Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Pintu Dunia Lain

Suasana pagi kota seperti biasa. Riuh dan bara api semalam tak cukup mengurangi populasi bangunan yang bersesak-sesakan di sepanjang jalan. Agen Wira sudah mendapati kabar bahwa bagian utara kota itu tadi malam mengalami kebakaran yang cukup merugikan. Setelah mengecek langsung ke lokasi oleh beberapa rekan rahasia, agen Wira mendapati kabar bahwa itu adalah sejenis teror yang akan menjadi tanda-tanda klimaks teror yang dialami oleh daerah teror yang selama ini tengah mereka atasi. Siapa lagi kalau bukan teror perusahaan Adhar?
Itu bukan sesuatu yang aneh bagi SCP Foundation. Makhluk SCP selalu membuat pengalihan teror untuk mengumpulkan kekuatan. Agen Wira was-was makhluk SCP itu akan melakukan sesuatu yang tak seperti dugaan awal mereka.
Akhir-akhir ini, terjadi hal yang sulit dimengerti oleh agen Wira meskipun sudah dianalisis. Makhluk SCP tidak pernah bertindak jauh tanpa ada komando, tanpa ada orang yang bekerja di dalamnya. Apapun motifnya, si pengulah ini harus cepat-cepat dibinasakan. Siapa dalang di balik ini semua? Siapa dalang di balik kematian Marsella, siapa dalang yang telah menghabiskan banyak staf perusahaan Adhar Inc. tanpa wacana?
Agen Wira menaruh curiga terhadap beberapa kemungkinan yang dia tahu akan sangat berbahaya kalau itu benar-benar terjadi. Maka, sepanjang hari, agen Wira memilih untuk tetap berdiam di satu tempat di ruang rahasia untuk memikirkan beberapa hal dan merumuskannya di dalam hatinya. Kesendirian seperti ini sangat dibutuhkan untuk memberinya perenungan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi ke depannya serta apa yang harus dilakukan untuk itu.
Beberapa makhluk SCP yang berada di tahanan memberi aura sunyi yang utuh. Agen Wira tak sepenuhnya menguasai situasi ini, tak pernah benar-benar menikmatinya, tapi dia akan cukup puas menjadi dirinya sendiri ketika penemuan-penemuan membuat banyak orang tertolong. Itu saja cukup membuat dirinya menjadi sukses.
Agen Wira mengambil buku catatan yang ditinggalkan oleh Marsella dan membuka lembaran berisi catatan terakhirnya. Dalam ruangan yang begitu kecil, sunyi, gelap, kaku, diiringi dengan hembusan angin aroma darah yang begitu menusuk, erangan makhluk SCP mulai berkuasa seakan selalu bersedia meneror semua bagian bumi ini.Itu membuat agen Wira merasa berada dalam dunia yang benar-benar sendiri untuk menjawab teka-teki berkepanjangan, lalu beralih ke dunia lain untuk mendapat orang yang bisa dijadikan sebagai teman pemecah masalahnya.
Agen Wira menutup mata. Membuka pintu dunia lain yang selama ini dia simpan. Masih menutup mata seraya mengucapkan mantra pembuka pintu. Dua menit berlangsung ketika dia menemukan sebuah pintu terletak di depan matanya. Agen Wira menatap pintu itu dengan konsentrasi penuh untuk membuka dengan mantra lagi.
Pintu itu terbuka dengan perlahan. Derik pintu membuat sekujur tubuh agen Wira menegang untuk kemudian pintu yang terbuka membawa agen Wira ke dalam.
***
Robert Chetford berjalan menuju kerajaan dunia lain yang menjadi pemilik tertinggi yayasan SCP Foundation. Sambil menunduk penuh, Robert Chetford berjalan menuju singgasana tempat duduknya seorang wanita yang sangat cantik.
“Saya datang dari dunia Bumi untuk menghadap...”
Tak ada penggawa dan pasukan di sana, namun secara tak kasat mata mereka menjadi pelindung bagi wanita cantik itu.
“Kamu siapa?”
“Saya Robert Chetford yang ditempatkan di bumi.”
Wanita itu menengadah. Wajahnya begitu sumringah mendengar nama itu.
“Akhirnya kau pulang juga.”
Wanita itu turun dari tahtanya untuk menciumi Robert Chetford.
“Bagimana kabar Bumi? Apa misi yang sedang berjalan di sana?”
Tampak Robert Chetford menceritakan kepada wanita cantik yang memerhatikan matanya sementara Robert Chetford sedang fokus ke ceritanya.
“Aku tahu kamu bisa mengatasi masalah itu. Cepatlah selesaikan. Aku jenuh menunggumu begitu lama untuk duduk di sini.”
Robert Chetford mengangguk. Mencium wanita yang sudah sangat lama ditinggalkannya itu lalu berbalik menuju pintu keluar. Kembali ke Bumi, tempat yang sangat banyak menyimpan kejahatan itu.
***
Agen Wira terhempas di ruang yang sama. Seluruh badannya keram. Dia terdiam lama. Menelungkup di lantai. Kali ini, dia kurang sempurna menutup semedinya. Kepalanya terbentur keras persis saat pintu dunia lain menghilang. Namun, apapun itu, agen Wira kini sudah bisa cukup lega. Dia sudah mendapat jawaban setelah tiga puluh tiga hari dia melakukan puasa, tanpa makan tanpa memasukkan apa-apa. Di tengah puasanya, sebenarnya dia cukup khawatir karena organ tubuhnya berderak seakan mau terlepas. Wira ragu untuk melanjutkan kembali, tapi hanya dengan cara ini dia sanggup mengakhiri visi terakhirnya sebelum dia ditetapkan untuk mendapatkan mahkota kerajaan SCP Foundation.
Pintu ruangan diketok oleh seseorang. Dia tahu itu adalah agen Liharson. Satu-satunya orang yang tahu keberadaannya ketika dia tiba-tiba menghilang.
“Ada berita buruk, Wir.”
“Apa?”
“Badan inteligen yang kita kirim untuk menangani peristiwa kebakaran di kota bagian utara kemarin hilang dan belum bisa ditemukan sekarang.”
Agen Wira terdiam. Menelan ludah yang sebenarnya kering karena ini hari ketiga puluh tiga dia puasa, yang artinya ini adalah hari terakhir setelah besok dia bebas melahap apapun yang dia mau, namun sejauh ini masih bisa disaring sesuai dengan nalar kemanusiaan yang dimiliki. Wira mengangguk-angguk kecil pertanda telah menerima laporan itu. Dia tahu itu akan terjadi. Dia tahu mereka akan jadi korban dari SCP Foundation selanjutnya.
“Mari, kita lanjutkan tugas.” Agen Wira melewati agen Liharson yang masih tertunduk di tempat.
“Wir...” Agen Liharson memanggil saat agen Wira membuka gagang pintu.Agen Wira menengadah.
“Hm?”
“Aku mau bicarakan sesuatu samamu.”
Agen Wira mengangguk. “Tapi, jangan sekarang,” kata lelaki itu sambil melangkah.

Other Stories
Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Testing

testing ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma