Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Mozarella Kesiangan

       “Moza?” seru Meisya terkejut.
Kenapa dia bisa ada di sini? batin Meisya.
“Mozaaa,” sapa Bu Theresia riang. Gadis yang ditunggu-tunggu olehnya akhirnya datang juga. “Akhirnya kamu datang juga, Nak,” lirihnya seraya memeluk Moza.
“I.. iya, Bu. Maaf ya, Moza terlambat,” ujar Moza pelan.
“Nggak apa-apa. Ayo, kita makan dulu,” ajak Bu Theresia seraya menarik sebuah bangku untuk Moza.
“Terimakasih, Bu,” ucap Moza.
Moza sangat bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk hadir di pesta ini. Kalau bukan berkat Diana, mungkin ia tak akan pernah duduk satu meja di rumah Bu Theresia dengan anak-anak lainnya saat ini. Moza diminta untuk memimpin doa sebelum makan. Ia pun melakukannya dengan baik, karena memang ia sudah terbiasa melakukannya di panti.
Setiap hari, Moza selalu memandu teman-temannya berdoa sebelum makan bersama, walaupun tidak diminta oleh Bu Kezia. Baginya, berdoa sebelum dan sesudah makan adalah cara terbaik untuk berterimakasih kepada Tuhan karena telah memberinya rezeki makanan setiap hari.
Setelah selesai makan malam, Bu Theresia mengumumkan kegiatan penutup yang akan mereka lakukan.
“Sekarang kita akan bersenang-senang lagi,” ujar Bu Theresia riang, diiringi oleh sorak sorai anak-anak yang sudah tak sabar untuk bermain lagi.
“Kali ini, Ibu yang akan memimpin permainan ini, ya,” ujar Bu Theresia memulai. Ia tampak lebih semangat sejak Moza bergabung dengan mereka.
“Kita mau main apa lagi, Bu?” tanya Astri tak sabar.
“Begini, kita akan bermain peran lagi. Di sini ibu sudah membuat kata kunci peran yang akan kalian mainkan. Kalian harus memilih salah satu kunci rahasia ini. Baiklah, siapa yang mau mengambilnya duluan?” jelas Bu Theresia.
Dengan terburu-buru anak-anak mengambil masing-masing segulung kertas kecil yang berisi kunci peran rahasia, kecuali Moza.
“Kamu nggak mau ikut main?” tanya Bu Theresia heran.
“Biar temen-temen duluan aja, Bu, yang ambil kertasnya. Moza sisanya aja,” ujar Moza.
Bu Theresia terkesan oleh pribadi Moza yang tidak seperti anak-anak lain seusianya. Di matanya Moza berbeda.
“Baiklah. Ini sisanya.” Bu Theresia tersenyum sambil menyodorkan gulungan kertas terakhir pada Moza.
“Nah, bagaimana? Sudah dibuka semua kertasnya?” seru Bu Theresia.
Anak-anak kompak menjawab ‘sudah’. Tapi Meisya datang kepada Bu Theresia dan protes, “Saya nggak mau jadi orang buta, Bu.”
Sekilas Bu Theresia terlihat terkejut dengan protes yang didapatkannya dari Meisya, tapi ia segera tersenyum dan bertanya pada Meisya, “Lho, kenapa, Nak? Kita kan memang mau bermain peran.”
“Tapi aku nggak mau jadi orang buta. Aku mau ganti sama yang lainnya,” ujar Meisya bersikeras.
“Ya udah tukeran sama aku aja,” ujar Moza mengajukan diri.
“Emangnya kamu dapat peran apa?” tanya Meisya sinis.
“Tidak punya tangan,” ujar Moza.
“Ya udah, kamu yang jadi orang buta,” ketus Meisya sambil menukar kertas peran mereka.
Lagi-lagi Bu Theresia tercengang melihat aksi keduanya.
“Baiklah, baiklah. Bisa kita mulai?”
Semua anak mengangguk serempak. Setiap anak kali ini diberi peran disabilitas yang berbeda sehingga mereka harus saling membantu satu sama lain. Nindya mendapat peran orang tuli, sehingga ia kedua telinganya harus ditutup. Astri mendapat peran orang yang tidak dapat berjalan. Lidya memerankan peran orang bisu. Meisya mengambil peran orang tidak punya tangan sehingga kedua tangannya harus diikat di belakang punggungnya, sedangkan Moza mendapat peran orang buta.
Setelah selesai dengan semua persiapan, Bu Theresia mempersilahkan mereka untuk makan kue bersama sebagai makanan penutup. Di sinilah peran-peran mereka mulai dimainkan.
“Duduk di sini?” tanya Moza kepada Nindya, tapi Nindya tidak mendengar ajakannya karena telinganya ditutup earplug. Jadi Moza meraba sebuah bangku dan duduk di tempat yang kosong.
Astri meminta tolong pada Meisya untuk membantunya duduk di kursi karena kedua kakinya diikat.
“Kamu buta? Kamu nggak lihat kedua tanganku juga diikat? Gimana caranya aku bisa bantu kamu?” ujar Meisya ketus.
