Pasangan Cinta Tak Sepadan
Diam! Dini merasa hatinya meleleh. Jelas sudah status dirinya memang hanya sahabat untuk Widi. Pupus sudah harapan bahwasanya waktu yang bicara akan hatinya yang memendam rasa.
Sudah dicobanya dua minggu ini menjauh dan hanya menatap Widi yang berbeda kelas dari jauh. Mencoba sejenak menghindar pada setiap ajakan untuk bertemu. Kenyataannya tidak semudah itu. Apalagi Widi semakin riang bercerita tentang Angel yang ternyata diam-diam disukai dari pertama masuk SMA juga.
Ironis sekali, Dini dan Widi sebenarnya adalah pasangan serasi. Sama-sama cerdas, pintar, berprestasi, dan juga sama-sama menarik. Angel memang cantik sekali, bisa dibilang satu poin di atas Dini. Tetapi kecantikannya juga karena dukungan penampilannya yang serba berpakaian mewah, bermerek terkenal, dan juga dandanannya. Tapi sayang, untuk kepintaran jauh di bawah Ardini. Bahkan Angel mendapat julukan otak udang karena memang bodoh! Julukan lengkapnya ‘Si Barbie Berotak Udang’.
Cinta memang tak kenal logika. Ternyata Widi diam-diam suka dengan Angel karena kecantikannya. Tidak penting dengan otaknya yang jongkok sekalipun. Mungkin bagi Widi, tidak harus memiliki pacar sepintar dirinya.
Dan inilah kenyataan yang akhirnya membuat Dini merasa harus segera menjauh dari Widi kembali, saat pertama kali mengenal Widi.
Awal pertemuan mereka adalah sebuah cerita setahun yang lalu. Saat mulai menjadi siswa baru di SMA Seroja.
“Hai, nama aku Widi Putera Permana. Hmmm… nama kamu pasti Dini, ya?” cowok tidak terlalu tinggi berambut agak ikal, dengan mata binar mengulurkan tangannya. Seketika ia menatap dan hati Dini berdebar saat menerima sebuah senyuman dengan deretan gigi putih menawan. Wajah Widi menarik, dan apa yang dipakainya juga menarik di mata Dini.
“Iya namaku Dini,” ucapan yang barusan Dini katakan terdengar sangat kaku dan acuh tak bersahabat, sementara hatinya berdebar dan ingin mengenal lebih jauh.
Tak urung Widi tetap tersenyum walau ujungnya agak masam dengan sikap Dini yang dingin.
“Hmmm… aku tahu kamu cewek yang berprestasi. Kalau tidak, mana mungkin kamu yang mewakili para cewek untuk menjadi perwakilan murid baru tahun ini di upacara,” bisik Widi sambil siap berbaris berdampingan dengan Dini yang masih cuek.
“Kamu sendiri berarti sama dong! Murid berprestasi?” Dini balik menjawab pelan, karena takut mendapat bentakan Kak Adi yang tengah melatih para petugas upacara penerimaan murid baru SMA Seroja.
“Nggak sehebat kamu,” bisik Widi membuat Dini tersanjung. Hatinya berdebar tidak karuan berada di sisi cowok yang masih terasa asing baginya.
Beberapa murid-murid berprestasi alumni dari SMP lain banyak yang Dini kenal, karena kerap bertemu di ajang perlombaan. Sementara cowok yang bernama Widi, yang tengah berdiri tenang di sampingnya karena sama-sama akan berlatih untuk upacara pembukaan mahasiswa baru, rasanya Dini tidak pernah bertemu.
Selama ini, tidak pernah Dini merasakan debaran seperti ini terhadap cowok. Hanya baru terhadap Widi yang baru saja mengajaknya berbicara.
Ternyata Widi SMP-nya di Jakarta, baru SMA ini pindah ke Bogor. Widi anak berprestasi dari SMP Merdeka, Jakarta. Pantas saja dia pun terpilih mewakili murid laki-laki untuk maju di upacara pembukaan.
Awalnya Dini tidak mau terlalu dekat. Tapi kenyataan mereka kerap bersama dalam beberapa lomba seterusnya, Dini bersemangat untuk bersaing karena Widi juga bersemangat meraih prestasi.
Apalagi Dini dan Widi juga satu kelas di kelas XA. Membuat mereka berdua juga harus bersaing untuk menduduki rangking pertama di kelas.
Meskipun bersaing, mereka tetap bersahabat. Persaingan positif dan saling mendukung. Banyak waktu yang terlewati bersama, hanya saja selama ini Widi tidak pernah menyinggung sama sekali soal kedekatan mereka. Padahal jelas ke mana-mana mereka selalu berdua. Hanya sesekali Mela, sahabat mereka berdua menemani kalau memang kegiatan tidak harus berdua saja.
Dini dan Widi banyak terlibat beberapa lomba seperti cerdas cermat, murid teladan, karya tulis, dan beberapa lomba ekstrakurikuler seperti majalah dinding, Karya Ilmiah Remaja, dan baris berbaris.
***
“Din, sampai kapan kamu hanya menyimpan perasaan suka kamu ke Widi?” Mela kerap bertanya akan perasaan Dini.
Tanpa sengaja, Mela menemukan catatan di sebuah buku pelajaran Dini.Tertulis sebuah puisi untuk seseorang berinisial W.
