Bab 9 - Sia-sia
Papan pengumuman sekolah dipenuhi tempelan kertas hasil lomba. Nama Raina tercetak jelas di urutan pertama, mewakili sekolahnya dalam ajang olimpiade yang disebutkan oleh gurunya beberapa bulan lalu. Hatinya sempat berdegup bangga. Meski sederhana, setidaknya ada satu hal yang ia lakukan dengan benar. Namun, rasa bangga itu hanya bertahan sebentar.
Raina pulang dengan perasaan sedikit gembira. Ia cepat-cepat sampai di rumah dan membawa kabar ini untuk ibunya. Sampai di rumah, ia melihat ibunya tengah melipat baju-baju Naya di ruang tengah sembari menemani adiknya itu belajar.
Raina mendekat dan menceritakan tentang ia lolos kualifikasi sebagai perwakilan sekolah dan akan melawan beberapa murid di kotanya.
"Ya, nanti kalau juara harus pertama, Mbak. Biar nggak malu-maluin," kata Ibu. "Nanti kalau dapat hadiah, jangan lupa disisakan buat bayar sekolah. Masa Ibu terus yang bayarin. Ayahmu tuh bilangin."
Raina tersenyum tipis, tetapi hatinya tetap sakit. Ia mengiakan dan berpamitan ke kamar.
Hari berikutnya, ayah pulang larut. Bau parfum asing melekat di bajunya. Raina menunggu di ruang tamu.
“Yah, aku nanti mau mewakili sekolah buat olimpiade se-kota. Lombanya minggu depan," ujar Raina membuka percakapan
Ayah melirik sekilas, lalu merogoh tas kerja. “Bagus. Kamu harus juara, ya! Nanti kalau juara pasti ada uang pembinaannya, kan? Ayah butuh uang, Mbak."
Jawaban itu membuat dada Raina mencelos. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan bukunya, agar ayah tidak melihat wajahnya yang memerah menahan air mata.
Semakin hari, apa pun yang ia lakukan selalu dianggap kurang. Nilai rapornya bagus, tapi Ibu bilang, “Kenapa nggak bisa ranking satu? Nilai kamu juga gak sempurna semua.”
Ia meyabet juara dua olimpiade, tapi Ayah menanggapi dengan acuh. Ia menjaga Naya setiap hari, tapi yang terdengar hanya amarah saat adiknya jatuh atau menangis.
“Kalau begini terus, buat apa aku berusaha? Apa gunanya aku capek-capek? Ujung-ujungnya, aku tetap salah di mata semua orang.”
Memang, di sekolah, guru-guru memujinya. Teman-temannya bahkan sempat iri. Bahkan Jiva yang dulu menjadi rivalnya, kini terang-terangan mengatakan bangga.
“Jangan-jangan otak lo bukan neuron, Nai, tapi chipset isinya kunci jawaban. Gimana sih lo cuma salah satu, salah dua. Nilai lo hampir sembilan semua.”
"Kamu juga nilainya sembilan semua, kan?" Raina tersenyum kecil. “Chipset kalau rusak, masih bisa diperbaiki, Jiv. Kalau aku rusak, siapa yang peduli?”
Jiva sempat terdiam, menatap Raina lama. “Lo kalau ngomong suka kayak iklan obat nyeri hati. Gue jadi pengen beli resepnya.”
Kalimat itu membuat Raina tertawa hambar, tetapi hatinya bergetar getir. Bahkan ketika Jiva mencoba membuatnya tertawa, luka itu tetap ada dan menempel di sana.
•
Malam itu, Raina duduk di meja belajarnya, menatap piagam dan medali yang tertumpuk dengan kertas-kertas lain. Ia membuka satu per satu, membaca ulang namanya di tiap lembar tersebut. Puluhan, mungkin ratusan. Ada yang juara satu, dua, tiga, harapan, dan peserta terbaik sekalipun. Namun, semuanya terasa kosong.
“Untuk apa aku kumpulkan semua ini? Tidak ada yang benar-benar peduli. Mereka hanya peduli kalau aku gagal. Kalau aku jatuh. Kalau aku bikin salah.”
Air matanya menetes, membasahi pojok kertas. Ia buru-buru menyekanya, takut tinta akan luntur. Sialnya, di rumah ini bahkan ia tidak bisa menangis keras-keras. Suara tangis hanya akan dianggap rengekan.
Esoknya, sebuah kejadian kecil membuat hatinya semakin teriris.
