Suka Dalam Diam
Banyak yang bertanya-tanya, sampai kapan Dini akan selalu menjadi bintang? Dia bagai anak sempurna dengan kecerdasan dan banyak prestasi. Padahal dia hanya anak dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Kadang ada saja rasa cemburu di antara para orang tua yang melihat prestasi Dini. Tapi bersyukur, Ibu Dinda tidak terlibat dengan acara kumpul-kumpul para ibu. Beliau lebih suka mengurus rumah, kebun kecil, dan peliharaan mereka. Jadi tidak membuat lebih banyak keirian lagi.
Pak Danu—ayahnya—juga demikian, selalu merindukan rumahnya selepas mengajar.
***
“Din! Ngelamun saja,” senggol Mela, sahabatnya.
“Nggak kok. Ini, lho, lagi nikmatin es krimya,” Dini tampak grogi.
“Dini... Dini! Masih saja berbohong denganku! Mela gitu, lho!” Mela menjawil pipi Dini yang putih.
“Apaan, sih, Mel!” Dini tahu, Mela pasti memergoki tatapan matanya yang tidak lepas melihat sosok Widi, yang tengah men-dribble bola menuju ring basket dan baru saja masuk! Spontan Dini ikutan riang. Pasti Mela menangkap semua reaksinya.
“Din, sampai kapan kamu hanya memuja diam-diam pada si Widi. Heran, padahal kalian kerap bersama dari kelas satu. Kalian menjadi andalan SMA Seroja untuk mencetak prestasi. Dari lomba cerdas cermat, sampai murid teladan juga bersama.Tapi, kok kamu masih saja nggak mau mengakui kalau kamu menyukainya? Sampai kapan, Din? Kamu bakalan nyesel lho, kalau Widi akhirnya memilih cewek lain! Kamu harus gerak cepat! Heran deh, pinter-pinter tapi bodoh soal cinta!” cibir Mela.
“Aku... aduh, susah kalau harus jujur ngomong perasaanku pada Widi. Soalnya dia sudah menganggap aku seperti teman biasa saja,” Wajah Dini menunduk muram.
Kalau sudah begini, Mela tidak mau menggoda Dini lagi. Dirinya takut Dini marah dan tidak mau mengajari pelajaran-pelajaran IPA yang sulit itu.
Agak menyesal juga Mela mengambil jurusan IPA karena harus memenuhi keinginan mami papinya yang ingin dirinya juga menjadi seorang dokter seperti mereka. Padahal Mela ingin masuk kelas Bahasa saja, karena bercita-cita ingin menjadi penulis sembari jadi dosen Bahasa Inggris.
Kalau Dini yang berotak encer memang layak masuk ke IPA. Dia jago semua mata pelajaran. Mela juga heran, bisa-bisanya otak Dini pintar dan encer.
Dini bercita-cita jadi dokter. Jelas pilihan yang tepat, karena dia memang layak memasuki Fakultas Kedokteran.
“Din, sampai kapan kamu menyukai Widi hanya dalam hati? Tapi terserah kamu sajalah! Jangan nangis kalau nanti Angel, Si Barbie Berotak Udang yang jadi pemenang merebut hatinya Widi, ya!” Mela terus saja memanasi Dini yang hanya diam seribu bahasa.
“Tuh, yang diomongin mendekat juga. Heran deh, banyak kesempatan dekat dengan Widi kok ya susah banget sih, kamu jujur saja!” Mela menatap tajam ke Dini yang agak grogi saat Widi tengah menghampiri mereka berdua dengan badan penuh keringat setelah bermain basket.
“Psttt… Mel! Please jangan ngomong apa-apa! Aku juga belum yakin kok sama perasaanku sendiri pada dia. Please yaa, jangan buat persahabatan aku dengan Widi jadi kacau gara-gara perasaan yang belum jelas. Aku janji! Kalau memang aku suka dan tentunya Widi juga suka, aku akan kasih tahu kamu,” Dini memohon pada Mela.
“Okay! Tapi janji ya! Ce-ri-ta!” Mela mengancam sahabatnya.
“Iya! Janji!” Dini tersenyum lega. Meskipun sahabat dekat, tapi Mela tidak mau memasuki urusan pribadi Dini terlalu jauh. Walau Mela kerap ngomel-ngomel tentang sikap Dini yang tertutup.
“Hai, Din! Kamu sudah dikasih tahu Bu Berta masalah lomba tulis remaja dengan tema pelestarian lingkungan?” Widi datang-datang langsung bertanya masalah lomba tulis remaja yang bertemakan pelestarian lingkungan yang sepertinya akan melibatkan dirinya dan Widi.
“Iya sudah Wid, kita siap-siap saja,” jawab Dini kalem.
Tadi pagi Bu Berta memang sempat bicara di ruang guru saat Dini ingin meminta persetujuan material majalah dinding bulan ini.
Memang sesuai, dirinya dan Widi yang terlibat ektrakurikuler majalah dinding menjadi kandidat kuat yang akan diikutkan lomba ini. Bukan hal yang spesial sebenarnya, karena sudah beberapa kali perlombaan, Dini kerap bekerja sama dengan Widi.
