Bertahan Atau Mati?
Kejadian malam tadi benar-benar membuat kewarasanku berkurang beberapa persen. Hantu-hantu itu sungguh sangat menyeramkan, terlebih saat matanya terlepas dan mendarat ke arahku.
Mas Ezira begitu perhatian, dia memanggil dokter dan memeriksaku, yang anehnya ada beberapa sayatan di wajah. Aku tak tahu itu perbuatan siapa, yang paling penting nyawa ini masih ada dalam diri. Walau begitu, rasa syok masih ada dalam hati, terlebih saat melihat keadaan wajah.
Mas Ezira menyuapiku makan, setelah itu dia membantu meminum obat. Aku semakin bingung dengan apa yang dilakukan Mas Ezira. Dalam kurun waktu beberapa hari, sikapnya bisa berubah-ubah. Kadang jadi sangat pemarah, kadang bisa bersikap manis seperti ini dan kadang bisa menjadi orang yang paling menyebalkan.
“Mas percaya gak dengan apa yang kulihat semalam?” Aku mencoba memulai percakapan, setelah sebelumnya tak ada percakapan apapun diantara kami berdua.
“Percaya gak percaya. Percayanya, karena ada sayatan di wajahmu. Tak percayanya mana mungkin di zaman modern seperti ini masih ada hantu yang bisa jahat seperti ini,” jelas Mas Ezira. Dia duduk di samping, sambil sesekali mengelus rambutku.
“Kalau aku meninggal, Mas mau ngapain?”
“Maksudmu apa? Jaga bicaramu, siapa juga yang akan ngebiarin kamu mati seperti ini? Perihal kematian gak ada yang tahu, udahlah yang penting sekarang sembuh dulu,” jelas Mas dengan nada yang sedikit tinggi.
Mas Ezira terus saja mengelus rambutku, sesekali dia mencium kening. Andai saja Mas Ezira selalu bersikap seperti ini, mungkin tidak akan ada penyesalan dalam hati.
Ada suara pintu diketuk, Mas Ezira pun mempersilahkan orang yang dibalik pintu masuk dan ternyata itu adalah Xeon, Ragam dan Nindya.
“Ma, Pa, Nindy, Ragam dan Xeon mau pergi dulu ke suatu tempat. Kami mau menyelesaikan masalah Nindy,” ucap Nindy dengan nada yang cukup berbeda. Dia kembangkan senyum termanisnya.
“Emang kamu punya masalah apa? Bukannya Ragam sakit, ya? Kenapa dia ikut, wajahnya aja masih pucat,” ucap Papa.
“Ini loh masalah buat penelitian nanti, semester akhir dan Nindya butuh mereka berdua. Lagian Ragam sudah mulai membaik kok, emang wajahnya sedikt pusat. Tapi percaya sama Nindya, Ragam gak akan kenapa-napa,” ucapnya meyakinkan.
“Kira-kira pulang kapan? Mama harap jangan terlalu sore,” saran Mama.
“Oke siap,” ucap kami bertiga.
Sebelum berangkat, kami bertiga mencium tangan mama dan papa. Awalnya, Ragam tidak ingin melakukan hal itu, tapi aku melihat Xeon seperti membisikkan sesuatu kepada Ragam, hingga dia pun terlihat takut dan menurut saja.
”Mungkin saja Xeon biasa membuat Ragam berubah,” batinku.
Setelah mencium tangan, mereka langsung pergi menggunakan mobil Mas Ezira. Bertepatan mereka pergi, ada telepon masuk ke gadget Mas Ezira dan langsung diangkat lebih dahulu. Saat menerima telpon itu, raut wajah Mas Ezira menjadi berubah, dia membentak lawan bicaranya dan wajahnya sudah berubah menjadi merah padam.
“Mas kenapa?” tanyaku.
“Ini semua gara-gara kamu!” Mas Ezira malah membentak. Gadget dilempar begitu saja.
Aku berusaha bangkit, mendekati Mas Ezira yang kelihatannya sangat frustrasi.
“Ini yang aku takutkan, hanya ini, gak ada yang lain!” Mas Ezira kembali menggerutu, entah apa yang sebenarnya terjadi.
