Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Alasannya Adalah Cinta

 “Din kamu pasti masih bimbang mau datang atau nggak, iya kan?” tahu-tahu Arga sudah duduk di sebelahnya. Dini sengaja menyepi di bawah pohon mangga di taman sekolahan.
Di tangannya ada undangan ulang tahun Angel sweet seventeen yang pas berbarengan sekalian acara tahun baru.
Sudah satu semester terlewati dan memang Angel membuktikan dengan menduduki ranking satu di kelas XI jurusan Bahasa saat ini.
Memang sih bukan yang istimewa kalau Dini mau mendebat, ya jelas aja ranking satu soalnya dia kan tinggal mengulang saja, sementara teman-teman barunya kan benar-benar pelajaran baru. Di samping semangat Widi men-support-nya sampai-sampai Widi sepertinya mengalah untuk tidak bersaing dengan dirinya. Semester pertama di kelas XII Dini tidak terlalu sulit untuk tetap menjadi juara umum dan Widi di bawahnya.
Dini yakin Widi memang tulus mencintai Angel dan ingin membuktikan kalau Angel bukan lagi Barbie berotak udang.
Karena prestasi Angel yang berubah drastis membaik maka pas usia tujuh belas tahun, papa mamanya menghadiahkan sebuah pesta yang semuanya diserahkan oleh Event Organizer terkenal untuk mengurusnya.
Kemarin Widi yang memberikan undangan ulang tahun Angel. Sebuah undangan yang pastinya mahal dengan ornament berwarna silver dan pink bertuliskan sweet seventeen. Perayaan bersamaan malam tahun baru karena Angel memang lahir di 31 Desember pas pergantian tahun.
Dini yakin pasti pestanya sangat meriah. Apalagi Angel dari kelurga konglomerat, pastilah amat sangat besar dan meriah.
Jangankan kado buat Angel, memikirkan baju apa yang pantas dipakai di acaranya membuat Dini bingung. Kalau mau sih nggak usah datang, bilang saja ‘maaf sakit’! Gampang selesai! Tapi kok sepertinya nggak sportif banget. Nanti Angel akan berpikiran dirinya takut menghadapi kenyataan yang terbesar seperti misalnya nanti ada acara diumumkan sekalian Angel dan Widi bertunangan. Ya ampun wajah kekinya mau ditaruh di mana? Itu yang masih menghantui Dini walau sudah ada Arga yang bersedia menemaninya walau hanya sebagai pacar sandiwara.
Dini terpaksa seolah-olah sudah jadian dengan Arga, padahal kemesraan itu selalu dilakukan spontan saat ada Angel dan Widi saja.
Dini terkadang masih mengacuhkan Arga begitu saja bahkan di depan Widi saat tidak bersama Angel. Arga merasa harga dirinya sudah tak ada nilainya, tapi biarlah demi Dini apapun Arga lakukan.
“Din datang saja, aku jemput ya. Kita datang sama-sama,” Arga mengajak Dini yang tampak ragu.
“Ga, bukan hanya karena Angel dan Widi yang buat aku males datang, tapi teman-teman gengnya Angel yang sekarang mulai dekat lagi, sepertinya mereka kompak memusuhi aku. Ngapain juga Angel ngundang aku? Sepertinya alasan terkuat adalah untuk PAMER! Dia memang ingin semua orang tahu keberhasilan dia sekarang menjadi juara umum di kelas Bahasa dan juga mengenalkan Widi secara resmi,” Dini sudah bisa membayangkan acara yang akan digelar Angel pasti hanya akan bersifat pamer.
“Din, biarin sajalah Angel dan Widi mau pamer apa. Ingat kamu sendiri yang bilang akan bersikap tegar! Sportif!” Arga mengingatkan janji Dini sendiri.
“Iya si Ga, tapi aku harus pakai baju apa dan harus bawa kado apa coba? Secara kamu tahu aku nggak pernah pergi ke pesta,” Dini berpikir harus datang juga ke pesta Angel demi membuktikan dirinya baik-baik saja dan menunjukkan kalau dirinya ikut bahagia dengan keberhasilan Angel.
“Udah nggak usah bingung, pulang sekolah kita cari kado sama-sama lalu kartu ucapannya atas nama aku dan kamu. Gimana, kamu setuju?” Arga meminta pendapat.
“Serius ...” Dini memastikan karena pasti Arga yang akan mengeluarkan uang lagi.
