Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Scp-031

Nadiva pesimis perusahaan akan aman dalam waktu dekat. Mengingat semakin hari teror itu semakin nyata. Para korban dari perusahaan sudah banyak. Rere yang meninggal tanpa sebab di ruang kerja, Lerin yang meninggal terjerembab di kamar mandi, Miko dan Dian di ruang santai sesaat sebelum berakhirnya makan siang. Semuanya ini jalan yang menjadi petunjuk dari SCP Foundation penuh liku-liku. Takdir tak pernah bisa dilawan dengan cara apapun, namun kematian oleh kejahatan dengan teror seperti itu sepertinya bisa ditolak.
Nadiva dan beberapa rekan yang sudah ditunjuk untuk mewanta-wanti teror itu sampai saat ini tak berhasil menemukan kepastian motif yang menjadi dasar banyaknya nyawa yang tergeletak tanpa meninggalkan petunjuk. Nadiva sangat geram tanpa tahu harus berbuat apa. SCP Foundation sejauh ini sukses mencegah beberapa peristiwa, termasuk menahan satu SCP yang hampir membunuh kepala IT perusahaan.
***
Nadiva tahu dia butuh rehat sejenak dan butuh refresh dan dia tak salah saat memilih tempat yang harus dia kunjungi karena danau indah dihadapannya berhasil membuatnya terpukau.
Nadiva menengadah tangannya, menjemput satu kepalan air pada tangannya dan merasakan kesegaran air jernih itu. Suasana hati begitu tenang, perlahan yang pasti gadis itu terhanyut oleh buaian angin sore yang begitu sejuk. Angin yang tiba-tiba menghasilkan suatu aroma yang sangat khas bagi Nadiva, wangi yang pernah dan selalu membuatnya jatuh cinta. Wangi parfum beraroma rose yang selalu dipakai ibunya tiap pagi, termasuk saat terakhir kalinya pamit dari rumah.
“Ibu.”
Nadiva menatap wanita di depannya. Di wajah wanita itu mulai tumbuh gurat tua yang menunjukkan orang tua itu sudah semakin berumur.
“Ibu.” Nadiva memanggil lagi. Wanita yang menatapnya hanya terdiam. Memandangi puterinya dengan tatapan yang sangat datar.
“Kamu sudah bertumbuh menjadi gadis yang manis.” Suara itu sangat khas. Itu suara ibunya yang sering berdengung di telinganya setiap pagi. Kehilangan yang begitu hebat dan tak terdefinisikan. Kehilangan yang tak berterima sehingga Nadiva menyimpannya sebagai kenangan abadi.
“Ibu.” Nada suara Nadiva tercekat. Air matanya mengalir perlahan sedangkan tenggorokannya kering. Nadiva takut jika ini hanya sebuah mimpi.
Nadiva menelusuri tepian danau. Mendekati ibunya yang melambai perlahan. Ibunya memanggil nama Nadiva dengan sangat lembut. Semakin dekat, semakin timbul rasa suka cita di hati Nadiva untuk segera memeluk ibunya. Jarak lima meter, gerakan kian melambat, Nadiva melihat orang yang ada di hadapannya bukan ibunya melainkan Irene yang raib dari ruang kerjanya sejak beberapa hari yang lalu.
“Astaga, Iren, ngapain kamu di sini?” Nadiva berlari meraih tubuh itu. Tubuh Irene dalam keadaan terikat, Irene sangat lemas, dan terlihat ketakutan.
“Apa yang terjadi?”
“Jangan ke sini. Dia akan datang sebentar lagi.”
“Siapa?”
“Dia sudah mendekat, Div. Tolong kamu sembunyi.” Irene terbata dan menelungkupkan tubuhnya. Sekujur tubuhnya gemetar hebat.
“Pergilah, Div.”
Nadiva termangu. Merasa tak mengerti dengan keputusan Irene saat seseorang tiba-tiba menarik kasar tubuhnya. Irene tercekat.Menutup mata, menunggu reaksi, perlakuan apa yang akan diberikan padanya.
