Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Benar, Tidak Benar

Setiap pagi adalah harapan baru bagi setiap anak di panti. Setiap hari pula mereka berharap untuk mendapatkan akhir atau justru awal yang baru bagi kehidupan mereka. Setiap anak di sana selalu memiliki keinginan terpendam untuk memiliki sebuah keluarga yang sesungguhnya. Meskipun begitu, diam adalah bentuk syukur mereka yang terdalam karena sudah memiliki keluarga besar di panti ini.
Hari ini adalah hari libur nasional. Hari yang selalu diidamkan setiap anak sekolah dimanapun berada. Mereka senang libur di rumah karena dapat bermain seharian bersama anak lainnya.
Sudah satu bulan semenjak pesta malam itu, Bu Theresia belum mengunjungi panti lagi. Kabarnya hari ini Bu Theresia akan datang lagi untuk mengunjungi mereka. Semua anak senang mendengarnya. Mereka pun bersiap membersihkan setiap sudut ruangan untuk menyambut donatur tetap panti mereka itu.
“Pagi semua,” sapa Bu Theresia. Hangat seperti biasanya.
Nayna si balita langsung menghampiri Bu Theresia dan menagih cokelat lagi darinya. Tingkah lucu Nayna membuat Bu Theresia tertawa. Ia segera mengangkat Nayna ke dalam gendongannya.
“Nayna mau cokerat lagi?” tanya Bu Theresia.
Gadis kecil itu mengangguk senang, tapi Bu Theresia justru sedih melihat wajah riang Nayna. Hatinya terenyuh dan remuk redam memikirkan sikap tega orang tua Nayna yang meninggalkan balita secantik Nayna di sebuah panti asuhan.
“Ini buat Nayna. Kamu makan di sini ya? Ibu ada urusan dulu. Muaach,” ujar Bu Theresia, mengecup pipi Nayna yang menggemaskan.
Setelah itu ia segera menemui Bu Kezia untuk membicarakan suatu hal penting terkait dengan pengadopsian anak perempuannya.
“Jadi bagaimana prosedurnya, Bu? Apakah saya sudah bisa melakukannya?” tanya Bu Theresia pada Bu Kezia. Mereka mengobrol di kantor Bu Kezia.
Meisya diam-diam mendengar pembicaraan mereka dari luar kantor.
“Bisa, Bu. Ibu sudah bisa memilih anak yang akan ibu adopsi, lalu nanti kami akan mengurus surat-surat pengangkatannya secara resmi,” tutur Bu kezia. “Apa ibu sudah tahu akan mengadopsi siapa?” lanjutnya.
Bu Theresia mengangguk. “Belum, Bu. Jujur saya terkesan dengan banyak anak di panti ini. Tapi sebenarnya tujuan saya kemari adalah... maksud saya,” Bu Theresia diam sejenak.
Setelah menghela napas berat, ia pun melanjutkan kalimatnya. “Begini, saya akan mengadopsi anak yang memiliki pasangan liontin ini.”
Ia menyodorkan sebilah liontin yang berisi foto usang seorang pria.
Bu Kezia meraih liontin tersebut dan memperhatikannya baik-baik. Ia tidak ingat dan tidak tahu bahwa anak asuhnya ada yang memiliki liontin tersebut.
“Milik siapa ini, Bu?” tanyanya penarasan.
“Saya belum tahu, Bu. Maka dari itu, siapapun yang memiliki pasangan bilah liontin ini, akan saya angkat menjadi anak saya,” ujar Bu Theresia penuh dengan kegetiran.
“Baiklah, Bu. Kalau begitu kita akan segera sampaikan hal ini kepada anak-anak. Tapi bagaimana kalau tak ada satupun dari mereka yang memilikinya?”
“Saya akan mengadopsi Moza, Bu, kalau memang tidak ada yang memiliki liontin itu. Saya hanya ingin memastikan lagi siapa pemiliknya yang sesungguhnya,” ujar Bu Theresia meyakinkan.
***
Sebelum berita besar itu tersebar, Meisya sudah merencanakan hal picik di dalam otaknya. Ia berniat untuk mencuri liontin yang dimiliki oleh Moza agar dia yang diadopsi oleh Bu Theresia.
