Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Pewaris

“Beri kami kesempatan tiga belas hari lagi.”
Nadiva mulai pesimis dengan ucapan itu. Seluruh kota mulai gempar. Beberapa gedung pemerintahan, usaha besar maupun kecil, dan rumah-rumah penduduk, semua tak bisa dipandang apa-apa lagi. Nadiva sempat berkata pada Gihon bahwa tak seharusnya memang dia percaya pada mitos murahan yang selalu diceritakan Gihon sejak kecil.
“Lihat sekarang, tak ada apa-apa yang diperbaiki.” Nada emosi tak bisa disembunyikan oleh Nadiva.
“Nadiva, kamu jangan gelap mata. Kamu lupa dengan beberapa yang berhasil dicegah oleh SCP Foundation?”
“Entahlah, Gi, Aku takut.”
Nadiva pada akhirnya mengaku. Mengaku sangat berharap segala teror ini segera selesai.
“Hari ini, aku seharusnya bertemu Yudha. Aku tak ingin berlama-lama di sini,” Nadiva pamit.
“Yudha?”
“Ya. Pacarku.”
\"Pacar? Sejak kapan?”
“Kapan-kapan aku cerita. Aku udah telat. Bye.”
***
Nadiva menganggap ada yang aneh dari Yudha setelah kematian Liharson. Meskipun dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini tak ada kaitannya, tapi tetap saja Nadiva tak bisa menepis perasaan curiganya. Yudha yang dikenal memang adalah seorang pendiam, namun kali ini dia datang dengan lebih pendiam lagi.
“Aku ada urusan. Ngak bisa lama ketemu kamu, Div.” Perkataan yang sangat biasa dari Yudha. Dia sangat sering tiba-tiba punya urusan. Nadiva belum tahu pekerjaan Yudha sampai sekarang. Namun, sejauh ini sampai pertemuan barusan, Nadiva selalu ingin percaya terhadap apa saja yang dikatakan oleh Yudha.
“Ayo, kita pulang.” Nadiva belajar untuk tetap tenang menanggapi. Dia juga tak ingin mempermasalahkan hal yang remeh seperti itu dalam sebuah hubungan.
“Div...”
“Ya?”
“Jaga dirimu baik-baik meski kekekalan itu tak ada pada makhluk hidup. Aku mencintaimu.”
Nadiva terdiam. Setelah sekian lama, ini pertama kali Yudha mengatakan kalimat itu. Ucapan klasik yang begitu bermakna. Nadiva tersenyum memandang ke kedalaman mata Yudha sebelum Yudha berlalu.
“Terima kasih,” lirih Nadiva saat Yudha sudah berlalu.
***
Agen Wira menelepon tepat saat Yudha telah pergi dan tak terjangkau pandangan Nadiva lagi.
“Saya Agen Wira...”
“Ya. Ada apa?”
“Boleh kita berbicara?”
“Ya. Di mana?”
“Di tempat kamu berdiri sekarang.”
“Baik.”
Hanya butuh lima detik, agen Wira sudah berdiri di sana. Nadiva tersenyum. Ini di luar nalarnya, namun ketika sudah terbiasa melihat secara langsung, semua seperti biasa saja sekarang.
“Ada apa?”
“Direktur ditangkap.”
Nadiva terperangah.
“Apa maksudnya?”
“Seperti yang kamu dengar, Div. Adhar Irfandi ditangkap barusan. Dia ditangkap makhluk SCP, dibawa ke satu tempat yang sulit dijangkau.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
Nadiva dan agen Wira terdiam.
“Tolong selamatkan direktur. Dia napas perusahaan kami.”
Wira menghena napas sangat pelan.
“Kamu napas perusahaan, Div. Bukankah kamu yang akan menjadi pewaris?
“Apa maksudmu?”
“Kamu merasa aman, Div?”
“Maksudmu?”
“Sebelum meninggal, Liharson berpesan supaya kamu jaga diri dan dia ingin kamu selamat dari serangan.”
“Liharson?”
“Iya. Sebenarnya, di masa hidupnya, dia membuat beberapa cara mencegah supaya kamu terhindar dari serangan.”
“Liharson? Kenapa dia?”
“Dia mencintaimu.”

Other Stories
Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Download Titik & Koma