“Saya tak percaya kamu seceroboh itu, Nadiva.”
Nadiva terkejut saat agen Liharson ada di depannya. Agen Liharson menariknya untuk bersembunyi.
“Biarkan Irene. Dia tak bisa diselamatkan lagi.”
Nadiva berontak. Melihat ke arah Irene dan ingin membantu. Namun, Nadiva hanya bisa terpaku. Menyaksikan tubuh Irene tercabik-cabik. Darah segar mengucur di seluruh tubuhnya. Seorang seperti monster mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Apa yang akan kita lakukan?” Tangan Nadiva memegang lengan Liharson. Meneguhkan hatinya supaya dia kuat dan tidak berteriak sehingga mereka ketahuan.
“Tolong beritahu perusahaan.” Nadiva masih sempat berpikir kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa gadis di hadapannya. “Kita tak bisa melakukan apapun lagi. Hanya orang luar yang bisa membantu.”
Berselang beberapa menit, beberapa dari perusahaan datang, termasuk Adhar Irfandi juga agen dari yayasan SCP. Sirine tanda bahaya membuat makhluk sadis di hadapan Nadiva berhenti sejenak. Dengan sangat jelas, monster itu menyeringai dan tak ada tanda ketakutan dalam matanya yang bercahaya dan tajam
.
Tiba-tiba makhluk itu terbahak dengan suaranya yang menggelegar di udara, sementara Irene masih bernyawa dan tergeletak tak berdaya. Dari yayasan SCP telah memberikan garis batas sehingga cukup aman bagi mereka yang baru saja datang menyaksikan.
“Lihat, Adhar Irfandi, satu per satu, semua akan hilang.” Makhluk itu masih tertawa. Meraih tubuh Irene, mematahkan tubuh tak berdaya itu dengan mudahnya sehingga terbagi dua seperti kayu bakar yang siap ditaruh di atas tungku.
***
Memang setelah dilihat di peta daerah, di wilayah itu tak ada danau yang dikunjungi oleh Nadiva kemarin. Nadiva ingat, saat itu kepalanya sangat penuh oleh banyak tanya misteri. Dia melewati daerah Perbaungan lalu melihat sebuah danau yang sangat cantik untuk kemudian merasa bahwa dia sangat membutuhkan refreshing pada saat itu.
“Itu SCP-006 kelas Safe. Kamu beruntung karena kelas Safe ini bukan SCP kelas mematikan, namun tetap berbahaya.” Agen Liharson menjelaskan dengan sabar bahwa SCP-006 merupakan SCP yang bisa berubah menjadi sebuah danau yang sangat indah. Air danau itu diyakini bisa menyembuhkan penyakit dan membuat suasana hati lebih baik. Namun, SCP itu bisa saja menjadi sangat jahat dengan mengubah kondisi kita malah semakin buruk.
“Saya melihat ibu saya ada di sana.”
“Astaga, kamu pasti salah. Tak akan ada orang yang meninggal akan bangkit kembali kecuali makhluk SCP yang membentuk dirinya menjadi persis sama dengan ibumu.”
“SCP lagi?”
“Ya. Itu SCP-031. Kamu harus tahu, makhluk SCP bisa menguasai pemikiran hati manusia. Selemah apa kamu saat itu, dia akan memengaruhimu untuk itu.”
Nadiva terdiam. Benar, akhir-akhir ini dia sangat sering memikirkan ibunya.
“Lalu, bagaimana jika saya menginginkan SCP-031 selalu ada supaya saya bisa seolah-olah sedang bersama dengan ibu saya setiap hari?”
“Jangan bodoh, Div. Semua makhluk yang menyamar akan menjadi jahat. Jangan pernah terpengaruh. Karena jika kamu memberi sugesti di dalam dirimu, mereka akan sangat cepat masuk yang akhirnya hanya akan menguasaimu.”
Nadiva tak peduli. Apapun itu, hari ini Irene menjadi korban dengan cara yang sangat menyakitkan dan membuat ngilu jika melintas di pikiran.

Other Stories
Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Download Titik & Koma