Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Cinta Yang Diterima

Dini sadar tidak bisa mendapatkan cinta yang sempurna, walau jalan hidup yang sarat prestasi seakan dipandang sebagai anak yang sempurna.
Sampai delapan belas tahun dengan jejak prestasi yang sempurna, Dini sadar, cinta Widi yang diam-diam didamba, tidak tergapai.
Padahal buat Dini, hanya dengan Widi-lah dia merasa mendapatkan cinta yang sempurna.
Tapi sekarang, hancur harapannya karena Dini tidak bisa mempertahankan Widi untuk dirinya. Apalagi melihat tatapan Widi yang penuh cinta pada Angel yang sekarang harus tinggal kelas di kelas XI.
***
“Angel....”
Widi memanggil nama Angel lembut.
Angel menatap Widi benci! Kali ini dia benar-benar merasa menjadi cewek yang terbodoh. Bukan saja dalam pelajaran, tapi bodoh seutuhnya.
Hatinya merasa benci terhadap semuanya. Terhadap sekolahan yang disokong papanya sebagai donatur tapi tetap membuat dia tinggal kelas.
“Dasar sekolahan tidak tahu balas budi!” Angel menghujat kesal, air matanya meleleh.
Widi memilih diam dan membiarkan Angel bicara semaunya.
“Dan sahabat-sahabat brengsek! Mereka mau bersahabat dengan aku hanya karena aku kaya! Sekarang aku tinggal kelas… ke mana Levi, Dinar, Tian, Zita? Semua meninggalkan aku dan mencibir aku. Bodohnya aku, ternyata mereka setuju menyebut aku dengan Si Barbie Berotak Udang!”
Widi tahu, geng Angel yang anak-anak orang kaya juga ternyata tega meninggalkan Angel yang tengah terpuruk karena tinggal kelas. Widi tahu, semuanya seakan meninggalkan dirinya.
“Papa Mama bisanya hanya memarahi. Selama ini mana mereka peduli dengan aku. Selalu yang ada hanya membandingkan aku agar seperti kamu! Dan pacar kamu Dini!” mata Angel nyalang menatap wajah Widi antara benci dan bingung atas apa yang menimpa dirinya.
Angel tidak menyangka akan tinggal kelas. Walau memang nilai-nilainya yang sangat parah tak tertolong. Saat di kelas XI ini, dia mengaku tak peduli sama sekali dengan mata pelajaran di sekolahnya.
Nasihat papanya sama sekali tak diperhatikan.
Tiba-tiba ada rasa sesal terbersit dalam hatinya, rasa sesal yang selalu datang terlambat. Ketika dirinya terpuruk, sahabat-sahabat yang tadinya selalu mengekor dirinya sekarang tak satu pun menghibur, apalagi mereka semua melenggang naik ke kelas XII.
“Angel! Sabar!” Widi mencoba menyabarkan Angel, sungguh hatinya merasa kasihan melihat gadis yang dia cintai segenap hatinya benar-benar terpuruk. Walau kalau mau jujur, penolakan-penolakan Angel juga cukup membuatnya sakit. Tapi dua tahun ini mencintai gadis yang tengah tampak kacau, Widi tak tega untuk memojokkannya. Terdorong rasa menyayangi Angel, Widi ingin Angel mau berbagi kesedihan dengannya.
Tanpa Widi sadari, dari suatu sudut, Dini memperhatikan mereka berdua. Dini menimang piala juara umumnya dengan hampa. Kelas XI aku bisa mengalahkan Widi dalam prestasi, rangking satu untuk IPA akhirnya aku bisa rebut darinya. Tapi sekarang bukan ini yang membuat aku bahagia. Aku ingin Widi mengerti perasaanku, tapi tampaknya Angel adalah pemenangnya untuk masalah hati Widi.
