Sekolah Tri Dharma
Sepertiga lahan di Milenial City digunakan untuk menunjang sektor Sekolah. Salah satunya yaitu mereka membangun sekolah swasta yang diberi nama Sekolah Tri Dharma. Tempat dimana Karina akan mengajar sampai masa cuti Ros selesai.
Ros tersenyum simpul saat memerhatikan Karina yang terperangah melihat dinding marmer putih mengelilingi seluruh wilayah Sekolah Tri Dharma. Tidak jauh di gerbang utama, ada halte bus yang menjadi akses para siswa untuk main ke pusat kota.
Sekolah Tri Dharma memang terletak di pinggir Milenial City, sepanjang jalan menuju ke tempat itu hanya terhampar rumput hijau dan pepohonan.
Ketika mobil melewati gerbang utama, di sana terdapat jalan besar yang membelah lapangan hijau dengan pohon kalpataru menghiasi pinggirannya.
Sekitar 300 meter dari gerbang utama ada bunderan besar dengan air mancur ditengahnya. Di tepi bunderan terdapat monumen dengan logo Sekolah Tri Dharma besar disana. Dari bunderan, mobil berbelok ke kanan.
“Kalau arah satunya ke mana?” tanya Karina.
“Ke gedung Dedication,” jawab Ros.
“Dedic?” Karina mengulang tidak mengerti.
“Dedication,” Ros menarik nafas. “Kamu pasti belum baca pamflet yang kukirim ya?”
Karina meringis. Kepalanya menggeleng pelan.
“Ya udah, kujelasin. Singkatnya, di Sekolah ini ada empat jenjang. Dedication setara dengan universitas, Principal setara dengan SMA, Inferior setara dengan SMP dan kamu akan menggantikanku di Primary.”
“Setara SD?” Karina menarik sebelah alisnya.
Ros mengangguk.
“Ya ampun, ini bakal berat,” ucap Karina sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran.
“Mereka anak kecil Karin, baik-baik juga lho,” tanggap Ros.
“Ya tapi mereka anak kecil,” ulang Karina, tidak jelas.
“Kamu kan nanti juga punya anak, itung-itung latihan lah,” Ros tertawa.
“Itu dua hal yang berbeda banget,” gumam Karina.
“Eh, Karin, kita udah sampai nih.” Ros menunjuk ke sebuah gedung berwarna coklat. Gedung itu dikelilingi taman dan hamparan pohon pinus. Mobil mereka berhenti didepan monumen dengan tulisan “Primary”.
“Ini gedung Primary tempat aku biasa mengajar,” kata ros sambil keluar dari mobil diikuti oleh Karina. “Yuk, kuajak keliling dulu.”
Karina mengikuti langkah Ros masuk ke dalam gedung berasitektur futuristik tersebut. Gedung itu memiliki empat lantai. Bagian dalamnya tampak luas dan lapang, lantainya berwarna coklat dan sekeliling ruangan dilapisi kaca sehingga orang dari luar dapat melihat aktivitas di dalam.
Mereka melewati ruang tunggu, naik ke lantai dua dan mengunjungi kelas-kelas yang sudah kosong disana.
“Di sini kita hanya belajar selama empat jam, dari jam 9 sampai jam 1 siang,” terang Ros. “Mungkin terlihat konyol bagi seseorang yang biasa mengajar di sekolah negeri sepertimu.”
Karina tidak merespon ucapan Ros. Matanya antusias menangkap detail ruang kelas tempatnya akan mengajar besok. Bangku-bangku yang ditata melingkar agar membentuk grup-grup kecil, rak berisi buku-buku dan papan permainan, warnanya beragam dan kontras tetapi tampak hidup.
Ros menyentuh pundak Karina. “Setiap kelas memiliki metode belajar masing-masing Karin, aku harap kamu bisa menemukan metode yang cocok juga untuk mereka.”
“Kenapa aku tidak menggunakan metode mengajarmu?”
“Karena kamu belum tentu cocok dengan metodeku.”
“Iya sih.”
Setelah mengantar Karina ke ruang guru untuk meletakkan berkas-berkas, Ros mengajaknya untuk ke asrama staff pengajar.
“Guru punya asrama?” ulang Karina tidak percaya.
“Iya, tidak wajib sih karena ada guru yang mampu beli apartemen di kota, kalau aku sih mending gratis di asrama, hehe.”
“Berarti aku menempati kamarmu?”
“Enggaklah, kamu dapat kamarmu sendiri, ayo kita cek.”
***
Asrama staff pengajar terletak di bagian belakang Sekolah. Mereka menggunakan monorel yang stasiunnya terletak di seberang gedung Primary. Transportasi utama di Sekolah adalah monorel disusul oleh sepeda. Mobil dan motor pribadi tidak diizinkan. Tetapi, Sekolah menyediakan mobil untuk mengantar jemput staff pengajar maupun pelajar ke tempat-tempat seperti bandara, stasiun kereta api di Jakarta maupun akses ke pelabuhan terdekat.
Karina dan Ros turun di stasiun yang bersebrangan langsung dengan asrama staff pengajar. Asrama tersebut berbentuk seperti apartemen dengan 10 lantai. Sebagian besar kamar-kamar disana telah terisi. Karina mengagumi lobi asrama tampak elegan oleh desain interior kontemporer.
Sembari Ros mengurus administrasi kunci kamar Karina, perempuan itu duduk disalah satu sofa dan memerhatikan beberapa staff pengajar yang sedang duduk santai di kafe. Bersebelahan dengan lobi, ada kafe minimalis yang tampak nyaman dan lapang. Karina membayangkan sore hari berikutnya duduk disana, menyesap machiato sambil mengisi agenda.
Lamunannya buyar ketika Ia sadar salah seorang staf pengajar yang duduk di meja panjang kafe itu tengah memerhatikannya. Karina dapat mengetahuinya karena dinding dan pintu kafe itu dengan lobi hanya dibatasi oleh kaca. Laki-laki itu mengangguk kecil kepada Karina, Ia hanya bisa merespon dengan senyum kecil sebelum beranjak dari sofa itu.
“Ayo, Karin, ini kunci kamarmu,” panggil Ros dari depan meja resepsionis.
Karina mengikuti Ros yang sudah berjalan duluan ke depan lift. Mereka naik sampai lantai 7 dan menuju kamar nomor 4 yang menurut penuturan Ros, merupakan salah satu kamar dengan view terbaik karena menghadap langsung ke taman.
“Taman? Gelap dong kalau malem,” protes Karina.
Ros tertawa sambil membukakan pintu kamar, “Ya ampun, paranoid banget. Liat deh entar malem, kamu pasti suka.”
Ros menghidupkan lampu. Cahaya seketika menerangi kamar berukuran kurang lebih 20 meter persegi itu. Lantainya dilapisi karpet berwarna coklat muda, ada meja belajar, lemari besar dan kamar tidur yang muat untuk dua orang. Di dekat lemari ada pintu menuju dapur dan kamar mandi. Berhadapan dengan tempat tidur, terdapat jendela besar yang langsung menghadap ke taman. Karina dapat melihat taman di depan asrama staff pengajar yang tertata rapi dan dihiasi tanaman-tanaman yang sudah dibentuk.
Ros duduk di pinggir kasur, “Kamarku ada di lantai 4 nomor 12, kalau mau kamu bisa main kesana nanti.”
“Kapan kamu mulai perawatan di rumah sakit?”
“Beberapa hari kedepan, tetapi besok aku akan tinggal di kota bersama bibiku,” kata Ros.
“Besok aku harus mengajarkan apa? Aku tidak tahu sampai di mana mata pelajaran yang kamu ajarkan?” Karina menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia menutupi matanya dengan telapak tangan.
“Dan aku lelah banget, bisa tidak kalau mengajarnya lusa?”
“Haha, kamu bisa capek juga ternyata.”
“Di pesawat lebih dari 8 jam itu melelahkan tahu!”
“Siapa suruh liburan jauh-jauh, pake ke Eropa segala,” ejek Ros.
“Haha ... memanfaatkan waktu kosong,” Karina bangkit lagi. Ia menatap Ros, “Kamu yakin aku bisa ganttin kamu? Maksudku, aku gak pernah mengajar di swasta dan aku mendengar banyak rumor tentang sekolah ini.”
“Rumor tetaplah rumor, kenyataan yang benar akan kamu temui besok,” ucap Ros lembut. “Kamu pasti akan cepat beradaptasi, Karin.”
“Semoga,” Karina mengedikkan bahu.
“Aku akan email materi terakhirku yang kuajarkan,” kata Ros sambil beranjak dari kasur. “Aku balik dulu ya ke kamar, kamu pasti lelah. Oh iya, jangan lupa hubungi Pak Andrian kalau kamu sudah sampai hari ini.”
“Siap, Bu,” balas Karina sambil melempar posisi hormat pada Ros. Perempuan itu tertawa kecil.
“Oke, selamat istirahat Karin.”
“Sama-sama Ros, kamu juga, salam buat dokter tampan di rumah sakit.”
“Hahahaa! Dasar!”
Other Stories
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...