Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Motif

Dua hari setelah kesepakatan itu, Teror mengguncang seluruh perusahaan. Bermula dari Angga, salah satu karyawan yang mengambil pintu jalan pintas yang berbeda dari biasanya, teriakan di ruangan sebelah ruang kerjanya tiba-tiba histeris. Seorang karyawan tiba-tiba menghilang dari ruangannya seiring dengan pintu kantornya yang tiba-tiba lenyap.
“Tadi, saya melihat dia lewat dari sebelah ini.” Seorang akan yang lain berusaha membenarkan ucapan itu. Beberapa orang melihat Angga berlalu dari sana.
“Bukankah sebelumnya juga tidak ada ruangan di sana? Saya tidak pernah melihat ada pintu di bagian ini, bagaimana mungkin Angga akan lewat?”
Nadiva menelan ludah. Bagaimana mungkin seluruh gedung kantor ini menjadi begitu misterius. Sementara Nadiva sedang memikirkan berbagai kemungkinan, ruangan menjadi senyap. Cat putih mewah yang menghiasi seluruh ruangan itu secara perlahan berubah keabuan. Semua terdiam. Diam yang mencekam, diam yang menghasilkan sunyi yang menakutkan. Beberapa perempuan saling berpegangan satu sama lain. Nadiva memegang sudut meja dengan kuat. Seperti takut jatuh. Ruangan kian gelap. Warna keabuan menghasilkan asap entah darimana asalnya.
Seseorang terjerembab saat belum sempat memberi aba-aba supaya semuanya lari dari ruangan. Seorang yang lain terlempar ke sudut yang berbeda ketika hendak berlari menyelamatkan diri. Perlahan-lahan, tembok salah satu ruangan berderak, seperti pintu yang dibuka perlahan di malam hari. Itu tembok yang tadi tempat masuknya Angga lalu menghilang. Perlahan-lahan, asap yang menyelimuti ruangan berkumpul dalam satu titik. Tembok yang berderak entah bagaimana berubah menjadi sebuah pintu. Pintu yang tidak ada bedanya dari bentuk pintu di kantor itu.
Semua tercekat, wajah pucat tanpa suara. Beberapa orang bahkan gemetar dengan sangat hebatnya. Ini nyata, semua tidak sedang bermimpi. Tidak ada mimpi buruk yang menimpa mereka. Mereka benar-benar mengalaminya di alam sadar saat ini juga.
“Pintu... Pintu yang tadi digunakan Angga masuk ke ruangan,” ujar seseorang. Entah ruangan yang mana, tapi satu yang pasti Angga masuk dan kemudian pintu menghilang.
Nadiva di tengah kepanikannya sempat memikirkan SCP Foundation, yayasan yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan.
“Ini dari kantor Adhar Inc. Di sini butuh bantuan. Segera.”
Agen Wira sudah berpesan, kalau terjadi hal darurat, jangan pernah ditelepon karena makhluk SCP tidak menyukai suara manusia sehingga sebisa mungkin Nadiva mengetik chat ke WA yayasan SCP dengan tangan gemetar.
Tepat saat pesan itu terkirim, pintu yang tiba-tiba muncul itu terbuka mendadak dan asap yang mengepul di salah satu sudut ruangan bergerak cepat menuju pintu. Ruangan kembali terang. Tak ada asap, tak ada tembok yang berubah. Hanya beberapa sekon setelah itu, dari luar pintu yang terbuka mengeluarkan cahaya yang sangat terang, seperti cermin yang dipantulkan ke arah cahaya matahari. Tak terhitung dengan kecepatan sekon, cahaya itu membawa sesosok manusia dan menghempaskannya dengan sangat kuat di lantai.
“ANGGA!!!”
Semua histeris melihat Angga yang sudah ada di depan mereka. Oleh dentuman yang begitu keras dan cahaya yang begitu panas, tubuh Angga remuk dan berserak di lantai seperti piring kaca yang pecah karena jatuh dari meja makan.
***
“Terlambat,” ujar Nadiva dengan ketus.
SCP Foundation tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat. Hanya lima menit. Meskipun begitu, tetap saja mereka terlambat. Beberapa histeris melihat Angga yang sudah tak berwujud lagi. Mata Nadiva berkaca-kaca. Di satu sisi dia marah kepada SCP Foundation yang datang setelah Angga meninggal. Di sisi lain, dia marah kepada dirinya sendiri yang sejauh ini tak bisa berbuat apa-apa.
“Dia dicegat oleh makhluk SCP di dalam dengan mengelabuinya melalui pintu kantor itu.”
Semua terdiam mendengar penjelasan pihak SCP Foundation.
“Saya Agen Liharson. Saya turut berduka atas apa yang terjadi sejauh ini.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Berapa lagi korban staf kantor hingga semua beres dan teror berhenti?”
Nadiva tak bisa menahan diri.
“Lihat kami. Kami tak butuh identitasmu. Kami hanya butuh bantuanmu untuk mengamankan perusahaan!” Air mata Nadiva terjatuh dan dia mengelapnya dengan kasar.
“Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik. Ini hanya permulaan. Kami...”
“SCP Foundation itu apa? Perusahaan yang pintar berdalih? Membela diri? Atau apa?” Nadiva mencerocos dengan pertanyaan saat Vitria menyuruhnya untuk tetap tenang.
“Mari kita lanjutan kerja sama ini. Bantu kami.” Vitria menggantikan Nadiva berbicara.
“Mana pimpinanmu?” Nadiva masih berang saat melihat Agen Wira tak ikut bersama mereka. “Begini cara SCP Foundation dalam bekerja sama untuk menuntaskan masalah?”
“Baiklah. Tunggu, Div. Kamu tenangkan hatimu.” Vitria memegang pundak gadis itu. Dia tahu bagaimana perasaan Nadiva melihat teror yang sudah terjadi. Melihat teman seperjuangan mati dengan cara sadis tak terlalu mudah untuk diterima.
SCP Foundation juga tak banyak bicara. Agen Liharson dengan hati-hati membuka suara.
“Makhluk SCP memanfaatkan orang-orang yang memang sanggup mereka masuki. Dalam keadaan lemah, punya beban, manusia tidak ada dalam kesadaran yang standar. Masalah sering membuatnya stress, melamun, tak bersemangat. Saya menduga, motif itu menjadi alasan bagi SCP yang satu ini untuk memanfaatkan Angga sehingga dia menjadi korban berikutnya atas teror ini.”
“Sebenarnya apa motif makhluk itu datang kemari? Saya pernah membaca, jika memang makhluk lain itu ada, mereka datang karena merasa terganggu.” Vitria selalu berkepala dingin dalam menanggapi segala sesuatu. Dia sepertinya akan sanggup menanti penjelasan sekalipun itu tak logika baginya.
“Ada seseorang yang terganggu oleh perusahaan kalian.”

Other Stories
Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma