Dia Adikku
A da yang janggal dengan Ragam hari ini. Saat sarapan wajahnya pucat, dan bercak hitam itu semakin banyak. Bahkan, sepertinya Ragam memang benar-benar sakit. Beberapa kali dia bolak balik ke kamar mandi untuk muntah. Yang dimakan cuma beberapa suap, yang dikeluarkannya lebih dari itu. Terlebih Mama dan Papa malah berantem, bukannya mengurus Ragam terlebih dahulu. Aku memag kurang suka dengan Ragam, tapi kakak mana sih yang gak respect saat adiknya sakit dan ternyata tak diperhatikan oleh orangtua sama sekali.
“Pa, berhenti!” teriakku berlari ke arah Papa.
Papa menengok, pun mama yang sedari tadi mengekor papa sekaligus memarahinya.
“Papa dan Mama itu gimana, sih? Yang sakit itu Ragam! Beberapa kali dia muntah tapi kalian malah berantem, apa sih sulitnya panggil dokter buat meriksa kondisinya? Liat gak sih kalau Ragam sekarang mulai berubah. Dia tambah tertutup, apalagi semenjak kejadian di gua itu. Lihat gak sih wajah Ragam sangat pucat, matanya merah dan di lehernya itu ada bercak hitam. Udah dong jangan berantem gara-gara hal sepele seperti ini. Kalian ingin Ragam mati?” tanyaku dengan nada yang cukup tinggi.
Papa mendekat, dia malah menamparku.
“Tampar aja Pa, segini gak sakit. Lebih sakit jadi Ragam, ditelantarain sama kalian berdua. Aku pun pernah jadi anak terlantar beberapa tahun yang lalu, dan rasanya benar-benar tak enak. Kalian lebih suka, lebih sayang dengan pekerjaan sendiri, sementara anak kalian? Capek aku ngomong sama kalian berdua!” bentakku, lantas segera pergi keluar.
Aku masih mendengar papa mengumpat, memaki. Tapi tak peduli, mereka berdua bagiku sama saja. Lebih mementingkan ego daripada keselamatan anak sendiri.
Aku memutuskan untuk ke kampus saja, walaupun kejadian kemarin di kampus benar-benar menyakitkan. Banyak gossip yang beredar bahwa aku selalu menyakiti Ragam, memukulnya, menampar dia bahkan sempat ingin membunuhnya. Ada beberapa foto yang dipajang di mading. Fotoku saat menikam Ragam, tapi itu bukan aku. Entah itu siapa, hanya wajah saja yang mirip. Aku gak tahu sama sekali, perbuatan siapa itu.
“Kamu kenapa, Dya?” seseorang mengagetkanku yang tengah melamun di taman kampus.
“Ah, kamu Xeon, kukira siapa. Enggak kok, gak apa-apa,” ucapku, saat tahu Xeon yang sudah datang.
Xeon duduk di sampingku. “Ada apa lagi?” tanyanya.
“Enggak kok, gak ada apa-apa.”
“Kita kenal udah lama, gak bagus nyembunyiin sesuatu dari teman lama.”
“Lagi pula jika aku ceritakan, aku tak yakin kamu akan percaya.”
“Foto kemarin yang ada di mading aja aku gak percaya,” timpalnya.
Aku menghela napas panjang dan langsung saja menjelaskan tentang semua yang terjadi di rumah. Tentang pertengkaran Mama dan Papa yang hanya dipicu oleh masalah sepele, tentang sosok menyeramkan yang pernah kulihat dan yang pernah dilihat Ragam, tentang hantu yang menyerupai Mama dan terakhir tentang sikap Ragam yang semakin aneh, semakin perasa, dan mulai ada bercak hitam yang terletak di lehernya.
Xeon diam sejenak, entah apa yang dipikirnya. Tapi, dia minta agar nanti sepulang ngampus bisa ikut pergi ke rumahku.
***
“Jadi, rumahmu masih sama ternyata?” tanya Xeon saat tiba di depan rumahku.
“Ya emang masih sama,” jawabku, turun dari motor dan melepaskan helm.
Xeon memarkirkan motor dan mengikutiku masuk ke rumah. Aku pergi dulu ke kamar, untuk mengganti pakaian. Sementara Xeon sudah duduk di ruang tamu. Beberapa menit kemudian aku langsung pergi ke ruang tamu dan mulai berdiskusi dengan Xeon, tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
“Siapa dia, Nin?” tiba-tiba saja mama datang.