Dini sadar, Widi tidak peduli menempati rangking di posisi kedua. Sekarang yang Dini saksikan di depan matanya adalah sosok Widi yang tengah berjuang menghibur Angel yang bukan rahasia umum lagi kalau dia tinggal kelas. Dini juga tahu, Angel sepertinya ditinggalkan teman-teman gengnya.
“Widi benar-benar menyayangi Angel, aku harus melupakan Widi dan harus tetap bersikap sportif ke depannya!” Dini memilih cepat berlalu. Piala kemenangan yang selama ini pernah diraihnya, terasa tidak berarti. Karena harapan terbesar saat ini adalah memenangkan hati Widi. Dan itu sudah menjadi hal yang mustahil.
Bahkan kalau boleh memilih, untuk kali ini biarlah dia tidak menjadi Si Bintang Kelas tapi bisa memiliki hati cowok yang disukainya sejak dua tahun ini.
Sangat egois bila dia bersikeras mempertahankan Widi untuk dirinya. Sementara untuk mengatakan cinta di hatinya, Dini tidak punya keberanian.
Cowok yang sulit diraih. Apalagi setelah pengakuan Widi menyukai Si Barbie Berotak Udang, semakin tertutup saja harapan Dini agar Widi bisa merasakan ada cinta sempurna yang hanya untuknya.
***
“Angel, penyesalan selalu datang terlambat. Kata orang, nasi sudah terlanjur jadi bubur dan tidak akan bisa dirubah menjadi nasi lagi. Tapi orang bijaksana akan berpikir cepat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Jadi bubur itu harus tetap dimakan, dan agar enak kita harus merubahnya dengan menambahkan rasa yang kita anggap pas di lidah. Mungkin menambah sedikit garam, lada, kecap, lalu kita taburi kerupuk. Bubur itu menjadi terasa enak di lidah. Angel, anggap saja ini adalah sebuah kesuksesan yang tertunda. Kamu bisa mengulang kelas XI ini dengan usaha belajar keras. Aku yakin kamu bisa! Dan aku janji akan membantumu sebisa aku,” Widi mencoba menguatkan hati Angel.
Tampaknya Angel mulai luluh dan menghapus air matanya perlahan dengan dua punggung tangannya.
Widi mengulurkan sapu tangan dan sesaat Angel menatap wajah Widi. Wajah itu memancarkan sebuah senyum yang penuh cinta. Angel jadi salah tingkah. Baru kali ini dia menatap lama wajah Widi yang jujur dalam hatinya mengakui cowok pintar ini tampan.
“Pantesan Dini sayang, Widi memang tampan dan pintar. Kenapa juga aku harus menolaknya karena hanya aku malu akan menjadi bahan olokan si Bintang Kelas dan si Barbie Berotak Udang jadian. Sementara mereka semua sekarang juga tak ada yang peduli denganku. Tak satupun ada yang mau menolongku. Ternyata Widi satu-satunya orang yang aku tolak hatinya, malah menghiburku dan membangkitkan semangatku,” Angel berdialog dengan hatinya.
“Wid, kenapa kamu masih mau menghiburku? Aku nggak perlu dihibur!” Angel berusaha untuk menolak apa yang hati kecilnya katakan. Ada rasa malu, gengsi, kesal, sekarang campur aduk termasuk perasaan baru yang hadir karena sosok Widi ternyata tak menyimpan marah atau dendam atas penolakan yang telah dia lakukan tiga kali.
“Karena aku sayang kamu, Angel. Tapi kamu tak pernah memberiku kesempatan. Aku akan selalu ada di sampingmu dalam kondisi apa pun. Itulah arti sayangku,” Widi menjadi cowok romantis, baru kali ini dia bisa bicara benar-benar romantis pada cewek yang sangat dia suka.
Hati mana yang tak luluh dengan kalimat yang lembut meluncur dari sosok Widi yang sebenarnya sempurna. Keren, pintar, dan dari keluarga cukup berada.
“Tapi aku mana mungkin akan jadi pasangan kamu yang sempurna. Aku bodoh! Kamu pintar! Apa kata dunia? Kita hanya akan jadi bual-bualan sebagai pasangan si Bodoh dan si Pintar!” Angel secara tak langsung menolak kembali kehadiran Widi.
