Bisikan Lada

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Imas Pupu

Tuduhan

   Ah, sial! Semua orang menuduhku menjadi dalang akan kekacauan yang terjadi di gua. Papa terus saja menggerutu, pun mama. Liburan kali ini harus berakhir tanpa kesenangan apapun. Padahal yang kulakukan hanya melanggar mitos itu, lagi pula zaman sekarang siapa yang akan percaya pada mitos. Itu hanya pembodohan saja, mana mungkin ada mitos yang jika dilanggar akan memberikan kesialan.
“Ngapain sih Gam pake teriak kayak tadi segala? Kamu ngerasa jago? Aku juga gak percaya kali sama mitos, tapi bisa gak sih hargain kepercayaan orang. Apalagi tadi ada orang lain, dia pula yang kesurupan bukan kamu,” ketus Nindya.
Dia duduk di sampingku. Setelah kejadian tadi, kami memutuskan untuk pulang.
“Apaan sih? Cuma teriak doang kok. Lagian tadi itu yang kesurupan cuma satu, bukan kesurupan massal. Ada yang salah? Oh iya, padahal akan lebih bagus jika kamu saja yang kesurupan,” celetukku.
“Jadi, kamu teriak kayak tadi gara-gara mau aku kesurupan. Udah aja, bunuh sekalian kakakmu ini. Tapi ingat, sebelum kamu membunuhku, aku sendiri yang akan membunuhmu terlebih dahulu.” Nindya melotot ke arahku. Sepertinya perkataan dia serius, enak juga kayaknya jika aku dan dia saling bunuh dan saat itu aku bisa tahu, Mama atau Papa yang ada di pihakku.
“Apa-apaan sih kalian berdua? Berantem aja terus dari tadi, saling nyalahin, ujung-ujungnya malah ingin saling membunuh. Dia udah kuliah, harusnya ngasih contoh yang baik untuk adiknya. Ragam masih sekolah SMP, seharusnya bisa hormat kepada kakakmu itu. Jika Mama dan Papa sudah gak ada, kalian aka seperti apa? Mau saling membunuh?” jelas Mama.
“Kalau emang mau ngebela Teh Dya, gak usah pake acara kalau mama sudah gak ada. Udah basi Ma, Ragam udah gede gak bisa dibohongin kayak gitu,” ketusku.
Aku segera memakai headset dan menyalakan musik sekencang-kencangnya, tak lupa memainkan game online. Entahlah apalagi yang dikatakan Mama dan Teh Nindya, aku gak peduli.
Mobil terus saja melaju diteriknya siang hari, jalanan sedikit lengang, walau beberapa kali ada antrian kendaraan. Di dalam mobil, perasaanku menjadi kurang enak. Di luar, seolah ada beberapa orang yang sedang memerhatikan. Sekilas terlihat wajahnya menyeramkan dengan beberapa sayatan di wajah, matanya melotot dan dia tersenyum lebar ke arahku. Spontan aku menutup wajah dengan sepuluh jari, menimbulkan keheranan pada Mapa, Mama dan Teh Nindy.
Kurasa ada yang menyikut dan spontan tubuhku memberikan reaksi, menoleh ke arah sumber sikutan itu.
“Kenapa?” tanyaku ketus.
“Habis liat setan, ya? Wajahmu pucat seperti itu,” ledek Teh Nindya.
Aku tak menjawab, memalingkan wajah. Lalu kembali memainkan game online. Sebenarnya sosok itu tidak menghilang, hanya saja aku pura-pura tak melihat apapun. Lagi pula, Papa, Mama dan Teh Nindy pun tidak memberikan reaksi ketakutan sekalipun. Bisa jadi, ini hanya halusinasi saja, gara-gara kejadian di gua tadi.
Setengah jam kemudian, kami sampai di rumah. papa, mama, dan teh Nindy terus saja menyalahkanku. Tak ada yang membela. Ya, inilah keluarga yang ingin dianggap normal oleh orang lain. Keluarga yang isinya tidak pernah bisa mendukung satu sama lain, keluarga yang lebih senang menyalahkan dibanding memperbaiki hubungan. Masing-masing anggota keluarga mempunyai ego yang sangat tinggi. Tak ada alasan bagiku membenci Papa, Mama dan Teh Nindy. Mereka tak pernah sedikitpun memberi dukungan atas apa yang aku lakukan.
Papa cenderung berpihak pada Teh Nindy. Saat pisah dulu, bahkan mereka lupa kalau punya dua orang anak. Mereka hanya memperebutkan Teh Nindya. Sementara aku, harus siap-siap dengan keputusan Teh Nindy. 3 tahun bersama papa, tak pernah kudapatkan kasih sayang. Dia membiarkanku mencari jati diri dengan umur yang masih muda; 15 tahun. Jadi, apakah salah jika kulampiaskan semua amarah pada game online ini. Game yang bisa memberikan penghargaan atas apa yang kukerjakan. Tidak seperti keluargaku.