“Moza tak layak mendapatkannya. Aku harus mencari liontin itu,” katanya.
Setelah mencari selama beberapa waktu, Meisya berhasil mendapatkan liontin yang masih dimiliki oleh Moza dari tas ransel pinknya. Ia diam-diam masuk ke dalam kamar saat anak lainnya sedang sibuk bermain di halaman.
“Ini dia!” seru Meisya senang.
“Ya ampun, bodohnya Moza. Ini kan foto Bu Theresia waktu masih muda. Apa dia nggak bisa melihat kemiripan antara Bu Theresia dan foto wanita ini?” ujarnya bicara pada dirinya sendiri.
Sesungguhnya ada perasaan bersalah dalam hatinya ketika melakukan perbuatan curang ini, tapi ia juga sangat menginginkan menjadi anak orang kaya.
“Maafkan aku, sahabatku. Kalau kamu yang diangkat oleh Bu Theresia, kamu pasti akan melupakanku,” ujarnya di hadapan cermin.
“Meisya, kamu ngapain?” sapa Lidya pelan, tapi sangat membuat Meisya terkejut.
Spontan ia menyembunyikan liontin tersebut di balik punggungnya.
“Ah, kamu ngagetin aja. Aku..., aku lagi..., beres-beres nih,” sahut Meisya terbata.
Keringat dingin merember di dahinya. Wajahnya jadi pucat seketika.
“Kamu sakit, Sya?” tanya Lidya mendekat, karena khawatir.
“Aah, enggak. Aku nggak sakit,” jawab Meisy mundur dua langkah untuk menjauh dari Lidya.
“Ya udah kalo gitu. Aku cuma mau ngambil handuk ni,” ujar Lidya.
“Iya, ya sudah.”
Betapa leganya Meisya saat Lidya beranjak dari kamar. Hampir saja ia ketahauan oleh gadis malang itu.
“Kamu terlalu bodoh, Lidya. Anak orang kaya tapi mau tinggal di panti. Sedangkan aku pintar, anak orang miskin tapi akan segera tinggal di rumah orang kaya,” ujar Meisya sendirian sambil tersenyum licik.
***
Beberapa hari kemudian, tersiar kabar tentang liontin yang hilang tersebut. Moza belum menyadari bahwa sisa liontin yang ia miliki juga telah lenyap dari ransel pinknya.
Kasak-kusuk tentang berita besar tersebut akhirnya sampai di telinga Moza.
“Apa? Bu Theresia punya sebuah liontin, dan sedang mencari pasangannya?” tanyanya tak percaya.
“Betul sekali,” sahut Astri. “Tapi siapa kira-kira yang punya pasangan liontin itu?”
Moza terdiam. Ia tak tahu pasti apakah liontin yang ada pada Bu Theresia itu adalah liontin miliknya atau bukan. Tapi ia cepat-cepat menepis bayangan tersebut.
“Bu Theresia akan segera mengadopsi si pemilik liontin kalau memang liontin tersebut adalah liontin yang beliau maksud,” kata Kak Diana ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
“Kuharap aku lah pemiliknya,” kata Nadya sambil tertawa.
“Jangan pernah berharap. Ayo kita tidur,” cela Diana tepat saat lampu kamar mati otomatis.
Moza tidak dapat tidur semalaman. Dalam gelap otaknya berputar memikirkan berita tersebut.
“Liontin, liontin, liontin...,” bisiknya sampai ia terlelap.
***
Keesokan paginya Bu Theresia sudah tiba di panti. Tidak biasanya ia datang terlalu pagi seperti ini. Tampaknya ia suda tak sabar ingin menemukan siapa pemilik liontin tersebut.
“Baiklah anak-anak, hari ini Ibu akan membawa pulang salah satu dari kalian yang memiliki pasangan liontin ini. Siapa dari kalian yang memilikinya?” Bu Theresia sendiri yang langsung menanyakannya kepada mereka.
Para anak perempuan mendekat untuk melihat lebih jelas seperti apa bentuk liontin tersebut. Bentuknya seperti gambar hati, dan ada sebuah foto usag seorang pria di dalamnya.
“Saya yang punya, Bu.” Tiba-tiba Meisya muncul dari kerumunan.
