik aja. Oh, iya. Ibu ke sini hanya untuk memastikan kamu hadir di pesta nanti,” ujar Bu Theresia riang.
Moza mengangguk cepat. “Moza pasti akan datang, Bu. Tapi maaf ya, Bu. Moza nggak punya sepatu kaca. Sepatu Moza bukan sepatu Cinderella,” lirihnya.
Bu Theresia tertawa renyah mendengarnya. “Tanpa sepatu kaca pun kamu udah cantik, Nak,” katanya.
Moza terdiam cukup lama.
Diam-diam Meisya memperhatikan mereka berdua. Ada perasaan kesal di hatinya saat menyaksikan Moza bersenda gurau dengan Bu Theresia.
“Kenapa jadi Moza yang begitu dekat sama Bu Theresia?” gerutunya. Dengan kesal ia kembali ke kamar.
Tak lama kemudian Moza menyusul massuk kamar.
“Sya, apa kamu udah memikirkan akan pakai baju apa ke pesta besok?” tanya Moza riang.
Meisya tidak menjawab pertanyaan Moza. Ia hanya sibuk memainkan rubik di tangannya. Meisya memang pemain rubik yang ahli. Sejak usia sepuluh tahun ia sudah sering memenangkan kompetisi main rubik di sekolahnya.
“Syaaaa, kamu nggak dengar aku?” rengek Moza.
Ekor mata Meisya melirik Moza dengan jengah.
“Aku akan pakai baju terbaikku,” ketusnya, meninggalkan Moza sendirian di kamar.
Meisya kenapa, sih? batin Moza.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua anak perempuan yang diundang ke pesta bersiap dengan hebohnya. Hanya Diana yang sama sekali tidak berminat walaupun sudah dibujuk sedemikian rupa. Ia bahkan menghasut teman-temannya agar tidak pergi ke pesta.
“Dipilih atau enggak, aku akan tetap pergi. Di sana banyak makanan lezat, tau,” ujar Lidya.
“Sudahlah. Nggak apa Kak Diana nggak ikut. Lagipula, aku yang akan dipilih jadi anaknya,” sambar Nindya, si ratu drama.
Diana adalah anak perempuan yang tertua di antara Lidya, Nindya, Astri, Moza dan Meisya. Ialah satu-satunya yang sudah duduk di bangku SMP kelas tiga sehingga mereka memanggil Diana dengan sebutan ‘Kak’.
“Yuk, berangkat. Kita bahkan udah dijemput sama supir Bu Theresia. Aah, aku tak bisa membayangkan betapa kayanya dia,” ujar Lidya.
“Tunggu. Sya, Moza ke mana ya? Kok aku nggak lihat dia?” tanya Nindya yang menyadari sedaritadi ia belum melihat Moza.
“Tadi sih dia bilang lagi sakit perut. Udah yuk, nanti juga Moza nyusul,” ujar Meisya.
Mereka pun berangkat menuju kediaman Bu Theresia. Mobil yang digunakan untuk menjemput mereka adalah limosin termahal yang ada di negara ini. Kemewahannya membuat Nindya tak berhenti menganga.
“Kalo mau diadopsi sama orang kaya, kamu nggak boleh kampungan kayak gitu,” bisik Lidya pada Nindya.
Pada dasarnya Lidya memang anak orang kaya. Ayah dan ibu tirinya menitipkannya si panti asuhan ini karena tak mau repot mengurus seorang anak tiri. Setelah ayahnya meninggal, sang ibu tiri berjuang untuk mendapatkan kembali hak asuh Lidya agar ia bisa mendapatkan seluruh harta peninggalan suaminya. Tapi gadis berusia lima belas tahun itu menolak mati-matian untuk tinggal bersama ibu tirinya karena ia tahu alasan di balik itu semua. Ia lebih memilih untuk diadopsi oleh orang lain ketimbang hidup dengan ibu tiri yang hanya butuh harta kekayaan ayahnya saja.
“Aku nggak kampungan,” kesal Nindya.
“Aku nggak bisa membayangkan kalau sampai ternyata aku lah yang dipilih oleh Bu Theresia,” Meisya membuka suara.
“Nggak mungkin. Lagian kan kamu kemaren yang bilang ke Moza bahwa Bu Theresia itu orang jahat,” timpal Astri. Semua mata langsung menatap Meisya untuk menghakiminya.
Meisya terdiam. Ia tak menyangka Astri mendengar pembicaraannya dengan Moza kemarin.
“Aku nggak bermaksud begitu,” sangkal Meisya akhirnya.