“Denger gak sih apa yang Mama katakan, Gam?”
Seketika lamunanku buyar dan kembali harus memerhatikan mereka. Kulihat papa dan Teh Nindy sedang duduk di ruang keluarga menikmati cemilan. Sementara aku, harus berdiri di hadapan mereka, tanpa belas kasih apapun.
“Apa harus Ragam terus-terusan menderita seperti ini? Nyadar gak sih keluarga ini sudah tidak seperti keluarga pada umumnya. Mama yang dibilang orang tempat ternyaman bagi setia anak, nyatanya hanya bisa menyudutkan tanpa membela sedikitpun. Papa yang kata banyak orang pasti akan melindungi kita, nyatanya hanya diam saat aku dimarahi, hanya diam saat aku menanyakan beberapa tugas di sekolah yang tak bisa dikerjakan. Dan terakhir, apakah pantas sebutan Teteh diberikan pada sosok yang sama sekali tidak pernah menyayangi adiknya, selalu menyalakan api kebencian? Ah, sudahlah. Lebih baik aku ke kamar dan beristirahat daripada harus mendengar ocehan kalian semua.”
Tanpa mengindahkan perkataan mereka yang tak terdengar, aku segera bergegas ke kamar, lantas menguncinya. Di dalam kamar, rasa tenang hinggap begitu saja. Walaupun entah mengapa, ada bisikan-bisikan yang menyuruhku untuk membunuh Teh Nindy.
“Siapa itu?” tanyaku agak berteriak.
Tapi tidak ada siapa-siapa. Aku memutuskan untuk memakai headset lagi dan menyalakan musik sekencang-kencangnya. Lantas berbaring di tempat tidur.
Aku terbangun karena perut keroncongan dan saat melihat jam, ini sudah tengah malam. Tidurku benar-benar pulas, batinku.
Aku memutuskan untuk pergi ke dapur. Tiba-tiba saja beberapa langkah dari kamar, terdengar ada yang sedang mengobrol dan jendela pun terbuka oleh angin yang cukup kencang. Aku berusaha tidak memerdulikan hal itu dan langsung berlari ke dapur, lantas menyalakan lampu. Di meja makan masih tersaji makanan, mungkin sisa makan malam. Tanpa pikir panjang, aku segera makan. Saat makan terdengar derap langkah kuda semakin mendekat ke arahku. Tak hanya itu, sosok yang pernah kulihat saat pulang tadi tiba-tiba saja ada di hadapan. Aku menjerit, spontan melemparkan sendok dan garpu serta langsung berdiri dan mundur. Sosok itu terus saja menatapku. Matanya merah, wajahnya penuh sayatan dan dia tersenyum lebar. Dia mendekat dan aku terus mundur. Hingga wajahnya dengan wajahku hanya berjarak beberapa senti meter saja, spontan aku kembali menjerit dan menutup wajah dengan sepuluh jari
“Ada apa?” samar terdengar suara seseorang yang rasanya sangat kukenal.
“Kamu kenapa, Gam?” sekarang suaranya terdengar lebih berat.
Aku menurunkan tangan dari wajah, lantas mencoba untuk membuka mata perlahan, dan dihadapanku sudah ada Mama, Papa serta Teh Nindy. Napasku tersenggal, debaran jantung seakan berdetak lebih cepat.
Mama menuntunku untuk duduk. Sementara Papa dan Teh Nindy pun duduk di depan. Mama memberikan segelas air.
“Kamu kenapa?” tanya Mama.
“Tadi, tadi ada sosok menyeramkan, Ma. Dia terus saja mengikuti Ragam sejak pulang dari gua itu. Wajahnya menyeramkan, matanya melotot dan merah,” ucapku gugup.
“Ah, kirain ada apaan, itu pasti halusinasi kamu aja, Gam. Dari tadi Papa gak liat tuh sosok seperti itu, kamu gimana, Dya? Lihat sosok seperti itu?” tanya papa. Namun, teh Nindy menggelengkan kepala.
“Mama juga gak lihat kok. Papa benar, mungkin saja itu hanya halusinasimu saja. Ya udah, kamu lagi makan kan? Kami tunggu.”
Selera makanku sudah tidak ada saat itu. Kenapa juga mereka tidak percaya padaku, padahal jelas-jelas sosok itu ada dan aku yakin dia mengikuti sampai ke rumah.
“Ragam tidur aja lagi, toh gak ada yang percaya.” Aku bangkit dan bergegas ke kamar. Pikiran masih dipenuhi dengan sosok tadi, sosok yang ternyata hanya mendatangiku saja.
“Dasar sosok payah, beraninya sama anak kecil,” umpatku.

Other Stories
Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Download Titik & Koma