Aku masih duduk di tepat tidur, karena tidak sanggup untuk berjalan. Mas Ezira mendekat, dia malah menjambak rambutku.
“Lepas Mas, sakit,” rintihku, tapi tidak digubris sama sekali.
“Dengar kamu Aya. Semua ini gara-gara kamu, perusahaan jadi bangkrut. Mas udah bilang untuk menghemat, tapi kamu malah boros. Ini yang Mas sembunyiin dari kamu!” bentak Mas Ezira dan melepaskan jambakannya.
“Kenapa baru bilang? Bukankah jika bilang lebih awal aku bisa membantu perekonomian keluarga. Aku bisa kerja lagi kok.”
“Gak kerja aja kamu gak ngurusin anak-anak, gimana kalau kamu kerja? Mungkin aku juga akan terlantar seperti beberapa tahun yang lalu.” Mas malah semakin marah.
Tiba-tiba saja dia sodorkan pistol dan dia tembakkan ke arahku.
Xeon menjalankan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aku duduk di sampingnya, sementara Ragam duduk di belakang. Ragam tak berbcara apapun, dia menjadi sosok pendiam saat ini, entah karena takut kehilangan orang tua atau apa. Sementara Xeon terus mengajak berbicara, merencanakan sesuatu agar misi ini berhasil dan tak ada korban jiwa.
Tapi, mereka tidak tahu. Bahwa apa yang sedang diperjuangkan, justru telah gugur bersamaan.
Satu jam kemudian kami sampai di daerah itu. Xeon segera mencari tempat parkir dan memarkirkan mobil, setelah itu kami bertiga masuk dengan membayar tiket.
Xeon berlari memimpin, sementara aku terus memegang tangan Ragam, takut jika dia kenapa-napa.
“Coba Gam teriakan nama itu,” pinta Xeon.
Gua ini tidak seramai saat pertama kali kami kesini. Saat kami masuk, kebetulan tidak ada pemandu dan tidak ada siapa-siapa.
“Lada, lada.” Ragam berteriak dan tak ada reaksi apapun.
Ragam mencoba lagi, kali ini dia lebih lantang meneriakkan kata itu dan tiba-tiba hawa udara di dalam gua mendadak lebih dingin. Embusan anginnya pun terasa lebih jelas terdengar, tak hanya itu, Ragam mulai menampakkan keanehan. Dia berkacak pinggang. Matanya melotot ke arahku.
Keadaan semakin kacau, saat tiba-tiba suara bisikan, gonggongan anjing dan suara tangis bergema keras di gua tersebut. Bahkan, sesekali terdengar dentuman pistol. Ragam mendekat ke arahku, dia sudah siap menikam, namun tiba-tiba Xeon juga kemasukan. Dia memanggil Ragam dalam bahasa sunda dan sosok yang ada dalam diri Ragam pun menengok ke arah Xeon.
“Geus sabaraha kali urang mere nyaho tong ngaganggu batur nu datang. Keun bae dek nyebut naon ge, siga Lada teh ngaran maneh wae. Urang nu boga ngaranna ge teu nanaon, tong sok jajaguanan,” jelas Xeon dalam bahasa sunda yang cukup fasih. Sosok dalam diri Xeon sangat marah karena sosok yang ada dalam diri Ragam mempergunakan mitos untuk menakuti semua orang.
Ragam mengamit tangannya, dia memohon ampun kepada Xeon.
“Saya akan tetap membunuh mereka sekeluarga, diizinkan atau enggak itu terserah, yang terpenting Ayah dan Ibu mereka akan mati terlebih dahulu.”
Spontan, setelah mendengarkan apa yang dikatakan sosok dalam diri Ragam, aku berteriak. Semoga saja itu tidak benar.
“Geus lah, ulah nyieun batur sangsara. Ceuk urang enggeus nya enggeus,” ucap sosok dalam diri Xeon. Dia memerintahkan sosok dalam diri Ragam untuk tidak membunuh keluarga Ragam.
