Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Mengumpulkan

Di taman Milenial City tampak beberapa seniman berkumpul di pinggi air mancur. Mereka mengadakan berbagai pertunjukan dan atraksi. Orang-orang yang lalu lalang memberikan beberapa koin kepada seniman-seniman tersebut.
Di antara semua penampilan saat itu, penampilan seorang anak perempuan dikucir 2 memainkan biola dengan cantik dan menarik ramai ditonton oleh orang-orang. Ketika berhenti memainkan biola dan sedikit membungkuk sebagai bentuk ucapan terimakasih karena sudah memerhatikannya bermain, orang-orang langsung mengisi penuh kain yang ia bentangkan dekat kakinya.
“Terima kasih,” ucapnya sambil membungkukkan sedikit badannya. Lalu Ia ambil koin-koin di atas kain itu, dikumpulkannya didalam toples plastik ukuran sedang. Lalu kedua kakinya yang lincah bergerak menuju seorang wanita tua yang sedang membagikan butiran jagung ke gerombolan merpati.
“Bibi, ini untukmu,” ucapnya sembari menyerahkan toples tersebut. “Agar bibi bisa membeli jagung yang banyak untuk burung-burung itu.”
Wanita itu tersenyum, mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Ketika Angel berbalik, sebuah kotak makan diulurkan di hadapannya.
“Aku tidak ada koin, jadi makanan saja ya.” Elis terkekeh kecil.
Angel ikut tertawa, ia pun menerima kotak makanan dari Elis.
“Elis, kukira kamu tidak mau keluar dari sana?”
“Aku keluar kok,” kata Elis. “Bareng seseorang. Hehe.”
Alice mengamati sosok yang berdiri tidak terlalu jauh di belakang Elis.
“Karina?” ulang Angel tak percaya.
“Dia berubah,” bisik Elis.
“Maksudnya?”
“Ehem,” Karina memotong. Ia merendahkan tubuhnya agar setara dengan Elis dan Agnel. “Hai, Angel,” sapanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Angel dengan ekspresi sengak.
“Menjemputmu,” balas Karina.
Angel tersenyum sinis, “membawa temanku ke sini tidak akan mengubah kondisi, tahu,” sengitnya. Tetapi Karina berusah untuk tetap tersenyum.
“Dengar, aku minta maaf jika kemarin pernah berkata kasar padamu,” kata Angel, tiba-tiba. “Kamu boleh marah padaku untuk kedepannya, tetapi hari ini, aku ingin kita berkumpul dulu?”
Angel mengangkat lengannya dan melirik arloji. “Bu, dua jam lagi jam 1 siang, enggak akan keburu buat masuk kelas dan belajar,” protes Angel.
“Aku tidak berniat mengajak kalian ke kelas hari ini, tapi ke empat yang lain,” ucap Karina, misterius.
“Kami membutuhkanmu Angel,” imbuh Elis.
“Elis?!” Angel mendesis tidak setuju. “Kenapa kamu jadi membela dan percaya sama dia?”
“Kamu ingat prinsipku soal orang baik dan jahatkan Angel? Orang jahat mencela makanan, tapi dia membantuku memasak ayam panggang madu yang enak, maka dia kunobatkan sebagai orang baik, hehe.”
Angel hanya bisa menghela nafas mendengar pendapat Elis yang polos.
“Baiklah, akan kubantu, bukan karena apa, tapi aku percaya pada Elis,” kata Angel, masih bersikukuh dengan sikap dinginnya terhadap Karina.
“Sip, tidak apa, thanks Angel,” kata Karina lagi. “Sekarang, kita temukan lima anak lainnya”
Tiba-tiba Angel menunjukkan telunjuknya ke arah deretan meja-meja berisi papan catur yang tampak ramai dipadati orang-orang.
“Ada apa di sana?’ tanya Elis.
“Aku melihat Malik di sana tadi.”
Karina, Elis dan Angel mendatangi lokasi arena catur tersebut. Deretan meja disana terisi penuh, permainan catur disana diisi mulai dari orang tua dari panti jompo sampai anak muda, mereka memainkan permainan olahraga otak itu dengan serius. Tetapi yang paling menarik perhatian adalah pertandingan catur seseorang yang dikenal pro ditempat tersebut melawan seorang anak SD dengan jaket biru polos dan hoodie menutupi wajahnya.
“Wah, kayaknya itu dia deh,” celetuk Elis.
Mereka bertiga mendekati meja tersebut. Karina menatap takjub kecepatan ritme permainan kedua orang itu. Tangan mereka dengan cepat memindahkan bidak-bidakcatur, menekan stopwatch lalu menggeser pion-pion lainnya. Pertarungan sengit itu baru berhenti ketika Malik mengucapkan, “Check mate.”
Seketika para penonton disana bertepuk tangan. Karina yang tak terlalu paham aturan catur, ikut bertepuk tangan. Walau ia tidak mengerti cara permainnya, tetapi ia yakin Malik baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.
“Malik!” Panggil Angel ketika Malik berniat meninggalkan area catur.
“Kalian?” Respon Malik, tampak datar.
“Hai! Kok gak pernah masuk sih?” tanya Elis.
“Bosen,” balas Malik singkat.
“Well, aku minta maaf kalau gitu karena suah membuat kelas yang membosankan,” ucap Karina yang tiba-tiba menimbrung di antara mereka.
“Kak Karina?” Malik mengerjap tak percaya. Apa yang telah terjadi sampai Kak Karina bisa bersama Angel? Ia ingat kalau Angel sangat tidak menyukai perempuan itu.
“Aku tahu kamu pasti punya alasan di balik ketidakhadiranmu di kelas,” ucap Karina dengan nada gembira.
“Tidak, kakak tidak tahu,” pangkas Malik. “Kakak sama seperti orang tuaku dan orang dewasa lain, menuduhku bolos dan mengataiku anak pemalas tukang tidur.”
Karina dapat merasakan amarah dari nada suara Malik. Padahal dia benar-benar bermaksud memuji kemampuan Malik barusan.
“Aku tidak pernah berkata atau menggapmu seperti itu, Malik,” Karina menatapnya sambil tersenyum tulus. “Karena Ros yang memberitahuku bakatmu yang luar biasa itu.”
Malik tampak tak mengerti, tetapi Karina memang lebih baik tak usah menjelaskan soal itu kepada mereka. didalam catatan pengamatan yang ditinggalkan Ros, ia menuliskan kelebihan beberapa anak di kelas 5-5. Salah satunya adalah Malik. Ia selalu tertidur di kelas karena ketika terbangun....
“...ketika terbangun aku selalu merasa begitu banyak informasi berputar di kepalaku, tapi aku tak tahu harus mengungkapkannya dimana,” kata Malik kepada Karina. “Jadi jangan larang aku tidur di kelas kak.”
Karina tertawa kecil. “Baik, kamu boleh tidur di kelas, tetapi harus tetap bersosiasliasi dengan yang lain, oke?”
“Itu bisa diatur.” Malika mengangkat bahu. “Lalu, kenapa kalian ada di sini?”
“Kami mau pergi ke suatu tempat,” jelas Angel. “Semua anak kelas 5-5 harus ikut.”
“Berhubung aku tidak ada pertandingan lagi,” Malik nampak menimbang-nimbang. “Baiklah, aku ikut.”
Karina menghela nafas lega. “Terimakasih Malik.”
“Kita berangkat sekarang?”
“Masih ada empat anak lagi,” sela Elis. “Yang terdekat dari sini adalah..”
“....Galeri seni Milenial City,” imbuh Angel.
“Ayo kita ke sana.”

Other Stories
Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Download Titik & Koma