Darah
“Div, kamu dipanggil Pak Adhar ke ruang kerja beliau.”
Ini masih pagi. Matahari pagi begitu lembut menilik dari sela jendela kaca persis mengenai meja kerja Nadiva. Satu hal yang sangat disukai Nadiva, cahaya matahari yang begitu lembut diraihnya dengan tangannya.
“Bukankah harusnya Pak Adhar ada di Singapura hari ini?” tanya Nadiva perlahan.
Gio, asisten sekretaris mengerutkan kening. Barangkali dia juga mulai lupa apa-apa saja yang menjadi jadwal mendadak sang direktur itu di awal minggu.
“Harusnya hari ini Pak Adhar mempromosikan barang baru perusahaan. Pertemuan dengan perusahaan besar lainnya di luar negeri sana.” Nadiva memberi tahu. Gio menepuk jidat. Menerangkan dengan tersirat bahwa dia hampir saja lupa dengan hal itu dan kini sudah diingat kembali.
“Pak Adhar ada di sini. Itu artinya dia batal ke Singapura,” Gio nyengir.
Nadiva berdiri hendak menuju ke ruang kerja Adhar Irfandi lalu Gio segera menghardik pelan.
“Nadiva sayang... sekalipun kamu adalah aset perusahaan berharga, kamu harus lebih pelan-pelan untuk menghadap sang mulia raja, si pemilik perusahaan yang memiliki kekayaan melimpah dan begitu tersohor itu.
Nadiva tertawa. Sepagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Gio selalu saja bercanda dengan terlalu berlebihan. Meski begitu, Nadiva mengiyakan. Tentu, gadis itu sudah tahu bagaimana cara bersikap di depan sang direktur tanpa harus diingatkan oleh Gio.
***
Ruangan kantor begitu senyap jika semua orang sedang bekerja serius, kecuali bagian gudang yang selalu seperti pasar Sukaramai di tiap saat. Nadiva melangkah perlahan. Dengan hentakan sepatu yang menggema di seluruh ruangan. Ruangan yang dilewati Nadiva memiliki bagian ruang kecil yang menjadi bagiannya. Di dalam ruang kecil itulah biasanya karyawan-karyawan perusahaan itu bekerja sesuai dengan bidangnya. Beberapa karyawan lain disatukan dalam sebuah ruang besar, yakni para IT handal perusahaan yang ditugaskan untuk selalu siap menginformasikan, membagi, memperbaiki, dan menanggulangi banyak hal yang terjadi di dalam perusahaan maupun memantau perusahaan lain yang dianggap sebagai saingan perusahaan. Bagian gudang yang menjadi tempat produksinya produk perusahaan ada di bagian bawah dan dalam ruang terpisah.
Nadiva berada di posisi manajer perusahaan. Kelihaiannya dalam bekerja, mengatur tim, dan merancang inovasi baru membuatnya menyandang prestasi gemilang di perusahaan itu. Hal tersebut yang menjadi alasan sang direktur menahannya untuk tetap tinggal. Yang tetap tinggal adalah orang-orang yang bekerja tanpa harus berbicara, yang memiliki hasil tak sebatas wacana.
***
“Tidur nyenyak tadi malam?” Meskipun sudah terbiasa, Nadiva masih juga terkejut jika Adhar Irfandi menggunakan bahasa informal secara tiba-tiba.
“Seperti biasa, Pak.”
Adhar Irfandi manggut-manggut. Dia duduk di kursi empuknya seperti tak pernah terusik oleh hal apapun. Ketenangan yang seperti itu kerap yang membuat Nadiva merasa bahwa keputusannya untuk tetap di perusahaan adalah keputusan yang tepat. Sejak hari di mana seorang Adhar Irfandi, pemilik perusahaan ternama yang kesohor di seluruh kota meminangnya untuk dijadikan sebagai putri, itu membuat Nadiva cukup terharu. Bukan tentang apa yang dimiliki oleh direktur itu, tapi tentang bagaimana seorang yang tak ada kaitan secara biologis bisa menjadi seseorang yang bahkan lebih dari ayah kandung sendiri.
“Sesuatu terjadi beberapa hari belakangan.”
Senyap. Tak ada suara yang kedengaran selain bunyi hentakan jari tangan sang direktur yang sangat perlahan di atas meja.
“Kamu tidak merasakannya, Div?” Adhar Irfandi berdiri mendekati putri angkatnya itu.
Nadiva terdiam. Teringat saat Adhar dan istrinya berkali-kali mengajaknya untuk tinggal di rumah yang sama bersama seorang putra angkat mereka. Nadiva menolak meski dia menerima dengan rasa terima kasih karena sepanjang yang dia ingat keluarga itu telah menjadi begitu baik padanya. Bagi Nadiva, anak angkat tetap anak angkat. Nadiva selalu menyadari, seorang Adhar mengangkatnya tidak seratus persen untuk dianggap menjadi anaknya melainkan kelak menjadi pewaris tunggal perusahaan dengan satu cara. Menikahkan Nadiva dengan putra tunggalnya. Sayangnya, Nadiva tak mencintai Gian Irfandi dan tak berniat untuk mencintainya.
“Div...” panggilan sayang yang diberikan ibunya itu terdengar begitu lembut di telinga. “Biasanya kamu selalu tahu apa yang akan terjadi, Nak.”
Nadiva terperangah. Apa yang dibicarakan dan apa tujuannya, Nadiva tiba-tiba tidak mengerti. Dan gadis itu lebih tak mengerti lagi ketika sang direktur mengatakan, beberapa malam hingga malam tadi, dia diikuti oleh mimpi yang sama.
Darah!
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...