Guru memanggilnya ke depan kelas untuk memberi contoh karya tulis terbaik. Semua murid bertepuk tangan, termasuk Jiva yang bersiul jahil dari bangkunya. Iya, Raina masih aktif mengikuti ekstrakulikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), sehingga ia seringkali ikut lomba esai ataupun LKTI bersama rekan satu timnya maupun individual.
Namun, begitu ia pulang, Ibu langsung menyambut dengan suara tinggi. “Kamu lama banget dari sekolah! Naya tadi hampir keserempet motor! Kenapa kamu nggak jemput dia? Kan, Ibu udah pesen tadi pagi sebelum berangkat buat jemput dia.”
"Ibu chat siang tadi, katanya Ibu yang jemput soalnya gak lembur. Ini chatnya masih ada," jawab Raina. "Aku diminta guru buat stay sebentar di sekolah buat bantu sharing soal karya ilmiah.”
"Kemarin olimpiade, sekarang karya ilmiah, besok-besok masih ngajar les. Memangnya kamu gak inget tanggung jawab di rumah apa?"
Raina tercekat. Kata-kata itu menusuk, lebih tajam daripada pisau. Ia ingin membalas, ingin berkata bahwa selain sekolah, lomba, menulis adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Namun, lidahnya kelu. Akhirnya ia membiarkan sang ibu mengeluarkan emosinya sendiri.
Tengah malam, Raina terbangun. Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dari rak paling bawah. Itu buku legendaris miliknya yang menemaninya hidup dan bertahan. Buku kecil itu adalah saksi bisu bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Ia lantas menggoreskan tinta biru di atas lembaran baru.
“Bu, apa aku benar-benar sia-sia? Kalau iya, kenapa aku dilahirkan? Kalau semua yang aku lakukan salah, apa gunanya aku ada di sini? Aku lelah jadi anak yang harus selalu harus sempurna, tapi ketika mencoba untuk meraihnya tetap salah di matamu. Apakah selama ini aku kurang, Bu?”
Ia menutup buku itu erat, takut terbaca siapa pun. Hatinya berdenyut perih. Ada bagian kecil di dirinya yang masih ingin didengar, walau hanya oleh kertas dan tinta.
Raina mulai kehilangan semangat. Nilai ulangan yang biasanya tinggi kini perlahan menurun. Ia sengaja tidak ikut kompetisi debat baru, meski gurunya mendorong. Raina menolak keras, meski ia dibujuk berkali-kali.
“Raina, kenapa kamu nggak daftar? Padahal tim kamu udah setuju,” tanya guru. "Kamu itu berbakat di semua bidang. Ayolah! Teman-teman butuh kamu."
Raina hanya tersenyum tipis disertai gelengan. “Bakat nggak ada gunanya, Bu, kalau di rumah dianggap beban.”
Guru terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
Hari-hari berikutnya, ia semakin larut dalam pikiran. Jiva saat itu menyodorkan kompetisi cerdas cermat antar kota. Sama halnya dengan lomba debat, kali ini juga tim. Jiva mengajak Raina agar satu tim dan bisa bekerja sama. Mengingat keduanya tidak pernah berada di tim yang sama. Karena itu, Jiva berharap Raina akan mau dengan rayuannya.
Jiva mengimbangi kecepatan sepeda Raina. Ia melajukan motornya di sisi Raina dan meminta untuk berhenti di sebuah warung es kelapa di ujung jalan. Raina menurut, berakhirlah keduanya duduk bersampingan di gazebo kecil pinggir sawah. Segelas es kelapa muda dan roti bakar ada di depan meja kecil. Pemandangan senja di ufuk barat, serta angin sepoi-sepoi menciptakan ketenangan. Keduanya sama-sama diam, sebelum Raina lebih dulu bersuara.
“Kalau aku berhenti berusaha, apa yang terjadi? Apa mereka akan sadar aku juga manusia? Atau justru mereka lega, karena aku nggak usah bikin repot dengan prestasi yang dianggap nggak penting?”
Jiva meneguk ludahnya terlihat terkejut. Namun, ia berusaha tetap tenang dan membiarkan si gadis mengeluarkan keluh kesahnya.
Beberapa detik kemudian, hanya angin lalu lalang yang mengisi. Raina meneguk es kelapanya, lantas mulai memotong roti bakar dan menyuapnya ke dalam mulut.
“Jadi sempurna itu capek, ya, Nai?”
Raina mengangguk kecil. “Banget. Kamu sendiri? Kamu gak mau kalah gitu sama aku. Peringkatmu selalu salip-salipan. Jadinya, aku harus ekstra belajar biar gak ngecewain Ibu sama Ayah. Mereka gak mau kalau aku gak nomor satu."
