Rembulan Di Mata Syua

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Mori Vivi

Pembuktian

Setelah menenangkan hati di pinggir kolam, Syua beranjak. Kembali melangkah menuju asrama putri. Dirinya akan membuktikan dan menemukan pencurinya. Sangat pantang bagi Syua jika dituduh. Apalagi itu bukan perbuatannya. Akan tetapi, lain lagi dengan kenakalan yang dia lakukan, tidak masalah bila dihukum.
“Kak Syua, jangan tinggalin Dini!” Bocah itu berlari menghampiri. Karena kakinya yang kecil, dia tertinggal jauh.
“Dasar lambat!”
Dini menyeringai, memperlihatkan giginya yang baru copot di bagian bawah. “Kan Dini masih kecil, kalau Dini sudah besar, nanti Dini juga bisa cepat larinya.”
Syua berdecak. Mungkin hanya Dini satu-satunya orang yang bisa melawannya dalam hal berbicara. Bocah polos itu selalu memang menggemaskan minta dijitak Syua.
***
Kali ini, Syua tidak bertindak ceroboh, seperti yang pernah dilakukannya di sekolah dulu. Saat itu, dirinya juga dituduh mencuri kalung milik Pricil oleh Kendrick, teman sekelas Syua. Tidak terima dihina dan dicap sebagai pencuri, Syua berkelahi. Adu tinju pun terjadi, akhirnya tinju Syua mendarat di hidung Kendrick. Berdarah, Kendrick pun menangis. Dasar cegeng.
Dengan mantap, Syua berjalan di depan. Di sampingnya ada Dini yang mencoba mensejajarkan langkah kakinya dengan Syua, sedangkan di belakang ada Ustazah Ainun dan Zahra. Mereka menuju asrama putri untuk menggeledah semua koper santri termasuk loker besi. Itu ide dari Syua.
Setelah setengah jam kurang melakukan penggeledahan, mereka tidak menemukan HP Bunga. Ada beberapa santri yang merengut karena Syua tidak berperikemanusiaan, membongkar barang-barang mereka secara kasar. Berhamburan entah ke mana. Teguran ustazah pun dicuekin. Syua mulai nakal lagi. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil mencari barang hilang, kenakalan pun tetap berjalan.
“Kamu pasti sudah menyembunyikannya duluan!” tuduh Bunga pada Syua, “aku yakin ini hanya akalan-akalanmu saja agar kamu terbebas. Rencana dan alibimu tidak kuat!”
Mendengar kata alibi, Syua membuang napas. Berpura-pura memijit pelipis. Kemudian menggelengkan kepala. Itu mengingatkannya akan komik yang dia suka, yaitu detektif conan. Apa Bunga sekarang berpikiran yang sama dengannya? Oh, ketahuilah, Bunga tidak pantas menjadi conan.
“Tuduhanmu itu tidak ada bukti, Bunga! Aku bisa saja melaporkanmu pada polisi karena mencemarkan nama baik.” Wajah Syua dibuat seserius mungkin. Menirukan karakter kartun favoritnya, Shinici Kudo.
Bunga terdiam—menggigit bibir.
Kena kamu! teriak Syua dalam hati.
Ustazah Ainun hanya geleng-geleng kepala menyaksikan drama mereka. “Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi. Bunga, sekarang kamu sudah lihat, ‘kan? Syua tidak mengambil HP-mu.”
“Tapi Ustazah—”
“Semuanya, ayo beresin kembali barang-barangnya!” perintah Ustazah Zahra.
“Iya, Ustazah,” jawabnya lesu melihat pakaian mereka yang berantakan.

Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Desa Seribu Sesajen

"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Desa Ria

Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Download Titik & Koma