Sunyinya Hati Arga
Dini sudah siap-siap untuk berangkat sekolah. Hari ini adalah hari pertama memasuki kelas XII.
Sejenak ada rasa gelisah menggelayuti, hari ini dia akan bertemu dengan Widi kembali. Widi yang sudah bersama Angel dan semuanya pasti berubah tidak seperti waktu lalu.
Pasti akan ada rasa sepi merayapi hatinya. Dini merasa takut menyambut datangnya saat ini. Saat di mana orang yang dicintai akhirnya benar-benar berhasil mendapatkan gadis pujaannya. Tentu akan terasa menyakitkan dan Dini tidak tahu sampai mana kekuatan hatinya.
“Din, kok melamun sih? Cepetan sana berangkat sekolah bareng Ayah! Tuh Ayah sudah nungguin,” Ibu Dinda menegur Dini yang masih mematung dengan sepatu kets di tangannya.
“Iya Bu,” Dini melihat ayahnya sedang mengelap sepeda tua mereka.
“Din, ini Ibu minta tolong ya... berikan nasi bakar ikan asin ini buat Arga. Dia ingin mencicipi nasi bakar ikan asin buatan Ibu. Kasihan biar dia punya sarapan pagi. Ini Ibu juga bawain buat sarapan kamu dan Ayah di sekolah. Kalau nggak sempat buat sarapan, bisa kok buat makan siang, Sayang!” Ibu Dinda menaruh dua plastik yang dalamannya berisi nasi bakar ikan asin yang dibungkus dengan daun pisang.
“Hmmm… memangnya Arga pesan sama Ibu untuk dibuatin nasi bakar ikan asin segala?” tanya Dini dengan nada tidak suka.
“Nggak sih Din, cuma Ibu mau membalas sedikit apa yang sudah dia beri pada kita. Coba seminggu kemarin dia bawain Ibu berbagai macam makanan, belum yang terakhir oleh-oleh papa mamanya yang dibawakan buat kita. Ibu nggak nyangka akan punya pasmina asli dari Hongkong dengan gambar... siapa katanya kemarin? Nama dewanya?” Ibu Dinda jadi mengingat-ngingat.
“Giant Budha Ngong Ping...” jawab Dini memasang wajah sungkan sambil membawa bungkusan tas plastik dan segera naik boncengan sepeda ayahnya menuju ke sekolah.
Jalanan menuju sekolah ramai lalu lalang kendaraan karena hari pertama masuk sekolah, setelah dua minggu libur kenaikan kelas.
Pak Danu tidak banyak bicara sepanjang jalan, Dini juga coba memupus rasa gelisahnya. Hatinya dikuatkan untuk tetap bersikap sportif dan menerima apa yang ada.
Sudah diduga baru saja memasuki halaman sekolah dan sudah berpisah dengan ayahnya yang langsung masuk ke ruang guru, dari jauh Dini melihat kemesraan Widi yang tengah main di kelas Bahasa bersama Angel. Mereka asyik bercanda dengan buku di tangan masing-masing.
Widi hanya melambaikan tangan sesaat dan Dini membalas, tanpa sepengetahuan Dini ada Arga yang sudah di sampingnya juga ikutan membalas lambaian Widi. Lalu Widi mengasih tanda dua jempol, membuat Dini agak bingung. Tapi sekarang terjawab kebingungannya, Arga sudah berada di sampingnya karena sengaja menyenggolnya.
“Hai… segitunya amat melihat Widi sama Angel. Biasa aja kali napa? Jangan cemburu gitulah! Lagian kamu sudah jalan sama aku. Widi aja kasih dua jempol,” Arga mulai berbicara dengan kalimat yang membuat Dini kesal.
“Hiii sebal! Kamu lagi, biang kerok!” Dini segera menjauh dan Arga mengejarnya.