Jiva diam. Jujur, ia sendiri tidak tahu. Ia terbiasa menang dan jarang sekali mengalah. Karena itu, ia terbiasa untuk berlomba paling depan. Meski orang tuanya tidak pernah memintanya begitu, tetapi ia memiliki tekad bulat untuk menjadi terdepan.
"Ya, udah. Besok aku ngalah," kata Jiva berikutnya. "Senyum dong! Lo manis banget kalau senyum soalnya."
Raina termangu sejenak. Pipinya pasti merona sekarang. Ia buru-buru meneguk es kelapa dan memakan sisa rotinya, sebelum Jiva mengetahui jika mukanya sekarang sudah seperti kepiting rebus.
Jiva diam-diam tersenyum.
"Manusia itu gak ada yang sempurna, Nai. Mau lo mati-matian ngejar sesuatu, kalau kapasitas lo udah segitu, mau diapain lagi? Yang ada lo rusak nanti. Jadi, apapun pencapaian lo, kalau orang tua lo merasa kurang, coba lihat guru-guru di sekolah! Mereka bangga sama lo! Bahkan lo jadi maskot dua kali berturut-turut buat brosur PPDB sekolah. Mungkin ada yang gak puas, tapi di balik itu semua orang ada kapasitas penuhnya masing-masing."
Raina tak bersuara. Ia masih menatap senja yang hampir tenggelam. Jiva memang benar, kapasitas manusia tetap terbatas. Meskipun sekeras apapun ia meraihnya, kalau jalannya sudah ditetapkan seperti itu, mau bagaimana lagi?
Sore itu, Raina menangkap banyak hal. Perjuangan tanpa penghargaan hanya akan melahirkan keputusasaan. Namun, nyatanya manusia memang diciptakan dengan rasa yang tidak pernah puas, kan?
Ada yang lebih menyakitkan daripada gagal. Berusaha sekuat tenaga, tetap tetap dianggap tak pernah ada. Jatuh-bangun-terjerembab sendiri, tetap saja di mata mereka langkah ini selalu salah. Mungkin inilah arti sia-sia, bukan karena tak mampu, melainkan karena tak pernah cukup untuk mereka yang tak pernah ingin benar-benar melihat keberadaan ini ada.
“Kenapa sih, Yah, Bu? Apa semua yang aku lakukan harus sesuai dengan maumu? Nggak bisakah sekali aja Ayah sama Ibu bilang, Selamat, Nak, Ayah sama Ibu bangga."
Raina pulang dengan perasaan sedikit gembira. Ia cepat-cepat sampai di rumah dan membawa kabar ini untuk ibunya. Sampai di rumah, ia melihat ibunya tengah melipat baju-baju Naya di ruang tengah sembari menemani adiknya itu belajar.
Raina mendekat dan menceritakan tentang ia lolos kualifikasi sebagai perwakilan sekolah dan akan melawan beberapa murid di kotanya.
"Ya, nanti kalau juara harus pertama, Mbak. Biar nggak malu-maluin," kata Ibu. "Nanti kalau dapat hadiah, jangan lupa disisakan buat bayar sekolah. Masa Ibu terus yang bayarin. Ayahmu tuh bilangin."
Raina tersenyum tipis, tetapi hatinya tetap sakit. Ia mengiakan dan berpamitan ke kamar.
Hari berikutnya, ayah pulang larut. Bau parfum asing melekat di bajunya. Raina menunggu di ruang tamu.
“Yah, aku nanti mau mewakili sekolah buat olimpiade se-kota. Lombanya minggu depan," ujar Raina membuka percakapan
Ayah melirik sekilas, lalu merogoh tas kerja. “Bagus. Kamu harus juara, ya! Nanti kalau juara pasti ada uang pembinaannya, kan? Ayah butuh uang, Mbak."
Jawaban itu membuat dada Raina mencelos. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan bukunya, agar ayah tidak melihat wajahnya yang memerah menahan air mata.
Semakin hari, apa pun yang ia lakukan selalu dianggap kurang. Nilai rapornya bagus, tapi Ibu bilang, “Kenapa nggak bisa ranking satu? Nilai kamu juga gak sempurna semua.”
Ia meyabet juara dua olimpiade, tapi Ayah menanggapi dengan acuh. Ia menjaga Naya setiap hari, tapi yang terdengar hanya amarah saat adiknya jatuh atau menangis.
“Kalau begini terus, buat apa aku berusaha? Apa gunanya aku capek-capek? Ujung-ujungnya, aku tetap salah di mata semua orang.”
