Mozarela Bukan Cinderella

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
mozarela bukan cinderella
Mozarela Bukan Cinderella
Penulis Mpit Tivani

Kebohongan Hanya Bertahan Satu Musim

“Kamu nggak apa-apa, Nak?” tanya Bu Kezia khawatir.
Sudah dua hari suhu badan Moza tidak turun. Ia sangat merindukan Meisya sampai-sampai menjadi demam.
“Bu, sebenarnya ada yang mau Nindya ceritain sama ibu. Apa kita bisa bicara sebentar?” ujar Nindya yang sedang bertugas menunggui Moza di kamar.
Astri, Nindya dan Lidya memang bergantian menjaga Moza selama ia sakit. Kepergian Meisya benar-benar membuatnya merasa terpukul. Terlebih sesungguhnya ia mengetahui semua perbuatan Meisya padanya. Hal itulah yang membuat Moza jatuh sakit. Rasa sakit di hatinya lebih menyiksa daripada sekadar sakit pada tubuhnya.
***
Sementara itu, Meisya sedang sangat berbahagia berada di rumah barunya. Impiannya untuk menjadi anak orang kaya telah terwujud. Ia tak peduli apakah Moza menderita di panti saat ini, yang penting Bu Theresia sudah mengangkatnya sebagai anak. Putri satu-satunya yang suatu saat akan mewarisi semua harta kekayaan yang Theresia miliki.
“Selamat pagi, Meisya,” sapa Bu Theresia.
“Pagi, Bu,” sahut Meisya gugup walaupun ia sudah tinggal di sana selama beberapa hari.
“Sudah sarapan?”
Meisya menggeleng.
“Ayo makan bareng Mama,” ajak Bu Theresia.
Betapa bahagianya Meisya mendengar Bu Theresia menyebut dirinya ‘mama’ untuk Meisya.
“Mama?” tanyanya tak percaya.
“Iya, Mama. Kan sekarang Ibu udah jadi Mama kamu,” katanya. “Oh, iya. Boleh kan Meisya ceritain sedikit kenapa Meisya bisa tinggal di panti asuhan itu?” lanjut Bu Theresia sambil mengoleskan selai kacang di atas roti.
“Meisya diantar oleh seseorang ke panti saat Meisya masih TK,” tutur Meisya.
“TK? Siapa yang antar Meisya ke sana?”
“Entahlah, Meisya nggak ingat. Meisya masih terlalu kecil saat itu,” ujarnya.
“Terus, apa Meisya kenal dengan keluarga Meisya yang lainnya?” tanya Bu Theresia lagi.
Meisya diam cukup lama untuk memikirkan jawabannya. Ia tak mau salah bicara hingga membuat Bu Theresia curiga padanya.
“Meisya?” tegur Bu Theresia.
“Ah, ya. Meisya nggak punya siapa pun. Tapi sekarang Meisya punya mama,” sahut Meisya cepat.
Bu Theresia agak merasa bersalah pada Meisya karena sudah bertanya terlalu jauh.
“Makan yang banyak ya, Mama kerja dulu,” ujar Bu Theresia meinggalkan Meisya di meja makan.
Untung saja Meisya tidak keceplosan hal yang tidak-tidak. Tadi ia ingat Moza pernah bercerita sedikit tentang dirinya bahwa ia tak memiliki siapapun di dunia ini.
***
“Bagaimana bisa ia diantar oleh seseorang saat TK? Sementara aku dengar sendiri dari suamiku bahwa mertuaku meninggalkannya di panti sesaat setelah aku melahirkannya,” ujar Bu Theresia pada dirinya sendiri.
Ia mulai resah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia mulai meragukan bahwa Meisya adalah anaknya yang sesungguhnya. Tapi ia tak boleh hanya menyimpulkan sendiri. Ia harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Theresia kembali ke panti Muara Kasih Ibu untuk memastikan semuanya.
Setibanya di panti ia segera mencari Bu Kezia.
“Wah, kejutan. Ada apa, Bu?” sapa Bu Kezia hangat.
“Ada yang ingin saya bicarakan.”
Nindya yang mengetahui kedatangan Bu Theresia, mengajak Lidya da Astri untuk menguping pembicaraan mereka dari luar kantor. Mereka benar-benar ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Kecurigaan Nindya pada Meisya selama ini membuatnya penasaran sekaligus merasa kasihan pada Moza. Sahabatnya yang satu itu tidak pantas diperlakukan jahat oleh Meisya. Ia tak terima. Jadi Nindya menceritakan kejadian malam pesta itu pada Lidya dan Astri.
“Oh, jadi Meisya yang melalukan itu semua pada Moza?” sahut Diana.
Gadis itu selalu saja muncul secara tiba-tiba di saat yang lainnya sedang mengobrol.
“Apa kakak tahu sesuatu tentang ini?” tanya Lidya serius.
“Malam itu Moza terkunci di kamar mandi, gaunnya sobek sehingga ia nyaris tak dapat berangkat ke rumah Bu Theresia,” tutur Diana mencetitakan kejadian malam itu. “Kukira ia memang terkunci dari dalam,” lanjutnya.
“Enggak. Meisya yang sengaja menguncinya dari luar, lalu merusak gaunnya supaya Moza nggak bisa ikut kita ke sana,” sambar Nindya. “Aku mendengar itu dari mulut Meisya sendiri. Tapi saat itu aku nggak menanggapinya,” sesalnya.
“Kita harus meluruskan ini. Moza berhak bahagia. Kita nggak bisa diam saja,” ujar Diana berapi-api.
“Setuju,” sahut Lidya dan Nindya.
“Astri, kamu nggak setuju? Kok diem aja?” tegur Lidya.
“Setuju!” seru Astri terlambat.
Keempatnya langsung masuk bersamaan ke dalam ruang kerja Bu Kezia. Kehebohan mereka membuat Bu Theresia yang sedang berlinang air mata terperangah.
“Apa-apaan ini? Kalian tahu sopan santun, kan?” gusar Bu Kezia.
“Maaf, Bu. Kami ke sini mau menyampaikan sesuatu,” ujar Diana seraya membungkuk untuk meminta maaf.
“Ada apa?” tanya Bu Kezia.
“Begini... jadi...,” Lidya membuka suara.
“Sebenarnya...,” Astri ikutan menimpali.
“Kalian mau ngomong apa sih sebenarnya?” Bu Kezia mulai kesal.
“Bicara saja, Nak. Ibu nggak apa-apa,” ujar Bu Theresia lembut.
Diana, Lidya, Nindya dan Astri saling lirik melirik.
“Kami mau bilang bahwa anak yang memiliki pasangan liontin yang sesungguhnya itu bukan Meisya, tapi Moza,” ujar Diana lantang.
Bu Kezia terperangah mendengar ucapan Diana. “Apa kalian yakin? Kalian nggak bohong?” tanyanya.
Mereka semua menggeleng.
“Ini bukan permainan, Nak. Kalian nggak bisa main-main dengan hal ini,” kata Bu Kezia.
“Sudah, Bu. Mereka benar. Saya sudah yakin bahwa pemilik liontin yang sesungguhnya adalah Moza,” Bu Theresia menengahi.
Ia lalu menceritakan apa yang diceritakan oleh Meisya bahwa ia berada di panti asuhan ini berkat seseoang yang meninggalkannya di sini saat ia masih TK. Padahal anak yang dicarinya adalah seorang bayi yang dua belas tahun lalu ditinggalkan di sebuah panti asuhan ketika baru dilahirkan.
Mertua Theresia tidak ingin memiliki seorang cucu perempuan, jadi ia bersikeras untuk meninggalkan bayi itu di panti. Sebelum Theresia berpisah dengan bayinya, ia sempat menyelipkan liontin itu di dalam ransel yang ditinggalkan bersama Moza di depan gerbang panti.
Sekian lama Theresia mencari keberdaan anak semata wayangnya tersebut setelah kematian mertua dan suaminya dalam sebuah kecelakaan pesawat. Entah berapa puluh panti sudah ia datangi untuk mencari anaknya tersebut.
“Saya sangat bahagia saat menemukan liontin itu terletak di halaman rumah saya. Foto ini adalah foto suami saya,” tutur Bu Theresia. Air matanya kembali berlinang.
“Jadi Moza adalah anak ibu?” tanya Bu Kezia.
Bu Theresia mengangguk. “Saya yakin itu.”

Other Stories
Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Download Titik & Koma