“Iyalah, terlanjur kita pura-pura jadi sepasang kekasih, sekalian aja urusan kado biar atas nama kita. Kamu nggak mau kan disangka lagi masih ada hati sama Widi oleh Angel?” Arga bicara dengan ringan tanpa beban.
Dini tahu uang Arga sudah pasti sangat banyak, tapi hatinya memang tidak bisa dibeli dengan harta. Tetap Arga hanya sekedar sahabat. Padahal semakin dekat dengan Arga, Dini tahu kalau banyak cewek yang diam-diam iri padanya.
Arga itu di balik kebandelannya ternyata berhati lembut dengan hobi memasak, juga suka rajin merapikan rumah membantu Bibi Manisa dengan alasan bibinya sudah semakin renta. Arga merasa kasihan kalau semua urusan rumah diserahkan pada bibi yang berumur lebih dari lima puluh lima tahun dan sudah bertahun-tahun ikut merawat dirinya.
“Kalau tidak merepotkan kamu, ayolah!” Dini setuju.
“Sip, nanti pulang sekolah kita cari kado sebentar ya. Udah selesai jam istirahat, nggak usah murung lagi... oh ya nanti sekalian kita mampir ke salon langganan mama deh! Biar kamu dirias sekalian besok,” sekilas Arga mengelus rambut Dini dan segera bergegas kabur, daripada Dini tiba-tiba ngomel dengan sikap spontannya.
Belum sempat Dini menyetujui, Arga sudah berlari menuju kelas Bahasa yang letaknya memang agak jauh dari taman mereka duduk.
“Salon? Hmmm… ada-ada aja usul Arga,” Dini geleng-geleng kepala.
***
Setelah mendapat izin ayahnya untuk membeli kado dengan Arga sepulang sekolah, Arga dan Dini berdua menuju sebuah toko kado.
“Ini aja Ga, boneka panda yang lucu...” Dini memeluk sebuah boneka panda yang memang imut sekali.
“Hmm… itu cocoknya buat kamu, ini aja boneka kucing buat Angel, soalnya Widi pernah cerita Angel suka banget hal-hal yang berbau kucing.”
Sebuah boneka Hello Kitty menjadi pilihan Arga dengan anggukan setuju Dini. Arga ke kasir membayar dua boneka. Boneka Hello Kitty sudah dibungkus rapi.
“Ini bawa boneka pandanya, kamu nggak punya boneka kan?” Arga menaruh boneka panda yang dari tadi ditimang-timang tangan Dini.
“Ga, kamu beliin buat aku?” Dini mengelus bulu-bulu halus boneka panda hitam putih.
“Kalau kamu lagi sebal jangan dibuang ya pandanya!” Arga menggoda Dini yang tampaknya suka dengan pemberiannya.
“Kita ke seberang sebentar, itu salon langganan Mama. Ada Tante Beti, dia pintar merias. Besok sebelum ke pesta Angel aku temanin deh kemari untuk dirias natural saja,” Arga mengusulkan Dini agar besok sedikit
tampil berbeda.
“Gitu ya, tapi mahal nggak Ga?” Dini agak mikir untuk biayanya, uang tabungannya berencana untuk simpanan kebutuhan sekolah di perguruan tinggi.
“Tenang aja, nggak mahal kok, apalagi sama aku pasti harga diskon. Ini salon langganan Mamaku. Sesekali tampil beda gak ada salahnya, tenang aja Non urusan pembayaran itu urusan aku,” kata Arga cuek.
Sepertinya Dini tidak bisa mengelak kebaikan dan usul Arga kali ini juga. Bagaimanapun dia nggak mau kelihatan cupu banget di acara ulang tahun Angel.
***
Acara ulang tahun Angel memang banyak jadi pembicaraan, karena geng Angel yang sudah duduk di kelas XII semua mendukung dan membantu memilihkan EO yang profesional.
Apalagi dengan prestasi Angel yang mendadak melejit, tentu saja membuat papa mamanya bangga, untuk urusan uang mereka tidak ada masalah sama sekali.
Papa Wijaya, donatur sekolah SMA Seroja. Seorang konglomerat dan pebisnis tekstil yang besar dan sukses, sudah pasti menggelar ulang tahun putri tunggalnya tidak asal-asalan.