Memang, di sekolah, guru-guru memujinya. Teman-temannya bahkan sempat iri. Bahkan Jiva yang dulu menjadi rivalnya, kini terang-terangan mengatakan bangga.
“Jangan-jangan otak lo bukan neuron, Nai, tapi chipset isinya kunci jawaban. Gimana sih lo cuma salah satu, salah dua. Nilai lo hampir sembilan semua.”
"Kamu juga nilainya sembilan semua, kan?" Raina tersenyum kecil. “Chipset kalau rusak, masih bisa diperbaiki, Jiv. Kalau aku rusak, siapa yang peduli?”
Jiva sempat terdiam, menatap Raina lama. “Lo kalau ngomong suka kayak iklan obat nyeri hati. Gue jadi pengen beli resepnya.”
Kalimat itu membuat Raina tertawa hambar, tetapi hatinya bergetar getir. Bahkan ketika Jiva mencoba membuatnya tertawa, luka itu tetap ada dan menempel di sana.
•
Malam itu, Raina duduk di meja belajarnya, menatap piagam dan medali yang tertumpuk dengan kertas-kertas lain. Ia membuka satu per satu, membaca ulang namanya di tiap lembar tersebut. Puluhan, mungkin ratusan. Ada yang juara satu, dua, tiga, harapan, dan peserta terbaik sekalipun. Namun, semuanya terasa kosong.
“Untuk apa aku kumpulkan semua ini? Tidak ada yang benar-benar peduli. Mereka hanya peduli kalau aku gagal. Kalau aku jatuh. Kalau aku bikin salah.”
Air matanya menetes, membasahi pojok kertas. Ia buru-buru menyekanya, takut tinta akan luntur. Sialnya, di rumah ini bahkan ia tidak bisa menangis keras-keras. Suara tangis hanya akan dianggap rengekan.
Esoknya, sebuah kejadian kecil membuat hatinya semakin teriris.
Guru memanggilnya ke depan kelas untuk memberi contoh karya tulis terbaik. Semua murid bertepuk tangan, termasuk Jiva yang bersiul jahil dari bangkunya. Iya, Raina masih aktif mengikuti ekstrakulikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), sehingga ia seringkali ikut lomba esai ataupun LKTI bersama rekan satu timnya maupun individual.
Namun, begitu ia pulang, Ibu langsung menyambut dengan suara tinggi. “Kamu lama banget dari sekolah! Naya tadi hampir keserempet motor! Kenapa kamu nggak jemput dia? Kan, Ibu udah pesen tadi pagi sebelum berangkat buat jemput dia.”
"Ibu chat siang tadi, katanya Ibu yang jemput soalnya gak lembur. Ini chatnya masih ada," jawab Raina. "Aku diminta guru buat stay sebentar di sekolah buat bantu sharing soal karya ilmiah.”
"Kemarin olimpiade, sekarang karya ilmiah, besok-besok masih ngajar les. Memangnya kamu gak inget tanggung jawab di rumah apa?"
Raina tercekat. Kata-kata itu menusuk, lebih tajam daripada pisau. Ia ingin membalas, ingin berkata bahwa selain sekolah, lomba, menulis adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Namun, lidahnya kelu. Akhirnya ia membiarkan sang ibu mengeluarkan emosinya sendiri.
Tengah malam, Raina terbangun. Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dari rak paling bawah. Itu buku legendaris miliknya yang menemaninya hidup dan bertahan. Buku kecil itu adalah saksi bisu bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Ia lantas menggoreskan tinta biru di atas lembaran baru.
“Bu, apa aku benar-benar sia-sia? Kalau iya, kenapa aku dilahirkan? Kalau semua yang aku lakukan salah, apa gunanya aku ada di sini? Aku lelah jadi anak yang harus selalu harus sempurna, tapi ketika mencoba untuk meraihnya tetap salah di matamu. Apakah selama ini aku kurang, Bu?”
Ia menutup buku itu erat, takut terbaca siapa pun. Hatinya berdenyut perih. Ada bagian kecil di dirinya yang masih ingin didengar, walau hanya oleh kertas dan tinta.
Raina mulai kehilangan semangat. Nilai ulangan yang biasanya tinggi kini perlahan menurun. Ia sengaja tidak ikut kompetisi debat baru, meski gurunya mendorong. Raina menolak keras, meski ia dibujuk berkali-kali.
“Raina, kenapa kamu nggak daftar? Padahal tim kamu udah setuju,” tanya guru. "Kamu itu berbakat di semua bidang. Ayolah! Teman-teman butuh kamu."
Raina hanya tersenyum tipis disertai gelengan. “Bakat nggak ada gunanya, Bu, kalau di rumah dianggap beban.”
Guru terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
Hari-hari berikutnya, ia semakin larut dalam pikiran. Jiva saat itu menyodorkan kompetisi cerdas cermat antar kota. Sama halnya dengan lomba debat, kali ini juga tim. Jiva mengajak Raina agar satu tim dan bisa bekerja sama. Mengingat keduanya tidak pernah berada di tim yang sama. Karena itu, Jiva berharap Raina akan mau dengan rayuannya.
Jiva mengimbangi kecepatan sepeda Raina. Ia melajukan motornya di sisi Raina dan meminta untuk berhenti di sebuah warung es kelapa di ujung jalan. Raina menurut, berakhirlah keduanya duduk bersampingan di gazebo kecil pinggir sawah. Segelas es kelapa muda dan roti bakar ada di depan meja kecil. Pemandangan senja di ufuk barat, serta angin sepoi-sepoi menciptakan ketenangan. Keduanya sama-sama diam, sebelum Raina lebih dulu bersuara.
“Kalau aku berhenti berusaha, apa yang terjadi? Apa mereka akan sadar aku juga manusia? Atau justru mereka lega, karena aku nggak usah bikin repot dengan prestasi yang dianggap nggak penting?”
Jiva meneguk ludahnya terlihat terkejut. Namun, ia berusaha tetap tenang dan membiarkan si gadis mengeluarkan keluh kesahnya.
Beberapa detik kemudian, hanya angin lalu lalang yang mengisi. Raina meneguk es kelapanya, lantas mulai memotong roti bakar dan menyuapnya ke dalam mulut.
“Jadi sempurna itu capek, ya, Nai?”
Raina mengangguk kecil. “Banget. Kamu sendiri? Kamu gak mau kalah gitu sama aku. Peringkatmu selalu salip-salipan. Jadinya, aku harus ekstra belajar biar gak ngecewain Ibu sama Ayah. Mereka gak mau kalau aku gak nomor satu."
Jiva diam. Jujur, ia sendiri tidak tahu. Ia terbiasa menang dan jarang sekali mengalah. Karena itu, ia terbiasa untuk berlomba paling depan. Meski orang tuanya tidak pernah memintanya begitu, tetapi ia memiliki tekad bulat untuk menjadi terdepan.
"Ya, udah. Besok aku ngalah," kata Jiva berikutnya. "Senyum dong! Lo manis banget kalau senyum soalnya."
Raina termangu sejenak. Pipinya pasti merona sekarang. Ia buru-buru meneguk es kelapa dan memakan sisa rotinya, sebelum Jiva mengetahui jika mukanya sekarang sudah seperti kepiting rebus.
Jiva diam-diam tersenyum.
"Manusia itu gak ada yang sempurna, Nai. Mau lo mati-matian ngejar sesuatu, kalau kapasitas lo udah segitu, mau diapain lagi? Yang ada lo rusak nanti. Jadi, apapun pencapaian lo, kalau orang tua lo merasa kurang, coba lihat guru-guru di sekolah! Mereka bangga sama lo! Bahkan lo jadi maskot dua kali berturut-turut buat brosur PPDB sekolah. Mungkin ada yang gak puas, tapi di balik itu semua orang ada kapasitas penuhnya masing-masing."
Raina tak bersuara. Ia masih menatap senja yang hampir tenggelam. Jiva memang benar, kapasitas manusia tetap terbatas. Meskipun sekeras apapun ia meraihnya, kalau jalannya sudah ditetapkan seperti itu, mau bagaimana lagi?
Sore itu, Raina menangkap banyak hal. Perjuangan tanpa penghargaan hanya akan melahirkan keputusasaan. Namun, nyatanya manusia memang diciptakan dengan rasa yang tidak pernah puas, kan?
Ada yang lebih menyakitkan daripada gagal. Berusaha sekuat tenaga, tetap tetap dianggap tak pernah ada. Jatuh-bangun-terjerembab sendiri, tetap saja di mata mereka langkah ini selalu salah. Mungkin inilah arti sia-sia, bukan karena tak mampu, melainkan karena tak pernah cukup untuk mereka yang tak pernah ingin benar-benar melihat keberadaan ini ada.
“Kenapa sih, Yah, Bu? Apa semua yang aku lakukan harus sesuai dengan maumu? Nggak bisakah sekali aja Ayah sama Ibu bilang, Selamat, Nak, Ayah sama Ibu bangga."
Other Stories
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
O
o ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...