Dari kelas X juga terlibat urusan penugasan upacara, cerdas cermat, seleksi murid teladan. Banyak kegiatan yang mempertemukan mereka berdua. Sudah banyak yang Dini ketahui tentang Widi. Dan hanya Widi yang menurut Dini adalah cowok sempurna yang bisa mengerti dirinya.
Saat pertama kali masuk ke SMA, Dini sudah suka melihat sosok Widi. Untuk pertama kalinya, hatinya merasa berdebar tidak karuan saat melihatnya.
Bahkan saat dirinya harus menjadi pengibar bendera, sementara Widi menjadi pemimpin upacara. Berdebar jantungnya saat membawa Sang Saka Merah Putih dan harus melewati sosok Widi yang berdiri tegap di tengah lapangan upacara. Untung semuanya dapat berjalan dengan sempurna.
Bahkan Widi sempat menyanjungnya setelah selesai upacara. “Wah, keren Din… selamat ya karena bertugas dengan baik!”
Sanjungan Widi untuk pertama kalinya membuat hatinya berdebar. Dini suka sanjungan Widi yang spontan. Dan detik itu, Dini tahu selama ini dirinya yang hanya berkutat dengan prestasi, merasakan sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang sebelum-sebelumnya tak terpikirkan. Sebuah rasa di masa remaja yang sarat akan ketertarikan pada pandangan pertama.
Semakin kerap dipertemukan untuk mewakili sekolah dalam lomba-lomba dengan Widi, membuat Dini semakin bersemangat untuk terus berprestasi agar bisa sekadar dekat dengan cowok itu.
Tapi selama ini, hanya Widi yang kerap bercerita tentang dirinya. Tidak ada kesempatan untuk Dini bercerita banyak akan siapa dirinya, apalagi perasaannya yang tumbuh diam-diam menjadi sebuah cinta terpendam.
Sampai kelas XI, Dini juga mulai merasakan apa yang namanya sakit hati jika orang yang diam-diam dicintainya mulai bercerita akan rasa suka terhadap seseorang.
Yah, dua minggu yang lalu saat mengumpulkan naskah-naskah yang masuk untuk majalah dinding, Widi mencurahkan perasaan hatinya.
“Din, kamu pernah suka sama seseorang?” tanya Widi yang tengah memegang sebuah naskah puisi.
“Eee belum, sih...” tentu saja jawaban pendek yang bohong.
Karena hati kecil sebaliknya dengan lantang berkata lain.
Hati kecil Dini mengatakan dengan lantang! “Tentu saja pernah! Dan sayangnya itu kamu, Widi Putera Permana! Partner untuk mewakili sekolah dalam berbagai lomba, rival untuk merebutkan sebagai murid teladan tahun ini, dan sayangnya juga kamu tidak pernah tertarik dengan diriku.”
Hal ini semakin membuat Dini tidak berani untuk jujur soal apapun tentang perasaannya yang sebenarnya. Makanya Dini memilih menyukai Widi dalam diam.
“Memang kenapa, Wid? Kok nggak biasanya kamu tanya hal yang sensitif gini?” Dini balik bertanya penuh curiga.
Sepertinya Widi tengah menyembunyikan perasaan terdalam di hatinya, tapi sekarang butuh seseorang yang mau mendengarkan perasaannya. Dini sama sekali tidak keberatan untuk mendengar cerita apapun yang Widi bagi dengan dirinya.
Jujur, dengan Widi terbuka dengannya selama ini, Dini menjadi sosok yang terasa dekat sekali di hatinya. Widi kerap bercerita tentang keluarganya, tentang papanya, mamanya, dan Beni—adik cowoknya yang tengah ABG juga.
Salahkah hatinya jika rasa mengagumi di awal semakin berkembang menjadi rasa suka dan mungkin… rasa cinta?
Dini hanya berharap, waktu yang akan menyadarkan cowok itu jika dirinya memendam rasa, tanpa harus bicara. Memendam rasa dalam diam memang berbeda. Debaran itu semakin terasa. Hanya hati ini yang merasakan betapa hebat dan kuatnya rasa itu bersemayam. Mungkin saja ini memang indah, meski hanya sebuah harapan yang terpendam.
Tapi mungkin juga akan sangat menyakitkan pada akhirnya, jika suatu saat orang itu akan memilih hati yang lain.
“Din, kamu tahu ngga sih rasanya jatuh cinta untuk pertama kali?” Widi berkata dengan wajah cerah. Ada semburat merah di wajahnya.
Hati Dini berdetak lebih cepat dari biasanya, ada yang berbeda dari pembicaraan kali ini dengan Widi.
“Kamu kenapa sih, Wid? Aku nggak ngerti deh!” kata Dini mulai mengontrol dirinya.
“Angellll! Aku jatuh cinta dengannya,” Widi serasa lepas dari sebuah beban rasa yang telah lama tersimpan di hatinya, dan ingin ada seseorang yang tahu! Dan itu adalah Dini, yang selama ini menjadi sahabat terdekat dan terbaik selama SMA. Walau Widi sadar, terkadang mereka harus selalu bersaing memperebutkan sebagai sang juara, tapi Dini tetap teman yang paling enak diajak berbicara selama ini.
Satu kata, sebuah nama… Angel, membuat Dini semakin rapat menutupi perasaannya.
Kenyataan memang dia hanya bisa memendam perasaan dalam diam untuk cowok yang pertama kali menyentuh hatinya.
***
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...