Tiga Puluh Tiga
Nadiva pada akhirnya sepakat untuk mendengarkan penjelasan dari Gihon. Seperti ahli nujum dari abad ke abad, Gihon menjelaskan detail SCP-130 yang mereka masuki tadi.
“SCP-130 itu makhluk SCP yang bisa merubah diri menjadi sebuah bangunan. Itu fungsinya untuk mengelabui calon korban. Beruntung tadi kamu hanya pura-pura menikmati hot milk chocolate, kalau tidak kamu akan lebih fatal dari Pak Adhar.”
“Hot chocolate-nya aroma darah.” Nadiva pucat pasi. Perutnya mual.
Gihon menegaskan, pura-pura menikmati berarti bidikan SCP-130 akan gagal. Artinya, aksi dan tujuan mereka gagal.
“Emang apa tujuan mereka? Apa aku pernah bersalah sama mereka? Mengganggu kehidupan mereka? Kok sekarang aku malah diganggu sementara aku tak pernah berniat untuk berurusan dengan mereka.” Nadiva mulai marah. Merasa dipermainkan oleh sesuatu hal yang sangat tidak disukainya.
Teringat mimpi terakhirnya saat itu tidur dua hari yang lalu, seseorang yang selalu membangunkannya berkata bahwa dia adalah darah sejati.
“Persetan dengan semua mimpi buruk itu, Gi. Aku sudah menahan diri untuk tidak tidur selama dua hari. Mimpi itu terasa menyakitkan.” Mata Nadiva berkaca-kaca. Gihon mengangguk paham. Dia juga turut berempati akan apa yang dialami oleh gadis di depannya sehingga sejauh ini dia mulai ikut nimbrung di dalamnya.
“Belum tentu kamu yang salah, Div. Kita belum selidiki motifnya.”
Nadiva terdiam. Dia sebenarnya ingin teriak di telinga Gihon untuk mengatakan padanya bahwa dia tak ingin mengurusi hal-hal aneh semacam ini. Tepat saat itu ingin dilakukan, HP Nadiva berbunyi.
“Iya, Vit?”
“Nadiva... Kamu di mana?”
Suara Vitria samar-samar kedengaran. Nadiva meminta Gihon untuk menepikan mobilnya sejenak.
“Aku lagi di jalan. Kenapa?”
“Kenapa nggak masuk kantor? Kamu sakit?” Suara Vitria parau.
“Ngapain saya masuk kantor pada malam hari?”
“Astaga... Kamu kelupaan waktu. Ini pukul delapan pagi.”
Di sisa tawanya mendengar ucapan Vitria, Nadiva melihat jam tangannya. 08.35. Jantung Nadiva berhenti sejenak.
DEG! Pukul 08.35? Perjalanan mereka, Gihon dan Nadiva sedari tadi mulai dari Cafe sang SCP-130 hingga saat ini memakan waktu sekitar empat jam. Itu artinya, Gihon dan Nadiva sedang melakukan perjalanan sejak sekitar pukul 04.00.
***
“Aku tidak tahu memulainya dari mana, Vit. Tapi sumpah. Aku sedang di jalan waktu kamu nelpon. Aku sedang jalan sama Gihon, teman SD-ku.”
Vitria termangu.
“Kamu sudah mendapat kabar sepagi ini?” Vitria tak merespon ucapan Nadiva malah beralih ke topik pembicaraan lain.
“Pak Adhar sudah masuk kantor lagi.”
“Iya. Tapi, bukan itu yang saya maksud.”
“Apa?”
“Warman, pegawai bagian produksi yang masuk sekitar sebulan lalu, hari ini meninggal. Katanya dia ditemukan berlumuran darah di tempat tidurnya.”
“Hah? Dibunuh?”
“Bukan.”
“Bunuh diri?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Darah itu bukan berasal dari tubuhnya, Div. Darah itu keluar dari alam mimpinya sendiri.”
Senyap. Diam yang sangat mencekam. Satu hari penuh, perbincangan tentang Warman tak habis-habisnya. Setiap orang bertanya lalu tak mendapatkan jawaban yang pasti.
“Tak ada luka di seluruh bagian tubuhnya. Dia seperti disiram darah panas.” Adrenalin Nadiva terpacu saat mendengar ucapan itu dari Gio. Dalam diam yang menyesakkan seluruh isi kantor, Nadiva masuk ke ruang kerjanya. Cahaya laptop di depannya terpancar begitu Nadiva menggeser kursor, Nadiva membuka riwayat Warman yang bahkan baru beberapa hari yang lalu menikmati gaji pertamanya.
Nadia terkejut saat tiba-tiba foto Warman sudah ada di layar laptopnya. Tiga puluh tiga hari yang lalu pegawai produksi itu diterima oleh perusahaan.
Other Stories
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...