Pintu Dunia Lain

Reads
4.1K
Votes
0
Parts
25
Vote
Report
Penulis Vita Sari

Pintu Terakhir

Adhar Irfandi berlari menapaki ruangan itu. Dia berhasil meloloskan diri dan sekarang sedang mencari jalan keluar. Dia lega melihat ada satu pintu yang bertulis “Exit” di atasnya. Adhar tertawa senang lalu membuka pintu secara perlahan.
KREK!
Pintu terbuka. Adhar merasa setelah ini dia sudah bisa bebas melangkah dan kabur ke rumah. Terbebas dari makhluk SCP sialan itu. Ternyata dia salah. Pintu bertuliskan “Exit” adalah pintu tipuan supaya si korban masuk ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada makhluk SCP yang menanti. Adhar Irfandi tercengang melihat apa yang ada di depannya.
Setelah teror yang dialami beberapa bulan, Adhar Irfandi mempelajari beberapa hal. Dia belajar seperti apa itu makhluk SCP dan ciri-cirinya. Adhar bisa menebak yang ada di hadapannya saat ini adalah SCP 270. Adhar telah tahu, SCP-270 merupakan SCP kelas Euclid. SCP ini bisa mengakibatkan kebutaan dalam kurun waktu tertentu jika terjadi kontak mata antara si korban dan SCP itu.
Adhar Irfandi keringat dingin membayangkan bagaimana SCP-270 akan dengan gampangnya mengajak SCP lainnya untuk mencabik-cabik dirinya setelah mengalami kebutaan dan tak bisa berbuat apa-apa. Entah mendapat kekuatan dari mana, Adhar Irfandi berlari. Mencari celah pintu yang terbuka atau mungkin yang bisa di buka dalam waktu yang sangat cepat. SCP-270 mengejarnya dengan tak kalah cepat.
Adhar Irfandi terus berlari. Dia mulai ngos-ngosan. Beberapa kali kakinya membentur benda-benda yang ada di ruangan itu. Beberapa kali dia terjatuh dan terjerembab di lantai ruangan. Adhar Irfandi berusaha bangkit dan terus berlari serta berusaha untuk tidak membuat kontak mata dengan SCP-270. Adhar Irfandi berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan tenaganya sekalipun dia sudah sangat kelelahan.
Beberapa pintu sudah terbuka, namun ternyata gedung itu memiliki pintu yang sangat banyak sehingga direktur itu sempat berpikir kemungkinan gedung ini merupakan gedung tak berkesudahan. Satu per satu pintu berhasil dilewati, namun belum ada tanda-tanda pintu keluar akan ditemukan.
SCP-270 masih terus mengejar Adhar Irfandi. Makhluk buruk rupa itu menggeram melihat sasaran yang tak mau menyerahkan diri. Beberapa barang dalam ruangan dilemparkan ke arah Adhar Irfandi. Adhar Irfandi mengelak dan terjungkal di dalam ruangan. Adhar Irfandi meringis kesakitan. Bayangan kematian menghantuinya. Satu per satu wajah karyawannya yang menjadi korban teror melintas dalam benaknya dan membuatnya semakin merasa ngeri. Tubuhnya gigil terlebih ketika SCP-270 sudah semakin dekat dengan dirinya.
Adhar Irfandi merasakan sakit kepala yang luar biasa. Berkali-kali dia mencoba untuk bangkit, namun tak berhasil. Adhar Irfandi sejenak ingin pasrah tapi dia merasa bukan dirinya kalau segampang itu harus menyerah pada keadaan. Dia adalah pimpinan tertinggi sebuah perusahaan tersohor. Dia merasa tak akan mati secepat itu. Tak akan mati semustahil itu. Misinya belum selesai dan Nadiva belum pernah mengiyakan permintaannya menjadi pewaris. Itu selalu membuatnya tak tenang dan selalu merasa belum boleh meninggal sebelum gadis itu tunduk padanya.
Adhar Irfandi dengan segala harta yang dimilikinya, sepanjang tahun ini tak pernah mengalami ketenangan dalam hidupnya. Sekalipun senyum memesonanya selalu terpancar di depan publik, namun direktur itu mengalami kegelisahan yang luar biasa. Bagaimana jika harta yang diusahakan, harta yang sudah digenggamnya, lenyap dalam sekejap?
Adhar Irfandi berlari membuka pintu demi pintu. Dia sudah terbiasa bekerja dalam berbagai kemungkinan, bahkan untuk kemungkinan yang sangat berbahaya.Namun hari ini, saat dia berlari, menggunakan sisa tenaga yang entah cukup berapa lama lagi, Adhar menyadari beberapa hal yang tak bisa dikejar, beberapa hal yang tidak bisa ditebak, beberapa hal yang tidak bisa diraihnya dengan tangannya, yaitu keabadian. Ternyata tak selamanya posisi aman itu datang, tak selamanya hal yang berkenan di hati yang akan muncul di hadapan kita.
Adhar Irfandi tertatih. Tubuhnya telah sangat kelelahan saat SCP-270 itu semakin dekat. Hanya satu, jika SCP sialan itu bisa menyorotkan matanya maka habislah semua harapannya. Lima detik, empat detik, tiga detik, Adhar Irfandi tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dia menyeret tubuhnya untuk membuka gagang pintu yang ke sekian. Adhar Irfandi melihat cahaya silau setelah pintu berhasil dibuka. Adhar sempat berpikir bahwa inilah pintu terakhir karena semua pintu yang dibuka tadi tak ada memancarkan cahaya sesilau ini. Barangkali dia sudah berada di pintu terakhir, atau dia sudah selamat dari SCP-270 itu.
Di tengah kelelahannya, sebuah tangan hitam memegang pundaknya pelan. Tangan kasar yang berat dan menakutkan. Adhar lupa arah, rasa takut mati dalam dirinya tiba-tiba begitu memuncak.Dia membalikkan wajah kepada pemilik tangan. Tatapan mereka beradu, kemudian Adhar jatuh tersungkur.
***
Adhar merasakan embusan angin merasuk dalam tubuhnya. Cahaya silau yang terakhir kali dirasakan tidak lagi ada. Kini, dia berada di tempat yang begitu nyaman. Hotel, tempat biasa dia menghabiskan waktu istirahatnya. Namun, ini tidak biasa. Dia tidur dengan keadaan terikat. Di depan pintu ada dua satpam yang berdiri tegak sambil menatap tajam ke arahnya.
“Siapa kalian?”
“Kami hanya penjaga, bapak yang terhormat.”
“Kenapa saya diikat? Lepaskan saya!” Nada Adhar meninggi. Merasa kesal dan sama sekali tidak terhormat.
“Kami tidak berwewenang untuk itu, Tuan,” satpam itu membungkuk mengejek.
Adhar marah. Air mukanya berubah berang. Dia menendang-nendang udara berharap tali lepas dari kakinya.
“Siapa yang berwewenang? Siapa yang berani menangkap saya? Kalian tidak tahu siapa saya?”
Pintu terbuka.
“Tentu saja kami tahu Anda siapa.”
Seseorang datang dengan langkah berat. Menyeret seorang wanita dan pria berusia menjelang tiga puluhan. Mata kedua tawanan itu tertutup kain dan satpam yang tadi terjaga segera membukanya tanpa diperintah.
“Vero?” Adhar Irfandi merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian dia melihat seseorang di samping istrinya. Gian, putra tunggal mereka.
“Gian! Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membawa anak dan istri saya ke sini?”
“Supaya Anda tahu, sependeritaan itu sangat menyenangkan, Direktur.”
Suara bergema memenuhi ruangan. Sesosok tubuh gempal berdiri di hadapan Adhar Irfandi. Pimpinan Adhar Inc. itu juga dihadapkan pada istri dan anaknya yang saat ini sedang bersimpuh dengan mulut yang disumpal.
“Lepaskan anak dan istri saya!” Adhar Irfandi setengah memerintah.
“Tak semudah itu, Pak.”
Suasana ruangan gemuruh. Ruangan berdengung hebat sehingga Adhar Irfandi merasakan sakit di bagian kepalanya. Gian Irfandi terikat kain panjang dan tak bisa bergerak sama sekali, sedangkan Vero menangis terisak dengan suara yang hilang karena sumpalan di mulutnya. Perlahan, Gian Irfandi diangkat oleh makhluk SCP berukuran raksasa itu untuk digantung di tiang ruangan itu.
Vero menghentak-hentakkan kakinya di udara, namun percuma. Dia juga tidak bisa bergerak karena diikat kokoh. Vero menangis dan air matanya keluar tak tertahan. Dia menggeleng-geleng kepala tanda tak terima dengan perlakuan itu.
“Apa yang kalian inginkan? Lepaskan anak saya!” Adhar Irfandi memohon, namun makhluk itu tidak bergeming. Sebuah linggis diraih oleh mahkluk itu. Mengayunkan tangannya sambil nyegir dan mengenai persis bagian otak Gian Irfanfi.
“Hentikan!” Vero berteriak histeris dengan buah kata yang tak terlalu kedengaran karena kain di dalam mulutnya. Air mata tak terbendung lagi. Dia menuding ke arah makhluk mengerikan yang hanya menatap kedua orang tua itu dengan nyengir.
“Kami membutuhkan kemenangan, Tuan.” Suara itu bergaung di udara. Sedetik kemudian Vero jatuh pingsan.

Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Download Titik & Koma