Pertengkaran
Malam tadi Ragam bersikap aneh. Dia bilang ada sosok menyeramkan mengikutinya. Namun, nyatanya sosok itu tidak ada. Semalaman aku dan Mas Ezira membahas hal itu. Tapi, Mas tak mau mendengarkan. Dia bilang itu hanya halusinasi anak kecil, toh ternyata sosok itu tak pernah kita lihat.
Pagi ini, Mas buru-buru berangkat ke kantor. Dia tidak sarapan, karena katanya takut terjebak macet. Sementara Nindya berangkat agak siang dan Ragam, dia tidak datang ke meja makan. Aku segera pergi ke kamar Ragam dan dia masih tertidur.
“Gam, ayo bangun. Ini udah jam setengah enam loh, nanti kesiangan.” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tapi tidak ada reaksi apapun.
Mendapat reaksi seperti itu aku tak berhenti membangunkannya, dia harus segera bangun. Terlebih karena jarak rumah dan sekolahnya cukup jauh. Jika terkena macet, dia pasti kesiangan.
Ragam menggeliat, perlahan dia membuka mata dan sesekali menguap “Ada apa?” tanyanya.
“Ini udah hampir jam 6 Gam, cepetan mandi dan sarapan, nanti kesiangan.”
Ragam segera bangkit, mendengar kata jam 6 dia terkejut, lantas buru-buru berlari ke kamar mandi.
Setelah Ragam dan Nindya pergi, tak ada kegiatan berarti di pagi ini. Cucian dikirim ke tempat laundry, sementara aku hanya menyapu lantai, lantas kembali bermain ponsel. Rencananya, minggu depan akan ada arisan di rumah ini dan banyak yang akan datang.
Berdasarkan perjanjian rujuk dengan Mas Ezira, aku harus berhenti bekerja dan fokus mengurus Ragam serta Nindya. Tapi, mereka sudah besar. Rasanya tak perlu diurus begitu detail. Untuk mengurangi kebosanan, beberapa kali aku memesan pakaian dan make up di online shop. Bahkan, untuk makan malam pun hanya mengandalkan pesan online. Tidak perlu repot-repot masak, hanya duduk manis dan bisa terus berkomunikasi dengan teman-teman di grup whatsapp.
Gimana liburanmu kemarin? Tak ada hal yang aneh bukan? Isi chat di grup whatsapp.
Ah tidak ada kok, hanya saja Ragam bertingkah sedikit aneh malam tadi. Dia bilang ada sosok menyeramkan. Tapi nyatanya tak ada siapa-siapa. Balasku.
Awas loh, bisa-bisa sosok itu ada di sampingmu dan kebetulan sedang membaca chat kita.
Giliran Bu Anita yang memanas-manasi.
Tiba-tiba saja bulu kuduk berdiri dan spontan aku menengok ke arah samping kanan kiri. Tak ada siapa-siapa. Angin berembus lumayan kencang, padahal di luar cuaca sangat cerah. Aku bangkit, melihat ke arah jendela yang berada tak jauh di depan. Sama saja, tak ada siapa-siapa.
Ah untunglah, tak ada siapa-siapa di sini.
Aku memutuskan untuk tidak membalas chat lagi. Percuma saja, mereka malah menyudutkan dan menakuti. Ya, bisa jadi sosok yang semalam mengganggu Ragam, kini sedang membaca isi chat tadi. Tak ada yang tahu.
“Loh, kok tumben udah pulang jam segini?” Aku membuka pintu dan Mas Ezira ternyata sudah pulang.
“Mas sedang bingung, tolong siapin minum.” Mas Ezira menerobos, tanpa menanggapi tangan yang aku sodorkan.
Aku segera menyiapkan minum, lantas datang kembali ke ruang depan. Mas Ezira sedang memijat-mijat kepalanya.
“Mas sakit?” tanyaku. segera pergi ke belakang Mas Ezira dan memijat kepalanya.
“Jangan banyak tanya dulu, Mas bingung. Mas lapar, udah nyiapin makan?”
“Udah, tadi sebelum Mas datang, aku sudah memesan makanan,” jawabku sambil terus memijat kepala Mas Ezira.
Mas Ezira bangkit, dia berbalik ke arahku. Matanya melotot, wajahnya memerah.
“Ngapain kamu pesan makanan? Bukannya kamu bisa masak? Kamu emangnya ngapain aja dari tadi pagi?” Mas Ezira membentak. Dia berkacak pinggang, matanya masih melotot.
“Aku malas masak, cucian aja aku kirim ke tempat laundry,” jawabku polos.
Mas Ezira terlihat semakin marah. Dia hampir saja menampar.
“Mas ini kenapa, sih? Gak boleh ya aku bersantai sedikit?” tanyaku dengan nada yang cukup tinggi.
“Kamu pikir kita akan selamanya kaya? Kamu pikir semua uang yang Mas punya gak akan habis? Harusnya jadi istri bisa dong menghemat pengeluaran, jangan hambur-hamburkan dengan sesuatu yang gak penting seperti itu!” bentak Mas Ezira.
“Apaan sih, Mas? Aku pesen makanan gak nyampe 500 ribu, terus laundry gak nyampe 100 ribu. Kenapa Mas sampai marah kayak gitu? Bukankah Mas yang ngelarang aku kerja? Sekarang Mas datang malah marah-marah untuk hal sepele kayak gini.” Aku balik membentak Mas Ezira. “Udah ah, aku pusing mau istirahat. Kalau Mas lapar tinggal makan aja. Makanannya udah ada tuh di meja,” lanjutku dan pergi meninggalkan Mas Ezira.
Masih terdengar jelas Mas Ezira memanggil namaku. Sepertinya dia masih marah. Tapi, aku tak memperdulikannya. Biar saja dia terus marah, toh nanti dia capek sendiri.
Baru beberapa hari hidup bersama pun, Mas Ezira masih saja suka marah. Dia mempermasalahkan hal kecil yang tak seharusnya dipermasalahkan. Makanan, laundry rasanya tak perlu sampai menghemat. Untuk apa dia bekerja, jika uangnya harus dihemat? Bukankah uangnya untukku dan anak-anak? Ah, Mas memang sudah berubah lebih galak. Bahkan, untuk permasalahan sekecil ini.
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...