“Eit, eits! Kamu kenapa sih baru hari pertama masuk sudah marah-marah. Ya sudah ikhlasin ajalah mereka jadian!” goda Arga setengah kesal juga.
“Kamu jangan pernah ikut campur apapun tentang aku!” Dini menatap tajam Arga.
“Oh ya, ini titipan dari Ibu, nasi bakar ikan asin buat kamu! Setelah ini jangan pernah main ke rumahku lagi! Jangan coba-coba dekati Ibuku dan jangan berharap sedikitpun aku akan suka kamu!” Kali ini Dini benar-benar marah.
“Wah… I love Ibu Dinda, harumnya nasi bakar ikan asinnya,” Dengan semangat Arga mencium-cium bungkusan pisang dan tidak mau membalas kemarahan Dini yang meluap-luap barusan, semakin membuat Dini keki lalu memilih berlari ke kelasnya.
Arga merasa sakit hatinya, tapi dia mencoba menutupi dengan kegembiraan menerima sebungkus nasi bakar ikan asin buatan Bu Dinda. Selalu Dini menolaknya dan mengajak berantem, entah sampai kapan penolakan ini harus dia alami.
Arga tersenyum. Tak ada pilihan hari ini dia menerima ajakan Rico untuk menerima tantangan perkelahian di belakang sekolah SMA seberang.
***
Jam istirahat siang Arga membuka nasi bakar ikan asin dari Bu Dinda, wajahnya sumringah saat suapan pertama habis di mulutnya.
“Enaaaknya, hmmm aku harus tahu nih resepnya,” Arga manggut-manggut tanpa menyadari kehadiran Bram yang selama ini menjadi musuh di sekolahnya. Dengan kasar menarik apa yang tengah Arga nikmati.
“Tuh makan lagi! Masih enak pasti!” Bram menunjuk nasi bakar ikan asin yang berhamburan ke mana-mana, bahkan dengan pongahnya Bram dan gengnya menginjak-ijak nasi bakar ika asin buatan Bu Dinda.
Di depan Arga sudah berdiri Bram, Nico, Petra dan Sandi yang tertawa-tawa melihat tampang Arga yang merasa kesal karena nasi bakar ikan asin yang tengah dinikmatinya, sekarang berhamburan kemana-mana dan tak bisa lagi dimakan.
“Sialan kalian!” tanpa pikir panjang Arga langsung menyerang Bram karena hatinya tidak terima begitu saja dengan perlakuan Bram dan gengnya. Apalagi mengingat nasi bakar ikan asin yang tengah dimakan adalah buatan Bu Dinda. Arga yakin butuh waktu untuk membuatnya dan yang pasti saat membuatnya pasti ada muatan kasih sayang seorang ibu. Arga tidak bisa terima begitu saja!
Hampir sepuluh menit Arga dikeroyok oleh Bram dan gangnya. Arga jelas kalah karena Rico, Delon dan Riki yang menjadi kelompok gengnya sedang di kantin semua untuk makan siang.
Bram sepertinya sudah mengincar saat dirinya tengah tidak ikut makan siang dengan teman-teman satu gengnya.
“Sudah! Sudah!” Pak Dawie, satpam sekolah melerai mereka, untung pas ada juga Pak Danu yang melintas dan langsung membentak anak-anak didiknya.
“Kalian apa-apaan? Sudah kelas XII masih saja berkelahi! Kalian tidak memberikan contoh yang baik pada adik-adik kelas! Ayo sekarang semua ke ruang guru BP!”
Langsung berlima di gelandang ke ruang guru BP untuk diinterogasi.
“Hai Ga! Ga! Kamu kenapa bisa dikeroyok!” Rico dari arah kantin lari tergopoh-gopoh mengejar Arga yang wajahnya membiru akibat beberapa pukulan.
“Nanti aku ceritain...” jawab Arga cuek menahan sakit. Matanya sempat menangkap sosok Dini yang tengah geleng-geleng kepala dengan wajah masam. Bahkan pas saat sempat mereka bertatapan, Dini memberikan jempol terbalik. Arga memilih menunduk dan cepat-cepat ingin menyelesaikan semuanya di ruang BP.
“Aku ikut kamu!” Rico membantu merangkul Arga yang meringis.
Arga bersyukur Rico sebagai ketua gengnya setia menemani dirinya untuk menjadi saksi apa yang akan dia katakan.
Hampir satu jam mereka di ruang BP dan akhirnya boleh keluar untuk mengikuti pelajaran lagi. Rico kembali ke kelas IPA yang satu kelas dengan Dini dan Widi, sementara Arga menuju ke kelas Bahasa.
Jam istirahat kedua semua langsung merubung Rico perihal perkelahian antara Arga dan Bram yang dibantu gengnya.
Rico bercerita cepat dan semua akhirnya tahu kalau Arga berkelahi ternyata tidak terima karena nasi bakar ikan asin yang tengah dimakannya diinjak-injak oleh Bram dan gengnya, apalagi itu pemberian dari Bu Dinda, ibundanya Ardini Puteri, Sang Bintang.
Spontan anak-anak langsung menatap Dini yang jadi salah tingkah, hanya Widi yang tersenyum-senyum menggoda penuh arti. “Ternyata Si Bintang Kelas sudah sangat dekat dengan Arga...
huuuuu... so sweet...” Imron berseloroh membuat Dini merah padam.
Dini benar-benar mati kutu, hatinya memaki-maki kelakuan Arga yang berkelahi cuma gara-gara membela nasi bakar ikan asin buatan ibunya dan imbasnya dia lagi yang jadi sasaran godaan sekarang anak-anak IPA kelasnya.
Semua jadi menganggap dirinya ada hubungan istimewa dengan Arga, tak terkecuali Widi juga sempat berkomentar, ”Gila, Arga benar-benar kesatria! Dia nggak akan diam begitu saja apalagi yang berhubungan dengan kamu! Hanya gara-gara nasi bakar ikan asin buatan Ibu Dinda saja dia rela babak belur! Selamat Dini, kamu memang layak dapat Arga.”
Dini hanya bisa tersenyum pias.
”Sebegitunya ya Wid! Aku hanya layak dimiliki oleh Si Badung Arga?” Hati Dini melaras pedih.
Sepulang sekolah Arga sengaja menghadang Dini.
“Din! Din!” Arga memangil Dini yang memilih cuek dan mempercepat langkah.
“Din! Tunggu dong! Aku minta maaf atas kejadian tadi,” Arga tahu pasti Dini kesal tahu dirinya berkelahi gara-gara nggak terima nasi bakar ikan asin yang sejujurnya sedang enak-enaknya dimakan diinjak-injak oleh Bram dan gengnya.
“Terlambat! Semua anak-anak menganggap aku dan kamu ada apa-apa! Gara-gara pengakuan kamu di ruang BP yang sok jujur!” Dini menatap tajam Arga.
“Maaf aku spontan saja tadi! Ah pasti Rico yang bercerita!” Arga garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Din maaaf yaaa!” Arga lemas dan membiarkan Dini berlalu dengan sebuah angkot.
***
Dan waktu seakan tidak pernah mau berpihak pada Arga, Dini jelas-jelas selalu menolaknya.
Apapun yang Arga lakukan sepertinya sia-sia, walau Ibu Dinda tetap bersikap ramah. Tapi tetap hati Dini sulit diraih, sehingga Arga memutuskan untuk mencari perhatian di sekolah lagi, masih saja dengan tawuram.
Kembali Arga memilih jalan berkelahi terlibat tawuran dengan anak-anak SMA seberang. Hampir setiap minggu ada saja perkelahian Arga bersama teman-teman gengnya, demikian juga dengan Bram dan gengnya, bergantian saja.
