Ancaman
Memasuki minggu ketiga Karina mengajar di kelas 5-5, harapannya hanyalah tinggal belaka. Kondisi kelas makin memanas dan tidak jarang Angel menjadi provokator murid-murid lainnya, entah meninggalkan kelas saat pelajaran mau dimulai atau mengobrol saat Karina sedang menerangkan pelajaran. Karina tidak mentolerir sikap semena-mena, dia membuat banyak peraturan. Mulai dari menegur Elis yang suka makan saat pelajaran berlangsung, membangunkan siswa yang tertidur saat ia menerangkan dan menegur langsung siswa yang ia dapati sibuk mengobrol sendiri.
Aturan Karina seakan mengikat kebebasan semua anak di sana, tetapi ini demi kebaikan mereka. Itulah yang Karina pikirkan. Mereka adalah anak-anak orang kaya yang manja dan suka berbuat semana-mena, tentu aturan adalah alat yang tepat untuk mengontrol sifat anak-anak tersebut. Ia sadar mereka semakin membencinya, tetapi itulah yang ia dapatkan selama menjadi pelajar dulu. Ia membenci gurunya yang membuat banyak aturan untuk siswa-siswi, tetapi toh akhirnya ia menjadi seorang yang tangguh saat ini. Tentu saja, nasibku tidak lebih baik dari mereka saat itu, aku harus kuat!
Hari pertama di minggu ketiga. Karina masuk ke kelas, anak-anak di kelas itu seketika berhamburan ke bangku masing-masing. Kondisi yang senyap terasa mencekam, mungkin karena atmosfer yang Karina ciptakan untuk meredam kebisingan anak-anak itu.
Karina tampak puas. Walau metodenya keras, tetapi toh setelah dua minggu, anak-anak itu paham cara menghargai guru yang masuk kelas. Mereka langsung duduk di bangku masing-masing dan tidak saling lempar alat tulis seperti sebelumnya. Ketika sedang mengamati keadaan kelas, Karina tersadar bahwa hanya ada tujuh anak di dalam ruangan itu.
“Ke mana Malik?” tanya Karina. Malik adalah siswanya yang selalu mengenakan topi rajut, duduk di pojok belakang kelas dan selalu tertidur. Tentu sekarang dia tidak bisa tidur lagi karena Karina berkali-kali menghampirinya dan membangunkannya.
“Jenuh kali sama pelajaran Kakak!” Celetuk seorang siswa laki-laki dari bangku belakang, namanya Leo. Anak yang melempari Karina dengan bola karet di hari pertamanya mengajar.
Angel mengikuti celetukan temannya dengan tepuk tangan menyindir.
“Mungkin dia sakit,” sahut Karina, berusaha tampak percaya diri. “Kita lanjutkan pelajaran.”
Karina mencolokkan flashidsk ke laptop kelas, namun ketika ia berusaha menyalakan LCD, alat itu tidak mau berfungsi.
“Kok, aneh?” Karina memencet remote berkali-kali tetapi LCD tetap tidak mau menyala.
“Ups, jam kosong.” Giselle menyeletuk, diikuti sorakan anak-anak lainnya.
“Elis, keluarkan snack-mu, bakal lama nih nunggunya, hahaha!”
“Siap!” Elis mengeluarkan berbagai jajanan dari goodie bag-nya, tampak anak-anak itu berhamburan dari bangku masing-masing dan mendekati meja Elis.
“Tunggu, akan saya atasi, segera.” Karina tampak panik. Dia buru-buru menghubungi petugas teknis untuk memperbaiki LCD.
“Wah ada yang ngerusak kabelnya, mbak,” kata petugas itu. “Sebentar, saya carikan dulu penggantinya.”
“Duh, cepat ya, Pak.”
Namun, sebelum petugas itu kembali membawakan LCD yang baru, anak-anak di kelas 5-5 sudah berhamburan ke koridor.
“Kalian mau ke mana? Hei, ini masih jam pelajaran!” Karina berusaha mengejar mereka, tetapi karena menggunakan sepatu hak, larinya kalah cepat dibandingkan anak-anak itu.
“Tunggu!”
***
“Hahaha! Lucu banget pas dia panik!” Angel tertawa puas di kantin. Tidak hanya Elis dan Giselle, kali ini Leo dan Suci ikut bergabung. Suci adalah siswa yang rambutnya selalu dikepang satu, pendiam dan cenderung tidak ikut merusuh. Dia hanya mengamati, pun tidak mau ikut berkomentar tentang Karina.
“Seminggu aku masih tahan dia ngomel-ngomel di kelas, tapi lama-lama kesel juga,” celetuk Giselle.
“Duh kenapa sih harus dia yang gantiin Bu Ros? Kayak gak ada pengajar lain disini,” timpal Angel.
“Aku tidak peduli siapa yang mengajar.” Elis meletakkan bungkus snack-nya yang sudah kosong. “Tapi aku enggak terima ketika dia melarangku makan saat jam belajar. Itu sama saja seperti melarang orang yang mules ke kamar mandi!”
Keempat anak itu hening.
“Anu, kayaknya kejauhan deh analogi yang kamu maksud,” komen Giselle.
“Ah sudahlah, intinya, kita push terus dia sampe nyerah, terus akhirnya mengundurkan diri,” sela Leo.
“Ya, itu poinnya!”
“Kak Karina di sini,” ucap Suci tiba-tiba. Suaranya pelan dan lemah, nyaris berbisik. Tapi mereka berempat bisa mendengar ucapannya. Kontan semuanya langsung bubar ketika Karina berlari ke mereka.
“Hei, malah jajan dikantin!”
“Lari, ayo lari!” Anak-anak itu berpencar di perempatan koridor dan Karina menyerah, tak sanggup mengejar mereka.
***
Other Stories
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...