Bisikan Lada

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Imas Pupu

Semoga Terakhir

Kejadian tadi pagi membuat kepanikan meningkat begitu saja. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Ragam dan Nindya. Sesuai dengan instruksi salah satu pemuda yang menjadi korban, kami harus segera mendatangi pemilik nama itu.
Ragam dan Nindya sudah berada di kamar saat siang hari dan aku pun menyusul ke sana. Wajah Ragam terlihat semakin pucat, bahkan bercak hitam di lehernya pun semakin banyak. Setelah terus menerus browsing aku jadi tahu kenapa ada bercak hitam seperti itu.
“Gam, kamu sakit?” tanyaku sambil duduk di tempat tidur.
Ragam hanya menggeleng.
“Oh iya Dya, kamu lihat bercak hitam di leher Ragam? Kamu tahu artinya apa?”
Nindya juga menggeleng, sepertinya kakak beradik ini sepakat untuk menjawab pertanyaanku ini dengan anggukan atau gelengan kepala saja.
“Jadi gini, bercak hitam itu ternyata ciri dia yang melakukan pelanggaran terhadap mitos di daerah tersebut. Kemungkinan besar untuk selamat hanya sedikit, peluangnya lebih besar mati.” Xeon memelankan suaranya.
“Jadi aku akan mati?” tanyanya.
“Kemungkinan begitu, tapi kemungkinan Nindya selamat juga kecil. Kita harus segera sampai di gua tersebut sebelum matahari tenggelam. Ditakutkan jika terus dibiarkan, roh-roh jahat itu akan datang dan membawa nyawa serta jiwa kalian berdua. Kejadian tadi pagi bisa dijadikan contoh, bagaimana mereka datang di saat kita lengah,” jelasku.
Diskusi kami terus berlanjut. Kami memutuskan untuk pergi ke gua itu beberapa menit lagi. Setelah mobil sewaanku datang. Saat menunggu mobil itu datang, kami mempersiapkan apa saja yang harus dibawa.
Beberapa menit kemudian terdengar suara klakson mobil dan kami segera berangkat. Di sepanjang perjalanan, aku terus mendominasi dalam pembicaraan, sementara Ragam terlihat semakin murung.
Untung saja jalanan kali ini tidak terlalu macet, hanya memerlukan waktu satu setengah jam pun kami sudah sampai di tempat yang dimaksud. Aku, Ragam dan Nindya segera berlari. Tapi, entah kenapa jalan menuju gua itu terasa sangat jauh dan awan tiba-tiba saja mendung. Angin berembus sangat kencang dibarengi dengan dedaunan yang kebawa terbang.
Aku menggenggam tangan Ragam erat saat ada angin kencang itu. Sementara Xeon, entah pergi kemana. Padahal sebelum ada angin kencang, Xeon berada di depan kami. Ragam dan aku memutuskan untuk mencari Xeon lebih dulu, tapi nihil. Dia tidak ada di sekitar aku dan Ragam.
“Kita berangkat saja, siapa tahu dia sudah ada di gua itu,” saran Ragam.
Aku mengangguk, mengiakan saran Ragam. Ragam memimpin di depan.
“Lah, kok kita ke sini, Gam? Aku rasa kita salah jalan deh.”
“Jalannya memang ke sini kok. Teteh aja yang gak pernah perhatiin jalan.”
Aku tak mau berdebat lagi dengan Ragam. Dia mempunyai sikap tidak ingn kalah. Maka percuma saja.
“Itu di depan bukannya jurang, ya?” tanyaku.
Ragam tak menjawab, hanya saja suasana semakin mencekam. Suara binatang-binatang hutan mulai terdengar, apalagi bunyi gonggongan anjing yang paling mendominasi. Ragam tidak menengok ke arahku sedikit pun. Dia terus saja fokus pada jalanan, dimana aku yakin kita berdua tersesat.
Tiba-tiba di atas pohon terlihat seperti ada yang meloncat dan itu bukanlah monyet, melainkan sosok tadi pagi, tak hanya itu saja, ternyata ada sosok perempuan berambut hitam panjang sedang duduk di dahan. Dia menyisir rambut dengan jari-jarinya. Lantas terdengar menangis, meminta bantuan. Bulu kudukku benar-benar berdiri saat ini.
Ragam berhenti mendadak. Dia berbalik ke arahku dan ternyata mendorong.
Suara jeritan itu tak asing bagiku. Ya, itu suara Nindya. Aku segera berlari ke sumber suara. Namun ternyata yang kutemukan hanyalah Ragam sedang tertawa dan sesekali menangis. Aku menanyakan dimana Nindya berada, tapi nihil, Ragam hanya menunjuk ke bawah yang ternyata itu adalah jurang. Lagi, aku gagal menyelamatkan nyawa seseorang.

Other Stories
Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Download Titik & Koma