Hingga ketika suatu hari sekolah sudah agak sepi, Dini memang pulang agak lambat karena tengah memberikan pelatihan pada calon-calon pengurus Majalah Dinding yang akan dipegang anak-anak kelas XI.
Dini sudah tidak boleh menjadi pengurus apapun, anak-anak kelas XII semua dikonsentrasikan untuk menghadapi ujian kelulusan sekolah dan memasuki perguruan tinggi.
Saat melintasi sekolah SMA seberang ternyata ada segerombolan geng Bram dan geng Rico yang bergabung. Dini tahu pasti ada juga Arga sebagai salah satu anggota geng Rico.
Tapi ada yang tampak aneh, ternyata mereka tengah mengerubung salah satu anak yang tampaknya terluka parah, pasti habis ada perkelahian.
Sekolah SMA Seroja yang tertutup tembok tinggi serasa tidak tahu ada keributan di luar,, apalagi ini memang sudah bukan jam sekolah lagi, Dini yang dari tadi sibuk mengarahkan program-program Mading pada adik-adik kelas tidak dengar keributan apapun.
Lebih kaget lagi Rico berlari mendekatnya dan langsung menarik tangan Dini, ”Dini tolong bantu kami, cepat! Arga terluka parah kepalanya! Tadi kita bentrok dengan SMA seberang.”
“Apa! Arga!” Tak urung Dini kaget juga. Bagaimanapun dia sangat membencinya, sebenarnya dia selalu ingat satu kebaikan Arga yang menolong dirinya saat diganggu tiga berandalan pasar.
“Din cepetan! Arga terluka parah!” Rico menarik tangan Dini, tidak memberi kesempatan Dini menolak.
Dan saat mendekati sosok cowok yang kini tengah terkapar.
“Ya ampuuun, Arga!” Dini menaruh di pahanya, kepala Arga yang mengucur darah segar sepertinya kena pukulan benda tajam.
“D... i... n... i... eehhhh,” dan Arga tak sadarkan diri.
“Cepetan jangan diam saja! Kasihan, Arga kan sahabat kalian!” Dini jadi panik karena semua anggota geng tak ada yang bergerak.
Dini berlari mendekati sebuah mobil dan membentangkan tangannya, beruntung mobil tersebut memperlambat jalannya.
“Pak! Tolong Pak berhenti!” ternyata sopirnya seorang bapak-bapak.
“Pak tolong teman saya terluka, tolong antar kami ke rumahnya,” Dini meminta pertolongan dengan muka sangat memelas.
“Ayo! Ayo Nak cepetan segera bawa masuk sebelum ada polisi,” Bapak setengah baya langsung menyuruh Dini memasukkan Arga yang pingsan.
“Ric! Bram! Kalian cepat angkat Arga!” perintah Dini.
Rico dan Bram sama-sama ketua geng yang sebenarnya saling bermusuhan di dalam sekolah Seroja, tiba-tiba menjadi menuruti perintah Dini.
“Rico! Bram! kalian berdua temani aku antar Arga ke rumahnya,” Dini segera meletakkan kepala Arga di pahanya. Tak peduli seragam sekolahnya sudah kotor dengan darah Arga.
“Nak, mau dibawa ke mana?” Bapak sopir bertanya pada Dini yang mendadak bingung.
“Bram! Rico! Kalian tahu kan rumah Arga?” Dini bertanya pada dua kepala geng yang bermusuhan dan mengejutkan, mereka berdua geleng kepala.
“Aduh kalian gimana sih! Kamu Rico! Ketua gengnya Arga sampai nggak tau rumah Arga! Kalian ini bersahabat macam apa sih? Kerjaan kalian hanya berkelahi terus! Mana sempat silahturahmi ke rumah masing-masing!” Dini ngomel panjang lebar sambil tangannya mengambil tas Arga dan melempar ke arah Rico yang duduk di depan.
“Buk!” tas mengenai Rico.
”Apaan sih Din?” Rico membentak Dini.
