Bisikan Lada

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Imas Pupu

Orang Bilang Aku Berubah

      Aku segera menyalakan lampu kamar, lantas melihat di cermin, apakah benar ada bercak hitam di leherku. Tapi, ternyata tidak ada apa-apa. Teh Nindy pasti berbohong padaku, dia hanya ingin terus mengobrol. Bertanya banyak hal tentang sosok yang kemarin menghantuiku. Ah, dia memang licik.
Tiba-tiba saja di cermin ada bayangan sosok kemarin, dia kembali menyeringai.
“Kamu akan mati, seluruh keluargamu juga akan mati,” bisiknya.
Spontan, aku menjauh.
“Tidak! Pergi kamu!” bentakku.
Aku segera naik ke tempat tidur, tapi sosok itu tidak juga menghilang. Dia terus mendekat dan perlahan terdengar suara derap langkah kuda di jendela. Matanya melotot, hingga salah satu matanya keluar dan terus mendekat. Bibirnya terus menyeringai, hingga muncul darah di kedua sudut bibirnya. Aku menutup wajah dengan selimut, ini benar-benar menakutkan.
Tiba-tiba ada yang menarik selimut, bahkan ada yang menyentuh dan menarik kakiku. Aku meronta, berusaha berteriak. Namun nihil, suaraku menghilang. Sekeras apapun berteriak, suara tidak muncul. Hingga aku terjatuh dari tempat tidur dan sosok itu sudah siap menikam.
Aku menggeleng, meronta. Tapi dia semakin dekat. Aku pikir menutup mata, sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
“Jika kamu tidak percaya mitos, jangan coba melanggar atau bahkan membuat kekacauan,” bisiknya. “Sebagai gantinya, semua nyawa di keluargamu, akan kuambil,” bisiknya lagi.
Bau amis semakin mendominasi. Bisikan-bisikan aneh lainnya terus terngiang di telinga. Aku coba membuka mata, namun sosok itu masih ada. Hanya berjarak beberapa senti meter saja dari wajahku. Matanya sudah kembali sempurna, tapi dia kembali melotot, hingga matanya terlepas ke wajahku. Tangannya menikam, lantas dia masih saja menyeringai dan darah menetes ke wajahku. Darah dari bibir sekaligus darah dari sayatan wajahnya. Takut sekaligus miris melihat sosok itu. Entah kenapa rasanya aku merasakan apa yang sebenarnya sosok itu rasakan. Dia terluka dan dia hanya tidak ingin penguasanya dijangkau oleh rakyat. Ah, perasaan apa ini.
Sorot cahaya membuatku beberapa kali mengerjapkan mata. Sementara, samar terdengar suara mama. Badan rasanya sangat sakit dan pegal. Aku mencoba meraba tempat tidur, tapi ternyata tempat tidurnya keras.
“Kamu kenapa tidur di bawah?” tanya Mama.
Aku menggeliat, entah kenapa kepala rasanya sangat pusing.
“Kamu sakit, Gam?” Mama mengecek dahiku.
Aku menggeleng dan dengan susah payah berusaha untuk duduk di samping Mama.
“Ragam gak ke sekolah Ma, seluruh badan Ragam rasanya sangat sakit.” Aku memijat-mijat lengan. Badan terasa sangat panas.
“Kok kamu bisa tidur di bawah? Itu apalagi bercak hitam di lehermu?”
“Bercak hitam apa sih, Ma? Gak ada apa-apa kok. Ragam mau istirahat lagi ya.” Aku mencoba bangkit menuju tempat tidur. Kurebahkan tubuh dan langsung menutupi tubuh dengan selimut.
“Bersih-bersih dulu Gam, habis itu sarapan. Papa sama Nindy udah nunggu di ruang makan,” saran Mama.
“Ragam sakit Ma, sarapannya nanti dulu saja,” rengekku.
“Ayo dong cepet sarapan dulu, cuci muka aja, kok. Mama tunggu ya di ruang makan.”
Mama pergi, selalu saja begitu. Memaksakan kehendak walau tahu anaknya ini sakit. Betapa menyebalkannya punya Mama seperti dia. Biasanya jika seorang anak sakit, mamanya akan membawa makan dan memanggil dokter, tapi Mama malah memaksa untuk sarapan bersama.
Aku mencoba bangkit, walau tubuh rasanya masih sakit, bahkan beberapa kali kepala terasa nyut-nyutan. Dengan sekuat tenaga aku mencuci muka, lantas bergegas ke ruang makan. Di sana semuanya telah berkumpul dan memulai makan.
“Ayo duduk, Gam,” ucap Mama.