“Aku tak peduli! Bukankah cinta itu untuk saling melengkapi. Aku akan melengkapi kamu, Angel. Aku akan berusaha membantu kamu agar setahun ini kamu melewati kelas XI dengan lebih baik. Percayalah, tak ada yang tak bisa selama kamu mempunyai niat memperbaiki diri dan belajar dari pengalaman kemarin,” Widi dengan sabar memberi masukan-masukannya. Tampaknya Angel mulai luluh dan perlahan mau menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Wid, terima kasih kamu mau menjadi orang yang mau menerimaku saat aku terpuruk,” Angel luluh juga dan terucap terima kasih yang tulus.
“Sama-sama, jadi sejak ini aku akan menjadi teman dekatmu dan kamu harus mau belajar bersamaku. Kita punya waktu untuk belajar bersama. Meskipun aku di IPA, aku akan membantu kamu! Aku akan menyemangati kamu! Dan aku akan menunggui kamu belajar!” gaya Widi bicara seperti pak guru killer, tak urung membuat Angel tertawa.
“Siap, Pak guru, hahaha!” Angel menutup bibirnya, tak sadar dia bisa bicara dan tertawa lepas.
“Nah gitu, semangat! Tinggal kelas bukan harga mati kok! Kamu bisa mengejar ketinggalan kamu. Pasti bisa!” Widi bahagia karena Angel mengibarkan perdamaian sebagai teman dekat. Dia tidak akan memaksa cintanya sekarang. Biarkan waktu yang akan berpihak pada dirinya.
“Makasih ya Wid... not bad! Aku tersanjung dan merasa masih memiliki teman yang tulus. Terima kasih,” Kali ini Angel menatap Widi tulus.
“Deal, ya! Kita akan bersama membuktikan pada semua orang kalau kamu bukan si Barbie Berotak Udang! Angel, kalau kamu berusaha keras belajar, pasti bisa!” Widi memberanikan diri menggenggam tangan Angel dan kali ini Angel juga tidak ingin menolak. Malah sebaliknya, ada rasa haru dan ada kabut di matanya.
Tanpa terasa, siang semakin merambat dan Angel tidak menolak tawaran Widi yang menawarkan untuk mengantarnya pulang.
Widi mengambil kesempatan untuk mengantar Angel karena mulai besok sudah mulai hari libur panjang dua minggu dalam rangka kenaikan kelas.
***
“Widi… itu Dini, kan? Kamu nggak nyapa dulu?” Angel melihat Dini yang tengah berjalan pulang.
“Oh ya, menjawab amarahmu di awal. Kalau Dini bukan pacarku, jadi nggak ngaruh juga kalau aku nggak menyapa,” kata Widi tenang.
“Wid, bukannya kamu deket banget dengan Dini? Kurasa dia suka lho sama kamu,” Angel berkata pas di telinga Widi.
“Aku dan Dini tidak pernah ada apa-apa. Dia adalah sahabat sekaligus rival dalam meraih prestasi. Kita dekat karena memang harus dekat untuk mengharumkan nama sekolah kita,” Widi menerangkan sambil konsentrasi mengendarai ninjanya di jalanan yang cukup padat.
Angel merasa lega dari jawaban Widi barusan.
“Ternyata Widi hanya menganggap Dini sahabat sekaligus rival. Berarti memang hati Widi dari dulu sepenuhnya hanya untukku dan bodohnya aku baru menyadari sekarang! Ketika semua telah meninggalkan aku dalam keterpurukan,” Angel tersenyum, sekilas mata Angel dan Dini berserobok saat motor ninja Widi melintasinya dengan cuek.
Dini hanya menatap tenang walau dalam hatinya sungguh sangat sakit hati dengan sikap Widi yang seolah-olah menyingkirkan dirinya.
***

Other Stories
Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Download Titik & Koma