Papa Jahat!
Suara santri terdengar memenuhi halaman depan. Ada yang saling kejaran, main lompat tali, mengukir di tanah, main ayunan dan....
“Kak Syua turun! Nanti jatuh,” tegur Dini mendongak.
“Diamlah! Nanti Kak Syua ketahuan!”
Dini merapatkan mulut. Gadis cilik itu mengikuti Syua sampai ke halaman belakang. Tadinya ingin mengajak bermain, tetapi Syua keburu kabur karena kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Papa.
“Kak Syua lagi main petak umpet? Dini mau ikut!”
“Hus ... hus, sana!” Syua mengibaskan tangan agar Dini pergi menjauh. Syua tak habis pikir, kenapa dirinya selalu diikuti gadis cilik itu?
“Syua ... Syuaaaa!” Suara Ustazah Ainun memanggil. Perasaan ustazah mengatakan, Syua kabur. Ternyata benar. Di halaman depan pun Syua tak tampak.
“Hei! Jangan bilang aku di sini,” ucap Syua setengah berbisik.
“Apa Dini melihat Kak Syua?”
“Kak Syua di atas pohon, Ustazah,” jawab Dini polos.
Aisssh! Dasar anak kadal! Batin Syua menjerit. “Kenapa kamu bilang!?” geramnya.
“Maaf Kak Syua. Kata Ustazah, bohong itu dosa. Dini kan anak baik, Dini gak mau masuk api neraka.”
Syua menepuk jidat pelan. Susah kalau ngomomg sama anak polos.
Ustazah Ainun kaget melihat Syua hampir berada di puncak pohon mangga yang sudah lama tak berbuah. Pohon itu sudah tua, mungkin juga sudah lapuk. "Hati-hati, perhatikan tiap langkahmu, Syua".
“Ayo turun! Nanti jatuh.”
"menggeleng dan berteriak, “Syua gak mau ketemu Papa maupun Mama.”
Ustazah menarik napas—perlahan mengeluarkan melalui mulut. Kalau syua nekat, seharian dia gak mau turun. “Syua, dengerin ustazah. Papa ingin bertemu. Apa Syua gak kangen Papa? Apa Syua tega melihat Papa bersedih, menunggu seharian?”
“Kak Syua, ayo turun!” rengek Dini menambah memeluk bear-nya.
Setelah sepuluh menit membujuk, akhirnya Syua turun juga. Dan memeluk ustazah—menangis dalam pelukannya.
“Syua juga kangen Papa, Ustazah!”
“Mari ustazah antar ke Papa.”
Perlahan, Syua melangkah memasuki ruangan tunggu yang dikhususkan untuk para tamu. Dengan perasaan rindu, Syua berhamburan dan memeluk sang Papa erat. “Syua kangen Papa!” lirihnya.
“Papa juga. Bagaimana kabar Syua?”
“Khoir, alhamdulillah,” jawab Syua seakan memamerkan apa yang didapat di pesantren. “Pa ... siapa perempuan itu?” Ingat Syua pada wanita yang pernah dilihatnya di kafe saat itu.
“Bagaimana di pesantren? Apa Syua suka di sini?” Papa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Syua turun dari pangkuan Papa. Duduk di sofa yang berbeda.
“Apa Papa sudah menikah lagi? Apa karena wanita itu Papa-Mama pisah? Apa karena Mama gak bisa mengasih keturunan?” Beribu pertanyaan dilontarkan. Pertanyaan terakhir membuat Papa sedikit syok.
Sebanyak itukah Syua mendengar perkacapan kami? Batin papa. Syua masih kecil, masih belum bisa memahami masalahku sekarang.
“S-Syua, dengerin pa—”
“Apa karena Syua masih kecil dan belum mengerti?” Seakan terbaca apa yang disampaikan Papa. Syua menjerit kesal dalam hati. Kenapa orang dewasa selalu menganggapku kecil? Tidak boleh mengetahui masalah mereka. Apa seribet itu?
Tangisan Syua tertahan. Dadanya kempang kempis menahan amarah dan air mata.
“Maafkan papa, Syua. Karena belum bisa menjadi papa yang baik.”
“Papa jahat! Papa gak sayang sama Syua!” teriaknya berlari ke luar.
***
Syua menutupi wajah dengan bantal—raungannya tak begitu jelas terdengar. Dia juga gengsi jika teman-teman mencapnya sebagai anak cengeng. Mau ditaruh di mana wajah cool-nya?
“Ternyata itu benar. Papa sudah menikah lagi,” ucap Syua menafsirkan raut wajah Papa yang terlihat sendu. Syua melepas bantal yang sedari tadi menempel di wajah—sesak—Syua butuh pasokan oksigen.
“Seharusnya kamu bersyukur karena Papamu masih memperhatikanmu.”
Syua membalikkan badan. Melihat sosok yang sok tahu lalu mengernyit.
“Kamu tahu ... kenapa aku berada di sini? Papa-Mamaku sibuk, mereka sedang di luar negeri. Makanya, aku dititipkan di sini untuk sementara waktu.”
“Apa Ustazah Aisyah tantemu?” tanya Syua.
“Iya.”
Untuk beberapa saat, mereka diam. Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Syua bisa merasakan bagaimana sepinya rumah tanpa orang tua. Mereka sama. Dini pun juga, si bocah cilik itu lebih memilih tinggal di pesantren daripada di rumah.
“Apa kamu sepemikiran denganku?”
Bunga menyernyit.
“Setelah lulus sekolah, aku mau melanjutkan ke MTS,” lanjut Syua.
Bunga tersenyum. “Semoga kita bisa berteman baik. Tapi ... baru kali ini aku melihat gadis tomboi yang cengeng.” Cibir Bunga berlari ke luar dan menutup pintu kamar dengan cepat.
“BUNGA!” teriak Syua dari dalam. Sedangkan Bunga cekikikan di luar.
Ternyata, bukan aku saja satu-satunya korban yang ditinggal orang tua, mungkin di luar sana lebih banyak lagi. Tapi, aku masih bersyukur ada Mama yang selalu menemani. Syua kangen Mama. Tak terasa air mata Syua bergulir. Seminggu lebih tak bertemu Mama, Syua kangen berat.
Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Jjjjjj
ghjjjj ...