Puzzle

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Nindya M

Rahasia

Galeri seni Milenial City tidak terlalu ramai pada hari kerja seperti pada saat itu. Ketika mereka masuk, koridornya lengang. Berbagai lukisan mahal dan memiliki nilai bersejarah bergantung indah di dinding-dinding pameran.
“Nah, itu dia,” kata Elis. Mereka berempat berlari kecil mendekati sosok mungil dengan bandana yang tengah menikmati lukisan-lukisan di galeri itu.
“Giselle!” Panggil Angel.
Giselle menoleh, bibirnya menyunggingkan senyum lebar menyambut kedatangan teman-temannya.
“Hai semua!” sapanya ceria. Tetapi matanya seketika berubah tajam saat melihat Karina di belakang mereka. Tatapan matanya yang penuh permusuhan tertangkap oleh Angel.
“Gak apa-apa Giselle, dia udah tobat,” bisik Angel.
“Masa? Gak bakal maksa kita belajar pelajaran aneh dan susah itu lagikan?”
“Enggak kok,” kali ini Karina yang menjawab. “Sudah hampir jam satu, buat apa ke kelas?”
Giselle terdiam. Ia mengangguk ragu-ragu.
“Oke, Giselle, aku berencana mengajak kalian semua ke suatu tempat, makanya, sekarang kita perlu menemukan tiga anak lainnya.”
“Oh, kak Karina, ada satu anak lagi di sini,” potong Giselle.
“Siapa?”
“Suci.”
“Sedang apa dia di sini?”
“Terapi.”
Semuanya saling melemparkan pandangan heran. Mereka menemukan Suci berada di galeri seni kontemporer. Suci duduk di salah satu kuris memandangi lukisan dalam waktu lama. Tidak begerak, hampir tidak mengedip sepanjang waktu.
“Hai Suci,” panggil Karina sambil melangkah mendekati perempuan berambut kepang satu itu. Suci tersentak kaget dan menoleh, mendapati Karina sudah duduk di sebelahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Karina. Tetapi Suci ketakutan. Pertama, ia membolos dan malah ditemukan sedang berada di galeri, kedua, dia takut ketahuan sedang terapi dan dianggap aneh oleh anak-anak lain.
“Kamu terapi? Sakit apa?” Karina lebih jauh.
“Enggak parah kok,” Suci bersusaha menutup diri.
“Tidak apa Suci, aku dulu diceritain kak Ros,” kata Giselle yang ikutan nimbrung obrolan mereka.
“Hah?” Suci mulai ketakutan.
“Semoga cepat sembuh ya,” ucap Angel, Malik dan Elis. Suci tidak tahu harus berkata apa.
“Yuk, kita jalan dulu, kamu boleh cerita sama kakak sambil di perjalanan menuju kesana.”
“Ke mana?”
“Ke suatu tempat pokoknya. Hehe.”
Suci mengangguk setuju. Dalam perjalanan menuju lokasi berikutnya yaitu lapangan sepakbola di Milenial City, Suci mencoba membuka diri menceritakan penyakit yang dideritanya pada Karina.
Sesuai yang diceritakan oleh Ros di catatan miliknya, Suci dulu adalah korban pelecahan seksual ketika kecil. Ia trauma dan menjadi tertutup. Pelakunya bahkan ayah kandungnya sendiri, sejak saat itu, ibunya membawa ia pindah ke Milenial City. Akibat perbuatan ayahnya, Suci mengalami depresi parah.Tetapi sejak ikut terapi, ia mulai bisa mengontrol pikirannya agar bisa lebih positif.
“Jika kamu sedang terapi, kenapa kamu sendirian?” tanya Karina.
“Aku terapi seminggu sekali kak, hari ini aku hanya melakukan rutinitas. Aku berharap dengan terapi yang kuulangi secara mandiri bisa mempercepat proses penyembuhanku,” jawab Suci, polos.
“Oh begitu, berarti tiap hari kamu memandangi lukisan ya?”
Suci mengangguk, “Itu membuatku tenang.”
Tidak jauh dari Karina, beberapa langkah didepannya Giselle, Angel dan Elis memimpin jalan. Ia memandangi punggung Giselle yang lebih ramping dan kecil dibanding anak-anak kebanyakan. Untuk anak berusia 10 tahun, tubuh Giselle tampak lebih kurus dan kecil.
Menurut catatan Ros, Giselle, adalah putri pemilik saham tertinggi di sekolah dan anak itu sangat tergila-gila dengan seni rupa. Bukan hanya suka, tetapi juga jago membuatnya. Salah satu gambar yang Karina temukan di buku milik Ros adalah hasil karya Giselle. Tidak heran kalau teman-temannya tadi menebak Giselle ada di galeri seni, pasti dibanding semua tempat hiburan di kota, Giselle lebih suka menikmati karya-karya lukisan milik para seniman terkenal abad pertengahan.
Ros dan kepala sekolah itu benar, mereka anak-anak yang luar biasa di bidangnya masing-masing.
