Liontin
“Apa itu tadi yang ditemukan oleh Bu Theresia?” gumam Meisya dalam hati. Ia terus memikirkan tentang ekspresi wajah Bu Theresia saat menyusul Moza di halaman rumahnya tadi.
Meisya tadi buru-buru mengikuti Bu Theresia dan Meisya ke halaman karena penasaran dengan kendaraan apa Moza pulang, tapi ia malah menemukan hal yang lain.
Moza tiba di rumah satu jam sebelum anak lainnya pulang. Ia terpaksa pulang buru-buru karena sudah janji dengan Mang Didin, si supir bajai, untuk pulang jam sepuluh. Kalau tidak isteri Mang Didin akan marah besar.
“Kak, makasih ya,” ujar Moza pada Diana yang ternyata belum tidur.
“Hei, kamu udah pulang. Gimana tadi pestanya?” sambut Diana.
“Seru, kak. Kalau bukan karena kakak yang menjahit baju Moza yang sobek dan meminta Mang Didin buat mengantarku, aku nggak mungkin bisa ke sana,” lirih Moza.
“Iya, sama-sama, adikku,” ujar Diana seraya memeluk Moza.
Tak lama kemudian, rombongan anak lainnya tiba. Mereka berebutan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, kecuali Meisya. Gadis berkulit sawo matang itu langsung menghempaskan tubuhnya di kasur.
Moza mendekatinya. “Sya, Meisya...,” panggil Moza.
“Apa sih kamu? Kamu nggak tau aku capek?” hardik Meisya, membuat Moza terdiam.
Baru kali ini Meisya membentaknya. Selama ini ia selalu akur dengan Meisya. Namun beberapa hari belakangan ini Moza merasa Meisya agak ketus dan menjauhinya. Moza tak tahu apa sebabnya.
“M..., maaf, Sya,” ujarnya sedih, lalu berbaring di sisi Meisya.
***
Keesokan paginya, Moza terbangun sendirian. Teman-temannya sudah berangkat ke sekolah.
“Ah, iya. Hari ni kan ada festival tahunan di sekolah,” gumam Moza.
Sekilas ia melirik jam dinding yang jarum pendeknya menunjuk ke angka delapan.
“Aaaaaa, aku terlambat,” pekiknya. Ia buru-buru berlari mencari Bu Kezia.
“Bundaaaa. Bunda kok nggak bangunin aku?” rengeknya pada Bu Kezia yang sedang sibuk membereskan koran-koran pagi di ruang tamu.
“Eh, anak Bunda udah bangun,” sapa Bu Kezia santai.
“Ih, Bunda kok nggak bangunin Moza sih,” omel Moza manja.
“Abis Bunda lihat kamu pules banget. Badan kamu juga anget, jadi Bunda biarin kamu tidur. Lagipula hari ini kan hanya acara festival di sekolah. Nggak apa kalau kamu nggak ke sekolah,” jelas Bu Kezia menghadapi Moza yang masih menggunakan gaun pestanya semalam.
“O-ow, lihat anak Bunda masih pakai gaun semalam. Kamu kok nggak ganti baju semalam?”
Moza tampak kaget saat sadar dirinya masih mengenakan gaun.
“Ya ampun, Bun. Moza kelupaan,” katanya, menyengir.
“Ya udah sana, kamu mandi gih, terus sarapan. Nanti Bunda antar kamu ke sekolah,” ujar Bu Kezia.
“Benaran, Bunda mau antar Moza ke sekolah? Horee... Moza beresin kamar dulu ya, abis itu mandi, abis itu kita berangkat,” seru Moza riang.
Bu Kezia mengangguk cepat. Ia memperhatikan punggung Moza berlari menjauh darinya. Ia sangat menyayangi Moza seperti anaknya sendiri. Tapi tahun ini sepertinya ia harus melepaskan Moza agar gadis berhati hangat itu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupan di panti.
Beberapa puluh menit kemudian, Moza sudah siap berangkat dengan tas gendong berwarna pink di punggungnya.
