Berhemat Bukan Kikir
Rasanya kantor seperti neraka hari ini. Para klien banyak yang mengeluh soal pelayanan di perusahaan, bahkan ada yang sampai mengambil kembali sahamnya. Aku memutuskan untuk pulang lebih cepat, terlebih ini hari pertama pulang ngantor langsung ketemu Aya lagi.
Hatiku merasa senang, karena ternyata Aya menyambut kedatanganku. Dia melayaniku dengan baik.
Tapi tiba-tiba saja dia membuat otakku meledak, bagaimana mungkin dia hanya bersantai di rumah, sementara untuk mencuci dan memasak pun tak ada waktu. Dia hamburkan uang dengan sengaja membeli makan dari luar, tak hanya itu, dia juga mengirim cucian ke laundry. Aku benar-benar tak habis pikir dengan pemikirannya itu. Dia juga langsung pergi begitu saja, di saat aku masih memanggilnya. Seharusnya aku yang marah bukan dia. Tapi, malah dia yang pergi ke kamar dan mengurung diri. Coba saja dia bisa membedakan antara berhemat dan kikir, pasti tidak ada serumit ini.
Pikiran semakin kacau. Peran istri sepertinya sudah hilang dari pribadi Aya. Dia jadi seenaknya seperti ini, kembali lagi ke beberapa tahun yang lalu saat belum pisah. Entah harus dengan cara apa aku mendidiknya, rasanya dia tidak pernah patuh sama sekali.
Aku memutuskan untuk makan apa saja yang ada, ibarat kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Uang yang sudah dibelikan, tak akan kembali lagi menjadi uang.
Saat makan, seperti ada yang aneh di bawah kursi. Aku segera melihat ke bawah, tapi tidak ada apa-apa. Lantas saat kembali melihat ke depan, tiba-tiba ada sosok berkulit gempal, wajah penuh sayatan, menyeringai dan meneteskan darah ke makanan yang akan aku makan. Sosok itu terus saja memandang ke arahku. Matanya melotot dan matanya lepas, jatuh ke atas sayur. Aku semakin tidak selera makan. Selain menyeramkan sosok di depan ini sangat menjijikan.
Aku segera pergi, memutuskan untuk mencari makan di luar.
“Gam, ke kantin, yuk?” ajak temanku saat pelajaran telah selesai.
“Gak ah, kalian pasti mau minta traktir kan. Karena aku berhasil menjadi juara di game online itu?” ketusku.
“Nah itu tahu,” jawab temanku yang postur tubuhnya lebih tinggi dariku.
“Enggak ah, nanti uangku cepet abis. Lebih baik aku beliin paket data dan main game lagi sepuasnya. Satu hal lagi, jangan minta-minta traktir lagi deh sama aku. Kayak orang susah aja minta traktir traktir.”
Mendengar perkataanku itu, teman-teman malah melotot. Kebanyakan dari mereka mengumpat, mencibir dan lain sebagainya. Aku tak memedulikan mereka, langsung balik kanan dan kembali ke kelas.
Saat jam istirahat, kembali lagi teman paling setiaku adalah game online. Tapi tiba-tiba saja rasanya aku ingin pipis dan segera bergegas ke toilet.
Selesai buang air kecil, aku mencuci muka, takut pelajaran selanjutnya malah mengantuk. Aku bercermin, merapikan dasi dan rambut yang sedikit berantakan. Tapi, tiba-tiba ada bayangan hitam gempal di cermin. Lamat-lamat kulihat, sosok itu seperti sosok yang tadi malam mengangguku. Ya, tidak salah lagi, ini sosok yang tadi malam.
Aku menghela napas panjang, lantas langsung berlari. Tapi, tiba-tiba saat keluar, lantai sangat licin dan aku terpeleset sampai menabrak guru yang sedang membawa tumpukan buku.
Semua orang menertawakan, lantas setelah itu aku dipanggil oleh guru. Mereka menyuruhku untuk lari 6 putaran mengelilingi lapang upacara. Sebelumnya aku sempat mengelak, karena itu semua bukan murni kesalahanku. Tapi ternyata guru-guru tak percaya akan hal itu. Mereka lebih percaya jika aku melakukannya dengan sengaja.
Padahal hari ini ada ulangan harian dan persiapan untuk UN nanti, tapi mau gimana lagi aku harus mempertanggungjawabkan apa yang bukan menjadi salahku.
Other Stories
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...