Tanpa diberi instruksi pun aku akan langsung duduk. Mama mengambilkan seporsi makanan komplit. Aku duduk di samping teh Nindy. Dia terus saja memandang dengan tatapan heran. Beberapa kali dia mengernyitkan alis. Entah, apa yang sebenarnya dilihat oleh Teh Nindy, aku tak peduli.
Sarapan kali ini benar-benar terasa hambar, hanya beberapa suap yang masuk ke tubuh. Sisanya, termuntahkan begitu saja. Hingga akhirnya sarapan kali ini hancur karena ulahku. Beberapa kali, mama memijat bagian leher. Sementara Teh Nindy membawakan minyak kayu putih dan dibalirkan ke leher, kening dan perutku.
“Pa, tolong dong panggilkan dokter yang dulu pernah nangani penyakit Ragam. Takutnya penyakit dia kambuh,” pinta mama.
“Bukannya dari dulu penyakit Ragam itu magh? Kasih aja obat warung, nanti juga sembuh,” ketus papa. Dia sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor.
“Lambung Ragam perlu resep dokter, bukan resep warung kayak gitu. Ini Ragam loh, anak kamu. Tinggal telepon dokter aja, kok!” bentak mama.
“Ragam juga anak kamu, kenapa gak nelpon aja sendiri? Kamu pikir bayar dokter itu murah apa? Sana kamu aja yang telpon, kamu aja yang bayar dan kamu urusin anak kamu itu. Aku gak peduli. Aku mau berangkat.” Papa bergegas pergi, sementara mama terus mengikuti dan mengoceh di belakang papa.
“Aku anterin kamu ke kamar ya,” saran Teh Nindy, sambil menggenggam lenganku.
“Gak usah, aku bisa sendiri. Lagi pula dari kecil sudah diajarkan untuk bisa mandiri. Jika Papa dan Mama saja tidak peduli padaku, untuk apa kamu pura-pura peduli?” Aku mencoba bangkit dengan sisa tenaga, tangan kanan memegang perut yang rasanya semakin sakit.
“Terserah kamu mau bilang apa, aku hanya ingin membantu. Kamu tanggung jawabku.” Teh Nindy menuntunku berjalan. Tapi, aku mendorongnya.
“Aku bilang gak usah, aku bisa sendiri!” bentakku.
Aku berusaha mempercepat langkah menuju tempat tidur, sementara teh Nindy sudah bangkit dan ternyata menyusulku. Dia tetap menuntun untuk sampai di kamar tidur.
“Udah sampai sini aja, aku gak perlu bantuanmu lagi. Jangan tanya apapun kepadaku, jangan tanya sosok itu lagi atau mencoba masuk ke kamar,” pintaku dan setelah itu pintu kututup dengan cukup kencang. Entah apa yang ada dipikiran teh Nindy. Aku tak peduli.
Aku mengunci pintu, lantas duduk memeluk kedua lutut. Bagiku, Papa dan Mama sama saja, sejak dulu tak pernah benar-benar memperhatikan. Mereka selalu membandingkan dengan Teh Nindy. Mereka tak pernah sekali pun melihatku sebagai anak. Dari kecil, Papa seperti tak menyukaiku, begitu pun Mama. Mereka hanya akan fokus ke Teh Nindy. Saat sakit seperti ini pun mereka malah memperdebatkan dokter, bukan bagaimana cara menanganiku terlebih dahulu.
Papa bilang, aku harus bisa mandiri. Ini, itu harus bisa dikerjakan sendiri. Bahkan, saat sudah pisah dengan Mama dan aku mau menanyakan tugas sekolah yang tak dimengerti, papa malah membentak. Bilang bahwa aku hanya mengganggu pekerjaannya.
Coba saja bila Teh Nindy yang sakit, mereka pasti akan buru-buru memanggil dokter. Menyuapi Teh Nindy dan memanjakannya. Sementara aku? Tak lebih seperti anak tiri.
“Aku butuh sosok itu, bunuh saja mereka. Mereka yang bahkan tidak menganggapku ada. Bunuh saja mereka, aku ikhlas. Papa, Mama, dan Teh Nindy, cabut nyawanya secara keji. Aku tak butuh mereka lagi,” isakku.
Tiba-tiba saja bisikan-bisikan itu mulai datang kembali, bergema di seluruh tempat tidurku.
“Bunuh mereka, kamu akan bahagia.” Kata-kata itu terus saja terdengar berulang dan entah kenapa hatiku pun mengiakan apa yang menjadi bisikannya. Sosok itu memang tidak hadir, tapi aku dapat merasakannya sedang berada di rumah. Entah apa yang akan dia kerjakan, tapi mereka pasti mati.

Other Stories
Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Download Titik & Koma