“Ayo, Bun, aku siap, aku siap, aku siap,” katanya menirukan suara Sponge Bob.
“Ayo.” Bu Kezia meraih tangan mungil Moza, dan digenggamnya erat-erat.
Jalanan ibu kota Jakarta selalu macet bahkan pada jam-jam seperti ini. Padahal jam masuk kantor sudah berlalu, tapi jalanan masih saja sesak oleh motor dan mobil-mobil.
“Bun...,” bisik Moza membuka obrolan.
“Iya? Ada apa, Za?”
“Nggak jadi deh,” kata Moza, tertawa.
“Ih, kamu tuh ya, kebiasaan deh kalau mau ngomong suka nggak jadi. Ada apa sayang? Cerita aja sama Bunda,” ujar Bu Kezia lembut.
Kelembutan sosok Bu Kezia lah yang selalu menjadi penguat bagi Moza dan juga anak panti lainnya.
“Emmm, Bun, Bunda tau nggak kenapa ya Meisya akhir-akhir ini berubah?” Moza membuka obrolan dalam perjalanan.
“Enggak. Berubah gimana maksudnya?”
“Ya, Meisya agak jutek gitu sama Moza. Apa Meisya lagi ngambek ya sama Moza?” tanya Moza sambil menatap jalanan dengan tatapan hampa.
“Emang kalian berantem?” Bu Kezia malah bertanya balik.
Moza menggeleng pelan sambil mengingat dengan keras apakah ia telah melakukan suatu kesalahan pada Meisya.
“Sudahlah, mungkin perasaan Moza aja. Jangan dipikirkan. Yuk, kita sudah sampai. Bunda antar sampai sini aja, ya? Nggak apa-apa, kan?”
“Iya udah deh, Bun. Makasih ya, Bun. Moza sayang deh sama Bunda,” ujar Moza ringan, tapi membuat mata Bu Kezia berkaca-kaca.
“Bunda juga sayang deh sama Moza,” balasnya setelah berhasil menemukan kembali suaranya.
“Dadah, Bun,” seru Moza, menjauh dari mobil.
Benar kata Bu Kezia, acara festivalnya dimulai pukul sembilan. Itu artinya ia tidak datang terlambat. Moza segera menuju kelas untuk mencari Meisya, tapi tidak menemukannya. Jadi Moza memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar stan-satan yang didirikan oleh para guru.
Ada banyak stan di halaman sekolah. Ada stan yang menjual makanan ringan, buku-buku, juga hasil kerajinan tangan siswa. Moza berhenti di depan salah satu stan kerajinan tangan. Ia selalu tertarik dengan berbagai kerajinan tangan. Ia ingin bisa membuat macam-macam benda kerajinan tangan. Kalau ia memiliki waktu luang, Moza akan membuat sesuatu dari barang bekas yang biasa ia kumpulkan sendiri.
Hasilnya pun ia pakai sendiri, seperti kotak pensil yang terbuat dari botol minuman bekas, tas yang terbuat dari kalendar bekas, juga dompet-dompet lucu yang ia buat dari kertas karton dan sisa bungkus kado.
“Mau beli apa, Dik?” tanya ibu penjaga stan itu. Ternyata orang tua siswalah yang diminta untuk mengisi stan-stan tersebut.
“Engg. Saya cuma mau lihat-lihat aja, Bu,” jawab Moza sopan.
“Iya, sini silakan,” ujar si ibu ramah.
Moza massuk ke dalam untuk melihat lebih banyak karya. Ia mengagumi semua benda kerajinan yang ditampilkan di sana. Tak sengaja matanya melihat sebuah kalung berbentuk liontin yang mengingatkannya pada liontin miliknya. Ia pun mengeluarkan kalung liontin miliknya dari tas ransel kecilnya.
“Lho, kok liontinnya tinggal sebelah?” gumamnya panik.
Secepat mungkin ia membongkar isi tasnya. Ia pun menumpahkan seluruh isi tas ransel pinknya, namun belahan kalung liontin milikknya tidak ketemu.
