Semua Bisa Diselesaikan
Makhluk SCP kini menyerang siapa saja. Berita tak terbendung lagi. Adhar Inc. sudah masuk ke dalam berita pagi. Perusahaan itu dan kota sekitarnya mulai merasakan teror. Berita bagusnya – walaupun tetap buruk juga – , sampai sejauh ini belum ada korban jiwa selain dari perusahaan Adhar Irfandi dan satu orang dari pihak SCP Foundation. Adhar Inc. semakin memburuk.
“Berita tak bisa dibendung. Untuk perusahaan sebesar ini, wartawan akan sangat cepat menerima sinyal dan mencium sesuatu yang layak dijadikan berita,” agen Wira berkata saat berbincang dengan Nadiva di sebuah restoran.
Sejak awal, Nadiva menyadari hal itu. Dia tak banyak bicara kali ini. Sambil memutar-mutar gelas minuman yang dipesannya, Nadiva sepertinya lebih memilih menganalisis keadaan yang sangat sulit dia pikirkan.
“Kami mendengar Adhar Inc. tidak bekerja dalam satu minggu ini. Seluruh departemen di Adhar Inc. diliburkan.”
“Benar. Untuk meredam berbagai kemungkinan yang lebih berbahaya, juga meminimalis berbagai tekanan yang ada.”
“Bukankah Sang Maestro akan merasa rugi?”
“Tentu saja. Tapi, semua staf berontak sehingga beliau memberi seminggu untuk istirahat.” Nadiva menatap agen Wira cukup lama. Sekilas dia membayangkan Yudha. Ketenangan agen Wira hampir mirip dengan Yudha.
“Setelah libur seminggu, apakah semua staf cukup tenang dan tak merasa takut lagi?”
“Entahlah.”
Agen Wira tersenyum tipis.
“Yang namanya teror tak akan memberi ketenangan pada siapa pun. Terlebih kita tak pernah menyadari kapan mereka akan hadir. Iya, kan?”
Nadiva mengangguk perlahan. Benar. Nadiva dan semua penghuni kantor tak pernah benar-benar tenang sebelum teror itu dinyatakan telah berakhir.
“Tidak bisakah SCP Foundation memperkirakan kapan teror ini segera berakhir?”
Agen Wira terdiam, Nadiva juga.
***
Hampir seluruh siaran berita kini menayangkan situasi di perusahaan Adhar Inc. Berbagai pendapat dan kemungkinan disiarkan. Semua membawa versi masing-masing.
“Sepagi ini, ditemukan karyawan yang tewas oleh ulah makhluk misterius yang dinamai makhluk SCP-008 oleh SCP Foundation,” Nadiva terkejut. Dia kenal dekat dengan si korban. Tadi malam, Vitria sudah mengabarinya bahwa Pak Jeri deman tinggi secara mendadak. Kabar terakhir yang diterima oleh Nadiva, pria berumur 40-an itu koma 20 jam setelah flu dan demam tinggi mendadak. Nadiva berniat untuk menjenguk pagi ini, namun takdir sering berkata lain, Nadiva hanya akan melihat jasad Pak Jeri hari ini.
SCP-008. Nadiva menelan ludah. Mahkluk serupa apapun itu, Nadiva membenci mereka semua. Membenci teror demi teror yang sudah ada setiap harinya.
Nadiva segera mematikan TV dan mengabari Vitria yang ternyata sudah tahu dari siaran yang berbeda.
“Yang meninggal sudah selesai hidupnya. Tinggal yang hidup yang harus melanjutkannya,” kata Adhar Irfandi dalam pembukaan rapat yang berlangsung mendadak. Semua terdiam. Entah setuju atau tidak setuju. Nadiva menatap lekat kepada direktur itu, sedangkan sang direktur sedang menatap Vitria yang sedang menunduk.
Lebih dari satu jam, rapat selesai. Semua bubar. Hasil rapat tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membuat strategi baru perusahaan yang sejauh ini tak mempan bagi makhluk mengerikan itu.
Bagi makhluk SCP, tak ada yang bisa dijadikan sebagai tantangan. Jika mereka ingin, semua bisa diselesaikan kapanpun mereka mau. Ini ucapan terakhir agen Wira menanggapi pertanyaan Nadiva beberapa hari yang lalu setelah cukup lama terdiam.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...