Pengkhianat
Sejak kematian papa dan mama, rasanya tak ada semangat hidup sama sekali. Jasad mereka masih berada di rumah sakit untuk diotopsi. Di rumah Xeon, aku tidak bisa tidur. Kejadian mendadak seperti ini benar-benar membuat jantung syok.
Aku masih memikirkan tentang kebenaran ucapan Ragam, apa benar dia tidak ingin Papa dan Mama meninggal? Atau kemarin dia ikut hanya akal-akalannya saja agar mudah membunuh Papa dan Mama. Ah, entahlah. Ini benar-benar membingungkan.
“Udah sarapan, Dya?” Xeon tiba-tiba datang, membawa dua gelas teh manis hangat.
“Gak ada semangat makan dan semangat hidup. Hidupku sudah hancur berbarengan dengan kematian Papa dan Mama,” keluhku. “Aku tahu prioritas mereka berdua bukanlah aku atau Ragam, tapi jika harus kehilangan mereka rasanya sangat tidak sanggup dan tidak yakin bisa menjalani hidup,” keluhku.
Xeon menggenggam tangan, seolah memberi penguatan.
“Ayah dan ibumu ke mana?”
“Mereka sedang bekerja,” jawab Xeon singkat.
“Oh iya, kamu lihat Ragam gak?”
“Kalau gak salah dia masih di kamar tidur.”
Aku bangkit, bermaksud untuk membangunkan Ragam dan ingin membahas kemungkinan yang akan terjadi diantara kita berdua. Xeon mengikuti di belakang.
Samar terdengar di dalam kamar, Ragam sedang tertawa dan beberapa kali dia menyebut Papa dan Mama. Aku khawatir, lantas langsung membuka pintu.
“Ragam apa yang kamu lakukan?” Aku kaget saat membuka pintu dan didapati Ragam sedang mencorat-coret foto Papa dan Mama.
Kulihat Ragam menyembunyikan foto di belakangnya. Tapi aku segera merampas. Di foto terlihat ada gambar silang di wajah Papa dan Mama.
“Apa ini, Gam? Kamu bahagia dengan kematian Papa dan Mama? Jadi memang benar ya apa yang dibilang sosok dalam tubuhmu waktu semalam. Benar-benar jahat kamu Gam.” Spontan aku menampar ragam. Sementara Xeon pun tak melakukan apa-apa.
Ragam merampas paksa foto itu dari tanganku. “Ya, aku bahagia mereka meninggal. Mereka saja tak pernah menganggapku ada. Hanya Teteh yang mereka anggap ada. Pernah gak sih, Teteh rasain ada di posisiku? Coba rasain, sakit. Dianggap tak ada, dibanding-bandingkan. Hanya karena Ragam lebih suka olahraga dan bela diri mereka mandang Ragam beda dengan Teteh. Teteh pinter, selalu dapat juara pertama di sekolah, selalu dapat beasiswa. Lah aku? Ingin sekali Papa dan Mama datang di pertandinganku, tapi buktinya mereka selalu membuat-buat alasan, dan saat Papa dan Mama pisah mereka malah sibuk rebutin Teteh, sedangkan aku hanya pembuangan. Mama selalu bilang kalau Ragam juga anak kandung, bukan anak tiri. Tapi, apakah sikap mereka sama? Enggak, Teh.” Ragam memutar tubuhnya.
“Jika itu permasalahannya, kenapa kamu gak bilang? Ini hanya masalah sepele,” ucapku enteng.
“Ragam minta bantuan aja, Teteh selalu bilang sibuk. Pernah gak luangin waktu buat nanya keadaan Ragam? Gak pernah kan? Teteh nanya itu kalau lagi butuh sama Ragam, kalau enggak ya Teteh juga gak akan jawab semua pertanyaan Ragam. Masalah sepele atau enggaknya itu tergantung hati. Teteh udah dewasa, udah kuliah, harusnya bisa mengerti apa yang sebenarnya Ragam rasakan,” isak Ragam.
Aku sempat ingin mendebat pernyataannya itu, tapi Xeon melarang. Xeon berbisik bahwa saat ini, mungkin hati yang paling rapuh adalah hati Ragam. Jangan sampai hati dan pikiran Ragam dikuasai oleh sosok semalam. Bisa-bisa itu juga akan membuat mereka justru tidak aman.
Xeon mendekat ke arah Ragam, dia merangkulnya. Tapi, Ragam menepis tangan Xeon.
“Tinggalkan aku sendirian. Aku butuh waktu untuk sendiri,”ucap Ragam tanpa berbalik sedikit pun kepada kami berdua.
Xeon menarik tanganku. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya mengangguk saja.
“Kenapa kita biarin Ragam sendirian? Bukankah bisa jadi roh tadi malah menghasutnya?” tanyaku saat kami sudah berada di luar kamar.
“Ragam butuh waktu sendiri, biarkan dia sendiri. Cukup percaya padanya dan itu gak bakalan terjadi,” jawab Xeon tegas.
Rumah Xeon cukup besar, ada dua lantai. Memiliki 5 kamar tidur dan 3 kamar mandi. Xeon sendiri merupakan anak tunggal, hanya saja ayah dan ibu nya lebih mementingkan keperluan Xeon dibandingkan dengan pekerjaan mereka.
“Ayo makan,” ajak Xeon.
Tiba-tiba saja kakiku tidak bisa digerakkan, seperti ada yang menahannya. Aku menoleh dan ternyata ada sosok hitam gempal memegang erat kaki.
“Xeon,” gumamku.
Xeon langsung berhenti dan melihat ke arahku. Dia kaget karena ada sosok menyeramkan memegang kakiku. Xeon mendekat dan menarikku secara paksa. Tapi tenaganya tak cukup kuat. Aku malah tersungkur.
Suasana pagi semakin mencekap, gongongan anjing tiba-tiba bersahutan, ada juga suara orang menangis. Tak hanya itu, terdengar pula ribuan derap kaki kuda saling bersahutan mendekat. Kakiku sempat ditarik oleh sosok itu. Xeon tidak melepaskan tanganku, sehingga dia ikut terseret.
Mendengar kegaduhan, Ragam ke luar dari kamar. Dia terus menerus berteriak lada dengan suara yang semakin lantang.
Saat teriakan terakhir, tiba-tiba semua itu menghilang, entah pergi ke mana.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...