“Mana ya? Aku pasti menjatuhkannya di suatu tempat,” ujarnya lemas.
“Ada apa, Dik? Kamu sedang cari apa?” tanya si ibu heran melihat ekspresi panik Moza.
“Liontin Moza hilang, Bu,” ujar Moza pelan.
“Liontin?” dahi si ibu mengkerut mendengar kata liontin. “Ketinggalan di rumah, mungkin,” ujarnya mencoba mengingatkan Moza.
Gadis bermanik mata pekat itu menengadahkan wajahnya demi melihat wajah si ibu. “Di rumah?” tanyanya.
Si ibu mengangguk. “Kamu bisa mencarinya di rumah nanti,” usul si ibu.
Hati Moza mendadak lega. Bisa jadi ia memang meninggalkannya di kamar.
Setelah acara usai, Moza segera pulang tanpa menunggu teman-temannya seperti biasa. Ia hanya ingin segera melihat kembali liontin itu. Satu-satunya kenangan yang ia miliki tentang ayah dan ibunya.
Liontin tersebut adalah satu-satunya benda yang melekat pada Moza saat bayi Moza dititipkan di depan Pasti Asuhan Muara Kasih Ibu.
***
Setibanya di panti, Moza langsung mencari-cari belahan liontinnya di seluruh penjuru kamar. Namun dua jam ia lelah mencari, ia tak juga menemukannya. Moza terduduk lemas di depan jendela kamar untuk mendapat udara segar.
“Kamu kenapa, lesu begitu?” tegur Meisya tiba-tiba.
“Sya, liontinku hilang sebelah,” ceritanya sedih.
“Liontin? Liontin apa?”
“Liontin berbentuk hati yang terbuka. Di sana ada foto usang kedua orang tuaku. Sekarang hilang sebelah, aku nggak punya lagi foto lainnya. Itu satu-satunya peninggalan orang tua yanag kupunya,” ujarnya sedih. Air matanya mulai membasahi pipi gempalnya.
“Kamu udah coba cari?”
“Sudah.”
“Ya sudah, nanti juga ketemu kok,” ujar Meisya asal lalu berjalan ke luar kamar.
Moza mengeluarkan sebelah liontin yang kini tinggal foto ibunya.
“Meskipun Moza nggak pernah lihat wajah ibu dan ayah, tapi foto dalam liontin ini sudah cukup. Terus kenapa foto ayah harus hilang?” ratapnya.
***
Meisya mondar-mandir di kamar balita. Hari ini adalah gilirannya untuk menjaga adik-adik kecil bermain.
“Liontin? Apa liontin yang Moza maksud itu adalah liontin yang semalam ditemukan oleh Bu Theresia?” gumam Meisya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Ah, nggak mungkin. Tapi..., apa jangan-jangan...,”
“Kamu ngapain ngomong sendiri?” sapa Nindya tiba-tiba.
“Eh, enggak. Kamu ngapain ke sini?” tanya Meisya gugup.
Nindya selalu menatap Meisya dengan tatapan curiga sejak malam pesta itu.
“Enggak apa-apa. Aku cuma mau antar susu-susu ini. Waktunya minum susu, ‘kan?” katanya santai.
“Taruh aja di sana. Nanti aku yang bagiin,” sahut Meisya.
“Kamu nggak sedang merencanakan sesuatu kan, Sya?” tanya Nindya asal.
“Enggak lah. Udah ah, aku lagi sibuk nih, mau gantiin popoknya Raihan dulu. Kamu mendingan ke dapur aja bantuin Kak Diana masak,” usir Meisya secara halus.
“Baiklah kalau begitu,” ujar Nindya akhirnya.
Dalam hati Nindya tak lagi mempercayai Meisya. Ia merasa ada suatu hal yang Meisya sembunyikan darinya. Ucapan Meisya sewaktu di rumah Bu Theresia itu sangat mengganggu pikirannya. Walaupun Meisya mengucapkannya secara asal, namun keterlambatan Moza saat itu pasti ada hubungannya dengan Meisya.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...