Sesungguhnya ia tak menyukai permainan peran ini. Baginya ini semua terlalu membosankan.
“Oh iya. Terus gimana caranya biar aku bisa duduk di sana?” ujar Astri sedih.
Lidya datang menghampiri Astri dan membantunya untuk mengambil tempat duduk.
“Terimakasih, Lid,” ujar Astri berterimakasih. Lidya hanya dapat mengangguk karena mulutnya ditutup.
“Gimana caranya aku makan?” tanya Meisya kesal dengan tangannya yang terikat. Lalu tiba-tiba ia mendapat ide untuk memerintahkan siapapun yang bisa menyuapi dirinya.
Moza selalu dibantu oleh Lidya dan Astri untuk mengambil makanan karena ia tak dapat melihat. Tapi Moza juga berusaha keras untuk bisa melakukan aktifitasnya sendiri. Sementara Nindya juga melakukan aktifitasnya sendiri karena ia merasa masih dapat melakukan apapun yang ia mau kecuali mendengar.
Tetiba Bu Theresia mengumumkan bahwa waktu makan tersisa lima menit lagi. Siapa pun yang belum selesai makan pada waktunya maka ia akan mendapatkan hukuman.
Nindya yang asik sendiri dengan makanannya tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Theresia, sehingga saat waktu makan berakhir, ia pun terpaksa mendapatkan hukuman. Nindya harus menyanyi dan menari sesuai dengan permintaan teman-temannya.
“Rasain, makanya kamu kalau makan tuh ngajak-ngajak,” ejek Astri.
Nindya merengut mendengar ejekan Astri.
“Sudah, sudah. Mari kita duduk di sini semuanya,” ujar Bu Theresia menengahi. “Jadi, pelajaran apa yang kalian dapatkan dari permainan peran tadi?” tanyanya.
“Kita nggak boleh sombong, Bu,” Lidya menyahut. Tangannya terangkat di atas kepalanya. Gadis yang satu ini memang selalu jadi nomor satu di kelas.
“Betul. Ada lagi?”
“Bahwa kita harus hidup dengan saling tolong menolong, Bu,” ujar Moza percaya diri.
“Betul, jangan bisanya cuma nyuruh-nyuruh orang aja kayak bos,” timpal Astri. Ekor matanya melirik Meisya.
“Aku kan nggak bisa menggunakan tanganku. Kalian enak bisa ngambil apa aja pakai tangan,” ketus Meisya sebal karena merasa tersindir oleh ucapan Astri.
“Jadi, apapun itu, kita harus bersyukur karena sudah memiliki apa yang kita miliki saat ini. Andai kita punya kekurangan, kita juga pasti punya suatu kelebihan. Kita juga harus selalu membantu orang lain bagaimanapun keadaan kita. Karena masih banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita di dunia ini,” tutur Bu Theresia.
“Misalnya, seorang yang buta ia mungkin tidak dapat melihat dunia dengan kedua matanya. Tapi kalau diselami, ia pasti bisa melihat dengan mata hatinya sehingga ia mampu berbuat banyak untuk orang lain walaupun ia memiliki kekurangan. Jadi, bagi kita yang diberi kesempurnaan oleh Tuhan, kita harus sadar untuk membantu orang lain. Hidup ini bukan tentang diri kita sendiri, tapi juga orang di sekitar kita,” lanjut Bu Theresia.
Waktu berjalan dengan cepat. Semua anak betah mendengarkan petuah dari Bu Theresia. Mereka merasa nyaman berada di dekat wanita paruh baya itu. Sikapnya begitu keibuan. Sorot matanya meneduhkan, ucapannya pun mampu mencairkan hati yang beku.
Jam tangan Moza berdering sepuluh kali, menandakan sekarang sudah jam sepuluh malam. Moza tiba-tiba berdiri dengan wajah panik.
“Bu, maaf, Moza harus pulang sekarang,” ujar Moza pada Bu Theresia.
“Lho, kenapa, Za? Nanti jam sebelas kalian akan diantar oleh supir Ibu,” kata Bu Theresia.
“Enggak, Bu. Moza harus pulang sekarang juga,” ujarnya sambil terburu-buru membereskan tas ransel kecilnya.
“Terimakasih ya, Bu,” ujar Moza sebelum benar-benar berlari ke halaman.
“Mozaa, aku ikuutttt,” seru Lidya, tergopoh-gopoh mengikuti Moza.
“Ayo buruan!” seru Moza.
Bu Theresia mengejar Moza dan lidya ke halaman, tapi mereka sudah menghilang bersama sebuah bajai berwarna biru. Kepulan asap tipis bajai menari-nari di udara. Saat akan kembali ke dalam rumah, mata Bu Theresia menangkap kilauan dari sebuah benda kecil di lantai. Ia pun memungutnya. Ternyata benda tersebut adalah sebilah liontin. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto usang seseorang yang ada dalam sebilah liontin tersebut.

Other Stories
Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma