Diam Paling Sunyi
Nadiva kini mendapatkan jawaban. Yang pertama tak selalu menjadi yang terakhir. Benar. Warman adalah korban selanjutnya. Mimpi buruk tiap malam adalah semacam teror. Apapun itu, pastinya ada sesuatu yang sedang dan akan terjadi. Ini masih awal.
Ancaman lewat mimpi yang sama sekali tak berlogika, Pak Adhar yang tiba-tiba terkulai lesu di tempat duduk, dan Warman, pegawai yang baru tiga puluh tiga hari ada di perusahaan itu menjadi korban terakhir untuk saat ini.
Nadiva memberi kabar pada Gihon meskipun Nadiva merasa Gihon tak selalu harus diberi kabar tentang itu.
“Boleh aku ke kantormu?”
“Enggak. Nggak perlu, Gihon. Kamu tak harus ke sini,” ucap Nadiva meski dia tak terlalu yakin dengan ucapannya. Beberapa hari yang lalu dia mungkin akan dengan gamblang menolak. Tapi, kali ini suasananya berbeda. Meski dia merasa Gihon terlalu sering ngawur kalau berbicara, dia butuh laki-laki itu setidaknya untuk menenangkan hatinya. Suara ketukan pintu ruang kerjanya sedikit mengagetkan hati Nadiva. Gihon.
Suara angin riuh dan tiba-tiba saja menembus jendela yang berada dekat dengan Nadiva. Gadis itu tak mampu mengedipkan mata saat tiba-tiba saja Gihon sudah ada di hadapannya dengan kemeja dan celana jeans yang berbeda dari yang dipakainya dua jam yang lalu saat mereka masih di jalan.
“Gihon?”
Gihon tersenyum. Sambil menepuk pundak gadis itu, Gihon duduk di sebelah sofa yang diduduki oleh Nadiva.
“Ini aku. Pikirmu siapa?”
“SCP-130,” nada suara Nadiva ketus. Gihon tertawa melihat ekspresi kesal gadis itu.
“Ada hal tak logis di muka bumi ini, Nadiv.”
Nadiva terdiam. Banyak. Banyak hal tak logis di muka bumi ini.
Ibu yang tiba-tiba meninggal di jalan yang lenggang, ayah yang tiba-tiba kabur dan tak pernah ada lagi setelah menjadi tersangka kasus pembunuhan berencana terhadap ibunya. Kakak yang bahkan tak pernah ditemui padahal kabar terakhir yang diketahui mereka sekarang tinggal di kota yang sama. Ini tak logis. Lebih tak logis dari sebuah mimpi. Setiap orang pernah bermimpi untuk bunga tidurnya. Itu hanya efek pengulangan hal di bawah sadar manusia, umpat Nadiva dalam hatinya
Beberapa menit setelah kedatangan Gihon yang tiba-tiba, untuk kesekian kalinya Nadiva merasa hal yang ditawarkan Gihon sangat di luar dugaan. Nadiva tahu dia sedang butuh orang yang bisa menemaninya memecahkan masalah perusahaan, namun bukan berarti Gihon serta-merta boleh menawarkan hal yang hanya diinginkan oleh hatinya sendiri.
“Simpan mistikmu untuk dirimu sendiri.” Nadiva tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
***
Belum pukul tujuh pagi saat Adhar Irfandi mendesak Nadiva mengangkat telepon suara.
“Nadiva, kamu datang ke kantor. Sekarang.”
Nadiva termangu untuk sejenak. Tak hanya sekali dua kali gadis itu didesak untuk segera datang ke kantor karena urusan mendadak. Sebagai manajer yang sangat dipercaya, Nadiva memiliki banyak tugas yang dibebankan, termasuk mengawasi tiap produk masuk dan keluar hingga menjadi salah satu tokoh perusahaan yang dianggap sangat mampu membawa perusahaan ke dunia luar.
Menyetir mobilnya di jalan yang masih sepi membuat Nadiva mulai memikirkan beberapa hal. Tadi malam, Nadiva bermimpi tentang ayahnya. Ayah kandungnya, bukan Adhar Irfandi, ayah angkat yang rela memungut dia menjadi anak untuk masa depan perusahaan.
Dalam mimpinya, Nadiva melihat ayahnya berjalan saat Nadiva sedang duduk di beranda rumah. Rumah masa lalu yang pernah memberi kebahagiaan bagi Nadiva kemudian direnggut begitu saja. Setelah ibunya meninggal, Nadiva setiap hari merasa bahwa kebahagiaan itu tidak lagi benar-benar ada.
Nadiva memikirkan ayah kandungnya yang melewatinya tanpa menoleh. Adakah ayahnya marah ataukah Nadiva yang tak cukup sanggup menahan diri untuk tak bisa marah kepada dia setiap kali berpikir bahwa dia bukan ayah sehebat Nadiva memandangnya di masa kecil? Enyah... Tolong enyahlah. Aku tak butuh untuk mengingat apapun tentangmu lagi, Nadiva mengerang di dalam dirinya. Air mata pelan mengalir dari sudut matanya.
Tekk...
Air mata itu perlahan menetes ke kemeja kerja Nadiva dan merah. Nadiva terdiam di tempat seiring jatungnya yang berhenti berpacu.
Darah?
Benar. Tiap air mata yang menetes berubah menjadi darah hingga kemeja Nadiva berlumuran darah. Bagaimana bisa? Tubuh Nadiva berguncang hebat. Kepalanya penuh dengan bayangan menakutkan yang baru-baru ini terjadi, termasuk mimpi-mimpi menakutkan setiap malamnya.
Warman. Bukankah pegawai baru itu meninggal tanpa luka? Hanya ada darah yang mengucur entah dari mana. Hanya bermandikan darah yang tak jelas asal usulnya. Nadiva menggigil. Mobil yang disetir oleh Nadiva tiba-tiba mogok. Cuaca sangat mendung seolah hujan badai akan datang selama tujuh hari tujuh malam. Awan hitam yang sangat tebal melewati tempat di mana Nadiva berada. Rasa panik sering justru tak menghasilkan apapun, untung Nadiva cepat menyadari hal itu. Gadis itu meraih HP-nya dan melihat kontak. Gihon.
***
Yang pertama sekali dilihat oleh Nadiva adalah Vitria. Gadis manis itu terlihat sembab matanya lalu segera menghapus titik air di matanya saat Nadiva sudah membuka mata. Nadiva terasa membeku melihat ekspresi datar di wajah orang-orang yang ada di sekitarnya. Entah bagaimana, dia sudah ada di kantor. Dikelilingi oleh diam. Diam yang sangat sunyi. Dia dalam wajah-wajah tanpa ekspresi.
“Pak Revan meninggal pagi tadi.”
“Seseorang menyerang dia hingga meninggal tepat saat kamu juga ada di perjalanan menuju kantor.”
Berarti jelas. Pak Revan meninggal di rumah sebelum berangkat ke kantor.
“Siapa yang menyerang? Perampok? Pembunuh bayaran?”
“Bukan manusia.”
***
“Gihon pulang setelah berkata kamu akan baik-baik saja. Dia pulang karena katanya harus berangkat kerja. Kamu sengaja ditahan di kantor untuk mencegah adanya rumor yang beredar dengan cepat yang akan mencelakai nama baik perusahaan,” ujar Vitria di perjalanan menuju rumah duka keluarga Pak Revan.
Rasa nyeri masih sangat terasa di kepala Nadiva. Kepalanya terantuk ke setir mobil saat dia jatuh tak sadarkan diri, namun untuk terakhir kalinya, dia memaksakan kehendak harus melihat Pak Revan hingga ke pemakaman.
Pak Revan adalah seseorang yang sudah sangat lama bekerja di sana. Bahkan, menurut cerita, orang tua itu salah satu perintis dalam pergerakan perusahaan. Nama Pak Revan ikut di barisan pertama sejarah terbentuknya perusahaan itu dari awal hingga sekarang melejit menjadi perusahaan ternama di seluruh penjuru kota bahkan kota lain dan sudah banyak melakukan kerja sama perusahaan antarnegara.
“Dari tahun 1985. Tiga puluh tiga tahun terhitung hingga sekarang,” Adhar Irfandi berbicara seperti seorang diri tanpa menatap Nadiva dan staf lain yang sedang ada di depannya.
Tiga puluh tiga tahun bukan merupakan waktu yang singkat. Tiga puluh tiga tahun pengabdian terhadap satu perusahaan tak sebanding dengan delapan tahun dengan keinginan tidak akan bertahan, ujar Nadiva dalam hatinya.
Tiga puluh tiga tahun... Tiga puluh tiga tahun? Tiga puluh tiga hari?
Nadiva memejamkan mata untuk menahan rasa perih yang masih menyerang kepalanya lalu melisankan angka 33 di dalam hati dan pikirannya.
Other Stories
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...