Siang yang sejuk, Dini tengah dirias oleh Tante Beti yang sangat ramah. Bahkan tadi Tante Beti sempat menggoda Arga, “Aduuuh ponakan Tante yang ganteng, akhirnya punya pacar juga... siapa ini namanya, cantiiik. Pasti habis Tante rias akan buat Arga tambah cinta deh.”
Dini memanas wajahnya, tapi ternyata wajah Arga lebih merah padam membuat dirinya geli.
“Udah Tante, rias Dini saja cepetan! Nggak pakai menor lho Tan!” larang Arga mengancam.
“Oh ya bajunya apa Ga warnanya?” tanya Tante Beti ketika akan menyapukan eye shadow yang sesuai di kelopak mata Dini.
“Ini Tan salem... bagus enggak dress-nya...” sesaat Dini merasa kaget, Arga sudah menenteng sebuah atasan dan rok di bawah lutut berwarna salem dengan bahan yang sangat halus, bagian bawahnya berendra krem.
Kapan Arga dapat baju pesta yang manis sederhana barusan, Dini belum sempat bertanya banyak. Dirinya memilih diam mengikuti kemauan Arga saja.
Semua demi sebuah pembuktian pada Angel dan Widi. Walau tanpa Widi, dirinya bahagia dan baik-baik saja, apalagi sudah memiliki Arga. Tentu saja itu hanya pura-pura.
“Wah manis banget, cocok deh dengan Dini,” komentar Tante Beti mulai mengoles kelopak mata Dini dengan warna salem nan lembut.
“Tan nggak menor! Tetap alami!” Arga mengawasi Tante Beti yang asyik merias Dini.
“Iyaa cerewet! Liat! Gak kaya pakai make up-kan? Dasar anaknya manis nggak pakai dandan juga udah oke,” Tante Beti menatap Dini dengan kagum.
Beberapa saat setelah mengganti pakaian...
Arga tersenyum puas, Dini tampak elegan di matanya. Dan juga merasa puas dengan riasan natural Tante Beti. Setelah Arga menyelesaikan administrasi, bergegas menuntun Dini yang memakai high heel menuju mobil Arga, karena sudah menunjukkan pukul 18.30.
Sementara undangan pesta Angel pukul 19.00 di hari Kamis malam bertepatan dengan malam pergantian tahun, waktu yang pas karena besok Jumat libur tanggal 1 sebagai tanggal merah hari pertama tahun baru berlanjut karena masih ada Sabtu Minggu, waktu yang cukup beristirahat. Makanya banyak yang datang ke pesta Angel, tidak hanya teman-teman sekolah SMA Seroja, tapi juga rekanan papa mamanya yang datang dari luar Jakarta untuk menghabiskan long weekend sekalian di Jakarta.
Di pinggiran kolam renang ada lilin-lilin dan berbagai hiasan bunga kemudian balon. Di tengah keramaian ada sebuah kue tar tingkat tiga begitu cantik dengan hiasan berbentuk mawar kuning dan pink.
Semua terpana ketika Angel keluar dengan sebuah gaun pesta senada dengan nuansa pink dan silver, sebuah gaun ketat elegan yang mengaurakan tubuhnya yang seksi. Dan berdiri di samping Angel, Widi dengan jas hitam. Berjalan di hamparan karpet yang sudah ditaburi bunga mawar putih, merah dan kuning. Mereka tampak serasi.
“Din, kok bengong! Ayo kita kasih selamat. Ayoooo!” Arga menarik tangan Dini yang masih terpaku ragu dan terkesima dengan tampilan Angel dan Widi malam ini juga sangat berbeda.
“Hai Angel, happy birth day ya… wish you all the best!” Arga menyalami Angel dan disusul Dini yang berusaha tenang.
“Wah cantik juga kamu Din malam ini!” Komentar Angel, yang tak jelas itu kekaguman atau rasa iri terpendam.
“Terima kasih Ngel, kamu lebih cantik. Selamat ulang tahun ya,” Dini memilih ringkas mengucapkan selamat.
“Dini aku kira kamu nggak bakalan datang,” tiba-tiba Widi sudah ikutan bicara.
“Datanglah Wid, apalagi ini hari kebahagiaan sahabat dan sekaligus rivalku juga,” Dini menutupi perasaan hatinya dengan mencandai.
“Hehehe enjoy this party ya,” Widi mempersilakan Dini dan Arga untuk menikmati pesta mereka.