Tentu saja Mela bisa tebak kalau itu adalah inisial Widi. Kerap Mela memergoki Dini menatap wajah Widi diam-diam lama.Tapi setiap ditanya apakah ada rasa lebih sekedar sahabat pada Widi, Dini selalu menyangkal.
“Engga Mel, aku hanya bisa bersahabat dengan Widi,” ungkap Dini pelan.
“Kenapa hanya bersahabat? Hai Din, kamu dan Widi kalau jadian, kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Widi keren, kamu cantik, sama-sama pintar, cerdas, berprestasi, dan sama-sama selalu jadi andalan sekolah kita,” Mela menerangkan panjang lebar.
“Tapi Mel, Widi sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan aku. Kita bersahabat sekaligus bersaing. Aku dan dia sama-sama selalu ingin menjadi nomor satu dalam hal apapun. Jadi kebersamaan ini hanya akan membuat kita terus bersaing, bahkan bisa saling menjatuhkan. Makanya kita bukan pasangan yang sempurna,” Dini mengemukakan alasan yang masuk akal agar Mela tidak mencecarnya dengan teori-teori kalau dia dan Widi adalah pasangan serasi.
“Iya juga sih, gimana pun di antara kalian pasti ada saja persaingan ya. Seperti kelas satu kemarin kalian bergantian saja memperebutkan juara umum. Semester pertama Widi rangking satu, tapi semester dua kamu merebut dengan sengit dan kembali menjadi rangking satu mengubah posisi Widi turun menjadi rangking dua,” Mela manggut-manggut mengingat dua sahabatnya yang bersaing tapi tetap kompak kelihatannya. Atau kompak karena harus berpasangan dalam setiap perlombaan dan ada beban tugas dari sekolah? Tampaknya hanya mereka berdua saja yang tahu.
***
“Ternyata aku masih harus bersaing lagi dengan Dini. Cewek ini tangguh juga, sayangnya aku tidak tertarik secara fisik dengannya. Padahal Anto bilang, kalau banyak cowok yang suka dengan dia! Terutama si badung, Arga!”
Widi tersenyum mengingat seraut wajah cantik blasteran yang masih susah diraih hatinya. Tapi wajah Dini, cewek yang selama ini dekat dengan dia, juga kerap melintas di pikirannya.
“Tapi... nggak! Aku memang nggak suka Dini! Aku lebih suka dengan Angel, meskipun dia tetap cuek dengan aku,” keluh Widi pelan.
Hatinya memanas mengingat beberapa kali Angel menolak dirinya. Tentu saja Widi diam-diam menyukainya karena menjaga agar tidak hadir gosip-gosip yang akan menjatuhkan mereka berdua.
Widi ‘Sang Bintang’, sementara Angel ‘Si Barbie Berotak Udang’, itulah julukan yang melekat.
Widi juga sempat heran, kenapa Angel bisa masuk SMA favorit kalau dia bukan siswa yang pandai. Usut punya usut, ternyata papanya adalah donatur terbesar SMA Seroja, dan Angel punya hak untuk diterima di sekolah itu. Tapi tetap saja Angel tidak bisa menutupi otaknya yang memang kurang cerdas alias bodoh. Dia malah menjadi bahan omongan. Untungnya Angel tipe gadis cuek, sehingga dia tetap saja melenggang masa bodoh dengan gank-nya yang juga anak-anak orang kaya. Walaupun mereka tidak sebodoh Angel.
Kebodohan Angel tidak membuat Widi goyah. Hatinya sudah terpanah asmara dengan kecantikan yang menjelma pada sosok Angel Permata Wijaya.
Untungnya Angel tidak ember juga mulutnya kalau tahu Widi menyukainya. Apalagi jelas-jelas Widi menembaknya tapi Angel menolak.
Ada yang membuat Widi bingung kenapa Angel menolaknya selama ini. Semua cewek sepertinya menyukai dirinya yang pintar, keren, dan kaya.
Tentu saja Angel tidak mau menjadi cemoohan seluruh anak-anak di sekolah dengan julukan pasangan yang tidak sepadan. Bisa jadi mereka mendapat julukan baru; ‘Si Pintar dan Si Bodoh’ bila berpasangan dengan Widi yang pintarnya tak tertandingi. Angel tahu, hanya Dini yang pas untuk menandingi kepintaran Widi.
Kalau mau jujur, ada sedikit rasa cemburu di hati Angel bila Widi sengaja memanasi dirinya dengan sok mesra dan sok akrab dengan Dini, yang memang selalu jadi partner dalam setiap perlombaan antar sekolah.
Mereka berdua sama-sama dipasangkan mewakili murid teladan dan cerdas cermat. Pokoknya, yang populer sebagai bintang adalah Widi dan Dini. Sepertinya mereka adalah pasangan sempurna bila mau jadian.
Hanya Angel yang tahu kalau Widi dan Dini tidak bisa jadian karena sang cowok menyukai dirinya. Padahal Angel tahu, sepertinya Dini menaruh hati pada Widi walau berusaha keras menyembunyikan rasa itu seakan antara mereka berdua hanya persahabatan.
Beruntung dia memilih jurusan Bahasa. Sehingga Widi agak sulit menemuinya, karena kelas Bahasa agak jauh dengan jurusan IPA—yang Widi dan Dini ambil.
***
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...