Penolakan Si Barbie Berotak Udang
“Angel, kamu belajar dong! Papa malu nih dapat teguran soal kamu yang sepertinya nggak bisa ngikutin pelajaran di sekolah,” Papa Wijaya menegur putri tunggalnya yang tengah asyik memakai kutek pink.
“Angel juga sudah belajar Pah, Tapi kok pelajarannya susah amat ya!” jawab Angel cuek.
“Kamu belajarnya sambil kutekan gitu mana bisa masuk ke otak! Meskipun Papa donatur besar di sekolah kamu, tapi kalau masalah nilai kamu yang memang jelek, Papa nggak bisa bantuin apa-apa!” ancam Papa Wijaya kesal dengan Angel, anak gadisnya yang manja.
“Iya… iya, nanti Angel belajar lagi!” jawab Angel kesal.
“Kamu coba deh bergaul dengan anak-anak yang berprestasi seperti Dini dan Widi yang selalu mengharumkan nama sekolah. Jangan hanya dengan Levi, Dinar, Tian, dan Zita yang hanya mengajak kamu keluyuran nggak jelas!”
“Dini lagi! Widi lagi! Nggak asyik, ah Pah!” Angel kabur dengan mengangkut kutek-kuteknya ke kamarnya daripada mendengarkan saran papanya terus.
Papa Widjaya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan putrinya. Tanpa tahu betapa hati Angel paling sebal kalau dibandingkan dengan Dini dan Widi. Apalagi cowok bernama Widi yang sebenarnya menyukainya tapi membuat Angel mual! karena jelas Widi sangat berbeda dengan dirinya yang suka dengan dunia glamour. Sementara Widi, meskipun anak asal metropolitan, tapi sepertinya tidak terlalu suka hal-hal yang gemerlap.
“Tentu saja mereka tidak bisa jadian karena Widi jelas suka sama aku,”Angel jadi teringat, diam-diam sudah dua kali Widi menyatakan cintanya. Dan dua kali juga Angel menolak Widi dengan cara menggantung. Menolak tapi masih memberikan harapan, Angel juga meragu.
Sebenarnya bukan maunya untuk menggantungkan cinta Widi, Angel tak bisa tutup telinga dengan julukan Si Barbie Berotak Udang. Dan julukan ini cukup membuat dirinya terganggu juga. Mau secuek apapun dirinya, kalau papanya juga sudah terus menerus mengingatkan dirinya untuk serius belajar, membuat Angel panas juga.
Mau bagaimana lagi, otak Angel memang pusing kalau sudah masalah pelajaran. Hampir semua pelajaran tidak ada yang Angel suka. Hanya pelajaran bahasa yang masih membuat Angel berminat karena dirinya yakin, harus bisa berbahasa Inggris agar bisa keliling dunia dengan kekayaan papanya yang tak akan habis tujuh turunan.
***
“Angel, jadi gimana, kamu masih menolak aku?” tanya Widi yang sengaja mencegat Angel yang tengah menuju mobil jemputannya.
Angel menatap tajam Widi yang selama ini selalu dikagumi semua orang karena prestasinya. Tapi sekarang, Widi tak lebih dari cowok yang tengah memohon cintanya.
Sebenarnya Angel ingin tertawa senang karena dia yang selama ini dianggap ‘Si Bodoh’, bisa menaklukkan ‘Si Bintang Kelas’. Tapi apa kata dunia kalau mereka jadian? Yang ada hanya ejekan Si Barbie Berotak Udang dangan Sang Bintang, lagi-lagi Angel merasa tidak sepadan dengan Widi.
“Mau ditaruh di mana muka aku kalau aku terima kamu, cowok pintar? Aku nggak mau jadi pacar kamu. Apalagi geng aku, Levi, Dinar, Tian, Zita, nggak akan suka kalau aku jadian dengan cowok kutu buku. Nggak asyik!” Angel kembali menolak Widi dengan wajah merah padam.
Widi menahan hatinya yang bergemuruh. Untuk ketiga kalinya Angel menolaknya. Padahal Widi berniat untuk membantu Angel yang tengah kesulitan dengan jurusan Bahasa di kelas XI.
Widi ingin membantu Angel. Setidaknya bisa mengikuti pelajaran jurusan Bahasa yang Widi yakini Angel mampu, hanya saja rasa malas belajar dan hobi ber-hang out atau keluyuran tidak jelas yang membuat Angel tidak konsentrasi belajar.
Widi tahu, papa-mama Angel sibuk dengan bisnis keluarga yang membuat Angel juga tidak cukup perhatian. Diam-diam Widi selalu mencari tahu tentang Angel.
Walau hati Dini terluka, tapi setiap Widi bercerita tentang Angel, Dini tetap mencoba bijaksana. Dini mencoba memahami apa yang pernah dibaca dalam sebuah novel, kalau mencintai tidak harus memiliki.
Dini tahu ini hal yang susah, tapi cinta adalah sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Jika cintanya kepada Widi nyatanya tak teraih, setidaknya dengan membantu mendengarkan curhatan Widi dan memberikan masukan terbaik, Dini merasa kalah dengan terhormat.
Dini ikut bahagia bila Widi bahagia dengan pilihannya.
***
“Din, Angel benar-benar menolak aku. Susah sekali menaklukkan Si Barbie. Aku cinta dia! Tak peduli semua orang menganggap dia cewek yang bodoh! Malah aku sebaliknya, ingin membantu dia. Aku yakin dia bukan gadis bodoh! Hanya saja dia terlalu masa bodoh dengan pelajaran di sekolah, ditambah keadaan rumah dan teman-teman dekatnya yang tidak mendukung untuk belajar rajin. Kasihan Angel sebenarnya...”
Untuk ke sekian kali, Widi mencurahkan isi hatinya tentang Angel dan sekuat hati juga Dini menahan perih hatinya.
“Gimana ya Wid, mungkin memang cinta itu menuntut kesabaran dan kadang pengorbanan. Kamu sabar dan jangan putus asa, ya! Angel pasti akan menerima kamu. Kamu itu sempurna!” Dini menepuk punggung Widi dan membesarkan hati Widi, sekaligus hatinya sendiri.
Widi terdiam.
“Din, kamu sendiri nggak pernah suka sama seseorang?” Widi menatap tajam.
“E... eenggak, lagian nggak ada yang suka aku,” jawab Dini seenaknya, hatinya bergetar menatap tatapan keingintahuan Widi.
“Oh iya aku tahu! Kamu tuh terlalu dingin! Dan semua cowok takut mendekati kamu karena kamu terlalu pintar! Mereka bilang kamu sempurna,” Widi berteori dan Dini hanya bisa terdiam berbicara dengan hatinya.
“Sayangnya kamu nggak suka aku yang dingin dan sempurna menurut orang-orang Wid,” Dini melaras dalam hati.
“Eh, Din! Aku tahu, Arga… Arga si badung itu suka sekali lho ke kamu! Ayolah kamu balas cinta dia!” Widi dengan jahil mengedipkan matanya.
Asli, Dini jadi sebal! Bagaimana mungkin Widi malah menjodohkan dirinya dengan Arga, cowok terbadung di SMA Seroja bahkan mungkin terbadung di Kota Bogor!
“Jahat! Nggak ada yang lebih baik lagi daripada si Arga apa?!” Dini membentak Widi galak.
“Diniii, Arga itu memang badung, tapi dia ganteng, kaya raya, dan nggak bodoh-bodoh banget lah,” Widi mulai menggoda Dini yang memasang wajah kesal.
“Widi, kamu benar-benar nggak bisa merasakan perasaan hatiku ya... kamu malah menjodoh-jodohkan aku dengan Arga!” tak urung hati Dini yang selalu dibentengi agar sportif dan kuat, terasa sesak juga.
“Ayolah Dini, buka hatimu buat cowok, biar kamu merasakan indahnya jatuh cinta. Rugi lho, SMA kamu nggak kenal cinta monyet, cinta pertama atau apalah! Jangan hanya berkutat dengan prestasi!” kali ini Dini merasa kalah telak. Bukan karena prestasi, tapi pandangan Widi yang berubah menurut Dini.
Dini tahu, semenjak Widi curhat masalah Angel, memang ada perubahan pada diri Widi. Widi lebih tampak dewasa. Mungkin aura orang jatuh cinta membuat pelakunya tampak semakin dewasa juga.
“Entahlah! Aku belum menemukan yang cocok Wid, aku sebenarnya suka...?” belum selesai menyelesaikan kalimat, sudah dipotong oleh Widi.
“Arga! Arga! Iya kan, Din?” Widi spontan menggoda Dini yang setengah mati menahan perasaan hatinya.
Dini jadi memilih menutup bibirnya dan malas meneruskan pembicaraan.
“Udah ah! Aku pulang ya, Wid!” Dini hendak beranjak meninggalkan Widi. Namun terhenti karena terdorong untuk memastikan perasaan Widi terhadap sikap Angel. “Hmmm… jadi kamu sudah ditolak Angel untuk ketiga kalinya, kamu masih nggak menyerah, Wid?”
“Aku menyerah? Never, Din! Never give up mengejar cintaku pada si Barbie!” sorot mata Widi tetap penuh keyakinan.
“Heh! Baiklah sampai besok Wid,” Dini bergegas ingin cepat pergi meninggalkan Widi.
“Eh, kita nggak balik bareng, Din?” Widi menawari untuk pulang bareng. Terkadang mereka memang pulang bareng. Hal yang membuat Dini senang bila ditawari pulang bareng dan boleh membonceng di sepeda motor ninjanya.
Tapi kali ini Dini memilih untuk menolak. Hatinya sakit! Apalagi Widi memang sudah bertekad bulat mengejar cinta Angel. Sudah tak ada celah sedikitpun untuk hatinya.
Penolakan Si Barbie Berotak Udang tak ada efek apapun pada Widi. Juga harapan untuk Widi menyadari ada cinta terbaik dirinya dari Dini yang hanya bisa dipendam di hati.
***
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...