“Cepat buka dompet Arga, lihat Kartu Osisnya pasti ada alamat rumah!” Dini meminta Rico membuka tas Arga dan mencari identitas Arga.
“Oh ini... Pak ke alamat Bukit Golf Kompleks Arcadia,” Rico membacakan lengkap alamat Arga, untung si bapak sopir langsung paham.
“Iya Bapak tahu itu perumahan elite, semoga nggak macet,” katanya sambil langsung sigap menyetir mobilnya.
Kurang lebih dua puluh menit mereka sampai di rumah Arga yang tampak sepi. Bangunan besar berlantai dua, ada sebuah roof top di sisi lantai dua dengan tangga melingkar sehingga bila diamati rumah itu seperti berlantai tiga.
Mereka disambut seorang satpam dengan nama Darma di baju seragamnya. Pak Darma paham kalau yang tengah terkapar adalah tuan mudanya. Tanpa banyak basa-basi lalu membukakan pintu gerbang dan membantu Rico dan Bram mengangkat Arga ke kamar.
Tergopoh-gopoh sosok ibu setengah baya, yang tak lain adalah Bibi Manisa seperti yang kerap dia dengar saat Arga cerita dengan ibunya. Bibi Manisa membawa air hangat dan waslap untuk membersihkan luka Arga.
Tampaknya Bibi Manisa sudah terbiasa menangani hal seperti ini. Dini mengamati dengan diam. Melihat Bibi Manisa dengan penuh kasih sayang membersihkan luka-luka dan mengompresnya.
Dini mengamati kamar Arga yang rapi. Mata Dini membulat ketika menemukan bingkai foto kayu dirinya dengan seragam sekolah merah putih.
Beberapa fotonya yang diambil secara natural. Ada yang tersenyum, tertawa, diam dan melamun tampak alami.
“Hmmm dasar usil!” bisik hati Dini, tak urung dia suka juga melihat wajah dirinya yang diambil dengan angel yang bagus. Sementara dirinya benar-benar tidak tahu kapan Arga mengambil gambarnya.
Ada sebuah foto bingkai kayu lain, sepertinya foto papa mamanya yang terpasang besar di kamarnya. Kamar Arga tampak mewah dilengkapi AC, LED, home theater, dispenser dan ornamen sportif seperti ring basket, rak buku-buku dan CD tertata rapi.
Beberapa jaket menggantung dan sepatu olahraga juga tersusun rapi. Ternyata Si Badung anak yang rapi juga.
Ada yang membuat Dini tiba-tiba geli, dirinya menemukan setumpuk buku-buku resep di antara majalah-majalah remaja, majalah otomotif, dan majalah man healthy menjadi sebuah pemandangan yang kontras.
“Suka masak juga, ah dasar melankolis Si Badung!” Tak urung Dini tersenyum.
“Pantesan saja dia mengajak Ibuku memasak, ternyata selain hobi berkelahi dia suka masak-memasak,” tanpa sadar Dini jadi asyik mengamati sisi hidup lain Arga. Dirinya juga tak bosan melihat tiap sudut rumah Arga yang sangat artistik.
Rumah Arga simpel minimalis, tak banyak barang mungkin mencegah perawatan yang sangat melelahkan apalagi mengingat mamanya yang sibuk, mana sempat untuk beres-beres.
“Gila, Arga ternyata anak orang kaya!” Bram berdecak kagum menuruni tangga menuju ke ruang tamu.
“Lihat halaman rumahnya ada kolam renang lagi! Kok kita nggak kepikiran ya main-main ke rumah Arga selama ini!” Rico tampak menyesal, apalagi dia memang suka sekali berenang, selain berkelahi tentunya.
Arga sudah siuman, Dini memutuskan untuk turun ke bawah menikmati sirup mocca dan cemilan kecil-kecil di meja tamu yang disuguhkan Mang Darma.