Acara ulang tahun Angel tidak lebih dari acara ‘pamer’ seperti yang Dini perkirakan. Mereka benar-benar orang kaya yang sempurna tampaknya.
Rangkaian acara hanya membuat Dini merasa bosan, rasa bete juga menyerang hatinya saat dengan mesra Angel memberikan potongan roti tar pertamanya buat orang yang dicintai setelah mama papanya.
Arga berusaha membuat Dini nyaman. Dini memilih untuk minum dan mengemil hidangan itu pun Arga yang sibuk mengambilkan.
Tak terduga gerombolan geng Angel mendekat, siapa lagi kalau bukan Levi, Dinar, Tian dan Zita.
“Duh Ga, kamu gabung sana ama cowok-cowok dong! Ada Widi, Bram, Rico dan yang lainnya tuh tengah ngobrol. Dini bukan anak kecil lagi yang harus dijagain terus kali, iya kan Din,” tiba-tiba Zita sudah menyuruh Arga pergi saja.
“Iya Ga, aku enggak perlu dikawal terus kok...” Dini meyakinkan Arga untuk tidak khawatir meninggalkan dirinya bersama gengnya Angel.
Arga yang ragu meningalkan Dini, tapi malah didorong-dorong oleh Zita dan teman-temannya agar menjauh. Arga memutuskan untuk mendekati Rico dan terlibat perbincangan.
“Nih Din diminum,” Levi menyodorkan sebuah gelas minuman.
“Makasih,” Dini menerima begitu saja.
Semua sahabat Angel tampak bersahabat, Dini mendengarkan cerita-cerita yang mengalir dari mulut sahabat-sahabat Angel.
Tanpa terasa pesta semakin ramai dan entah kenapa kepala Dini merasa pusing. Pusing sekali, untung saat dirinya merasa akan jatuh ada tangan yang menahan kuat dirinya dan membimbingnya untuk meninggalkan pesta Angel yang entah pukul berapa selesai. Yang pasti semua menikmati pesta sambil menanti pergantian tahun.
***
Arga menyetir mobil sedannya pelan, karena jalanan macet dengan keramaian orang-orang yang ingin merayakan pergantian tahun.
“Dinn... Dinnn...” dari samping Arga mengusap-usap bahu Dini yang tertidur, sepertinya akibat Dini mencoba minuman yang beralkohol saat dengan sahabat-sahabat Angel sehingga teler. Arga sudah duga pasti Zita cs memang ingin mengerjai Dini.
“Iyaaa, apa Ga? Aduh aku agak pusing nih...” kata Dini masih tetap setengah tertidur.
“Ya udah, eee jalanan semua macet nih Din. Kita mampir ke rumah aku dulu aja ya... kamu pernah bilang ingin melihat roof top rumah aku juga kan? Malam hari duduk di sana pemandangannya sangat indah, apalagi nanti pas tepat pukul 24.00 pesta kembang api,” Arga mengusulkan untuk menghabiskan malam tahun baru di roof top rumahnya saja untuk menyaksikan pesta kembang api. “Iya,” dan Dini memilih terlelap.
***
Jam menunjukkan pukul 23.30, setengah jam lagi akan pergantian tahun. Arga sudah sampai di pintu depan rumah dan ternyata ada kertas dengan tulisan, ”Mas Arga maaf Bibi dan Mang izin ya, malam ini mau pulang ke rumah soalnya ada banyak saudara datang dari kampung.”
“Pantesan nggak ada yang bukain pintu gerbang, hmmm ternyata Mang dan Bibi izin pulang,” Arga menggumam.
“Duh si Dini kenapa bisa tidur mulu, kalau cuma minum satu sloki harusnya sih gak teler gitu, pasti ada yang enggak beres,” Arga bergegas membuka pintu dan memapahnya.
“Udah sampai ya Ga, mana tamannya?” Dini ternyata nggak sepenuhnya mabuk, buktinya masih sempat bertanya di mana letak tamannya.
“Ayo pelan-pelan jalannya,” Arga menuntun Dini menaiki tangga menuju sebuah taman yang ada di lantai tiga.
Saat membuka pintu kacanya, angin malam menerpa mereka.
“Dingin Ga,” Dini mendesis.
Canggung Arga memeluknya. Tapi, Dini tidak memprotes sama sekali. Wajah Dini dalam dekapannya tampak sangat cantik.
