Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Rapat Evaluasi

Jam pelajaran usai. Karina bersyukur masih tersisa 1 jam pelajaran, ia berhasil mengumpulkan anak-anak didik kelasnya dan menggiring mereka kembali ke kelas. Kemeja yang dikenakannya basah oleh keringat, rambutnya kusut berantakan, rasanya dia sudah seperti seorang mahasiswa yang habis maraton mengejar bus terakhir sebelum kuliah dimulai. Intinya, lelah, berantakan, dan frustasi.
Kalau tidak ingat ini demi nama baik sahabatnya, Karina pasti memilih kabur di hari kedua. Bukan hanya kondisi kelasnya yang secara mental menjadi tidak nyaman, kini ada saja kejadian aneh yang menimpanya. LCD rusak memang yang pertama terjadi di Primary, tetapi kalau kejadian lain seperti ada yang melemparinya dengan kerikil ketika pulang, menjegalnya dengan tali rapia, memasukkan sampah ke tas kerjanya, itu sudah beberapa kali terjadi.
Ia merasa konyol, tapi Karina terlalu bodoh kalau tidak tahu ia sedang dikerjai oleh murid-muridnya sendiri. Sepertinya mereka benci sekali padaku sampai tega melakukan ini, pikir Karina.
Karina punya musuh dalam hidupnya, tetapi itu dimasa lalu, teman kuliah pula dan sudah di antah berantah. Ketika di tempat baru seperti sekarang dimana ia hanya mengenal beberapa orang seperti staff guru dan murid, sangat mudah untuk menemukan siapa yang menebar kebencian padanya.
“Dan mereka terang-terangan menunjukkan itu padaku,” gumam Karina pada diirnya sendiri.
Karina ingin segera pulang ke asrama, mandi dan beristirahat, tetapi siang itu dia harus menghadiri rapat staff pengajar Primary. Seperti kata Ros, setiap bulan diadakan rapat antar pengajar untuk evaluasi dan membahas hal-hal genting lainnya.
Ketika Karina masuk ruang rapat, para staff pengajar lain sudah hadir dan menempati kursi yang melingkari meja panjang besar.
Karina dapat melihat Roy melambaikan tangannya dari kejauhan, dengan antusias Karina mendatangi laki-laki tersebut dan duduk di sebelahnya.
“Aku lihat kamu lari-lari tadi di taman, ada apa?”
“Mengejar setan, hahaha!”
Roy tampak tak mengerti maksud Karina, tetapi ia tertawa saja.
“Bagaimana? Sudah bisa beradaptasi? Haha, kita sekantor tapi jarang mengobrol ya.”
“Mau bagaimana lagi, tidak banyak yang dilakukan di ruang guru,” Karina mengangkat bahu. “Belum terlalu sih.”
“Oh ya? Ada kendala apa?”
“Lebih sulit dari yang kubayangkan.”
“Maksudnya? Bisa diperjelas ceritanya?”
Roy memandang Karina, penasaran. Karina yang ditatap tajam oleh bola mata Roy yang hitam kelam langsung salah tingkah. “Eh, gini..,” Ia melupakan kata-kata selanjutnya. Tetapi, syukurlah ia diselamatkan oleh keadaan.
Kepala sekolah Primary memulai rapat di siang hari itu. Kepala sekolah Primary, Andrian adalah seorang pria berambut kelabu dengan postur tinggi tegap. Wajahnya nampak keras walau dari rumor yang beredar di kantor, sebenarnya ia adalah sosok yang ramah kalau sudah kenal dekat.
“Saya akan sampai evaluasi secara umum dan saran perbaikan, setelah itu kalian bisa memberi masukan atas saran-saran yang telah saya sebutkan,” terang Andrian, nada suaranya terdengar lantang dan tegas.
“Dan setelah itu, kita akan evaluasi berdasarkan perkelas.”
Deg! Karina terkejut, ternyata mereka juga mengadakan evaluasi per kelas. Ia sadar kelasnya penuh masalah dan pasti akan menjadi bahasan di forum ini.
Andrian memanggil melakukan evaluasi pengajaran secara umum, lalu memberikan saran-saran. Selanjutnya forum dibuka untuk menyampaikan saran-saran, tidak banyak yang berpendapat karena overall hasil pembelajaran bulan lalu memuaskan.
“Selanjutnya, evaluasi per kelas, silahkan wali kelas 1-1,” ujar Andrian.
Jantung Karina semakin berdebar tak karuan. Apalagi ketika memasuki deretan wali kelas 5, semakin mendekat ke gilirannya.
“Selanjutnya, wali kelas 5-6, silahkan.”
Karina mengangkat kepalanya, terkejut. Kelasnya dilewati oleh kepala sekolah. Ia pikir, mungkin Andrian lupa dan tidak sengaja melewati kelasnya.
“Dia melewatkanku,” bisik Karina pada Roy. “Mungkin dia lupa.”
“Belum pernah terjadi sebelumnya sih.” Roy tampak ragu, raut wajahnya menunjukkan kehawatiran. Tetapi sampai akhir mendengarkan evaluasi dari kelas 6-6, Andrian tidak menyinggung apa pun lagi.
“Baiklah, terima kasih atas laporan dan saran yang telah kalian sampaikan, saya harap, bulan depan juga tetap lancar,” pesannya sebelum menutup rapat.
Ketika para staff pengajar mulai beranjak meninggalkan kursi, termasuk Karina, kepala sekolah mengeluarkan suara.
“Wali kelas 5-5,” ucapnya. Karina tersentak kaget.
“Tolong, tinggal di tempat dulu.”
Karina kembali duduk. Roy menyentuh bahunya dan pamit pulang duluan, Karina hanya membalas dengan anggukan.
Setelah seluruh staff pengajar meninggalkan ruangan, dia baru berujar lagi. “Kamu menggantikan Ros, benar?”
“Benar, pak,” jawab Karina, gugup.
“Karina, saya mendengar banyak kabar tentang kelasmu,” katanya. “Bukan kabar yang baik.”
“Saya sedang berusaha mengatasinya,” tanggap Karina, takut-takut.
“Kamu sudah mencoba mengatasinya selama dua minggu, tetapi saya rasa, ada sesuatu yang salah di sana.”
“Saya berusaha menerapkan metode untuk meredam kenakalan mereka, Pak.”
“Bisa kamu jabarkan maksudmu, Karina?”
“Ketika saya pertama masuk, mereka tidak menghormati saya, bahkan melempari saya dengan bola karet. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di tempat sebelumnya, tindakan tersebut merupakan pelecahan terhadap pengajar dan harus diberikan tindakan tegas.”
“Seperti yang kamu lakukan saat ini? Melarang siswa makan di kelas, menyuruh mereka duduk di bangku yang tertata rapi, memerhatikanmu mengajarkan materi yang membosankan?”
“Materi saya sudah berdasarkan kurikulum, Pak!” Tanpa Karina sadari, nada suaranya meninggi.
“Kurikulum darimana? Dari tempatmu mengajar sebelumnya?”
Karina tahu ia sudah kelewatan, ia berusaha mengatur emosinya, lantas ia memilih tidak mengeluarkan suara dan hanya mengangguk saja.
“Karina, apakah Ros sudah menjelaskan padamu bagaimana kita menentukan indikator penilaian dan kurikulum di sini?”
“Sudah,” jawab Karina, yakin. “Itu berdasarkan sifat anak-anak di kelas yang kita ajar.”
“Ya, tapi saya rasa ada multitafsir di sini.” Andrian mengusap wajahnya, lalu kembali menatap Karina. “Kita menyesuaikan kurikulum dan indikator sesuai sifat mereka, jika mereka memang lambat dalam belajar, kamu tidak menerapkan metode cepat pada mereka, ketika mereka cepat memahami sesautu, kamu tidak bisa memaksa mereka mengikuti ritme pelajar yang lebih santai, paham maksud saya?”
“Dan satu lagi Karina, kami di Primary tidak mengajarkan apa yang selama ini kamu ajarkan. Di Primary, kami lebih menekankan pada kehidupan bersosial dan tanggung jawab, ya, kami memang mewajibkan mengajari perhitungan tetapi hanya dasar, tidak seperti materi yang kau sampaikan, penerapan fisika. Ya ampun Karina, mereka hanya anak kelas 5.”
Logika Karina melawan, untuk sesaat ia menerima protesan tersebut, tetapi di tempatnya mengajar sebelumnya, tidaklah demikian. Ia diajari bahwa mengasah kemampuan berhitung dan logika akan lebih membawa seorang anak ke jenjang ke suksesan, berabagai jurusan dan universitas bergengsi merebutkan orang-orang dengan kemampuan berhitung di atas rata-rata.
“Tapi, Pak, di tempat saya sebelumnya tidak seperti itu, mereka tertinggal jauh dari anak-anak sekolah nasional, kalau begini, mereka tidak akan bisa....,”
“Tidak akan bisa apa?” Potong Andrian. “Tidak bisa memperoleh NEM tinggi seperti murid-murid sekolah nasional? Tidak bisa bersaing masuk universitas favorit atau memperoleh pekerjaan yang layak? Dipandang sebelah mata, begitu maksudmu?”
Karina hanya mengangguk lemah.
“Kamu salah jika mengira mereka akan gagal hanya karena tertinggal materi pelajaran, Karina,” balas Andrian. “Selama potensi mereka diasah, mereka akan menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing.”
Perbincangan keduanya terputus ketika suara ringtone hp Andrian berbunyi.
“Maaf, saya angkat sebenar.” Andrian mengecek layar, nomor yang tidak ia kenal.
“Halo?”
Karina memerhatikannya dari kejauhan, tetapi isi pikirannya melayang ke perkataan kepala sekolah barusan. Benarkah anak-anak itu bisa melejitkan prestasi dengan ketertinggalan materi seperti ini? Karina ingat ketika di hari keduanya mengajar, anak-anak di kelas itu bahkan belum diajari aritmatika, ketinggalan dua tahun oleh anak di sekolah nasional yang sudah mengenal aritmatika sederhana sejak kelas 4 SD.
“Karina,” panggilan Andiran membuyarkan lamunannya.
“Ada apa, Pak?”
“Ini tentang Ros ...”

Other Stories
Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Download Titik & Koma