Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Tiba Di Istana

Para anak perempuan sudah hadir. Mereka berempat dapat duduk dan bermain di tempat yang telah disediakan oleh Bu Theresia. Ada banyak makanan lezat tersaji di meja makan, seperti kata Lidya. Bahkan Lidya sudah mulai menjelajahi seluruh ruang makan untuk mencicipi semua makanan yang ada.
Nindya dan Meisya duduk manis di sebuah sofa besar yang sangat empuk. Rasanya Meisya tak ingin berdiri dari sana untuk selama-lamanya ia begitu nyaman menduduki sofa tersebut. Belum lagi suasana ruangan yang sejuk membuatnya tambah betah.
“Ini nggak seperti sofa butut kita di asrama,” ujar Mesiya pada Nindya.
“Ya iyalah, ini kan rumah orang kaya. Kita sudah tiba di istana,” sahut Nindya.
“Apa kalian melihat Moza?” Bu Theresia tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka, entah sejak kapan.
Sapaannya membuat Meisya dan Nindya tergagap. “Eng ... Moza nggak bisa datang, Bu. Tadi dia sakit perut,” jawab Meisya agak terbata.
“Moza sakit?” tanya Bu Theresia dengan raut wajah khawatir.
“Iya, Bu,” sahut Meisya cepat.
“Ya sudah, nanti Ibu akan jenguk dia. Kalian nikmati makanannya ya,” ujar Bu Theresia agak kecewa.
“Hufttt ..., kira-kira Bu There dengar pembicaraan kita nggak ya?” ujar Nindya pelan. “Kamu sih,” katanya lagi, menyalahkan Meisya.
“Ah, biarin aja. Lagian ngapain sih Bu There nyariin Moza. Dia nggak akan pernah datang. Dia pasti udah pingsan di kamar mandi sekarang,” ketus Meisya keceplosan.
“Apa katamu?”
“Ah, enggak. Maksudku... sudahlah, ayo kita makan aja,” ujar Meisya mengalihkan perhatian.
Nindya yang merasa tidak salah mendengar perkataan Meisya barusan berpikir dengan keras. Ia jadi yakin bahwa ketidakhadiran Moza adalah ulah Meisya. Nindya pun memutuskan untuk bergabung dengan anak-anak lainnya.
Pesta sudah dimulai. Bu Theresia menyiapkan beberapa badut lucu untuk menghibur anak-anak. Ada beberapa permainan yang mereka mainkan dan dipandu oleh para badut, membuat mereka sangat bahagia. Sementara itu, Bu Theresia juga sibuk memperhatikan anak-anak. Ia sedang menilai sikap anak-anak yang berkeliaran di sekitar rumahnya. Ia juga menguji mereka melalui beberapa permainan.
“Sayang sekali Moza nggak ada di sini,” keluh Bu Theresia dalam hati.
***
Semua anak mulai sibuk mengikuti kegiatan yang dibuat oleh Bu Theresia. Kali ini mereka akan memainkan permainan peran. Setiap anak diberi sebuah peran sesuai dengan cita-cita mereka. Lidya berperan menjadi dokter karena ia ingin suatu hari nanti jadi seorang dokter hewan. Nindya berperan sebagai wanita karir. Meisya berperan menjadi seorang boss kaya raya, dan yang lainnya ada yang menjadi juru masak. Sementara Astri berperan sebagai seorang guru matematika.
Pemandu kegiatan meminta mereka untuk melakukan rapat profesi, dan memecahkan sebuah permasalahan bersama.
“Bayangkan kalian sedang berada di suatu tempat terpencil. Lalu tiba-tiba terjadi bencana alam. Apa yang akan kalian lakukan? Ini dia, korbannya,” ujar kak Rendi, si pemandu kegiatan.
Kak Rendi membawa masuk beberapa orang anak laki-laki yang kaki dan tangannya diperban.
Lidya langsung menghampiri para korban tanpa aba-aba. Ia langsung menanyakan, apakah ada bagian tubuh mereka yang merasa sakit? Bu Theresia yang memandang mereka dari jauh, tersenyum melihat aksi Lidya.
Astri, si pemalu yang berperan menjadi seorang guru hanya diam tak tahu akan berbuat apa karena ia merasa saat ini tak ada orang yang perlu ia ajarkan. Sementara Meisya langsung mengeluarkan uang mainan dari sakunya untuk membantu si korban membeli obat.
“Ini uang untuk kalian. Kalian bisa membayar biaya dokter dengan uang ini,” kata Meisya bijak.
Para korban menerima uang dari Meisya.
“Hei, kamu kenapa diem aja? Lekas beri dia uang,” ujar Meisya mengagetkan Nindya yang terlihat bengong,
“Ha? Untuk apa? Aku kan cari uang buat untuk orang lain, tapi untukku sendiri,” ketus Nindya.
Bu Theresia mengerutkan dahinya. Ia khawatir Nindya tak akan bertahan dalam ujian kali ini.
“Tapi mereka kan lagi dalam kesulitan, kita harus membantu mereka” ujar Astri.
“Pokoknya aku nggak mau,” ketus Nindya lagi seraya kembali ke duduk di sofa.
Lidya tampak mulai sibuk memeriksa kondisi pasiennya. Tiba-tiba para korban berteriak, “Ada gempa susulan! Tolongg!”
Semua anak berlagak panik. Mereka benar-benar sangat menghayati peran.
“Selamatkan diri!” seru Meisya histeris.
Lampu ruangan tiba-tiba padam, kemudian menyala, lalu padam, dan menyala lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa saat. Anak-anak makin panik. Saat terdengar suara gemuruh, sentak Nindya menarik tangan Lidya dan Astri untuk berlindung di bawah meja. Sementara Meisya menyelamatkan dirinya sendiri di tempat yang agak jauh dari teman-temannya.
Bu Theresia kembali tersenyum melihat tingkah anak-anak itu. Tak lama kemudian, Kak Rendi menghentikan permainan. Anak-anak diminta untuk mencicipi makanan utama.
Meisya dan kawan-kawan sudah duduk manis di meja makan besar bersama Bu Theresia. Ada banyak makanan lezat di atas meja makan seperti Pizza, Spagetti, Zuppa Sup, Ayam bakar utuh, sayur-sayuran dan bermacam-macam buah yang tentunga sangat anak-anak sukai. Tampaknya mereka semua pun sudah tak sabar untuk menghabiskan semua makanan tersebut.
“Apa kita sudah boleh makan?” tanya Astri polos.
Bu Theresia sengaja tidak mempersilakan mereka makan sampai ada seorang dari mereka yang bertanya.
“Tentu saja, makanan ini disajikan untuk kita semua,” sahut Nindya riang.
“Tentu. Tapi baiknya kita berdoa dulu sebelum makan,” ujar Bu Theresia dengan nada kecewa saat ekor matanya melihat tangan Nindya sudah mulai meraih piring makanannya.
“Ah, ya, maaf,” kaya Nindya salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Bu Theresia.
“Selamat malam, semuanya.” Tiba-tiba suara lembut seseorang membuat semuanya mengalihkan pandangan dari makanan lezat yang tersaji.

Other Stories
Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Download Titik & Koma