Xeon langsung berdiri dan mencium tangan mama, setelah itu dia memperkenalkan diri.
“Beneran dia pernah ke sini? Kok Mama baru tahu sih, Nin?” tanya mama.
“Itu dulu Ma, Xeon memang sering main ke sini. Ya Mama gak akan tahu lah, orang Mama lebih sayang dengan pekerjaan saat itu,” ketusku.
Mama tak bisa menjawab, dia memutuskan untuk pergi.
“Bentar Ma, gimana keadaan Ragam? Udah dipanggilkan dokter?” tanyaku. Mama langsung terhenti dan melihat ke arahku.
“Mama belum liat Ragam lagi dari tadi, Mama juga lupa buat ngabarin dokter. Tapi, Ragam kuat kok. Dia pasti sudah sembuh.” Mama berbalik kembali dan pergi meninggalkan kita.
Aku tak habis pikir dengan apa yang Mama katakan, bagaimana bisa seorang ibu menelantarkan anaknya? Terlebih ini sudah sore, berarti sudah kurang lebih 10 jam Ragam ada di kamar, tanpa obat dan tindakan apapun. Ini benar-benar keterlaluan.
Aku segera berlari ke kamar Ragam, diikuti oleh Xeon. Pintu kamar Ragam ternyata gak dikunci, dan aku bersama Xeon langsung masuk saja. Ragam terlihat tengah berbaring, wajahnya sangat pucat, sementara bercak hitam itu semakin banyak. Kebetulan sekali Ragam sedang tidur dan Xeon merupakan anak kedokteran. Dia langsung memeriksa Ragam.
“Ragam gak sakit magh, Dya.”
Kita saling pandang dan saat itu, Ragam bangun, langsung bangkit dan duduk.
“Ada apa ini?” tanyanya.
“Ini Xeon, temanku. Dia hanya ingin memeriksa keadaanmu,” jelasku.
“Untuk apa? Bentar lagi aku sembuh, kok. Jangan pura-pura perhatian kayak gitu,” ketusnya.
Xeon meraba ke perut dan dada Ragam.
“Sudah diam!” bentakku.
Ragam terdiam dan ini mempermudah pemeriksaan lebih lanjut.
Xeon menanyakan beberapa pertanyaan seputar penyakit magh yang diderita Ragam. Ragam menjawab singkat dan ketus.
“Kayaknya ini beneran bukan magh,” ucap Xeon, saat selesai memeriksa Ragam.
“Aku juga yakin ini bukan magh kok, soalnya sakitnya bukan di bagian lambung. Tapi agak tengah dan sakitnya terus menjalar sampai leher. Jika ini magh, aku belum pernah mengalami kesakitan terparah seperti ini,” jelas Ragam.
“Mungkin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kakakmu?” tanya Xeon.
“Apaan sih? Gak ada yang disembunyiin sama sekali! Udahlah, udah beres kan periksanya? Kalian pergi aja ke luar!” bentak Ragam.
Tanpa mendebat perkataan Raga, kami langsung pergi ke luar.
“Aku beneran gak ngerti deh, jika memang ini ada kaitannya dengan semua yang kamu ceritakan. Lagipula aku juga gak ngerti tentang mitos yang Ragam langgar. Masih banyak pertanyaan yang aku juga gak tahu dapat jawabnya darimana,” jelas Xeon, saat kami berjalan menuju ruang tengah.
“Oh jadi anak gak tahu diri udah pulang?’ tiba-tiba saja Papa datang dan menghadangku.
“Apa sih yang Papa katakan? Sudah jelas-jelas ya apa yang Papa lakukan terhadap Ragam itu salah.” Aku tak ingin kalah dengan apa yang diucapkan papa.
“Kamu ajarin apa sih anak kamu ini? Gak ada sopan santunnya sama orang tua sendiri.” Kini giliran mama yang kena marah.
“Udah ya, Nindya mau pergi. Ada banyak urusan, ketimbang harus ngurusin orangtua yang gak bisa peka terhadap anaknya sendiri,” ketusku, lantas berlalu meninggalkan papa dan mama.
Walaupun lumayan agak jauh dengan balkon, tetap saja pertengkaran mereka terdengar.
“Mereka emang kayak gitu?” tanya Xeon, saat kami sudah duduk di balkon.
“Sepulang dari gua itu, mereka jadi lebih sering berantem gara-gara hal sepele.” Aku menimang-menimang
“Sehingga berimbas pada Ragam,” tambahku.
Xeon terlihat sedang berpikir.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
O
o ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...