“Ayo anak-anak, kita sudah sampai,” ujar Pak Romli, membukakan pintu mobil agar mereka segera turun. Perdebatan mereka terhenti seketika.
***
“Bun...! Bundaa, bukain, Bun, Moza di sini,” teriak Moza, menggedor-gedor pintu kamar mandi belakang rumah.
“Syaaa, Meisyaa, Lidyaaaa, Nindyaaaa, Astriii, Kak Dianaaaaa,” serunya memanggil nama-nama teman sekamarnya, namun tak ada seorang pun yang datang.
“Bunda, Moza di sini, Bun. Bukain pintunya,” ratap Moza kehabisan tenaga.
Beberapa jam yang lalu Meisya memintanya untuk mengambilkan sabun mandi dari kamar mandi belakang karena semua sabun di kamar mandi utama sudah habis. Namun ketika Moza akan keluar, pintu kamar mandi sudah terkunci.
“Kenapa sih pintunya rusak di saat-saat seperti ini? Moza kan mau pergi ke rumah Bu Theresia,” isak Moza di lantai kamar mandi yang bau pesing.
Beberapa saat kemudian, Moza bangkit lagi dan berusaha menggedor lagi pintu tersebut. Tak lama kemudian ia mendengar suara anak laki-laki menyerukan namanya.
“Kamu Moza, ‘kan?” seru Rivan dari luar.
“Van? Rivan... iya ini aku, Moza. Tolong bukain pintunya, aku terkunci di dalam,” sahut Moza. Keringat dingin sudah membasahi dahinya.
Rivan membuka pintu tersebut dengan mudah. Ia lalu heran bagaimana Moza bisa dikunci dari luar kamar mandi.
“Terimakasih ya, Van,” ujar Moza lemas. Ia hampir kehabisan napas. Jika Rivan tak lekas datang, mungkin saja ia sudah pingsan karena kehabisan oksigen.
“Kamu ngapain di sini? Bukannya semua anak perempuan sedang pergi ke pesta di rumah Bu Theresia?” tanyanya heran.
Bocah lelaki yang seusia dengan Moza itu menatap Moza dengan tatapan iba.
“Aku tadi udah siap mau berangkat, tapi malah terkunci di sini,” tutur Moza. “Sekarang semuanya udah pergi,” ratapnya.
“Ya ampun, kasihan kamu,” ujar Rivan merasa simpati.
“Kamu ngapain di kamar mandi cewek?” Kali ini Moza yang heran.
“Kamar mandi laki-laki sedang diperbaiki, aku kebelet, jadi ke sini. Aku pipis dulu ya, hehe,” ujar Rivan si periang.
“Oh, gitu. Yaudah, sekali lagi makasih ya, Van,” ujar Moza.
Gadis itu buru-buru berlari ke kamar untuk berganti baju. Ia akan bilang pada Bu Kezia bahwa ia terlambat. Bu Kezia pasti ada di ruang utama saat ini, tapi ia harus berganti baju terlebih dahulu. Saat tiba di kamar, begitu terkejutnya Moza melihat gaun yang akan dikenakannya sudah tak karuan bentuknya. Padahal ia telah menyimpannya dengan sangat hati-hati. Gaun itu adalah gaun pemberian Bu Kezia di hari ulang tahunnya yang kesepuluh.
Lagi-lagi Moza terduduk lemas di lantai dan menangis. “Kenapa gaunnya bisa sobek begini? Apa dimakan tikus?” isaknya pilu.
Hari semakin malam. Pestanya pasti sudah dimulai, sementara ia masih di kamar tanpa tau harus berbuat apa.
“Bu Theresia pasti sedih karena aku nggak menepati janjiku untuk hadir di acara itu,” ratap Moza.
“Moza, kamu kok nggak ikut?” Tiba-tiba Diana masuk ke dalam kamar.
Moza berbalik dan melihat Diana.
“Ya ampun, kamu kenapa?” tanya Diana khawatir melihat adik asuhnya menangis sesenggukan.
Diana adalah gadis yang terlihat paling cuek di panti ini, tapi sesungguhnya dialah yang paling perhatian.
Moza menceritakan singkat apa yang terjadi padanya sehingga ia terpaksa tidak ikut ke pesta. Diana mendengarkan cerita Moza dengan penuh perhatian.
“Kasihan kamu. Siapa sih yang tega melakukan ini padamu?” lirih Diana.
Moza hanya menggeleng sedih. Bu Theresia pasti juga sedih karena Moza tak menepati janjinya.
“Ah, aku ada ide,” seru Diana tiba-tiba.

Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Download Titik & Koma