Wajah Arga tadi tampak senang sekali karena saat siuman ternyata ada Dini di sampingnya, tapi mendadak Dini memilih cepat-cepat menyingkir. Dia tidak mau ribut dengan Arga.
Dini mengamati berbagai pernak-pernik berasal dari luar negeri yang sengaja di tata rapi pada sebuah almari kaca.
Melihat foto-foto papa, mama dan Arga dari waktu ke waktu. Hatinya merasa bersalah selama ini telah memvonis Arga anak bandel. Sepertinya dirinya harus mengakui kalau apa yang dikatakan ibunya akan Arga yang sebenarnya anak baik, hanya saja karena dia kurang kasih sayang maka melakukan kebandelan agar bisa mencuri perhatian papa mamanya.
“Bi... Papa dan Mamanya Arga ke mana?” tanya Dini pelan pada Bibi Manisa yang sekarang duduk menemani mereka bertiga saja. Bapak pengemudi mobil yang tadi dimintain tolong mengantar sampai rumah Arga langsung izin pulang karena ada kepentingan lain.
“Mama dan Papanya sedang di Singapura, Mbak Dini,” jawab bibi Manisa yakin kalau cewek yang menolong tuannya bernama Dini.
“Kok, Bibi tahu nama saya?” Dini agak kaget juga.
“Ya tahulah Mbak, wong Mas Arga itu setiap saat yang diceritain di rumah cuma Mbak Dini yang cantik, pintar dan baik. Sampai-sampai Bibi disuruh cuci baju kaos bapaknya Mbak Dini waktu lalu cepet-cepat biar katanya ada alasan untuk main ke rumah Mbak lagi,” ungkap Bibi Manisa tersenyum ramah.
“Ya ampun segitunya ya...” Dini sampai kaget dan nggak enak hati mengingat sambutan-sambutan dirinya yang selalu asem saat Arga main ke rumahnya, untungnya ada ibu jadi penyelamat.
“Kasihan Mas Arga, dia sangat kesepian. Yah coba kalian bayangin, rumah sebesar ini Mas Arga anak tunggal, Mama Papanya setiap hari di luar kota bahkan luar negara. Mas Arga cuma bareng saya dan Mang Darma. Ya sudah kita bertigaan saja setiap hari. Kita jadi teman masak, teman main dan teman Mas Arga mengeluh. Mas Arga sebenarnya sangat baik, dia berkelahi untuk mendapatkan perhatian Mamanya. Karena tiap habis berkelahi biasanya Mama dan Papanya akan dipanggil pihak sekolahan dan dinasihati panjang lebar oleh pihak sekolah untuk lebih perhatian. Memang sih beberapa hari setelah pemanggilan pihak sekolah akan menyempatkan untuk dekat dengan Mas Arga, tapi yah kembali kesibukan kerja membuat mereka sibuk lagi hari selanjutnya,” jelas bibi Manisa membuat Dini paham akan keadaan Arga yang sebenarnya.
“Benar kata ibu, ternyata Arga memang sangat kesepian, duh kasihan juga...” batin Dini.
Setelah dirasa cukup bertamu dan kondisi Arga baik-baik saja, Bram, Rico dan Dini berpamitan.
“Ga, cepat sembuh ya!” Rico mengajak bertos tangan, sambil menahan sakit Arga membalas. Demikian juga dengan Bram yang meminta maaf. Sepertinya sesaat Arga melupakan kasus nasi bakar buatan Ibu Dinda yang dihamburkan oleh Bram dan gengnya beberapa waktu lalu.
“Cepat pulih ya Ga, kita balik dulu,” kata Dini pelan.
“Din, makasih banyak ya... besok-besok di sekolah jangan cuekin aku lagi ya,” pinta Arga tersenyum memelas.
“Hmmm… iya kita balik ya Ga, kamu cepat sehat ya...” Dini tersenyum tipis.
***
Other Stories
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...