“Din lihat, indah sekali kan? Arga mendudukkan Dini pada sebuah ayunan kayu yang cukup besar, beralas bantal yang empuk, beratap kain dan bunga rambat di kayunya.”
“Iya Ga bagus sekali,” suara Dini lemah.
Tiba-tiba suara sirine meraung-raung dilanjutkan hiruk pikuk letusan kembang api menandai pergantian tahun baru. Langit tampak indah saat kembang api memecah.
Arga menggenggam tangan Dini, hampir ada setengah jam menikmati bersama indahnya pergantian tahun baru dan semua terasa indah saja saat itu.
“Selamat tahun baru Din,” Arga menggenggam tangan Dini. Dini tersenyum dan sesaat saling menatap begitu dekat, begitu hangat dan begitu berdebar. Arga menyentuh pipi dan berdua saling mendekatkan wajah mereka.
Tanpa tersadar semua terlalu indah mereka lewati dalam perasaan cinta dan suasana yang romantis. Berdua menghabiskan malam panjang tanpa beban hingga pagi menyadarkan mereka akan sebuah kenyataan. Sepertinya sebuah kesalahan baru saja mereka lewati juga.
“Din maafkan aku ...”
Arga meyakini apa yang mereka lakukan alasannya adalah cinta. Entahlah dengan Dini.
***
“Aduh kepalaku...” Dini terbangun setelah tertidur lelap di pergantian tahun. Ternyata Arga juga tidur terlelap di karpet tebal di lantai samping tempat tidur.
“Arga!” Dini berteriak.
Kepanikan mulai merambati dirinya. Semalam apa yang telah dia lakukan?
“Arga! Anterin aku pulang! Ayah dan Ibu pasti akan marah besar aku nggak pulang semalaman!” kepanikan Dini membuat Arga juga panik.
“Iya maafkan aku, aku juga ketiduran setelah...” Arga mengucek matanya.
“Setelah apa Ga?” tanya Dini penasaran dengan kalimat yang tak terselasaikan.
“Setelah... setelah... kita melihat pesta kembang api di taman roof top. Ingat kan?” Arga mengalihkan pembicaraan.
Dini hanya mengangguk-angguk, tapi entahlah sepertinya memang sudah ada yang terjadi antara mereka semalam. Sesaat Dini merasa semalam menghabiskan waktu pergantian tahun sangat indah dengan Widi, hingga... hingga dirinya merasa semua begitu indah karena Widi bersamanya.
Tapi sekarang Dini sadar seratus persen setelah mengguyur tubuhnya dengan air shower di kamar mandi. Dini sepenuhnya sadar bukan Widi yang telah bersamanya melintasi pergantian tahun baru sampai dirinya menyerahkan semuanya.
“Din diminum ya dan dimakan roti bakarnya. Maaf nggak ada Bibi, kita sarapan roti bakar dan susu aja ya,” Arga juga sudah lebih segar, rambutnya basah dan wangi tubuhnya merebak menyadarkan Dini akan apa yang terjadi semalam.
“Ga, semalam kita ngapain ya?” Dini meminum susu hangatnya.
“Entahlah Din, sudahlah nggak usah diingat. Aku anterin pulang yuk,” Arga tahu persis semalam apa yang telah terjadi, tapi pasti Dini tidak akan terima.
Ada sakit di hatinya, semalam Dini menganggap dirinya adalah Widi. Ada rasa sesal di hati Arga, karena semalam Dini saat bersamanya bukan Dini yang sepenuhnya sadar. Pasti ada yang tidak beres dengan air putih yang Levi sodorkan semalam, itu bukan air putih biasa tapi air putih yang sudah dicampur dengan obat. Arga terhenyak menyisakan perih dan rasa bersalah.
Semalam Arga sadar dirinya telah menghancurkan kepercayaan kedua orang tua Dini, yang telah memberikan kepercayaan padanya untuk menjaga Dini.
Pagi ini Arga tersadar sepertinya keindahan yang semalam terjadi harus dia bayar mahal, karena tampaknya akan semakin susah untuk menjangkau hati Dini.
“Din maafkan aku, sungguh semalam alasanku adalah hanyalah cinta...” Arga hanya bisa melaras dalam hati, memilih diam melihat jalanan yang menjadi sepi setelah pesta tahun baru usai yang menyisakan sampah di mana-mana.
***

Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Gm.

menakutkan. ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Download Titik & Koma