Mata Bu Theresia berbinar menatap Meisya. Namun ada sorot kecewa dalam tatapan matanya yang selalu teduh itu.
“Meisya?”
“Iya, Bu. Ini liontinnya,” ujar Meisya penuh percaya diri, menyodorkan sebilah liontin tersebut pada Bu Theresia.
Tangan Bu Theresia terulur meraih liontin tersebut. Hatinya seakan meledak melihat foto dirinya saat masih muda di dalam belahan liontin yang Meisya punya. Sekarang tangannya terjulur hendak menyentuh rambut Meisya, namun tiba-tiba ia mundur.
Meisya menatapnya heran. Suara anak-anak riuh redam menyaksikan drama di depan mereka.
“Ada apa, Bu? Benar itu liontin yang ibu cari?” tanya Bu Kezia.
“Iya, benar, Bu. Tapi aneh rasanya,” jawab Bu Theresia pelan.
“Apanya yang aneh?” Bu Kezia penasaran sekaligus bingung.
“Saya menemukan liontin ini di halaman rumah saya, tepat di saat Lidya dan Moza pulang terburu-buru naik bajai. Lalu mengapa liontin ini bisa ada pada Meisya?” tuturnya.
Deg. Jantung Meisya seakan melompat dari sarangnya, namun ia tetap memncoba untuk bersikap tenang.
“Itu bukan milik saya, Bu,” sahut Lidya menyeruak diantara kerumunan.
“Lalu apa ini milik Moza? Di mana Moza sekarang?” tanya Bu Kezia, celingukan mencari Moza diantara anak-anak lainnya.
Sejak pagi ia tak melihat Moza di manapun.
“Mana Kak Moza, Nak?” tanya Bu Kezia pada Nayna.
Nayna menggeleng, “Nggak tahu, Bu,” katanya.
“Liontin itu memang milik saya, Bu. Meisya menitipkannya di ransel Moza saat kami akan berenang di sekolah,” bohong Meisya.
“Benarkah?” tanya Bu Theresia. “Jadi ini benar punya Meisya?”
Meisya mengangguk cepat, lalu menatap lantai.
“Baiklah, Ibu percaya. Kalau begitu, Meisya yang akan saya adopsi, Bu Kezia. Mohon kesediaan Ibu untuk mengurus segala sesuatunya,” ujar Bu Theresia memutuskan.
Semua anak bersorak sorai dan memberikan selamat pada Meisya.
“Akhirnya kamu diadopsi oleh orang kaya. Tapi siapa sih foto yang ada dalam liontin itu?” tanya Astri semringah.
“Orang tuaku. Bu Theresia itu ibuku. Kan aku sudah pernah bilang pada kalian bahwa aku ini sebenarnya adalah anak orang kaya. Kalian aja yang nggak pernah percaya sama aku,” ujar Meisya.
“Iya deh, iya. Selamat ya, Sya,” ucap Nindya.
“Aku mau pamit sama Moza dulu,” kata Meisya berlalu dari hadapan teman-temannya.
Ia tahu Moza daritadi berada di kamar, mencari liontin miliknya sekali lagi di seluruh penjuru kamar sampai-sampai ia tak menyadari kedatangan Bu Theresia.
“Moza, aku mau pamit. Kita nggak akan bersama-sama lagi,” ujar Meisya tanpa basa-basi.
“Kenapa?” tanya Moza kaget.
“Aku sudah diadopsi oleh Bu Theresia. Aku akan pindah ke rumahnya..., bukan, rumahku maksudku. Sekarang,” ujarnya.
“Benarkah? Bu Theresia akhirnya memilihmu? Selamat, ya! Tapi aku sedih karena harus kehilangan kamu,” ujar Moza mulai menangis.
Meisya memeluknya. “Aku nggak akan lupain kamu. Kamu baik-baik di sini, ya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Baiklah, pergilah. Kamu akan berbahagia di sana,” lirih Moza. “Aku nggak mengantarmu pergi ya? Kepalaku sakit sekali,” ujar Moza.
“Baiklah. Sampai jumpa.” Begitu Meisya meninggalkan sahabat tebaiknya dengan cara mencuranginya.

Other Stories
Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Horor

horor ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Download Titik & Koma