“Saya ngebunuh orang milih dulu. Jika anggota keluarganya saja ingin ngebantai keluarganya, saya bisa apa? selain membantunya. Ambisi dia besar karena kebenciannya terhadap keluarganya itu, jadi jangan salahkan saya jika orangtua merekalah yang akan pertama mati,” jelas sosok dalam diri Ragam.
Tiba-tiba saja Ragam terkulai lemas, mungkin sosok itu sudah pergi. Sementara sosok dalam diri Xeon mendengus kesal karena perintahnya tidak dilakukan, dan beberapa saat kemudian Xeon pun terkulai lemas. Aku tak tahu harus seperti apa membangunkan mereka berdua. Terlebih setelah mendengar penjelasan menyakitkan yang dilontarkan oleh sosok dalam diri Ragam, rasanya ingin cepat pulang saja. Berharap Papa sama Mama baik-baik saja.
“Jadi gimana, Dya?” Xeon sudah mulai sadar.
“Kita harus cepat pulang, mengehentikan kejahatan roh itu. Coba kamu gendong Ragam, biar kita cepat pulang,” saranku.
Xeon segera menggendong Ragam, lantas mengikutiku. Kami segera bergegas ke rumah. Tapi, saat siang seperti ini jalanan lumayan macet. Beberapakali Xeon menekan klakson, berharap ada jalan pintas atau ada sedikitnya jalan yang bisa dilalui.
Saat sampai di rumah, rumah ternyata sudah digaris polisi. Debaran jantung terasa lebih cepat, aku langsung keluar dan segera berlari ke arah tandu yang mengangkut seseorang. Semakin dekat, kucoba kuatkan hati. Selimut putih kucoba buka dan ternyata itu Mama. Wajahnya penuh darah, dadanya tertembak pistol dan di lehernya terdapat bekas cekikan.
Aku tersungkur, tak tahu apa yang akan dilakukan. Air mata mengalir begitu saja. Lantas, tandu selanjutnya melewati, aku hadang tandu itu dan melihat wajah di balik selimut putih dan tenyata itu benar Papa. Wajahnya lebih parah daripada Mama, bahkan tercium bau cuka di wajahnya itu. Tangannya penuh sayatan dan di leher terdapat sayatan yang menimbulkan aorta pecah, sehingga papa meninggal. Melihat semua itu, hati semakin terpukul. Xeon terus berada di dekatku, dia mencoba menenangkan. Walau aku tak bisa berhenti menangis histeris. Usaha yang dilakukan ternyata sia-sia.
Suara sirine ambulan membangunkanku. Entah mengapa, seluruh badan rasanya sangat sakit, apalagi dibagian leher. Aku mencoba bangkit, mendapati kenyataan bahwa hanya ada aku di mobil ini. Samar terlihat, rumah kami sudah ada garis polisi dan aku langsung saja membuka pintu, lantas berlari.
“Ada apa ini?” tanyaku pada Xeon dan Teh Nindy.
Teh Nindy bangkit, dia melihat ke arahku.
“Jadi ini yang kamu inginkan, Papa sama Mama mati? Untuk apa kamu ikut ke tempat tadi, kalau seandainya kamu sendiri yang menginginkan kematian mereka. Dasar adik kurang ajar!” Teh Nindy hampir menamparku, tapi untunglah langsung ditahan oleh Xeon.
“Maksudmu apa, hah? Siapa yang mau Papa sama Mama mati? Untuk apa aku setuju ikut kalian jika seandainya punya niat ingin membunuh Papa dan Mama? Udah saja kalau gitu aku tuangin racun aja di makanan mereka. Nah, untuk apa aku membunuh Papa dan Mama?” Nada suaraku cukup tinggi, sebagai penegasan bahwa tadi aku ikut ke tempat itu lagi bukan sebagai formalitas saja.
“Udah-udah, jika saling menyalahkan kalian juga akan mati. Kita cari solusi sama-sama, bukan saling menyalahkan kayak gini. Jika terus seperti ini sangat besar kemungkinan bahwa kalian akan mati.” Xeon menengahi. “Untuk masalah istirahat, kalian bisa nginep di rumahku,” lanjutnya.
Teh Nindy sudah mulai tenang, sementara aku masih tenang-tenang saja.
Other Stories
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...