***
Leo melotot ketika melihat Karina muncul di ujung lapangan futsal. Ia buru-buru membereskan perlengkapan bermainnya, memasukkannya kedalam tas dan ketika melintasi pintu keluar Angel, Elis, Giselle dan yang lainnya menyambut di depan pintu.
“Surprise!” Teriak Angel, Elis dan Giselle bersamaan.
“Eh kok kalian pada ngumpul disini? Ada Karina tuh!” Kata Leo, panik.
“Hah? Masa? Di mana?” Giselle pura-pura panik.
“Di ujung lapangan, tuh, tuh,” Leo menunjuk ke tempat di mana ia melihat Karina, tetapi tidak ada sosok itu di sana.
“Lho kok?”
“Hai Leo!” Karina tiba-tiba muncul di belakang mereka. Leo tertangkap basah, tetapi ia segera mengendalikan dirinya dan menunjukkan kalau ia tidak takut atau panik.
“Kak Karina, ngapain di sini?” tanyanya, dingin.
“Menjemput kamu Leo,” kata Karina.
“Gak salah dengerkan?”
“Enggak kok Leo,” timpal Angel.
“Dia mau mengajak kita ke suatu tempat,” kata Malik.
“Aku gak ikut, thanks,” tolak Leo dingin.
“Oh ayolah,” bujuk Giselle. “Gak seru kalo kamu gak ikut.”
“Leo, ayo, semua ikut kok,” Elis ikut membujuk.
Karina tersentuh melihat murid-muridnya yang kini inisaitf mengajak teman-teman mereka. Walau bukan karena pengaruh darinya, tapi melihat anak-anak itu secara emosional memang saling membentuk rasa kekeluargaan satu sama lain, rasanya hati Karina jadi ikut hangat. Menurut catatan yang ditinggalkan Ros, Leo sangat menyukai pelajaran olahraga, terutama sepakbola dan futsal. Tidak heran menemukan Leo menggunakan masa bolosnya dengan bermain satu game di tempat seperti ini.
“Oke! Oke! Baiklah aku ikut!” kata Leo, akhirnya. Ia lelah ditempeli Giselle ketika mau keluar dari arena futsal. Giselle kecil, cempreng dan cerewet, gencar banget mengajaknya ikut.
“Berarti tinggal Brian ya,” ucap Karina. “Ada yang tahu dimana?”
“Brian mah pasti di sana,” kata Leo, semua orang menatap ke arahnya.
“Game center!”
***
Game center tampak lengang disiang hari. Hampir semua bangku kosong, kecuali bangku di console game Tekken paling ujung dekat pintu. Brian bertubuh kecil, berkacamata dengan selalu mengenakan kaos yang kebesaran. Tangannya dengan lincah menekan tiga tombol berwarna sambil menggerakkan joystick.
Ia menang untuk yang kesekian kalinya, memperoleh high score dan setelah dirasa cukup puas, ia berbalik ke belakang untuk mengambil air minum di tas, tetapi matanya bertemu dengan sosok teman-temannya yang sudah mengelilingi di belakang.
“What the f...,”
“Eit, jangan ngomong kasar!” Seru Angel sambil membungkam mulut Brian.
“Apaan sih, cewek cabe!” Sentak Brian, kesal.
“Wah ini nih satu-satunya yang bolos tapi kerjaannya gak berfaedah,” komen Giselle.
“Diem kamu korek api!” Sembur Brian.
“Aku dibilang korek api darimananya sih?” bisik Giselle pada Elis.
“Gak punya kaca ya di kamar asrama?” balas Elis diikuti tawa geli yang lain.
“Gak ngerti ah,” Giselle menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Eh, kok ngomongin aku, itu tuh si Brian diajak juga kan?”
“Diajak, ke mana?” Brian tampak tertarik.
“Ke suatu tempat istimewa.” Karina muncul menimbrung anak-anak itu. Senyum di wajah Brian menghilang.
“Ah, jangan takut Brian, aku yang justru mengajak semuanya untuk ikut serta.”
“Gak ke seminar ilmiahkan?” tanya Brian, memastikan.
Karina menggeleng.
“Oke, aku ikut.”
“Nah, gini nih harusnya daritadi, diajak langsung yes, gak kayak Leo nolak mulu, harus dipepet dulu baru mau ikut,” Giselle mulai nyinyir.
“Yak, terus aja seret-seret namaku, kucegat di jalan pulang ke asrama entar,” ancam Leo. Semua tertawa geli.
“Ya sudah, ayo, kita berangkat ke lokasinya.”
Mereka pun beramai-ramai menaiki mobil sekolah yang Karina sewa. Mereka bertanya-tanya kemana Karina membawa pergi mobil itu. Gedung-gedung terlewati dan mobil melaju keluar melalui pintu selatan Milenial kecil. Lapangan hijau di bagian kanan jalan berubah menjadi bukit-bukit kecil dengan deretan nisan di atasnya. Mobil pun berhenti didepan pintu masuk pemakaman.

Other Stories
Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Download Titik & Koma